Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 6


__ADS_3

 


 


Malam itu tiba tiba Maureen teringat sang ayah, Tuan Besar


Tito Tirta Kusuma. Ketika Maureen menelepon ayahnya. Nampak suara ayahnya agak


sedikit gemetar dan parau. Maureen sangat kawatir dengan keadaan ayahnya.


“Hallo ayah, ayah baik baik saja kan? Ayah bersama siapa


sekarang?” Tanya Maureen dengan perasaan sangat kawatir.


“Ayah tidak apa apa Maureen. Ayah baik baik saja. Pengacara ayah


setiap saat selalu mendampingi ayah. Bagaimana keadaanmu, kandunganmu sehat


kan?” kata Pak Tito dengan suara parau yang ditutup tutupi.


Maureen tahu benar bahwa kondisi ayahnya memang sedang


kurang baik. Tapi apa hendak dikata, Pak Tito adalah tipe pekerja keras. Meski saat


ini tugasnya sudah banyak yang dilimpahkan pada Maureen, namun dia tidak bisa


tinggal diam, Pak Tito masih mengurus perusahaan yang di Jakarta, yang bergerak


di bidang property dan alat berat.


“Keadaan Maureen baik baik saja ayah, kandungan Maureen juga


baik. Kondisi bayinya juga sehat. Ayah istirahat ya, jangan banyak pikiran. Urusan


perusahaan biar Maureen dan staf yang ngerjain” kata Maureen.


“Iya anakku sayang. Ayah tidak capek kok. Cuma kadang ayah


agak sedikit pusing, jadi itulah kenapa pengacara ayah biasanya yang menemani


ayah jika ada urusan perusahaan yang ada diluar kantor. Maureen tidak usah


kawatir, ayah bisa jaga diri anakku”


“Syukurlah yah. Maureen tidak ingin ayah kenapa kenapa”


“Iya anakku sayang. Nanti kalau ada waktu, kamu Rayen kesini


ya, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu dan Rayen. Mengenai kalian berdua”


kata Pak Tito.


“Iya ayah, besok lusa biar Maureen dan Rayen ke rumah ayah. Besok


Maureen masih ada reuni dengan teman teman alumni kampus angkatan Maureen ayah.”


“O. reuni alumni kampus? Pasti nak Chika ikut ya? Jika ikut,


salam ayah untuk Chika ya. Nak Chika dulu banyak membantu ayah, termasuk


merubah kepribadian kamu”


“Iya ayah, besuk Maureen sampaikan, baik baik ya ayah. Maureen


mau mempersiapkan untuk acara reuni besok”


“Iya anakku sayang, jangan lupa Maureen tengah hamil muda. Harus


dijaga betul betul. Hamil muda itu resikonya sama dengan hamil tua, jadi harus


ekstra hati hati” kata Pak Tito.


“Siap ayah. Maureen akan selalu ingat pesan ayah”


Setelah mengakiri telepon, Maureen segera bersiap untuk


menata barang barang yang ingin dibawa saat reuni di Puncak Bogor di Hari


Valentine besok.


Beberapa pakaian dan perlengkapan camping yang lain sudah


siap. Maureen berencana ingin berkemah. Maureen rindu suasana pegunungan yang


asri. Jika hanya menginap di villa, sepertinya kurang romantic, pikir Maureen.


Ah, dipikir nanti sajalah, mau menginap di villa atau mau


bikin camp. Yang penting bawa peralatan dulu. Pikir Maureen sambil menyiapkan


keperluan untuk besok.


Tak berapa lama, Rayen pulang.


“Hallo sayang, selamat malam. Happy Valentine ya? Maaf ayah


tidak bisa ngasih kado special buat bunda. Cuma kecupan sayang dan sedikit


bingkisan untuk bunda” teriak Rayen sambil membuka pintu kamar.

__ADS_1


What’s? AYAH dan BUNDA. Bukankah Rayen kemarin ingin mereka


saling panggil Ray dan Reen sayang?


“Apa Ray? Ayah? Bunda?” Tanya Maureen sedikit heran.


“Iya dong bunda sayang. Sebentar lagi kan kita sudah punya


anak. Ndak lucu kan kalau anak kita panggil kita dengan Ray atau Reen karena


meniru kita?”


“Iya juga ya? Tapi kenapa kok tidak MAMA dan PAPA saja Ray?”


“Usulan bagus. Tapi menurut aku, lebih cenderung ke AYAH dan


Bunda saja. Biar kesannya lebih familiar dan kita panggil orang tua kita dan


juga AYAH dan IBU. Biar nanti sama seperti orang tua kita manggilnya”


“Betul juga Ray. Tapi mungkin Maureen butuh waktu untuk


menyesuaikan diri Ray, soalnya kamu ngajaknya tidak bilang bilang dulu sih.”


“Eits, bunda sayang. Ini salah satu kejutan dari ayah untuk


bunda di Hari Valentine. Masa kejutan di umukan duluan. Hahaha……” kata Rayen


sambil tertawa.


“Iya deh iya, Maureen bakal coba untuk belajar panggil ayah


dan bunda”


“Nah, gitu dong. Gima persiapan untuk reuni besuk? Sepertinya


acaranya direncanakan sampai pagi Bun?” Tanya Rayen.


“Tidak tahu Ray, tapi tadi bunda sudah menyuruh Bi Minah


untuk mempersiapkan peralatan untuk camp. Bunda sih penginnya jika nanti jadi


sampai pagi, mau bikin tenda saja. Lalu kita semua ngumpul untuk nyantai


seperti dulu. Nanti ngumpul Ayah, Bunda, Rakha, Chika dan teman teman kampus


kita yang dulu. Biar bisa cerita tentang karir, bisnis dan rumah tangga masing


masing. Terutama untuk menambah pengetahuan bunda tentang membina rumah tangga.


Biar bisa jadi istri yang baik sekaligus ibu buat anak kita.”


cuaca bagus, OK kita bermalam disana”


“Baiklah, ayo kita makan, setelah itu kita istirahat. Jaga kondisi


badan biar besok bisa menikmati liburan sama teman teman alumni kampus”


Rayen dan Maureen bergegas menuju ruang makan. Mereka makan


sambil sesekali ngobrol tentang apa yang akan dilakukan besok.


Setelah makan, mereka segera menuju kamar tidur. Ada kemesraan


yang tidak dapat dilukiskan dengan kata kata diantara mereka berdua, sampai


akhirnya keduanya terlelap dalam tidur, sambil tenggelam dalam mimpinya masing


masing, mengharap pagi segera menjelang.


.


.


Suasana indah nampak terasa pagi itu. Sinar sang surya yang


menyeruak masuk melalui kisi kisi jendela kamar membuat suasana makin asri. Sementara


itu, terlihat burung burung gereja beterbangan hinggap di kabel kabel telepon. Suaranya


riuh, sambil sesekali hinggap di taman yang ada di halaman rumah megah milik


keluarga Maureen Tirta Kusuma.


Di dalam rumah juga sudah nampak kesibukan. Bi Minah dan Pak


Jay sibuk membawa alat alat yang akan dibawa oleh Maureen dan Rayen ke Puncak. Walaupun


belum tahu pasti apakah nanti akan menginap disana atau tidak, namun mereka


ingin mempersiapkan sedini mungkin. Seakan mereka sudah tak sabar ingin bertemu


dengan teman teman lama mereka. Ingin bercanda, sambil mendengarkan cerita


mereka satu sama lain. Ah, pasti bisa menghilangkan kejenuhan rutinitas dari


pekerjaan mereka sehari hari.


Menjelang pukul 07.00 mereka sudah bersiap siap akan

__ADS_1


berangkat. Pak Jay sengaja diajak oleh Maureen dan Rayen. Mereka ingin


menikmati istirahat sambil duduk santai di mobil disepanjang perjalanan.


Suasana ibukota yang sudah mulai padat. Ya, memang ibukota


Jakarta sudah sangat sesak dengan populasi penduduk, ditambah dengan


pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang setiap hari terus bertambah. Pertambahan


jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan dan lebar


jalan, mau tidak mau menciptakan kemacetan, tak terkecuali juga dialami oleh


mobil mewah Maureen.


“Ah, jika tidak malu dikatain orang pamer, tadi enak pakai


pesawat pribadi Ray?” kata Maureen.


“Eh, bunda pikir kita mau ke New York atau Amsterdam ya?


Kita mau ke Bogor. Masa pakai pesawat. Hahaha….. kalo semua orang berfikir


seperti itu, rusak bun transportasi udara.”


“Iya, ya. Betul juga kata ayah. OK lah. Tapi gimana kalau


macet macet kayak gini?” gerutu Maureen.


“eh, sekali kali boleh dong kita ngerasain gimana susahnya


bermacet macet. Nanti kalau sudah masuk tol kan ya sudah agak lancar. Kita nikmati


saja, sambil hitung hitung kita istirahat dari pekerjaan rutin kita bunda.”


“Iya lah kalau begitu” kata Maureen.


Akhirnya mereka menikmati perjalanan mereka menuju puncak. Banyak


sekali yang dilihat oleh Maureen. Sesekali mereka mendiskusikan apa yang


dilihat di sepanjang jalan. Ternyata di luar sana banyak sekali anak anak yang


terpaksa harus berjibaku dengan asap kendaraan dan ganasnya jalanan ibukota


hanya untuk mencari selembar uang ribuan atau recehan. Banyak ibu ibu yang rela


berpanas panas sambil menggendong anaknya menjajakan dagangannya, yang jika


sudah laku, hasilnya hanya mampu dimakan sekeluarga, habis tak tersisa. Ah,


romantika kehidupan.


Tak jarang mereka menemukan orang yang sudah tua, tapi masih


bekerja keras, ada yang jualan Koran, jualan jagung rebus, makanan ringan dan


lain lain. Peluh keringat mereka bercucuran, sungguh selama ini Maureen terlalu


sibuk dengan urusan KSM Group, sampai tidak menyadari banyak mereka yang kurang


beruntung yang ada di sekitar Maureen.


Maureen ingat, ketika dulu mobilnya mogok saja, langsung


ganti baru. Ah, ternyata diluar sana, banyak yang jangankan untuk beli mobil


baru, untuk makan saja sulit.


Demikian juga Rayen. Dia teringat ketika dengan mudahnya dia


banting handphone yang harganya bisa untuk beli satu mobil, setelah itu, beli


lagi. Alangkah bodohnya dulu tidak pernah terpikir jika banyak orang yang untuk


punya hp merek jadul saja Cuma mimpi dan hayalan.


Perjalanan menuju puncak, di tengah kemacetan, kebisingan


dan bahkan panas terik siang ini, banyak member pelajaran bagi Maureen dan


Rayen tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Memang benar kata orang, GURU


yang paling Bijaksana itu adalah PENGALAMAN. Dengan mengalami hal hal yang


baru, kita akan sadar terhadap kelemahan dan kekurangan kita.


Selamat Hari Valentine. Simak juga lanjutan cerita author di


novel novel yang lain.


Mohon sabar ya, untuk kelanjutan dari PENGANTIN LEMBAH NAGA


masih dalam proses review. Terima kasih dukungannya terhadap author. Jangan lupa


votenya untuk mendukung author. Koment readers tetap author perhatikan untuk


memberikan sentuhan sentuhan baru pada kisah hidup Rayen dan Maureen dalam

__ADS_1


episode selanjutnya.


__ADS_2