Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 10


__ADS_3

 


 


Sinar sang surya mulai menyeruak dari balik awan yang


bergerak bergulung gulung menyambut pagi dan menarikan kidung indah diantara


dedaunan. Nampak beberapa burung pipit dan gereja terbang bebas seakan akan


menampilkan tarian alam, betapa indah ciptaan Tuhan.


Sebuah kamar yang tertata mewah di lantai dua rumah megah


itupun tak luput dari sapaan sang mentari, yang lembut dan halus menerobos


jendela kamar dimana Maureen dan Rayen mencurahkan kasih sayangnya. Pagi itu


tidak ada yang istimewa. Setelah bangun tidur, mereka bersiap siap untuk


berangkat ke kantor.


Maureen hari ini masih ada beberapa pekerjaan kantor yang


harus diselesaikan. Maureen sengaja meyuruh sekretarisnya untuk mengatur


schedule kantor agar selesai sebelum tengah hari. Maureen berniat ke kantor


dengan diantarkan Pak Jay. Karena siang nanti dia akan ke kantor Pak Tito


bersama Rayen.


Sementara Rayen, juga harus menyelesaikan final kontrak


dengan beberapa investor, yang juga sudah diatur agar selesai sebelum tengah


hari. Rencana mereka sudah tersusun rapi.


Setelah berganti pakaian, Maureen mengajak Rayen untuk


sarapan. Di ruang makan sudah tersedia menu sarapan pagi yang disiapkan oleh Bi


Minah. Seperti biasa, Bi Minah memang sudah tahu kebiasaan dari majikannya ini.


Sebelum berangkat ke kantor, mereka selalu menyempatkan diri untuk sarapan.


Selesai sarapan, Maureen pamit untuk berangkat duluan. Di halaman


depan, nampak Pak Jay sudah siap untuk mengantar Maureen berangkat ke kantor.


Tidak berapa lama, mobil sport limited edition milik Maureen


sudah meluncur meninggalkan rumah mewah itu. Menerobos pekatnya lalu lintas


Jakarta, dan meluncur menuju kantor KSM Group.


Sementara itu, Rayen juga sudah bersiap untuk berangkat ke


kantor. Nampak seorang pembantunya sudah mempersiapkan mobil yang akan dipakai


oleh Rayen. Mobil itu sudah terparkir di halaman depan. Setelah menerima kunci


mobil dari pembantunya, Rayen segera melajukan mobilnya membelah padatnya


jalanan ibukota menuju ke kantor Putra Company.


.


.


Di Kantor Putra Company pagi itu, nampak Vivi sudah


mempersiapkan beberapa draft perencanaan untuk kontrak dengan beberapa


perusahaan. Semua ini adalah hasil negosiasi beberapa waktu yang lalu antara


Rayen dibantu oleh Vivi dengan beberapa perusahaan penyedia jasa dan kontraktor

__ADS_1


yang tertarik Putra Company.


Beberapa saat kemudian, nampak mobil mewah berwarna metallic


menuju ke halaman depan kantor. Semua sudah hafal, inilah mobil yang dikendarai


oleh Presdir Putra Company Rayen Briliant Putra. Setelah sampai di depan pintu


masuk kantor, mobil berhenti. Nampak Rayen keluar daroi mobil, kemudian


menyerahlan kunci pada seorang karyawan untuk memarkir mobilnya.


“Sealamat pagi, Pak Presdir?” sapa Vivid an Silvi serta


karyawan lain hampir bersamaan.


“Selamat pagi, semuanya. O ya, Vi? Apakah berkas hari ini


sudah kamu siapkan semua?” Tanya Rayen.


“Sudah Pak, semua sudah saya siapkan di meja Pak Presdir.” Kata


Vivi.


“O, ya sudah. Terima kasih Vi ya. Usahakan semua selesai


sebelum tengah hari, karena nanti saya ada pertemuan keluarga. Jadi untuk


schedule sore nanti, kita pending sampai besok” kata Rayen.


“Baik Pak” kata Vivi.


Kemudian Rayen bergegas menuju ruang pribadinya, dan


selanjutnya meneliti berkas berkas yang sudah disiapkan oleh sekretaris Vivi.


Tak lama berselang, satu persatu rekanan bisnis dari Putra


Company sudah berdatangan. Rayen menyambut gembira kedatangan mereka. Perasaan Rayen


sangat senang, akhir akhir ini, perkembangan Putra Company cukup pesat. Rayen


sebagai salah satu perusahaan yang layak diperhitungkan keberadaannya. Rayen ingin


mandiri, dan mampu menunjukkan bahwa perusahaannya juga bisa menjadi bonafide.


Rayen juga semakin yakin akan rencana Maureen. Dia berharap,


rencana untuk membantu beberapa anak jalanan yang digagas oleh Maureen akan


disetujui oleh ayah mertuanya. Ini dilakukan Maureen dan Rayen sebagai wujud


syukur terhadap Tuhan atas nikmat yang diterima mereka.


Menjelang tengah hari, semua berkas kontrak yang disiapkan


sekretaris Vivi sudah selesai di bahas dan ditandatangani oleh Rayen. Rayen sangat


senang, semua rencana hari ini berawal dengan baik.


.


.


Sementara itu, Maureen setelah sampai di kantor, segera


menuju ke ruang pribadinya. Nampak sekretaris Zhang sudah ada di tempatnya.


“Selamat pagi, Ibu Presdir” kata selretaris Zhang.


“Selamat pagi, Zhang. Bagaimana dengan pekerjaanmu. Apa tugas


yang kemarin saya sampaikan sudah selesai?”


“Sudah Ibu Presdir, semua sudah saya siapkan di meja kerja


Ibu Presdir” kata sekretaris Zhang.

__ADS_1


“O, ya. Terima kasih. Bagaimana dengan perusahaan perusahaan


yang kemarin neracanya defisit? Apakah sudah ada perubahan?” Tanya Maureen.


“Masih ada beberapa yang belum bisa menutupi defisitnya Ibu


Presdir” kata sekretaris Zhang.


“Baiklah Zhang. Saya nanti minta daftar anak perusahaan yang


masih masih banyak memiliki kendala. Mungkin jika diperlukan, nanti aka nada rolling


diantara perusahaan itu. Nanti akan saya bicarakan dengan Tuan Besar” kata Maureen.


“Baik bu, nanti saya siapkan”kata sekretaris Zhang.


Kemudian Maureen segera menuju ke ruang pribadinya. Sejurus kemudian


Maureen sudah bergelut dengan berkas berkas yang sudah disiapkan oleh


sekretaris Zhang.


Menjelang tengah hari, berkas yang disiapkan oleh sekretaris


Zahng sudah hampir selesai. Maureen kemudian meminta sekretaris Zhang untuk me


reschedule agenda sore hari ini, karena Maureen sudah berencana untuk ke kantor


Pak Tito.


Setelah menyelesaikan tugas kantor pagi ini, Maureen segera


bersiap siap untuk pergi ke kantor Pak Tito.


Maureen berpesan pada penjaga pintu depan, agar sewaktu


waktu Rayen datang, mereka segera memberitahu Maureen.


Beberapa saat kemudian, benar saja, mobil metallic milik


Rayen terlihat memasuki halaman kantor KSM Group.


Maureen segera bergegas menuju ke pintu depan. Nampak Rayen


membuka kaca mobil, dan berseru “Sudah siap berangkat Bun?”


“Iya Ray sayang, tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu”


kata Maureen. Belum sempat Maureen balik badan, nampak sekretaris Zhang sudah


berlari menghampiri sambil membawakan tas milik Maureen.


“Oh, terima kasih Zhang. Saya tinggal dulu ya, nanti kalau


ada yang penting, langsung telepon saja” kata Maureen.


“Baik Bu Presdir” kata sekretaris Zhang.


Maureen segera bergegas menuju mobil Rayen. Nampak Rayen


keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk istrinya tercinta. Sejurus kemudian,


mobil itu sudah kembali meluncur menuju ke kantor Tuan Besar Tito Tirta Kusuma.


.


.


Apakah Tuan Besar Tito akan setuju dengan rencana Maureen


dan Rayen untuk menolong anak anak jalanan itu?


Apakah yang akan dilakukan oleh Pak Tito untuk mengatasi


anak anak perusahaan KSM Group yang neracanya mengalami defisit?


Temukan jawabannya di lanjutan episode berikutnya. Jangan lupa,

__ADS_1


baca juga kisah kisah seru di novel author yang lain.


Selamat pagi, selamat beraktivitas readers ku tercinta.


__ADS_2