
Enam hari sudah berlalu semenjak kepergian Tuan Besar Tito.
Pak Rehan dan Ibu Kim Nana masih berada di rumah Maureen. Mereka tidak tega
untuk membiarkan menantunya sendirian. Ya, kini Maureen memang sendirian. Keluarga
satu satunya adalah Tuan Besar Tito Tirta Kusuma. Namun enam hari yang lalu
beliau telah mangkat.
Beberapa hari ini, Rayen juga sangat disibukkan oleh
berbagai urusan perusahaan. Dia sengaja tidak memberitahukan masalah masalah
terkait perusahaan kepada Maureen. Dia tidak ingin Maureen terbebani dengan
berbagai macam persoalan dalam perusahaan sementara hari ini dia sedang
bersedih karena kepergian ayahnya.
Sebenarnya sih, bukan Cuma dia saja yang sedih, semua sedih.
Rayen sedih, Pak Rehan sedih, Ibu Kim Nana sedih bahkan semua karyawan dan staf
perusahaan semua bersedih. Mereka kehilangan sosok yang teramat baik. Ya teramat
baik. Meskipun Tuan Tito adalah orang kaya, namun ras akepedulian sosialnya,
dan cara menghargai terhadap sesame sangat baik. Bahkan Tuan Tito tidak pernah
membeda bedakan manusia dari harta kekayaannya.
.
Siang itu Rayen dan Maureen terlihat terlibat dengan
pembicaraan yang sangat serius. Ada sebuah rencana yang ingin dilakukan oleh
Rayen, kejutan untuk Vivi di hari ulang tahunnya besok. Pada awalnya Maureen sangat
cemburu, ketika Rayen mengatakan soal Vivi. Apalagi mau ngasih sesuatu yang
istimewa pada Vivi.
Rayen, Rayen. Kamu saja belum pernah ngasih yang special sama
istrimu ini, malah mau memberikan sesuatu yang sangat istimewa sama Vivi. Si sekretarismu
yang menurut Maureen sih genit. Genit nggak sih ya readers? Kayaknya nggak juga
ya. Apa karena Maureen cemburu ya?
Tapi setelah diberi penjelasan tentang alasan Rayen memilih
Vivi, akhirnya Maureen menyadari hal tersebut. Bahkan Maureen akan ikut
membantu memberikan kejutan untuk Vivi.
Ah, Maureen, Maureen. Apa sih kejutan untuk si Vivi? Apa memang
Rayen suka sama Vivi?
“Gimana bunda sayang, apakah kamu sudah siap?” Tanya Rayen
“Iya Ray, aku sudah siap. Tapi ada yang ingin aku katakana sama
kamu Ray,” kata Maureen.
“Apa itu bunda sayang? Katakanlah, jika nanti aku bisa
memberikan, akan aku berikan untuk bunda” kata Rayen
“Kamu kan sudah manggil aku Bunda sejak hari valentine
kemarin. Kini aku tinggal sendiri Ray, kalau dulu aku masih punya ayah,
sekarang ayah sudah tiada, oleh sebab itu mulai sekarang aku ingin memanggil
kamu dengan sebutan ayah. Masak Vivi saja manggilnya Bapak, kok aku manggilnya
Ray, iya kan yah?” kata Maureen
“Iya Bunda sayang. Ayah tentu akan sangat bahagia jika bunda
mau memanggil dengan sebutan ayah, pasti anak kita nanti jika sudah lahir akan
memanggil ayah dan bunda juga”
Maureen tersenyum bahagia. Beberapa waktu yang lalu dia
kehilangan ayah yang telah membesarkan dirinya. Dan hari ini, dia mendapatkan
ayah yang akan membesarkan anak anaknya kelak di kemudian hari, luar biasa
kenikmatan Tuhan. Nikmat manalagi yang akan kita dustakan?
“Ayo kita berangkat Bunda, nanti keburu sore” kata Rayen.
“Iya ayah. Bunda sudah siap berangkat kok” kata Maureen.
“Tapi Bunda tidak boleh cemburu lo ya dengan Vivi. Karena Vivi
__ADS_1
pantas untuk mendapatkan ini” kata Rayen
“Iya ayah, Bunda janji tidak akan cemburu. Kan Bunda juga
tahu bagaimana perjuangan Vivi untuk membesarkan perusahaan kita. Bunda kira
sudah sepantasnya jika Vivi mendapatkan apa yang seharusnya bisa diperoleh,
semoga Vivi mau menerimanya dan bisa lebih bahagia” kata Maureen
“Baiklah Bunda, ayo kita berangkat” kata Rayen sambil
menggandeng tangan Maureen menuju ke mobil yang diparkir di halaman rumahnya.
Tujuan mereka adalah ke rumah Vivi. Rayen dan Maureen ingin
memberitahukan bahwa besok di awal mulai masuk kerja setelah cuti panjang
selama sepekan atas kepergian Tuan Besar Tito. Dan kebetulan besok bertepatan
dengan hari ulang tahun Vivi. Seperti janji Rayen kemarin, Rayen ingin
memberikan kejutan untuk Vivi. Dan kejutan itu menyangkut masa depan Vivi.
.
Jangan lupa dukung vote untuk cerita ini ya, terima kasih.
.
Sementara itu di rumah Vivi, nampak suasananya sepi. Di rumah
sederhana yang tertata rapi itu kelihatan si Vivi cantik lagi duduk santai. Ah,
author ini bikin kegi aja….. ngapainjuga sih bilang si Vivi cantik. La emang
cantik, mana ada gadis kok tampan. Hahaha……
Wah, lagi ngelamun ya si Vivi?
Nampaknya dia masih bingung kata kata Rayen kemarin. Besok adalah
hari ulang tahunnya, tapi Pak Rayen belum ngasih kabar apa apa, apakah kejutan
yang dijanjikan Pak Rayen hanya bualan saja ya?
Kata orang yang yang sudah sering pacaran sih, hampir semua
laki laki suka membual. Ah, mentang mentang authornya perempuan ya,…….
Namun baru saja dia mau melangkah masuk ke dalam rumah, Vivi
asing lagi denga mobil itu. Itulah mobil Maureen. Waduh ngalamat dia bakal
dilabrak sama Ibu Maureen lagi nih? Bukankah dia sudah berani bepergian berdua
dengan Pak Rayen ke Meksiko?
Belum hilang rasa terkejutnya Vivi, ketika muncul Ibu
Maureen membuka pintu mobil, ternyata di sebelah mobil sudah berdiri sosok
idaman setiap wanita, termasuk Vivi. Ya Rayen Briliant Putra.
Ibu Vivi yang tadi ada di dalam, mendengar ada suara mobil
berhenti di halaman langsung keluar, dan tidak kalah terkejutnya karena yang
datang adalah tamu yang sangat istimewa. Bagaimana tidak istimewa, karena
sebentar lagi, simbok dari kampong ini akan menjadi chief di restoran bintang
lima dengan maskan khas jawa gudeg andalannya.
Mimpi kali bu…..
Ah sekali sekali boleh dong readers bermimpi, karena kata
orang bijak sih, semua kesuksesan berawal dari impian……..
Rayen dan Maureen kemudian melangkah menuju pintu rumah. Vivi
dan ibunya menanti mereka di pintu rumah sederhana itu. Hati Vivi bergetar
tidak karuan, bagaikan gendering yang dipukul tak beraturan. Kalau saja getaran
itu terdengar, mungkin akan lebih dahsyat dari sound 18 sub yang diliput oleh
chanel youtube BHARATA FM TRENGGALEK kemarin kali ya…….
Rayen dan Maureen kemudian bersalaman dengan Vivi dan
Ibunya. Kemudian mereka dipersilahkan untuk masuk ke ruang tamu.
Setelah mereka duduk, ibu Vivi minta ijin ke belakang untuk
membuat minuman. Dan tidak lupa dasar si Rayen, kalau ada minta disuguhi Gudeg.
Dan pastinya memang ada, karena Vivi tadi sudah mengatakan jika Rayen akan
berkunjung ke rumah hari itu…….
__ADS_1
.
.
“Nah, begitu ceritanya Vi. Jadi apa yang akan diputuskan
Rayen, itu akan diberitahukan besok. Dan aku tidak keberatan dengan keputusan Rayen,
Vi. Kamu layak untuk mendapatkannya. Jasa dan pengabdianmu pada perusahaan
cukup besar. Dan saya merasa apa yang sudah diputuskan Rayen itu wajar dan layak
untuk kamu” kata Maureen.
“Maaf Bu, sebenarnya apa to keinginan dari Pak Rayen itu,
Vivi jadi bingung Bu?” kata Vivi polos. Jelas bingung lah, kan sama Maureen dan
Rayen keputusannya dirahasiakan, kalau sudsah diberi tahu sekarang mah bukan
rahasia lagi Vi.
“Sudahlah Vi, kamu siap siap saja, ini semua adalah untuk
masa depanmu. Pertanyaanku Cuma satu, kamu sudah punya pacar atau calon suami
apa belum?”
Waduh, pertanyaan Pak Rayen kok malah soal suami sih, apa
iya vivi mau dijadikan istri kedua? Kok Ibu Maureen juga sepertinya setuju
setuju saja ya?
“Eh, Vi? Kok bengong. Ini soal masa depanmu lo, kalau kamu
sudah punya calon suami, kami pun tidak memaksa, berarti rencana kami, kami
batalkan. Tapi kalau belum, besok di acara ulang tahunmu yang akan kami adakan
di kantor, kamu siap siap menerima kejutan dari kami” kata Maureen.
Vivi makin bingung, ini bos putrid malah nanyain soal suami,
benarkah Maureen mengijinkan suaminya untuk nikah lagi sih?
Kalang kabut Vivi dibuatnya.
“Be…..be……belum Bu”
“Ya sudah, kalau belum, kamu siap siap saja, besok impianmu
akan terwujud” kata Maureen.
Impian? Impian Vivi kan punya suami seorang yang kedudukannya
tinggi, seperti Pak Rayen, atau bahkan Pak Rayen kalau mungkin.
Beberapa saat kemudian, ibunya Vivi muncul sambil membawa
gudeg khas Jogya dan secangkir kopi manis.
Mereka kemudian ngobrol ngalor ngidul tidak memperdulikan
pikiran Vivi yang lagi kalut…..
.
.
Malam harinya, Vivi dibuat tidak bisa tidur. Dia memikirkan
apa kejutan di hariu lang tahunnya besok untuk Vivi dari Pak Rayen Dan Bu Vivi.
Mungkinkah Pak Rayen akan menjadikan Vivi istri kedua,
karena sepertinya Pak Rayen suka sama Vivi, menurut Vivi.
Vivi mambayangkan seandainya dia menjadi istri dari Pak
Rayen, walaupun Cuma istri kedua. Ah, dia akan dipanggil Bu Presdir, apa Bu
Muda Presdir, apa Bu kedua Presdir. Ah ndeso amat sih Vi. Terserah lah orang
mau memanggil apa, yang jelas apapun keputusan dari Pak Rayen, akan diterima
dengan hati bahagia, begitu pikir Vivi
Vivi terus melamun, pikirannya menerawang jauh, jauh sekali.
Tidak tahu harus dilabuhkan kemana pikiran itu, semua bergantung pada hari
esok. Hari dimana keputusan Pak Rayen yang menyangkut masa depannya. Atau lebih
spesifik ‘ suaminya ‘
.
.
.
__ADS_1