Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 16


__ADS_3

Enam hari sudah berlalu semenjak kepergian Tuan Besar Tito.


Pak Rehan dan Ibu Kim Nana masih berada di rumah Maureen. Mereka tidak tega


untuk membiarkan menantunya sendirian. Ya, kini Maureen memang sendirian. Keluarga


satu satunya adalah Tuan Besar Tito Tirta Kusuma. Namun enam hari yang lalu


beliau telah mangkat.


Beberapa hari ini, Rayen juga sangat disibukkan oleh


berbagai urusan perusahaan. Dia sengaja tidak memberitahukan masalah masalah


terkait perusahaan kepada Maureen. Dia tidak ingin Maureen terbebani dengan


berbagai macam persoalan dalam perusahaan sementara hari ini dia sedang


bersedih karena kepergian ayahnya.


Sebenarnya sih, bukan Cuma dia saja yang sedih, semua sedih.


Rayen sedih, Pak Rehan sedih, Ibu Kim Nana sedih bahkan semua karyawan dan staf


perusahaan semua bersedih. Mereka kehilangan sosok yang teramat baik. Ya teramat


baik. Meskipun Tuan Tito adalah orang kaya, namun ras akepedulian sosialnya,


dan cara menghargai terhadap sesame sangat baik. Bahkan Tuan Tito tidak pernah


membeda bedakan manusia dari harta kekayaannya.


.


Siang itu Rayen dan Maureen terlihat terlibat dengan


pembicaraan yang sangat serius. Ada sebuah rencana yang ingin dilakukan oleh


Rayen, kejutan untuk Vivi di hari ulang tahunnya besok. Pada awalnya Maureen sangat


cemburu, ketika Rayen mengatakan soal Vivi. Apalagi mau ngasih sesuatu yang


istimewa pada Vivi.


Rayen, Rayen. Kamu saja belum pernah ngasih yang special sama


istrimu ini, malah mau memberikan sesuatu yang sangat istimewa sama Vivi. Si sekretarismu


yang menurut Maureen sih genit. Genit nggak sih ya readers? Kayaknya nggak juga


ya. Apa karena Maureen cemburu ya?


Tapi setelah diberi penjelasan tentang alasan Rayen memilih


Vivi, akhirnya Maureen menyadari hal tersebut. Bahkan Maureen akan ikut


membantu memberikan kejutan untuk Vivi.


Ah, Maureen, Maureen. Apa sih kejutan untuk si Vivi? Apa memang


Rayen suka sama Vivi?


“Gimana bunda sayang, apakah kamu sudah siap?” Tanya Rayen


“Iya Ray, aku sudah siap. Tapi ada yang ingin aku katakana sama


kamu Ray,” kata Maureen.


“Apa itu bunda sayang? Katakanlah, jika nanti aku bisa


memberikan, akan aku berikan untuk bunda” kata Rayen


“Kamu kan sudah manggil aku Bunda sejak hari valentine


kemarin. Kini aku tinggal sendiri Ray, kalau dulu aku masih punya ayah,


sekarang ayah sudah tiada, oleh sebab itu mulai sekarang aku ingin memanggil


kamu dengan sebutan ayah. Masak Vivi saja manggilnya Bapak, kok aku manggilnya


Ray, iya kan yah?” kata Maureen


“Iya Bunda sayang. Ayah tentu akan sangat bahagia jika bunda


mau memanggil dengan sebutan ayah, pasti anak kita nanti jika sudah lahir akan


memanggil ayah dan bunda juga”


Maureen tersenyum bahagia. Beberapa waktu yang lalu dia


kehilangan ayah yang telah membesarkan dirinya. Dan hari ini, dia mendapatkan


ayah yang akan membesarkan anak anaknya kelak di kemudian hari, luar biasa


kenikmatan Tuhan. Nikmat manalagi yang akan kita dustakan?


“Ayo kita berangkat Bunda, nanti keburu sore” kata Rayen.


“Iya ayah. Bunda sudah siap berangkat kok” kata Maureen.


“Tapi Bunda tidak boleh cemburu lo ya dengan Vivi. Karena Vivi

__ADS_1


pantas untuk mendapatkan ini” kata Rayen


“Iya ayah, Bunda janji tidak akan cemburu. Kan Bunda juga


tahu bagaimana perjuangan Vivi untuk membesarkan perusahaan kita. Bunda kira


sudah sepantasnya jika Vivi mendapatkan apa yang seharusnya bisa diperoleh,


semoga Vivi mau menerimanya dan bisa lebih bahagia” kata Maureen


“Baiklah Bunda, ayo kita berangkat” kata Rayen sambil


menggandeng tangan Maureen menuju ke mobil yang diparkir di halaman rumahnya.


Tujuan mereka adalah ke rumah Vivi. Rayen dan Maureen ingin


memberitahukan bahwa besok di awal mulai masuk kerja setelah cuti panjang


selama sepekan atas kepergian Tuan Besar Tito. Dan kebetulan besok bertepatan


dengan hari ulang tahun Vivi. Seperti janji Rayen kemarin, Rayen ingin


memberikan kejutan untuk Vivi. Dan kejutan itu menyangkut masa depan Vivi.


.


Jangan lupa dukung vote untuk cerita ini ya, terima kasih.


.


Sementara itu di rumah Vivi, nampak suasananya sepi. Di rumah


sederhana yang tertata rapi itu kelihatan si Vivi cantik lagi duduk santai. Ah,


author ini bikin kegi aja….. ngapainjuga sih bilang si Vivi cantik. La emang


cantik, mana ada gadis kok tampan. Hahaha……


Wah, lagi ngelamun ya si Vivi?


Nampaknya dia masih bingung kata kata Rayen kemarin. Besok adalah


hari ulang tahunnya, tapi Pak Rayen belum ngasih kabar apa apa, apakah kejutan


yang dijanjikan Pak Rayen hanya bualan saja ya?


Kata orang yang yang sudah sering pacaran sih, hampir semua


laki laki suka membual. Ah, mentang mentang authornya perempuan ya,…….


Namun baru saja dia mau melangkah masuk ke dalam rumah, Vivi


asing lagi denga mobil itu. Itulah mobil Maureen. Waduh ngalamat dia bakal


dilabrak sama Ibu Maureen lagi nih? Bukankah dia sudah berani bepergian berdua


dengan Pak Rayen ke Meksiko?


Belum hilang rasa terkejutnya Vivi, ketika muncul Ibu


Maureen membuka pintu mobil, ternyata di sebelah mobil sudah berdiri sosok


idaman setiap wanita, termasuk Vivi. Ya Rayen Briliant Putra.


Ibu Vivi yang tadi ada di dalam, mendengar ada suara mobil


berhenti di halaman langsung keluar, dan tidak kalah terkejutnya karena yang


datang adalah tamu yang sangat istimewa. Bagaimana tidak istimewa, karena


sebentar lagi, simbok dari kampong ini akan menjadi chief di restoran bintang


lima dengan maskan khas jawa gudeg andalannya.


Mimpi kali bu…..


Ah sekali sekali boleh dong readers bermimpi, karena kata


orang bijak sih, semua kesuksesan berawal dari impian……..


Rayen dan Maureen kemudian melangkah menuju pintu rumah. Vivi


dan ibunya menanti mereka di pintu rumah sederhana itu. Hati Vivi bergetar


tidak karuan, bagaikan gendering yang dipukul tak beraturan. Kalau saja getaran


itu terdengar, mungkin akan lebih dahsyat dari sound 18 sub yang diliput oleh


chanel youtube BHARATA FM TRENGGALEK kemarin kali ya…….


Rayen dan Maureen kemudian bersalaman dengan Vivi dan


Ibunya. Kemudian mereka dipersilahkan untuk masuk ke ruang tamu.


Setelah mereka duduk, ibu Vivi minta ijin ke belakang untuk


membuat minuman. Dan tidak lupa dasar si Rayen, kalau ada minta disuguhi Gudeg.


Dan pastinya memang ada, karena Vivi tadi sudah mengatakan jika Rayen akan


berkunjung ke rumah hari itu…….

__ADS_1


.


.


“Nah, begitu ceritanya Vi. Jadi apa yang akan diputuskan


Rayen, itu akan diberitahukan besok. Dan  aku tidak keberatan dengan keputusan Rayen,


Vi. Kamu layak untuk mendapatkannya. Jasa dan pengabdianmu pada perusahaan


cukup besar. Dan saya merasa apa yang sudah diputuskan Rayen itu wajar dan layak


untuk kamu” kata Maureen.


“Maaf Bu, sebenarnya apa to keinginan dari Pak Rayen itu,


Vivi jadi bingung Bu?” kata Vivi polos. Jelas bingung lah, kan sama Maureen dan


Rayen keputusannya dirahasiakan, kalau sudsah diberi tahu sekarang mah bukan


rahasia lagi Vi.


“Sudahlah Vi, kamu siap siap saja, ini semua adalah untuk


masa depanmu. Pertanyaanku Cuma satu, kamu sudah punya pacar atau calon suami


apa belum?”


Waduh, pertanyaan Pak Rayen kok malah soal suami sih, apa


iya vivi mau dijadikan istri kedua? Kok Ibu Maureen juga sepertinya setuju


setuju saja ya?


“Eh, Vi? Kok bengong. Ini soal masa depanmu lo, kalau kamu


sudah punya calon suami, kami pun tidak memaksa, berarti rencana kami, kami


batalkan. Tapi kalau belum, besok di acara ulang tahunmu yang akan kami adakan


di kantor, kamu siap siap menerima kejutan dari kami” kata Maureen.


Vivi makin bingung, ini bos putrid malah nanyain soal suami,


benarkah Maureen mengijinkan suaminya untuk nikah lagi sih?


Kalang kabut Vivi dibuatnya.


“Be…..be……belum Bu”


“Ya sudah, kalau belum, kamu siap siap saja, besok impianmu


akan terwujud” kata Maureen.


Impian? Impian Vivi kan punya suami seorang yang kedudukannya


tinggi, seperti Pak Rayen, atau bahkan Pak Rayen kalau mungkin.


Beberapa saat kemudian, ibunya Vivi muncul sambil membawa


gudeg khas Jogya dan secangkir kopi manis.


Mereka kemudian ngobrol ngalor ngidul tidak memperdulikan


pikiran Vivi yang lagi kalut…..


.


.


Malam harinya, Vivi dibuat tidak bisa tidur. Dia memikirkan


apa kejutan di hariu lang tahunnya besok untuk Vivi dari Pak Rayen Dan Bu Vivi.


Mungkinkah Pak Rayen akan menjadikan Vivi istri kedua,


karena sepertinya Pak Rayen suka sama Vivi, menurut Vivi.


Vivi mambayangkan seandainya dia menjadi istri dari Pak


Rayen, walaupun Cuma istri kedua. Ah, dia akan dipanggil Bu Presdir, apa Bu


Muda Presdir, apa Bu kedua Presdir. Ah ndeso amat sih Vi. Terserah lah orang


mau memanggil apa, yang jelas apapun keputusan dari Pak Rayen, akan diterima


dengan hati bahagia, begitu pikir Vivi


Vivi terus melamun, pikirannya menerawang jauh, jauh sekali.


Tidak tahu harus dilabuhkan kemana pikiran itu, semua bergantung pada hari


esok. Hari dimana keputusan Pak Rayen yang menyangkut masa depannya. Atau lebih


spesifik ‘ suaminya ‘


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2