Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 8


__ADS_3

 


 


Malam berjalan lambat. Berkali kali Rayen terbangun dari


tidurnya. Entah karena memikirkan pertemuan dengan para bos besar besok,


ataukah karena memikirkan hal lain. Yang jelas, beberapa kali Rayen harus


menngeliat dan duduk di tepi pembaringan indah di kantor Castillo Company. Diliriknya


jam yang ada di meja, sudah hampir pukul empat pagi. Hampir pagi ternyata. Rayen


berniat ingin mencari udara segar diluar kamar. Dia ingin jalan jalan di


sekitar kantor Castillo Company.


Suasana pagi di kota Mexico adalah suasana yang sangat


menyenangkan. Rayen kemudian melangkah ke luar kamar. Mexico, memang kota yang


tidak pernah tidur. Bahkan beberapa karyawan yang berjaga di kantor Castillo


Company pun kelihatan sedang menjalankan tugasnya masing masing. Nampak mereksa


menundukkan kepala sebagai rasa hormat ketika Rayen melintas di depan mereka. Kebanyakan


dari mereka hanya menguasai bahasa Spanyol. Namun tidak sedikit juga dari


mereka yang menguasai bahasa inggris.


Rayen meminta izin pada seorang petugas keamanan yang


mengerti bahasa inggris untuk melihat lihat suasana kantor Castillo Company.


Rayen sengaja tidak mengajak Vivi, karena Rayen mengira Vivi pasti masih


tertidur, karena tadi malam dia sudah cukup larut malam berangkat tidur karena


harus memeprsiapkan materi dan berkas berkas yang harus digunakan untuk


presentasi proyek di pagi nanti.


Setelah mendapatkan izin dan memperoleh tanda pengenal


khusus yang diberikan oleh petugas jaga, Rayen mulai berjalan melihat lihat


suasana pabrik dan kantor Castillo Company.


Hari masih agak sedikit gelap di langit Mexico. Namun nampaknya


nafas kehidupan di kota yang merupakan kota terbesar di Meksiko itu sudah kelihatan


menggeliat. Suasana kota juga hampir seperti Jakarta, bedanya jika Jakarta


kadang terlihat agak semrawut karena kurangnya kesadaran warganya dalam  melakukan aktivitas, namun disini, sikap


menghargai orang lain sangat dijunjung tinggi.


Kantor Castillo company pagi itu benar benar nampak indah. Dari


ufuk timur nampak cahaya merah temaram merebak menyeruak dari garis cakrawala. Sinarnya


yang tajam nampak bagaikan kilatan lidah sang naga raksasa yang sedang


menampakkan taringnya. Cahaya merah di ufuk timur yang sedikit terhalang oleh


mendung yang membuat gambaran baris baris kecil di atas cahaya matahari,


menambah indahnya suasana pagi.


Nampak beberapa ekor burung khas meksiko beterbangan,


hinggap diantara pohon pohon yang menjulang tinngi di pelataran kantor Castillo


Company. Suara burung burung itu seakan melantukan keindahan alam di pagi itu. Mereka


terus bernyanyi, seakan menyambut kedatangan tamu istimewa di pagi ini.


Rayen terus melihat lihat tata pengelolaan dan penempatan


beberapa bangunan yang ada di sekitar kantor Castillo Company. Beberapa bangunan


itu memang dibangun dengan arsitektur berteknologi tinggi, tapi menurut Rayen,


ada beberapa bagian yang memang dirasa kurang pas. Ah, ini nanti yang akan


digunakan sebagai tambahan bahan pertimbangan untuk proyek proyek yang akan


dikerjakan oleh Castillo Company bekerja sama dengan Putra Company ke depannya.


Mr. Vincent sebagi orang yang dipercaya oleh perusahaan Casillo untuk mengurusi


kerjasama ini, pasti akan sangat senang jika Rayen mampu memberikan koreksi


untuk perbaikan beberapa proyek Castillo yang dirasa kurang pas menurut Rayen.


Puas menikmati panorama di sekitar kantor Castillo Company,


Rayen kemudian berniat untuk kembali ke kamarnya.


Dia berjalan sambil sesekali memperhatikan karyawan Castillo


yang sedang bekerja dan yang bersiap siap untuk pulang. Memang hari sudah pagi,


saatnya berganti shift. Mereka yang bekerja shift malam, sudah saatnya pulang,


digantikan mereka yang akan bekerja di shift siang. Rayen menyusuri koridor

__ADS_1


kantor menuju ke tempat penginapan tamu yang hampir mirip bintang lima.


Rayen berjalan sambil sesekali mengingat tempat tempat yang


tadi dilewati. Maklum, beberapa tulisan disini menggunakan bahasa Spanyol, jadi


perlu pemikiran ekstra bagi Rayen untuk memecahkan tulisan itu, karena Rayen


tidak menguasai bahasa Spanyol.


Akhirnya, setelah beberapa kali harus berhenti karena


sedikit lupa dengan rute yang tadi dilalui saat berjalan jalan di sekitar


kantor, akhirnya Rayen sampai di depan pintu kamarnya.


Diamati dua pintu kamar tempat dia menginap. Di kamar itu,


satu kamar digunakan untuk menginap Vivi, sedangkan kamar yang lain digunakan


oleh Rayen. Rupanya Rayen bingung, mana kamar yang digunakan menginap dia.


Semua pintu bentuknya sama,hanya ada kode khusus yang Rayen sendiri tidak faham


dengan kode itu.


Diraihnya gagang pintu kamar itu, dan krek….. pintu terbuka.


Ah, kamu Rayen, kenapa sampai lupa mengunci pintu saat mau jalan jalan tadi. Rayen


kemudian masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kursi di tengah ruangan. Namun


ada yang agak ganjil bagi dia. Seharusnya tadi dia meletakkan bajunya di


kursi,kenapa tidak ada. Ah masa bodoh ah, mungkin jatuh, pikir Rayen.


Rayen kemudian memejamkan matanya. Masih jam lima, mungkin


dia akan bersiap siap nanti setengah jam lagi sajalah.


Baru saja dia mau tiduran dengan santai, tiba tiba dia


dikejutkan dengan keluarnya seseorang dari kamar mandi. Seorang cewek cantik


dan hanya dibalut kain handuk basah. Rupanya wanita itu habis mandi, nampak


begitu sintal dan ayu tubuh wanita itu. Rayen heran, siapa yang berani masuk


kamarnya tanpa izin, bahkan mandi lagi. Apakah dia wanita yang keliru masuk


kamar.


Diamatinya dari jauh, seperti bukan orang Meksiko,


sepertinya orang Indonesia. Rayen mengakui bahwa wanita ini memang cantik,


tubuhnya sintal. Sayangnya dia masih menghadap kearah berlawanan dengan Rayen,


Baru saja Rayen akan melangkah menegur dia, tiba tiba wanita


itu berpaling dan……..


Alangkah terkejutnya Rayen dan juga wanita itu.


“Vivi…….” Teriak Rayen sangat kaget melihat Vivi berada di


kamarnya, bahkan saat ini dengan tanpa pakaian, hanya selembar handuk yang


menutupi tubuhnya.


“Pak Rayen………” Vivi tidak kalah kagetnya, sambil berusaha


menutupi bagian tubuhnya yang memang sangat mempesona, ibarat bunga akan selalu


mengundang setiap kumbang untuk mencicipi sari madunya.


“Vi, kok kamu ada di kamarku sih, kenapa dengan kamar mandi


di kamarmu”. Kata Rayen sambil agak menelan ludah. Maklum, dia laki laki


normal. Jika saja dia belum punya istri, pasti akan lain ceritanya.


Apalagi ingatan Rayen, kembali terbayang saat ada di pesawat


kemarin. Ah, Vivi. Kenapa kamu selalu menggoda Rayen sih?


“Pak Rayen, kenapa masuk ke kamar Vivi tanpa permisi?” Tanya


Vivi sambil mencoba mencari baju untuk menutupi tubuhnya. Diraihnya baju tidur


yang ada di sampingnya. Walaupun baju itu tidak menutupi tubuhnya secara


sempurna, tapi paling tidak sudah bisa menutupi sebagian tubuhnya yang sintal dan


membuat laki laki merasa terpesona.


“Apa, kamar kamu Vi, bukankah ini kamarku? Tadi saja saya


masuk tidak terkunci kok?” kata Rayen membela diri.


“Saya tadi memang lupa mengunci pintu pak, karena sebelum


saya mandi ada seorang pelayan yang mengirimkan sarapan pagi dan susu segar,


tuh sekarang ada di meja. Tadi pelayan itu juga menitipkan susu segar untuk Pak


Presdir disini,karena katanya kamar Pak Presdir dikunci, terus diketuk ketuk


tidak ada yang menjawab” kata Vivi

__ADS_1


Astaga Rayen, ternyata yang salah kamar itu kamu. Rayen jadi


senyum senyum sendiri, antara malu dan juga harus berkata apa. Ternyata dia


salah masuk kamar. Pantas saja, bajunya tadi hilang. Laptopnya juga hilang. Ternyata


yang dia masuki adalah kamarnya Vivi.


Dan parahnya lagi, dia masuk ke kamar Vivi saat Vivi sedang


mandi. Rayen, Rayen. Bagaimana kamu ini. Baru juga mau jadi Bapak dari anakmu


yang pertama, sudah lingling. Eh ling lung.


Akhirnya Rayen pun kembali ke kamarnya dengan sejuta rasa. Bagaimana


tidak sejuta rasa. Disaat dia jauh dari istrinya, dia melihat pemandangan yang


akan selalu menggoda setiap perasaan seorang laki laki dewasa. Ah, Vivi. Andai saja


Rayen masih sendiri………..


.


Sekembalinya Rayen ke kamarnya, tinggalah kini Vivi yang sedang


menyiapkan baju untuk dipakainya nanti. Dalam hatinya ternyata sama dengan


Rayen. Ketika Vivi keluar dari kamar mandi tadi, nampak sekali pandangan Rayen


sangat lain dirasakan oleh Vivi. Ya, pandangan yang seakan mau menelanjangi


dirinya.


“Apakah Pak Rayen suka sama aku ya? Pandangannya tadi


sepertinya pandangan seorang laki-laki yang suka pada wanita. Pandangan yang


kelihatannya suka pada diriku”


Vivi berulang kali menghela nafas panjang. Apakah mungkin


Pak Rayen suka sama dia? Kenangan di mall waktu itu, sikap Pak Rayen di


pesawat, dan cara memandang Rayen pada Vivi saat melihat Vivi hanya mengenakan


handuk tadi? Ah, semua mengatakan bahwa Pak Rayen sebenarnya menaruh hati pada


Vivi.


Apakah Vivi juga akan senang seandainya Pak Rayen betul


betul menyukai dirinya? Apakah Vivi akan tetap menyukai Pak Rayen, meskipun Pak


Rayen sudah punya istri?


Vi, berfikir apa sih kamu? Berfikir seandainya jadi istri


kedua? Apa berfikir mau merebut Pak Rayen dari Ibu Maureen?


Ingat Vi, kamu bisa seperti ini karena jasa Ibu Maureen. Apa


kamu tega mengkhianati beliau?


Batin Vivi terus bergejolak. Antara iya dan tidak. Antara senang


dan sedih. Antara suka dan tidak suka.


Tapi Vi, siapa yang bisa menolak Pak Rayen sih, seandainya


dia benar benar suka sama kamu? Pak Rayen, orang yang sangat gagah dan tampan,


belum lagi CEO sebuah perusahaan yang cukup besar, bahkan jika kontrak hari ini


lancar, bisa jadi Putra Company akan berkembang hampir dua kali lipatnya dari


KSM Group, perusahaan milik keluarga Maureen.


Eh, bangun Vi? Jangan mimipi terlalu tinggi, kenapa kamu


sudah berfikir yang hukan bukan dan terlalu mengkhayal terhadap sikap Pak


Rayen?


Mungkin saja setiap lelaki akan sama sikapnya jika melihat


wanita setengah telanjang di depan matanya? Jadi bukan berarti Pak Rayen suka


sama kamu Vi?


Atau barangkali kamu Vi yang terlalu kege-er an, merasa


bahwa pandangan Pak Rayen adalah pandangan suka, padahal mungkin biasa biasa


saja?


Hilangkan dulu perasaan itu Vi, tinggalkan dulu pikiran


gilamu. Saatnya kamu ganti baju, persiapkan berkas untuk presentasi nanti.


.


.


Pengin tahu kelanjutan cerita ini? Jangan lupa untuk member dukungan


untuk author ya. Dukung vote sebanyak banyaknya. Agar cerita ini selalu hadir


didepan, sehingga membuat readers gampang untuk mencarinya. Terima kasih untuk

__ADS_1


readers yang telah memberikan dukungan. Salam dari Vivi untuk readers yang


paling jengkel jika Vivi hadir……..


__ADS_2