Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim ke Empat Bag 28


__ADS_3

 


 


Tidak terasa waktu berjalan cukup cepat. Banyak hal yang


dilalui Rayen dan Maureen selama menjalankan bisnis di masa pandemic covid 19


ini. Suka dan duka mereka jalani bersama. Walaupun omzet perusahaan turun drastis,


bahkan diatas perkiraan semula yaitu 35 % dari laba pendapatan kotor, tapi ada


hal lain yang mungkin akan sangat jarang sekali bias dilakukan jika saja tidak


melewati musibah ini.


Hal pertama adalah


makin bertambahnya rasa empati dalam diri mereka saat ini, bukan hanya Maureen,


Rayen pun saat ini sangat gampang merasa kasihan dan menitikkan air mata jika


mendapati orang yang kurang beruntung di sekitar mereka. Rupanya peristiwa yang


dialami oleh mereka bersama Chika telah mengubah banyak sekali cara pandang dan


cara hidup mereka dulu. Dari yang selalu hura hura dan focus pada harta, kini


berubah menjadi mengerti makna kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa hidup hanya


sementara, ada hidup sesudah hidup yang akan selalu menjadi pegangan dalam


kehidupan.


Hal kedua yang


dirasakan mereka adalah kebersamaan yang makin  erat. Bagaimana tidak, Rayen Brilliant Putra dan Maureen Tirta Kusuma


sebagai sepasang suami istri dulu bahkan tidak jarang hanya bertemu di saat


akan berangkat tidur. Bahkan kadang kala, saat dirumah pun belum tentu bias bertegur


sapa. Saat Rayen dating, Maureen kadang sudah terlelap tidur. Disaat Rayen


bangun pagi, Maureen sudah harus ada di kantor. Sungguh suatu rutinitas yang


sangat menjemukan sebenarnya.


Namun kini, semenjak melakukan system Work From Home atau system


bekerja dari rumah, mereka menjadi punya waktu yang lebih panjang, terutama


waktu untuk bersama putra mereka. Demikian juga Pak Rehan dan Ibu Kimnana. Sampai


hari ini, beliau berdua masih berada di rumah Maureen untuk membantu sepasang


pengantin muda itu untuk mengurus cucu tercintanya. Bahkan Ibu Kimnana tidak


pernah lepas dari dekat cucunya jika tidak ada urusan yang mendesak. Sedangkan Pak


Rehan, sementara ini juga masih mempersiapkan untuk melanjutkan bisnisnya di


belahan Eropa. Tapi dia belum tahu pasti, apakah akan kembali menjalankan bisnisnya


atau tidak, seiring dengan belum meredanya wabah pandemic ini.


Sore itu, Rayen dan Maureen sudah selesai mengecek semua pekerjaan


kantor. Sekretaris Zhang dan Vivi sangat membantu pekerjaan mereka, karena


mereka jarang pulang ke rumah. Apalagi Vivi, dia hanya sesekali menengok


rumahnya untuk sekedar bersih bersih atau mengecek perabotan rumah. Selebihnya diserahkan


kepada pengurus lingkungan. Ini dilakukan karena untuk keluar masuk sebuah

__ADS_1


lingkungan juga bukan hal yang mudah. Harus melalui prosedur yang ditetapkan


oleh lingkungan setempat.


Maureen dan Rayen duduk di serambi depan sambil menikmati


suasana di halaman rumahnya.


“Bun…? “ sapa Rayen sambil melirik istrinya yang cantik yang


telah memberikan seorang putra yang tampan rupawan.


“Ada apa Yah? Serius amat kelihatannya ?” kata Maureen sambil


tersenyum manja


“Ayah bahagia sekali hari ini. Ternyata Tuhan selalu


memberikan hikmah dibalik setiap musibah ya Bun?” kata Rayen


“Maksud Ayah?” Tanya Maureen


“Lihatlah Bun, beberapa hari ini kita bias melakukan sesuatu


yang jarang sekali bias kita lakukan di waktu waktu yang lalu. Kita bias bersama


hamper seharian penuh. Walaupun ya kita harus rela omzet kita turun. Tapi sepertinya


kebersamaan kita bias mengobati kekecewaan kita ya Bun?” kata Rayen


“Benar Yah. Bunda juga bahagia sekali hari ini. Kebahagiaan kita


serasa lengkap dengan hadirnya anak kita. Memang seharusnya kita selalu


memikirkan hal hal yang positif agar menambah semangat kita ya Yah?” shut Maureen.


“Iya Bunda Sayang. Ini juga waktu kita untuk sedikit


beristirahat. Kita bias lebih sering di rumah, bersama keluarga” kata Rayen


“O, lalu siapa lagi?” Tanya Rayen


“Lihatlah, alam di sekitar kita juga merasakan hal yang


sama. Ibarat sebuah perangkat elektronik seperti computer atau hp, mungkin alam


sedang berproses untuk restart atau flashing Yah. Agar perjalanannya bias kembali


normal.” Kata Maureen


“Betul bun. Sangat jarang kita temui jalanan di depan rumah


kita lengang seperti ini ya? Apalagi kalau yang ada di sekitar kantor kita. Kadang


macet bias berjam jam. Tentu jika situasi seperti ini, polusi udara akan sangat


berkurang ya? “ sambung Rayen.


“Benar Yah. Mudah mudahan setelah musibah ini, semua akan


kembali normal seperti sedia kala.” Kata Maureen


Maureen kemudian menghela nafas panjang. Memang semua


musibah akan membawa dampak yang kurang baik terhadap kehidupan. Namun Maureen berharap,


bias memetik hikmah dari peristiwa ini. Paling tidak, ini akan menjadi


pelajaran berharga bagi dia dan keluarganya. Juga bagi perusahaan yang


dipimpinnya dan selurah anak perusahaan dan koleganya.


“Ehm, ngomong ngomong bagaimana kabarnya kontrak kerja yang


ada di Mexico Yah? Apakah ada pembatalan? “ Tanya Maureen.

__ADS_1


“O, sejauh ini belum ada pembatalan. Cuma dari pihak


perusahaan memohon waktu sekitar 2 – 3 bulan lagi untuk memulai pengerjaan. Karena


disana juga lagi terkena imbas dari wabah ini “ jawab Rayen


“Syukurlah jika tidak terkena imbasnya. Semoga bulan depan


sudah bisa mulai beraktivitas lagi”


Mereka kemudian ngobrol banyak tentang segala sesuatu yang


ada di sekitar mereka. Termasuk rencana rencana yang akan dilakukan nanti,


besok dan di masa yang akan datang.


Obrolan mereka makin asyik ketika Pak Rehan dan Ibu Kimnana


ikut nimbrung sambil menggendong buah hatinya yang sudah selesai mandi. Obrolan


yang hangat dan kadangkala disertai dengan tangisan si kecil yang seakan tidak


mau ketinggalan untuk ikut ngobrol bersama mereka.


Hingga kemudian senjapun datang. Sang malam menyelimuti


wajah kota dengan hitamnya. Tak terdengar hingar bingarnya deru mesin kendaraan


yang memekakkan telinga. Bumi benar benar sedang mengobati dirinya. Menata kembali


keseimbangan alam yang sudah terkoyak oleh kemajuan tekhnologi. Yang seakan


muak dengan polusi udara yang setiap saat dimuntahkan oleh kendaraan kendaraan


yang tiada henti. Muak oleh keserakahan manusia dalam menggali sumber daya alam


demi kepuasan manusia. Bumi sedang mengobati dirinya yang sakit.


Buaian sang malam yang lembut, yang bertahun tahun sudah


tidak manusia rasakan. Malam ini, terasa sangat nyaman. Tiada kebisingan yang


selalu membuat sesak di dada. Yang ada adalah keheningan. Sesuatu yang sangat


mustahil dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota. Apalagi di kota


megapolitan sekelas Jakarta Raya.


Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah.


Terima kasih untuk readers yang sudah setia menemani cerita


hidup Maureen skeserakahan manusia dalam menggali sumber daya alam demi


kepuasan manusia. Bumi sedang mengobati dirinya yang sakit.


Buaian sang malam yang lembut, yang bertahun tahun sudah


tidak manusia rasakan. Malam ini, terasa sangat nyaman. Tiada kebisingan yang


selalu membuat sesak di dada. Yang ada adalah keheningan. Sesuatu yang sangat


mustahil dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota. Apalagi di kota


megapolitan sekelas Jakarta Raya.


Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah.


Terima kasih untuk readers yang sudah setia menemani cerita hidup


Maureen dan Rayen. Jangan lupa untuk memberikan vote dan tips agar cerita ini


terus berlanjut dan bisa menginspirasi semua pembaca.


Selamat membaca.       

__ADS_1


__ADS_2