
“O iya Pak Dirgo. Siapa anak muda yang bersama Pak Dirgo ini?” Tanya Rakha setelah mereka duduk bersama.
“O, dia anak saya Pak Rakha. Namanya Ronald Aditya. Panggilannya Ronald. Maaf baru saya kenalkan” kata Pak Dirgo.
“O, Ronald yang pernah Pak Dirgo ceritakan kuliah di Australia dulu?” Tanya Rakha.
“Benar Pak Rakha. Tahun ini dia sudah wisuda. Tapi ya mau bagaimana lagi. Kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk mencari pekerjaan. Jadi setelah wisuda ya terpaksa menganggur di rumah. Setelah tadi saya lewat sini, saya melihat Pak Rakha ada disini, makanya saya berusaha bertemu dengan Pak Rakha. Siapa tahu, Pak Rakha bisa membantu agar Ronald bisa mencari pengalaman di perusahaan Pak Rakha” kata Pak Dirgo sambil memohon agar bisa membantu Ronald mencari pekerjaan.
Rakha memandang ke arah pemuda tampan yang datang bersama Pak Dirgo. Pemuda yang bersama Pak Dirgo memang selain memiliki wajah yang tampan juga tubuh yang atletis dan tegap. Melihat Rakha dan Rayen memandang ke arahnya, pemuda itu kemudian menunduk hormat.
“Sayang sekali , sebenarnya saya ingin sekali membantunya Pak Dirgo. Tapi kondisi perusahaan saya sedang kurang baik. Bahkan beberapa karyawan kami terpaksa kami rumahkan karena untuk menutupi deficit anggaran perusahaan. Maklumlah, seperti yang Pak Dirgo ketahui, perusahaan kami cuma perusahaan kecil yang sangat bergantung pada pendapatan laba harian. Pandemic ini sangat berdampak pada perusahaan kami Pak Dirgo. “ kata Rakha.
Pak Dirgo Nampak menarik nafas panjang. Memang perusahaan Rakha tempat Pak Dirgo mengabdi dulu masih perusahaan kecil. Pak Dirgo sendiri tidak yakin jika pada saat menghadapi krisis ekonomi akibat pandemic ini masih mampu untuk terus berkembang. Walaupun dengan hati kecewa, namun Pak Dirgo masih bersyukur perusahaan tempat dia bekerja masih tetap berdiri dan berjalan walau dengan megurangi jumlah karyawan.
Lain Pak Dirgo, lain pula dengan yang terjadi dengan pemuda yang ada di sampingnya. Nampak wajah yang semula berbinar, kini menjadi murung. Mungkin karena sebelumnya dia mengharapkan Rakha bisa membantu untuk memberikan pekerjaan agar bisa memperoleh pengalaman. Maklumlah, tanpa pengalaman yang dipunyai. Maka akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan di masa seperti ini.
Perusahaan banyak yang merumahkan karyawan. Kalaupun ada satu atau dua perusahaan yang menerima karyawan, mereka lebih memilih yang sudah mempunyai pengalaman di bidangnya. Jadi kesempatan bagi karyawan baru yang tanpa pengalaman sangat nyaris tidak ada.
Di saat seperti itu, Rakha teringat pada Rayen. Temannya itu yang merupakan Presdir dari Putra Company, dan juga perusahaan istrinya termasuk salah satu perusahaan besar yang dalam masa sulit ini mampu bertahan bahkan tanpa mengurangi karyawannya satu pun. Oleh sebab itulah, Rakha berniat untuk meminta bantuan kepada Rayen dan Maureen.
“Maafkan saya, Pak Dirgo. Saya belum bisa membantu. Tapi mungkin Pak Dirgo bisa mencoba meminta bantuan Pak Rayen dan Ibu Maureen. Barangkali anak Bapak bisa mencari pengalaman disana” kata Rakha.
Mendengar hal itu, wajah Pak Dirgo kembali berseri. Dia memandang ke arah dua orang yang berusia sekitar dua puluh lima tahunan yang berada di dekat Rakha. Walaupun belum kenal, tapi dia yakin yang dimaksud Rakha adalah dua orang tersebut.
__ADS_1
“Maaf, Pak Rayen, Ibu Maureen. Sekali lagi saya minta maaf. Saya mohon untuk sudi membantu anak saya untuk mencari pengalaman. Saya tidak tahu harus kemana lagi mencari pekerjaan, Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan saya sudah berhenti bekerja. Jadi harapan kami, dia satu satunya penopang keluarga. Di tempat tempat lain yang membuka lowongan pekerjaan, selalu memprioritaskan mencari karyawan yang sudah berpengalaman. Paling tidak lima sampai sepuluh tahun. Jadi bagaimana dengan anak saya yang belum mempunyai pekerjaan sama sekali?” kata Pak Dirgo.
Mendengar hal itu, Rayen menoleh ke arah Maureen. Nampaknya Rayen tidak sebegitu tega untuk membiarkan Pak Dirgo bersedih. Ketika dia melihat istrinya, diapun mempunyai firasat yang sama.
Memang dalam situasi sulit saat ini, perusahaan mereka tidak pernah berniat mengurangi jumlah karyawan. Karena mereka tahu bahwa para karyawan itulah yang telah membantunya untuk membesarkan perusahaan mereka. Sangat tidak adil, jika dimasa sulit seperti sekarang ini justru mereka harus kehilangan mata pencaharian mereka.
“Bagaimana Bunda, menurut Bunda apakah kita bisa menambah karyawan lagi?” Tanya Rayen sambil memandang ke arah Maureen yang sedang menggendong si kecil yang sudah terbangun sesaat setelah kedatangan Pak Dirgo dan anaknya tadi.
“Terserah Ayah saya, Yah. Bunda akan mengikuti saja. Mungkin jika kita menambah karyawan satu atau dua orang kelihatannya masih bisa.” Maureen memberi tanggapan sambil berusaha menenangkan si kecil yang sedikit menangis, karena baru saja bangun tidur.
Rayen kemudian menoleh ke arah Rakha. Berusaha melihat reaksi dari sahabatnya itu. Nampak Rakha mengangguk kecil member isyarat.
Kemudian Rayen merogoh saku bajunya. Sebuah kartu nama kecil disodorkan pada pemuda itu.
Nampak wajah pemuda itu kembali berseri seri, dia mungkin merasakan ada secercah harapan yang diberikan oleh Rayen untuknya. Tidak ketinggalan pula dengan Pak Dirgo. Wajah pria paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Tentunya karena dengan kesempatan ini, maka terbukalah kesempatan anaknya untuk bekerja. Apalagi perusahaan Rayen dan Maureen adalah perusahaan besar yang saat ini sedang diburu orang untuk bekerja disana.
“O, iya. Saya belum tahu. Siapa nama kamu?” Tanya Rayen kepada anak muda disamping Pak Dirgo.
“Saya Ronald Aditya, Pak. Biasa di panggil Ronald.” Kata pemuda itu.
“Baiklah Ronald. Besok silahkan datang langsung ke Putra Company. Kamu bisa langsung menemui Vivi sekretaris saya. Tunjukkan kartu nama ini dan bawa cv kamu. Saya ingin tahu riwayat pendidikan dan keahlianmu. Semoga kamu bisa memenuhi criteria kami” kata Rayen.
Setelah selesai berkata begitu, rayen kemudian mempersilahkan Pak Dirgo dan Ronald untuk menghabiskan minuman yang masih tersisa setengahnya di hadapan mereka.
__ADS_1
Tidak terasa, sang surya perlahan lahan namun pasti bergerak menuju ke peraduannya. Cuaca panas menyengat di Pantai Anyer yang tadi mereka rasakan, kini berganti dengan temaram cahaya semburat kekuningan.
Di ujung cakrawala, Nampak sang surya sedang malu malu menyembunyikan wajahnya di garis batas laut nan jauh. Cahaya kuning kemerahan membelah garis antara laut dan langit menambah keindahan panorama yang ada di pantai itu.
Mereka sejenak menikmati indahnya saat terbenamnya matahari di pantai itu, sambil menghabiskan makanan dan minuman yang dia pesan.
Rakha, Rayen, Chika dan Maureen serta Pak Rehan dan Ibu Kimnana menikmati indahnya matahari terbenam di Pantai Anyer. Sementara Pak Dirgo setelah mendapatkan titik terang untuk anaknya segera pamit kembali ke rumahnya.
Senja merayap menutupi mayapada. Cahaya mentari perlahan menghilang dibalik cakrawala. Berganti malam pekat yang dihiasi lampu lampu temaram di sepanjang pantai ini.
Merekapun akhirnya berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Rayen dan Maureen, Rakha dan Chika segera bergegas menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempat itu dan bergegas pulang.
Demikian juga dengan Rayen dan keluarga. Merekapun segera menuju ke mobil mereka dan bergegas untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang mereka saling bersenda gurau. Rayen pun sejenak berusaha menghilangkan perasaan yang masih diliputi penasaran karena beberapa peristiwa yang terjadi di sepanjang hari ini.
Dia berusaha focus untuk mengendarai mobilnya, berjalan menuju ke rumahnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung …