
Hari ini berlalu sangat indah bagi Maureen. Seakan akan hari
yang beberapa waktu belakangan ini hilang, sudah kembali lagi. Sebenarnya ada
yang masih ingin disampaikan Maureen ke Rayen tadi malam. Namun Maureen tidak
ingin merusak suasana kemesraan antara mereka berdua. Dan terpaksa hal itu
masih harus disimpannya lagi.
Waktu sudah beranjak siang ketika Maureen baru saja beranjak
dari tempat tidur. Maureen sebenarnya masih enggan bangun, tapi hari ini
Maureen ingin bertemu Chika. Ada yang ingin dibicarakan dengan sahabatnya yang
satu ini.
Maureen sengaja mau mengajak Pak Jay untuk mengemudikan
mobilnya. Siang ini Maureen ingin santai. Maureen juga berharap kali ini Chika
mau memenuhi harapannya untuk makan siang bersama. Walaupun Maureen belum yakin
sahabatnya itu nanti akan mau untuk diajak makan siang di restoran punya
Maureen.
Ah chika, Chika. Sungguh perubahan yang amat drastis, hampir
saja Maureen tidak percaya dengan yang dilihat kemarin. Dan tentu masih sangat
menjadi ganjalan dalam hati Maureen. Apa sebenarnya yang mampu mengubah si
borjuis jadi wanita sederhana dan bersahaja itu.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Maureen segera bergegas
menuju ke halaman. Nampak disana Pak Jay sudah siap dengan mobil kesayangan
Maureen. Namun sebelum berangkat, diraihnya ponsel dan dicarinya nomer
sekretaris Zhang. Ada tugas yang harus diselesaikan dengan segera.
“Hallo, Zhang?”
“Selamat siang Ibu Presdir, ada yang bisa saya bantu?”kata
sekretaris Zhang di ujung telepon.
“Iya Zhang. Hari ini saya tidak masuk kantor. Tolong saya
nanti dikirimi daftar staf ahli yang bekerja di KSM Group ya, ada yang penting
yang ingin saya sampaikan.”
“Iya Bu, terus untuk jadwal hari ini gimana Ibu Presdir,
apakah dicancel untuk besok, apa nanti bisa jalan?”
“Untuk yang berkaitan dengan kontrak buat schedule besok
saja. Kalau untuk urusan internal kantor, kamu bisa atur sendiri. Hari ini saya
ingin istirahat. Jadi kalau tidak urgent silahkan diselesaikan saja Zhang” kata
Maureen.
“Baik Bu…..”
Setelah menelepon Zhang, Maureen segera masuk ke mobil.
Kemudian memberi isyarat pada Pak Jay agar segera berangkat.
Pak jay mengemudikan mobil dengan pelan sambil sesekali
bertanya pada Maureen. Maklum Pak Jay belum tahu rumah Chika yang sekarang.
Yang Pak jay tahu adalah rumah Chika yang dulu, yang masih berada di perumahan
elit.
Tidak berselang lama, mobil sudah memasuki jalanan yang
sedikit lengang. Ya, mereka hampir sampai di rumah Chika.
Setelah melewati gapura gang kecil, sampailah mereka di
sebuah rumah sederhana, namun tertata rapi dan asri. Inilah rumah Chika Suroso.
Setelah memencet bel dipagar rumah, Maureen segera menanti sang empunya rumah
keluar.
“eh, nyonya besar. Masuk masuk masuk……” sapa Chika.
__ADS_1
“mulai nih, ngeledek.” Kata Maureen.
“ini Pak Jay kan Reen?” Tanya Chika.
“iya, saya tadi agak malas nyetir sendiri. Makanya minta
tolong anter sama Pak Jay” kata Maureen.
“ mari masuk Pak Jay, biar saya buatkan kopi”
“terima kasih non, biar Pak Jay di sini saja. Lagian biar
Pak Jay nunggu di mobil saja. Lebih enak udaranya” kata Pak Jay menolak halus
ajakan Chika untuk masuk rumah.
“ah, tidak apa apa lah Pak Jay. Anggap saja rumah sendiri.
Maaf Pak Jay, kalau begitu saya tinggal masuk ya. Ayo Maureen, kita masuk dulu”
ajak Chika.
Maureen dan Chika segera masuk rumah. Sementara Pak Jay
menunggu di halaman sambil sesekali menghisap cerutu yang jadi kegemarannya.
“ada apa ini Reen, kok tumben sudah kesini lagi” Tanya Chika
“eh, kamu udah dapat kabar belum, angkatan kita mau ngadain
reuni?”
“sudah” kata Chika
“lalu, kamu mau ikut apa tidak?” Tanya Maureen.
“gimana ya reen, sebenarnya gue sih udah agak males dengan
acara acara semacam itu. Gue mau fokus dulu sama dedek yang dalam kandungan
sama keluarga dulu. Tapi karena tidak enak sama temen temen ya mungkin kalau
memang acaranya safety, tidak berbahaya bagi kita yang lagi hamil, mungkin akan
ikut” kata Chika.
“Nah, itulah yang ingin kukatakan. Kata Rayen sih tempatnya
dipilih di Puncak Bogor karena menurut ketua panitia banyak diantara alumni
tentang kehamilan kita”, kata maureeen.
“Eh, betul juga ya? OK lah, aku Tanya suamiku dulu. Jika semua
OK, gue bakal ikut” kata Chika.
“Kenapa mesti nanya lagi? Kan udah jelas safety, jadi tidak
ada yang perlu ditanyain lagi kan?” kata Maureen bingung. Ngapain sih Chika
ini, dikit dikit Tanya suami, emang suaminya sangat mengekang dia apa kenapa
ya? Apa Chika bagaikan didalam penjara setelah menikah? Apa tidak ada kebebasan
dalam bergerak atau bergaul sehingga harus selalu apa apa minta ijin suami. Bagaimana Chika bisa merasakan sebagai RATU
dalam rumah tangganya? Ah Chika, jika begitu, betapa malangnya nasibmu…….
Sebenarnya Maureen ingin tahu lebih jauh. Tapi takut Chika
tersinggung. Benarkah suami Chika orang yang overprotektif, sehingga semua
serba dikekang. Jika benar begitu, pasti Chika akan sedih, tapi Chika dari luar
nampak bahagia, bahkan nampak sangat bahagia. Chika sangat menikmati
kehidupannya yang sekarang.
“Iya Maureen. Walaupun safety dan acara dengan temen temen
alumni kampus, tapi kalo suami gue tidak ikut dan gue tidak diijinin, y ague ndak
bisa ikut. Ntar kukabarin deh. Pastinya jika boleh ikut aku pasti ikut” kata
Chika.
“OK lah kalo begitu Chika. Aku pulang dulu ya, jangan lupa secepatnya
kabarin aku ya, biar ntar bisa persiapan lebih awal, kan tinggal waktu 2 hari
untuk persiapan hari Valentine” kata Maureen sambil pamit pulang.
“Siap Ibu Presdir” kata Chika sambil mengantar Maureen sampai
di halaman.
__ADS_1
Di halaman nampak Pak Jay yang senantiasa setia di samping
mobil untuk menemani kemanapun Maureen akan pergi sore ini.
“Kita kemana lagi Nyonya?” Tanya Pak Jay setelah mobil
bergerak meninggalkan rumah Chika.
“Kita pulang saja Pak Jay. Aku ingin istirahat. Besuk baru
ke kantor” kata Maureen.
“Baik Nyonya”
Mobil itupun kembali meluncur, kali agak cepat, karena Pak
Jay sudah hafal jalanan yang dilalui ketika menuju ke rumah Chika tadi. Mobil menyeruak
diantara bisingnya ibukota. Beberapa kali Pak Jay harus memperlambat laju
mobilnya ketika memasuki jalan jalan yang sangat padat lalu lintasnya.
Sore itu, Maureen ingin pulang ke rumah, ingin istirahat. Bawaan
hamil muda mungkin. Sepertinya saat ini Maureen gampang lelah.
Sampai di rumah, Maureen langsung menuju dapur, dilihatnya
Bi Minah sedang memasak. Beberapa bahan masakan sudah disiapkan di meja dapur. Maureen
kemudian menghampiri Bi Minah.
“O, Nyonya sudah pulang to? Maaf Nyonya, Bi Minah tidak
tahu. Maklum sudah tua, jadi ndak mendengar ada suara mobil tadi” kata Bi
Minah.
“Ndak apa apa Bi. Lagian Maureen ndak bawa apa apa kok. Kalaupun
bawa ka nada Pak Jay tadi. O, iya Bi, mau masak apa sore ini?”
“Ini Nyonya, opor ayam sama gulai sapi. Kesukaan Nyonya. Tadi
pagi Tuan Rayen minta saya masakin makanan kesukaan Nyonya” kata Bi Minah.
“O, ya? Pasti enak sekali nanti masakan Bi Minah. Silahkan dilanjutkan
Bi. Saya mau istirahat dulu”
“Baik Nyonya”
Maureen menyuruh Bi Minah menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian
Maureen bergegas menuju kamarnya. Dia ingin beristirahat sambil menanti Rayen
pulang dari kantor.
Namun tiba tiba dia teringat ayahnya, Tuan Besar Tito Tirta
Kusuma.
Diraihnya HP merk terkenal yang sudah pasti harganya hampir
bisa untuk beli sebuah mobil ukuran orang biasa.
Kriiing……. Kring……. Kriiiinnngggg……..
Terdengar telepon menghubungkan ke seseorang di seberang
telepon. Dan tidak lama kemudian, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi
di ujung telepon. Nampak suara itu batuk batuk sebentar, kemudian terdengar
suara agak parau, ah ayah, apa yang terjadi pada ayah?
.
.
Apa yang terjadi pada Pak Tito?
Bagaimana rencana reuni Maureen dan teman teman kampus di
Puncak Bogor pada hari Valentine lusa?
Temukan jawabannya di lanjutan cerita ini. Jangan lupa vote,
like dan berikan komentar untuk mendukung author. Simak juga PENGANTIN LEMBAH NAGA, hari ini
juga sudah up episode ke 4 ( Petaka di Lereng Anjasmara ).
Selamat membaca, slam hangat dari author untuk readers
semua.
__ADS_1