
Tidak terasa waktu berjalan cukup cepat. Banyak hal yang
dilalui Rayen dan Maureen selama menjalankan bisnis di masa pandemic covid 19
ini. Suka dan duka mereka jalani bersama. Walaupun omzet perusahaan turun drastis,
bahkan diatas perkiraan semula yaitu 35 % dari laba pendapatan kotor, tapi ada
hal lain yang mungkin akan sangat jarang sekali bias dilakukan jika saja tidak
melewati musibah ini.
Hal pertama adalah
makin bertambahnya rasa empati dalam diri mereka saat ini, bukan hanya Maureen,
Rayen pun saat ini sangat gampang merasa kasihan dan menitikkan air mata jika
mendapati orang yang kurang beruntung di sekitar mereka. Rupanya peristiwa yang
dialami oleh mereka bersama Chika telah mengubah banyak sekali cara pandang dan
cara hidup mereka dulu. Dari yang selalu hura hura dan focus pada harta, kini
berubah menjadi mengerti makna kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa hidup hanya
sementara, ada hidup sesudah hidup yang akan selalu menjadi pegangan dalam
kehidupan.
Hal kedua yang
dirasakan mereka adalah kebersamaan yang makin erat. Bagaimana tidak, Rayen Brilliant Putra dan Maureen Tirta Kusuma
sebagai sepasang suami istri dulu bahkan tidak jarang hanya bertemu di saat
akan berangkat tidur. Bahkan kadang kala, saat dirumah pun belum tentu bias bertegur
sapa. Saat Rayen dating, Maureen kadang sudah terlelap tidur. Disaat Rayen
bangun pagi, Maureen sudah harus ada di kantor. Sungguh suatu rutinitas yang
sangat menjemukan sebenarnya.
Namun kini, semenjak melakukan system Work From Home atau system
bekerja dari rumah, mereka menjadi punya waktu yang lebih panjang, terutama
waktu untuk bersama putra mereka. Demikian juga Pak Rehan dan Ibu Kimnana. Sampai
hari ini, beliau berdua masih berada di rumah Maureen untuk membantu sepasang
pengantin muda itu untuk mengurus cucu tercintanya. Bahkan Ibu Kimnana tidak
pernah lepas dari dekat cucunya jika tidak ada urusan yang mendesak. Sedangkan Pak
Rehan, sementara ini juga masih mempersiapkan untuk melanjutkan bisnisnya di
belahan Eropa. Tapi dia belum tahu pasti, apakah akan kembali menjalankan bisnisnya
atau tidak, seiring dengan belum meredanya wabah pandemic ini.
Sore itu, Rayen dan Maureen sudah selesai mengecek semua pekerjaan
kantor. Sekretaris Zhang dan Vivi sangat membantu pekerjaan mereka, karena
mereka jarang pulang ke rumah. Apalagi Vivi, dia hanya sesekali menengok
rumahnya untuk sekedar bersih bersih atau mengecek perabotan rumah. Selebihnya diserahkan
kepada pengurus lingkungan. Ini dilakukan karena untuk keluar masuk sebuah
__ADS_1
lingkungan juga bukan hal yang mudah. Harus melalui prosedur yang ditetapkan
oleh lingkungan setempat.
Maureen dan Rayen duduk di serambi depan sambil menikmati
suasana di halaman rumahnya.
“Bun…? “ sapa Rayen sambil melirik istrinya yang cantik yang
telah memberikan seorang putra yang tampan rupawan.
“Ada apa Yah? Serius amat kelihatannya ?” kata Maureen sambil
tersenyum manja
“Ayah bahagia sekali hari ini. Ternyata Tuhan selalu
memberikan hikmah dibalik setiap musibah ya Bun?” kata Rayen
“Maksud Ayah?” Tanya Maureen
“Lihatlah Bun, beberapa hari ini kita bias melakukan sesuatu
yang jarang sekali bias kita lakukan di waktu waktu yang lalu. Kita bias bersama
hamper seharian penuh. Walaupun ya kita harus rela omzet kita turun. Tapi sepertinya
kebersamaan kita bias mengobati kekecewaan kita ya Bun?” kata Rayen
“Benar Yah. Bunda juga bahagia sekali hari ini. Kebahagiaan kita
serasa lengkap dengan hadirnya anak kita. Memang seharusnya kita selalu
memikirkan hal hal yang positif agar menambah semangat kita ya Yah?” shut Maureen.
“Iya Bunda Sayang. Ini juga waktu kita untuk sedikit
beristirahat. Kita bias lebih sering di rumah, bersama keluarga” kata Rayen
“O, lalu siapa lagi?” Tanya Rayen
“Lihatlah, alam di sekitar kita juga merasakan hal yang
sama. Ibarat sebuah perangkat elektronik seperti computer atau hp, mungkin alam
sedang berproses untuk restart atau flashing Yah. Agar perjalanannya bias kembali
normal.” Kata Maureen
“Betul bun. Sangat jarang kita temui jalanan di depan rumah
kita lengang seperti ini ya? Apalagi kalau yang ada di sekitar kantor kita. Kadang
macet bias berjam jam. Tentu jika situasi seperti ini, polusi udara akan sangat
berkurang ya? “ sambung Rayen.
“Benar Yah. Mudah mudahan setelah musibah ini, semua akan
kembali normal seperti sedia kala.” Kata Maureen
Maureen kemudian menghela nafas panjang. Memang semua
musibah akan membawa dampak yang kurang baik terhadap kehidupan. Namun Maureen berharap,
bias memetik hikmah dari peristiwa ini. Paling tidak, ini akan menjadi
pelajaran berharga bagi dia dan keluarganya. Juga bagi perusahaan yang
dipimpinnya dan selurah anak perusahaan dan koleganya.
“Ehm, ngomong ngomong bagaimana kabarnya kontrak kerja yang
ada di Mexico Yah? Apakah ada pembatalan? “ Tanya Maureen.
__ADS_1
“O, sejauh ini belum ada pembatalan. Cuma dari pihak
perusahaan memohon waktu sekitar 2 – 3 bulan lagi untuk memulai pengerjaan. Karena
disana juga lagi terkena imbas dari wabah ini “ jawab Rayen
“Syukurlah jika tidak terkena imbasnya. Semoga bulan depan
sudah bisa mulai beraktivitas lagi”
Mereka kemudian ngobrol banyak tentang segala sesuatu yang
ada di sekitar mereka. Termasuk rencana rencana yang akan dilakukan nanti,
besok dan di masa yang akan datang.
Obrolan mereka makin asyik ketika Pak Rehan dan Ibu Kimnana
ikut nimbrung sambil menggendong buah hatinya yang sudah selesai mandi. Obrolan
yang hangat dan kadangkala disertai dengan tangisan si kecil yang seakan tidak
mau ketinggalan untuk ikut ngobrol bersama mereka.
Hingga kemudian senjapun datang. Sang malam menyelimuti
wajah kota dengan hitamnya. Tak terdengar hingar bingarnya deru mesin kendaraan
yang memekakkan telinga. Bumi benar benar sedang mengobati dirinya. Menata kembali
keseimbangan alam yang sudah terkoyak oleh kemajuan tekhnologi. Yang seakan
muak dengan polusi udara yang setiap saat dimuntahkan oleh kendaraan kendaraan
yang tiada henti. Muak oleh keserakahan manusia dalam menggali sumber daya alam
demi kepuasan manusia. Bumi sedang mengobati dirinya yang sakit.
Buaian sang malam yang lembut, yang bertahun tahun sudah
tidak manusia rasakan. Malam ini, terasa sangat nyaman. Tiada kebisingan yang
selalu membuat sesak di dada. Yang ada adalah keheningan. Sesuatu yang sangat
mustahil dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota. Apalagi di kota
megapolitan sekelas Jakarta Raya.
Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah.
Terima kasih untuk readers yang sudah setia menemani cerita
hidup Maureen skeserakahan manusia dalam menggali sumber daya alam demi
kepuasan manusia. Bumi sedang mengobati dirinya yang sakit.
Buaian sang malam yang lembut, yang bertahun tahun sudah
tidak manusia rasakan. Malam ini, terasa sangat nyaman. Tiada kebisingan yang
selalu membuat sesak di dada. Yang ada adalah keheningan. Sesuatu yang sangat
mustahil dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota. Apalagi di kota
megapolitan sekelas Jakarta Raya.
Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah.
Terima kasih untuk readers yang sudah setia menemani cerita hidup
Maureen dan Rayen. Jangan lupa untuk memberikan vote dan tips agar cerita ini
terus berlanjut dan bisa menginspirasi semua pembaca.
Selamat membaca.
__ADS_1