
Malam itu tiba tiba Maureen teringat sang ayah, Tuan Besar
Tito Tirta Kusuma. Ketika Maureen menelepon ayahnya. Nampak suara ayahnya agak
sedikit gemetar dan parau. Maureen sangat kawatir dengan keadaan ayahnya.
“Hallo ayah, ayah baik baik saja kan? Ayah bersama siapa
sekarang?” Tanya Maureen dengan perasaan sangat kawatir.
“Ayah tidak apa apa Maureen. Ayah baik baik saja. Pengacara ayah
setiap saat selalu mendampingi ayah. Bagaimana keadaanmu, kandunganmu sehat
kan?” kata Pak Tito dengan suara parau yang ditutup tutupi.
Maureen tahu benar bahwa kondisi ayahnya memang sedang
kurang baik. Tapi apa hendak dikata, Pak Tito adalah tipe pekerja keras. Meski saat
ini tugasnya sudah banyak yang dilimpahkan pada Maureen, namun dia tidak bisa
tinggal diam, Pak Tito masih mengurus perusahaan yang di Jakarta, yang bergerak
di bidang property dan alat berat.
“Keadaan Maureen baik baik saja ayah, kandungan Maureen juga
baik. Kondisi bayinya juga sehat. Ayah istirahat ya, jangan banyak pikiran. Urusan
perusahaan biar Maureen dan staf yang ngerjain” kata Maureen.
“Iya anakku sayang. Ayah tidak capek kok. Cuma kadang ayah
agak sedikit pusing, jadi itulah kenapa pengacara ayah biasanya yang menemani
ayah jika ada urusan perusahaan yang ada diluar kantor. Maureen tidak usah
kawatir, ayah bisa jaga diri anakku”
“Syukurlah yah. Maureen tidak ingin ayah kenapa kenapa”
“Iya anakku sayang. Nanti kalau ada waktu, kamu Rayen kesini
ya, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu dan Rayen. Mengenai kalian berdua”
kata Pak Tito.
“Iya ayah, besok lusa biar Maureen dan Rayen ke rumah ayah. Besok
Maureen masih ada reuni dengan teman teman alumni kampus angkatan Maureen ayah.”
“O. reuni alumni kampus? Pasti nak Chika ikut ya? Jika ikut,
salam ayah untuk Chika ya. Nak Chika dulu banyak membantu ayah, termasuk
merubah kepribadian kamu”
“Iya ayah, besuk Maureen sampaikan, baik baik ya ayah. Maureen
mau mempersiapkan untuk acara reuni besok”
“Iya anakku sayang, jangan lupa Maureen tengah hamil muda. Harus
dijaga betul betul. Hamil muda itu resikonya sama dengan hamil tua, jadi harus
ekstra hati hati” kata Pak Tito.
“Siap ayah. Maureen akan selalu ingat pesan ayah”
Setelah mengakiri telepon, Maureen segera bersiap untuk
menata barang barang yang ingin dibawa saat reuni di Puncak Bogor di Hari
Valentine besok.
Beberapa pakaian dan perlengkapan camping yang lain sudah
siap. Maureen berencana ingin berkemah. Maureen rindu suasana pegunungan yang
asri. Jika hanya menginap di villa, sepertinya kurang romantic, pikir Maureen.
Ah, dipikir nanti sajalah, mau menginap di villa atau mau
bikin camp. Yang penting bawa peralatan dulu. Pikir Maureen sambil menyiapkan
keperluan untuk besok.
Tak berapa lama, Rayen pulang.
“Hallo sayang, selamat malam. Happy Valentine ya? Maaf ayah
tidak bisa ngasih kado special buat bunda. Cuma kecupan sayang dan sedikit
bingkisan untuk bunda” teriak Rayen sambil membuka pintu kamar.
__ADS_1
What’s? AYAH dan BUNDA. Bukankah Rayen kemarin ingin mereka
saling panggil Ray dan Reen sayang?
“Apa Ray? Ayah? Bunda?” Tanya Maureen sedikit heran.
“Iya dong bunda sayang. Sebentar lagi kan kita sudah punya
anak. Ndak lucu kan kalau anak kita panggil kita dengan Ray atau Reen karena
meniru kita?”
“Iya juga ya? Tapi kenapa kok tidak MAMA dan PAPA saja Ray?”
“Usulan bagus. Tapi menurut aku, lebih cenderung ke AYAH dan
Bunda saja. Biar kesannya lebih familiar dan kita panggil orang tua kita dan
juga AYAH dan IBU. Biar nanti sama seperti orang tua kita manggilnya”
“Betul juga Ray. Tapi mungkin Maureen butuh waktu untuk
menyesuaikan diri Ray, soalnya kamu ngajaknya tidak bilang bilang dulu sih.”
“Eits, bunda sayang. Ini salah satu kejutan dari ayah untuk
bunda di Hari Valentine. Masa kejutan di umukan duluan. Hahaha……” kata Rayen
sambil tertawa.
“Iya deh iya, Maureen bakal coba untuk belajar panggil ayah
dan bunda”
“Nah, gitu dong. Gima persiapan untuk reuni besuk? Sepertinya
acaranya direncanakan sampai pagi Bun?” Tanya Rayen.
“Tidak tahu Ray, tapi tadi bunda sudah menyuruh Bi Minah
untuk mempersiapkan peralatan untuk camp. Bunda sih penginnya jika nanti jadi
sampai pagi, mau bikin tenda saja. Lalu kita semua ngumpul untuk nyantai
seperti dulu. Nanti ngumpul Ayah, Bunda, Rakha, Chika dan teman teman kampus
kita yang dulu. Biar bisa cerita tentang karir, bisnis dan rumah tangga masing
masing. Terutama untuk menambah pengetahuan bunda tentang membina rumah tangga.
Biar bisa jadi istri yang baik sekaligus ibu buat anak kita.”
cuaca bagus, OK kita bermalam disana”
“Baiklah, ayo kita makan, setelah itu kita istirahat. Jaga kondisi
badan biar besok bisa menikmati liburan sama teman teman alumni kampus”
Rayen dan Maureen bergegas menuju ruang makan. Mereka makan
sambil sesekali ngobrol tentang apa yang akan dilakukan besok.
Setelah makan, mereka segera menuju kamar tidur. Ada kemesraan
yang tidak dapat dilukiskan dengan kata kata diantara mereka berdua, sampai
akhirnya keduanya terlelap dalam tidur, sambil tenggelam dalam mimpinya masing
masing, mengharap pagi segera menjelang.
.
.
Suasana indah nampak terasa pagi itu. Sinar sang surya yang
menyeruak masuk melalui kisi kisi jendela kamar membuat suasana makin asri. Sementara
itu, terlihat burung burung gereja beterbangan hinggap di kabel kabel telepon. Suaranya
riuh, sambil sesekali hinggap di taman yang ada di halaman rumah megah milik
keluarga Maureen Tirta Kusuma.
Di dalam rumah juga sudah nampak kesibukan. Bi Minah dan Pak
Jay sibuk membawa alat alat yang akan dibawa oleh Maureen dan Rayen ke Puncak. Walaupun
belum tahu pasti apakah nanti akan menginap disana atau tidak, namun mereka
ingin mempersiapkan sedini mungkin. Seakan mereka sudah tak sabar ingin bertemu
dengan teman teman lama mereka. Ingin bercanda, sambil mendengarkan cerita
mereka satu sama lain. Ah, pasti bisa menghilangkan kejenuhan rutinitas dari
pekerjaan mereka sehari hari.
Menjelang pukul 07.00 mereka sudah bersiap siap akan
__ADS_1
berangkat. Pak Jay sengaja diajak oleh Maureen dan Rayen. Mereka ingin
menikmati istirahat sambil duduk santai di mobil disepanjang perjalanan.
Suasana ibukota yang sudah mulai padat. Ya, memang ibukota
Jakarta sudah sangat sesak dengan populasi penduduk, ditambah dengan
pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang setiap hari terus bertambah. Pertambahan
jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan dan lebar
jalan, mau tidak mau menciptakan kemacetan, tak terkecuali juga dialami oleh
mobil mewah Maureen.
“Ah, jika tidak malu dikatain orang pamer, tadi enak pakai
pesawat pribadi Ray?” kata Maureen.
“Eh, bunda pikir kita mau ke New York atau Amsterdam ya?
Kita mau ke Bogor. Masa pakai pesawat. Hahaha….. kalo semua orang berfikir
seperti itu, rusak bun transportasi udara.”
“Iya, ya. Betul juga kata ayah. OK lah. Tapi gimana kalau
macet macet kayak gini?” gerutu Maureen.
“eh, sekali kali boleh dong kita ngerasain gimana susahnya
bermacet macet. Nanti kalau sudah masuk tol kan ya sudah agak lancar. Kita nikmati
saja, sambil hitung hitung kita istirahat dari pekerjaan rutin kita bunda.”
“Iya lah kalau begitu” kata Maureen.
Akhirnya mereka menikmati perjalanan mereka menuju puncak. Banyak
sekali yang dilihat oleh Maureen. Sesekali mereka mendiskusikan apa yang
dilihat di sepanjang jalan. Ternyata di luar sana banyak sekali anak anak yang
terpaksa harus berjibaku dengan asap kendaraan dan ganasnya jalanan ibukota
hanya untuk mencari selembar uang ribuan atau recehan. Banyak ibu ibu yang rela
berpanas panas sambil menggendong anaknya menjajakan dagangannya, yang jika
sudah laku, hasilnya hanya mampu dimakan sekeluarga, habis tak tersisa. Ah,
romantika kehidupan.
Tak jarang mereka menemukan orang yang sudah tua, tapi masih
bekerja keras, ada yang jualan Koran, jualan jagung rebus, makanan ringan dan
lain lain. Peluh keringat mereka bercucuran, sungguh selama ini Maureen terlalu
sibuk dengan urusan KSM Group, sampai tidak menyadari banyak mereka yang kurang
beruntung yang ada di sekitar Maureen.
Maureen ingat, ketika dulu mobilnya mogok saja, langsung
ganti baru. Ah, ternyata diluar sana, banyak yang jangankan untuk beli mobil
baru, untuk makan saja sulit.
Demikian juga Rayen. Dia teringat ketika dengan mudahnya dia
banting handphone yang harganya bisa untuk beli satu mobil, setelah itu, beli
lagi. Alangkah bodohnya dulu tidak pernah terpikir jika banyak orang yang untuk
punya hp merek jadul saja Cuma mimpi dan hayalan.
Perjalanan menuju puncak, di tengah kemacetan, kebisingan
dan bahkan panas terik siang ini, banyak member pelajaran bagi Maureen dan
Rayen tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Memang benar kata orang, GURU
yang paling Bijaksana itu adalah PENGALAMAN. Dengan mengalami hal hal yang
baru, kita akan sadar terhadap kelemahan dan kekurangan kita.
Selamat Hari Valentine. Simak juga lanjutan cerita author di
novel novel yang lain.
Mohon sabar ya, untuk kelanjutan dari PENGANTIN LEMBAH NAGA
masih dalam proses review. Terima kasih dukungannya terhadap author. Jangan lupa
votenya untuk mendukung author. Koment readers tetap author perhatikan untuk
memberikan sentuhan sentuhan baru pada kisah hidup Rayen dan Maureen dalam
__ADS_1
episode selanjutnya.