
Sinar sang surya mulai menyeruak dari balik awan yang
bergerak bergulung gulung menyambut pagi dan menarikan kidung indah diantara
dedaunan. Nampak beberapa burung pipit dan gereja terbang bebas seakan akan
menampilkan tarian alam, betapa indah ciptaan Tuhan.
Sebuah kamar yang tertata mewah di lantai dua rumah megah
itupun tak luput dari sapaan sang mentari, yang lembut dan halus menerobos
jendela kamar dimana Maureen dan Rayen mencurahkan kasih sayangnya. Pagi itu
tidak ada yang istimewa. Setelah bangun tidur, mereka bersiap siap untuk
berangkat ke kantor.
Maureen hari ini masih ada beberapa pekerjaan kantor yang
harus diselesaikan. Maureen sengaja meyuruh sekretarisnya untuk mengatur
schedule kantor agar selesai sebelum tengah hari. Maureen berniat ke kantor
dengan diantarkan Pak Jay. Karena siang nanti dia akan ke kantor Pak Tito
bersama Rayen.
Sementara Rayen, juga harus menyelesaikan final kontrak
dengan beberapa investor, yang juga sudah diatur agar selesai sebelum tengah
hari. Rencana mereka sudah tersusun rapi.
Setelah berganti pakaian, Maureen mengajak Rayen untuk
sarapan. Di ruang makan sudah tersedia menu sarapan pagi yang disiapkan oleh Bi
Minah. Seperti biasa, Bi Minah memang sudah tahu kebiasaan dari majikannya ini.
Sebelum berangkat ke kantor, mereka selalu menyempatkan diri untuk sarapan.
Selesai sarapan, Maureen pamit untuk berangkat duluan. Di halaman
depan, nampak Pak Jay sudah siap untuk mengantar Maureen berangkat ke kantor.
Tidak berapa lama, mobil sport limited edition milik Maureen
sudah meluncur meninggalkan rumah mewah itu. Menerobos pekatnya lalu lintas
Jakarta, dan meluncur menuju kantor KSM Group.
Sementara itu, Rayen juga sudah bersiap untuk berangkat ke
kantor. Nampak seorang pembantunya sudah mempersiapkan mobil yang akan dipakai
oleh Rayen. Mobil itu sudah terparkir di halaman depan. Setelah menerima kunci
mobil dari pembantunya, Rayen segera melajukan mobilnya membelah padatnya
jalanan ibukota menuju ke kantor Putra Company.
.
.
Di Kantor Putra Company pagi itu, nampak Vivi sudah
mempersiapkan beberapa draft perencanaan untuk kontrak dengan beberapa
perusahaan. Semua ini adalah hasil negosiasi beberapa waktu yang lalu antara
Rayen dibantu oleh Vivi dengan beberapa perusahaan penyedia jasa dan kontraktor
__ADS_1
yang tertarik Putra Company.
Beberapa saat kemudian, nampak mobil mewah berwarna metallic
menuju ke halaman depan kantor. Semua sudah hafal, inilah mobil yang dikendarai
oleh Presdir Putra Company Rayen Briliant Putra. Setelah sampai di depan pintu
masuk kantor, mobil berhenti. Nampak Rayen keluar daroi mobil, kemudian
menyerahlan kunci pada seorang karyawan untuk memarkir mobilnya.
“Sealamat pagi, Pak Presdir?” sapa Vivid an Silvi serta
karyawan lain hampir bersamaan.
“Selamat pagi, semuanya. O ya, Vi? Apakah berkas hari ini
sudah kamu siapkan semua?” Tanya Rayen.
“Sudah Pak, semua sudah saya siapkan di meja Pak Presdir.” Kata
Vivi.
“O, ya sudah. Terima kasih Vi ya. Usahakan semua selesai
sebelum tengah hari, karena nanti saya ada pertemuan keluarga. Jadi untuk
schedule sore nanti, kita pending sampai besok” kata Rayen.
“Baik Pak” kata Vivi.
Kemudian Rayen bergegas menuju ruang pribadinya, dan
selanjutnya meneliti berkas berkas yang sudah disiapkan oleh sekretaris Vivi.
Tak lama berselang, satu persatu rekanan bisnis dari Putra
Company sudah berdatangan. Rayen menyambut gembira kedatangan mereka. Perasaan Rayen
sangat senang, akhir akhir ini, perkembangan Putra Company cukup pesat. Rayen
sebagai salah satu perusahaan yang layak diperhitungkan keberadaannya. Rayen ingin
mandiri, dan mampu menunjukkan bahwa perusahaannya juga bisa menjadi bonafide.
Rayen juga semakin yakin akan rencana Maureen. Dia berharap,
rencana untuk membantu beberapa anak jalanan yang digagas oleh Maureen akan
disetujui oleh ayah mertuanya. Ini dilakukan Maureen dan Rayen sebagai wujud
syukur terhadap Tuhan atas nikmat yang diterima mereka.
Menjelang tengah hari, semua berkas kontrak yang disiapkan
sekretaris Vivi sudah selesai di bahas dan ditandatangani oleh Rayen. Rayen sangat
senang, semua rencana hari ini berawal dengan baik.
.
.
Sementara itu, Maureen setelah sampai di kantor, segera
menuju ke ruang pribadinya. Nampak sekretaris Zhang sudah ada di tempatnya.
“Selamat pagi, Ibu Presdir” kata selretaris Zhang.
“Selamat pagi, Zhang. Bagaimana dengan pekerjaanmu. Apa tugas
yang kemarin saya sampaikan sudah selesai?”
“Sudah Ibu Presdir, semua sudah saya siapkan di meja kerja
Ibu Presdir” kata sekretaris Zhang.
__ADS_1
“O, ya. Terima kasih. Bagaimana dengan perusahaan perusahaan
yang kemarin neracanya defisit? Apakah sudah ada perubahan?” Tanya Maureen.
“Masih ada beberapa yang belum bisa menutupi defisitnya Ibu
Presdir” kata sekretaris Zhang.
“Baiklah Zhang. Saya nanti minta daftar anak perusahaan yang
masih masih banyak memiliki kendala. Mungkin jika diperlukan, nanti aka nada rolling
diantara perusahaan itu. Nanti akan saya bicarakan dengan Tuan Besar” kata Maureen.
“Baik bu, nanti saya siapkan”kata sekretaris Zhang.
Kemudian Maureen segera menuju ke ruang pribadinya. Sejurus kemudian
Maureen sudah bergelut dengan berkas berkas yang sudah disiapkan oleh
sekretaris Zhang.
Menjelang tengah hari, berkas yang disiapkan oleh sekretaris
Zahng sudah hampir selesai. Maureen kemudian meminta sekretaris Zhang untuk me
reschedule agenda sore hari ini, karena Maureen sudah berencana untuk ke kantor
Pak Tito.
Setelah menyelesaikan tugas kantor pagi ini, Maureen segera
bersiap siap untuk pergi ke kantor Pak Tito.
Maureen berpesan pada penjaga pintu depan, agar sewaktu
waktu Rayen datang, mereka segera memberitahu Maureen.
Beberapa saat kemudian, benar saja, mobil metallic milik
Rayen terlihat memasuki halaman kantor KSM Group.
Maureen segera bergegas menuju ke pintu depan. Nampak Rayen
membuka kaca mobil, dan berseru “Sudah siap berangkat Bun?”
“Iya Ray sayang, tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu”
kata Maureen. Belum sempat Maureen balik badan, nampak sekretaris Zhang sudah
berlari menghampiri sambil membawakan tas milik Maureen.
“Oh, terima kasih Zhang. Saya tinggal dulu ya, nanti kalau
ada yang penting, langsung telepon saja” kata Maureen.
“Baik Bu Presdir” kata sekretaris Zhang.
Maureen segera bergegas menuju mobil Rayen. Nampak Rayen
keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk istrinya tercinta. Sejurus kemudian,
mobil itu sudah kembali meluncur menuju ke kantor Tuan Besar Tito Tirta Kusuma.
.
.
Apakah Tuan Besar Tito akan setuju dengan rencana Maureen
dan Rayen untuk menolong anak anak jalanan itu?
Apakah yang akan dilakukan oleh Pak Tito untuk mengatasi
anak anak perusahaan KSM Group yang neracanya mengalami defisit?
Temukan jawabannya di lanjutan episode berikutnya. Jangan lupa,
__ADS_1
baca juga kisah kisah seru di novel author yang lain.
Selamat pagi, selamat beraktivitas readers ku tercinta.