
Sore itu setelah beristirahat sejenak, Maureen bergegas ke
rumah sakit langganan keluarga mereka. Mobil Maureen melaju membelah jalanan
ibukota yang cukup padat. Jarak rumah Maureen memang tidak terlalu jauh dari
rumah sakit itu. Sehingga tidak memakan waktu lama, Maureen sudah tiba di rumah
sakit yang cukup megah ini.
Maureen segera menuju ke pavilion vvip tempat dimana ayahnya
di rawat. Nampak 5 dokter spesialis terbaik dari rumah sakit ini berkumpul.
Mereka sedang menantikan kedatangan Maureen. Didampingi oleh pengacara pribadi
Tuan Tito, Bapak Alfino, mereka bergegas menyambut kedatangan Maureen yang kali
ini datang sendirian tanpa ditemani sekretaris Zhang.
“Selamat datang di rumah sakit kami Nyonya Maureen”, kata
Dr. Albert yang merupakan ketua tim medis perawatan Pak Tito.
“Terima kasih Pak Dokter. Maaf, bagaimana kondisi ayah saya
saat ini?” Tanya Maureen.
“Nyonya tidak usah kawatir, Tuan Tito kondisinya sudah
stabil, dan sudah siuman. Tadi pagi memang kondisi beliau pingsan, untunglah
pengacara beliau segera membawa beliau kesini”, kata Dr. Albert.
“O, iya. Bolehkan saya menemui ayah sekarang dokter?” Tanya
Maureen.
“Tentu saja boleh Nyonya. Tuan Tito sudah boleh ditemui dan
boleh diajak bicara, asalkan jangan terlalu lama dan jangan dibebani persoalan
berat”, jawab Dr. Albert.
“Baiklah Dokter, saya menemui ayah dulu, setelah itu kita
bicarakan masalah kesehatan ayah. Saya ingin tahu kondisi kesehatan ayah secara
menyeluruh. Bagaimana Dokter?”
“O, silahkan Nyonya Maureen. Kami sudah siapkan hasil tes
kesehatan Pak Tito secara menyeluruh. Semoga kita bisa memberikan yang terbaik
untuk kesehatan beliau”.
“Terima kasih, Dokter!”
Maureen kemudian melangkah mengikuti Dr, Albert yang mewakili anggota dokter spesialis
keluarga Tito untuk melihat kondisi Pak Tito di ruang vvip pavilion rumah
sakit.
__ADS_1
“Silahkan Nyonya Maureen. Tuan Tito sudah menunggu Nyonya.
Beliau sudah sedari tadi menanyakan Nyonya Maureen”
“Baik Dokter”
“Saya tinggal dulu Nyonya”
“Terima kasih Dokter”
Maureen kemudian melangkah menuju kamar yang cukup mewah,
kamar vvip. Kamar rumah sakit yang dipenuhi fasilitas yang luar biasa, dan
hanya mereka yang berekonomi kelas atas yang akan mampu membayar fasilitas
rumah sakit ini. Nampak Pak Tito sedang terbaring sambil ditemani seorang
perawat yang saat itu sedang merapikan alat alat yang ada di meja.
“Ayah, bagaimana keadaan Ayah. Maaf Ayah, Maureen baru saja
pulang dari New York, menengok perusahaan Maureen yang ada disana”, kata
Maureen sambil mencium tangan ayahnya dan mengecup kening ayahnya kemudian
Maureen duduk disamping ayahnya.
Ayah Maureen tersenyum sambil berusaha untuk duduk, Nampak perawat
berusaha membantu Pak Tito untuk duduk tegak diatas kasur rumah sakit.
“Ayah tidak apa apa anakku. Kondisi ayah sudah cukup baik. Lihat
ini, ayah sudah bisa duduk dengan tegak. Mungkin ayah terlalu capek anakku. Maklum
ayah sudah tua, tidak seperti saat ayah masih muda dulu, he he he he….. “ kata
sengaja berbuat demikian karena Pak Tito tidak ingin putri semata wayangnya
bersedih.
Namun, Maureen bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi
seperti itu. Dia tahu kalau ayahnya sedang tidak sehat. Kondisi kesehatannya
masih sangat rapuh. Itu terlihat dari wajahnya yang kelihatan memerah dan tubuh
ayahnya yang kelihatan makin kurus.
“Ayah, sudah saatnya ayah istirahat. Biarlah Maureen yang
mengurus perusahaan yah. Jaga kondisi kesehatan ayah. Jangan dibuat kerja yang
berlebihan. Nanti biar Maureen menugaskan seseorang untuk mengurus perusahaan
ayah yang di Jakarta Utara. Biar ayah bisa istirahat”
“Tidak apa apa anakku. Ayah masih sanggup kok untuk
mengontrol sebuah perusahaan. O iya, boleh ayah Tanya sesuatu pada kamu anakku?”
Tanya Pak Tito.
“Silahkan ayah. Ada apa?” jawab Maureen.
“Beberapa hari yang lalu, saham milik Rayen anjlok, kemudian
__ADS_1
ada trending topic yang mengatakan bahwa “PRESDIR PUTRA COMPANY SELINGKUH
DENGAN SEKRETARISNYA DIKETAHUI OLEH ISTRINYA PRESDIR KSM GROUP”. Coba jelaskan
yang sebenarnya gimana anakku?” kata Pak Tito.
“Iya ayah. Kemarin terjadi kesalah fahaman antara Maureen
dan Rayen. Ketika kemarin Rayen menggandeng tangan Vivi di sebuah mall punya Maureen.
Saat itu Maureen mengira jika Rayen menjalin hubungan dengan Vivi. Namun setelah
ditelusuri oleh pengacaraku dan hasilnya menunjukkan jika memang tidak ada niat
Rayen untuk berbuat hal itu ayah”, kata Maureen.
“O, jadi itu tidak benar ya?”
“Betul ayah, semua hanya salah faham”.
“Lalu Rayen kemana, kok tidak bersama kamu hari ini?”
“Maaf ayah, ini kesalahan Maureen. Saat peristiwa itu Maureen
pergi ke New York untuk menenangkan pikiran sekaligus menengok perusahaan Maureen
yang ada disana. Namun setelah mengetahui yang sebenarnya terjadi, Maureen bertolak
kembali ke Jakarta. Sayangnya Maureen sampai belum sempat menghubungi Rayen. Sampai
akhirnya pagi tadi Rayen menyusul Maureen ke New York. Saat ini tengah dalam
perjalanan”
“O, kenapa kamu sampai lupa member tahu suamimu anakku”
“Maaf ayah, Maureen memang salah. Karena urusan perusahaan
akhir akhir ini sangat banyak dan menyita perhatian Maureen ayah.”
“Iya Nak. Tapi sesibuk apapun urusan perusahaanmu, kamu tetap
seorang istri dari suamimu. Luangkan waktu untuk keluarga”, kata Pak Tito.
“Iya ayah. Maureen mengaku salah. Tadi siang Maureen sudah
meminta staf perusahaan di New York untuk memberitahukan hal ini saat Rayen
sampai disana”.
Maureen berusaha menjelaskan duduk perkaranya kepada
ayahnya. Namun dia sengaja tidak mengatakan bahwa dia hamper saja celaka
diterjang badai tayfun di dekat kepulauan Kobe, Jepang. Dia tidak ingin
menambah ruwet pikiran ayahnya. Apalagi dia masih belum tahu persis apa
penyakit yang diderita ayahnya.
.
.
Sakit apa sebenarnya Pak Tito?
Dan apa yang akan dilakukan Rayen sesampainy di New York
__ADS_1
jika tahu Maureen sudah sampai di Jakarta?
Nantikan episode selanjutnya ya….