
Malam berjalan lambat. Berkali kali Rayen terbangun dari
tidurnya. Entah karena memikirkan pertemuan dengan para bos besar besok,
ataukah karena memikirkan hal lain. Yang jelas, beberapa kali Rayen harus
menngeliat dan duduk di tepi pembaringan indah di kantor Castillo Company. Diliriknya
jam yang ada di meja, sudah hampir pukul empat pagi. Hampir pagi ternyata. Rayen
berniat ingin mencari udara segar diluar kamar. Dia ingin jalan jalan di
sekitar kantor Castillo Company.
Suasana pagi di kota Mexico adalah suasana yang sangat
menyenangkan. Rayen kemudian melangkah ke luar kamar. Mexico, memang kota yang
tidak pernah tidur. Bahkan beberapa karyawan yang berjaga di kantor Castillo
Company pun kelihatan sedang menjalankan tugasnya masing masing. Nampak mereksa
menundukkan kepala sebagai rasa hormat ketika Rayen melintas di depan mereka. Kebanyakan
dari mereka hanya menguasai bahasa Spanyol. Namun tidak sedikit juga dari
mereka yang menguasai bahasa inggris.
Rayen meminta izin pada seorang petugas keamanan yang
mengerti bahasa inggris untuk melihat lihat suasana kantor Castillo Company.
Rayen sengaja tidak mengajak Vivi, karena Rayen mengira Vivi pasti masih
tertidur, karena tadi malam dia sudah cukup larut malam berangkat tidur karena
harus memeprsiapkan materi dan berkas berkas yang harus digunakan untuk
presentasi proyek di pagi nanti.
Setelah mendapatkan izin dan memperoleh tanda pengenal
khusus yang diberikan oleh petugas jaga, Rayen mulai berjalan melihat lihat
suasana pabrik dan kantor Castillo Company.
Hari masih agak sedikit gelap di langit Mexico. Namun nampaknya
nafas kehidupan di kota yang merupakan kota terbesar di Meksiko itu sudah kelihatan
menggeliat. Suasana kota juga hampir seperti Jakarta, bedanya jika Jakarta
kadang terlihat agak semrawut karena kurangnya kesadaran warganya dalam melakukan aktivitas, namun disini, sikap
menghargai orang lain sangat dijunjung tinggi.
Kantor Castillo company pagi itu benar benar nampak indah. Dari
ufuk timur nampak cahaya merah temaram merebak menyeruak dari garis cakrawala. Sinarnya
yang tajam nampak bagaikan kilatan lidah sang naga raksasa yang sedang
menampakkan taringnya. Cahaya merah di ufuk timur yang sedikit terhalang oleh
mendung yang membuat gambaran baris baris kecil di atas cahaya matahari,
menambah indahnya suasana pagi.
Nampak beberapa ekor burung khas meksiko beterbangan,
hinggap diantara pohon pohon yang menjulang tinngi di pelataran kantor Castillo
Company. Suara burung burung itu seakan melantukan keindahan alam di pagi itu. Mereka
terus bernyanyi, seakan menyambut kedatangan tamu istimewa di pagi ini.
Rayen terus melihat lihat tata pengelolaan dan penempatan
beberapa bangunan yang ada di sekitar kantor Castillo Company. Beberapa bangunan
itu memang dibangun dengan arsitektur berteknologi tinggi, tapi menurut Rayen,
ada beberapa bagian yang memang dirasa kurang pas. Ah, ini nanti yang akan
digunakan sebagai tambahan bahan pertimbangan untuk proyek proyek yang akan
dikerjakan oleh Castillo Company bekerja sama dengan Putra Company ke depannya.
Mr. Vincent sebagi orang yang dipercaya oleh perusahaan Casillo untuk mengurusi
kerjasama ini, pasti akan sangat senang jika Rayen mampu memberikan koreksi
untuk perbaikan beberapa proyek Castillo yang dirasa kurang pas menurut Rayen.
Puas menikmati panorama di sekitar kantor Castillo Company,
Rayen kemudian berniat untuk kembali ke kamarnya.
Dia berjalan sambil sesekali memperhatikan karyawan Castillo
yang sedang bekerja dan yang bersiap siap untuk pulang. Memang hari sudah pagi,
saatnya berganti shift. Mereka yang bekerja shift malam, sudah saatnya pulang,
digantikan mereka yang akan bekerja di shift siang. Rayen menyusuri koridor
__ADS_1
kantor menuju ke tempat penginapan tamu yang hampir mirip bintang lima.
Rayen berjalan sambil sesekali mengingat tempat tempat yang
tadi dilewati. Maklum, beberapa tulisan disini menggunakan bahasa Spanyol, jadi
perlu pemikiran ekstra bagi Rayen untuk memecahkan tulisan itu, karena Rayen
tidak menguasai bahasa Spanyol.
Akhirnya, setelah beberapa kali harus berhenti karena
sedikit lupa dengan rute yang tadi dilalui saat berjalan jalan di sekitar
kantor, akhirnya Rayen sampai di depan pintu kamarnya.
Diamati dua pintu kamar tempat dia menginap. Di kamar itu,
satu kamar digunakan untuk menginap Vivi, sedangkan kamar yang lain digunakan
oleh Rayen. Rupanya Rayen bingung, mana kamar yang digunakan menginap dia.
Semua pintu bentuknya sama,hanya ada kode khusus yang Rayen sendiri tidak faham
dengan kode itu.
Diraihnya gagang pintu kamar itu, dan krek….. pintu terbuka.
Ah, kamu Rayen, kenapa sampai lupa mengunci pintu saat mau jalan jalan tadi. Rayen
kemudian masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kursi di tengah ruangan. Namun
ada yang agak ganjil bagi dia. Seharusnya tadi dia meletakkan bajunya di
kursi,kenapa tidak ada. Ah masa bodoh ah, mungkin jatuh, pikir Rayen.
Rayen kemudian memejamkan matanya. Masih jam lima, mungkin
dia akan bersiap siap nanti setengah jam lagi sajalah.
Baru saja dia mau tiduran dengan santai, tiba tiba dia
dikejutkan dengan keluarnya seseorang dari kamar mandi. Seorang cewek cantik
dan hanya dibalut kain handuk basah. Rupanya wanita itu habis mandi, nampak
begitu sintal dan ayu tubuh wanita itu. Rayen heran, siapa yang berani masuk
kamarnya tanpa izin, bahkan mandi lagi. Apakah dia wanita yang keliru masuk
kamar.
Diamatinya dari jauh, seperti bukan orang Meksiko,
sepertinya orang Indonesia. Rayen mengakui bahwa wanita ini memang cantik,
tubuhnya sintal. Sayangnya dia masih menghadap kearah berlawanan dengan Rayen,
Baru saja Rayen akan melangkah menegur dia, tiba tiba wanita
itu berpaling dan……..
Alangkah terkejutnya Rayen dan juga wanita itu.
“Vivi…….” Teriak Rayen sangat kaget melihat Vivi berada di
kamarnya, bahkan saat ini dengan tanpa pakaian, hanya selembar handuk yang
menutupi tubuhnya.
“Pak Rayen………” Vivi tidak kalah kagetnya, sambil berusaha
menutupi bagian tubuhnya yang memang sangat mempesona, ibarat bunga akan selalu
mengundang setiap kumbang untuk mencicipi sari madunya.
“Vi, kok kamu ada di kamarku sih, kenapa dengan kamar mandi
di kamarmu”. Kata Rayen sambil agak menelan ludah. Maklum, dia laki laki
normal. Jika saja dia belum punya istri, pasti akan lain ceritanya.
Apalagi ingatan Rayen, kembali terbayang saat ada di pesawat
kemarin. Ah, Vivi. Kenapa kamu selalu menggoda Rayen sih?
“Pak Rayen, kenapa masuk ke kamar Vivi tanpa permisi?” Tanya
Vivi sambil mencoba mencari baju untuk menutupi tubuhnya. Diraihnya baju tidur
yang ada di sampingnya. Walaupun baju itu tidak menutupi tubuhnya secara
sempurna, tapi paling tidak sudah bisa menutupi sebagian tubuhnya yang sintal dan
membuat laki laki merasa terpesona.
“Apa, kamar kamu Vi, bukankah ini kamarku? Tadi saja saya
masuk tidak terkunci kok?” kata Rayen membela diri.
“Saya tadi memang lupa mengunci pintu pak, karena sebelum
saya mandi ada seorang pelayan yang mengirimkan sarapan pagi dan susu segar,
tuh sekarang ada di meja. Tadi pelayan itu juga menitipkan susu segar untuk Pak
Presdir disini,karena katanya kamar Pak Presdir dikunci, terus diketuk ketuk
tidak ada yang menjawab” kata Vivi
__ADS_1
Astaga Rayen, ternyata yang salah kamar itu kamu. Rayen jadi
senyum senyum sendiri, antara malu dan juga harus berkata apa. Ternyata dia
salah masuk kamar. Pantas saja, bajunya tadi hilang. Laptopnya juga hilang. Ternyata
yang dia masuki adalah kamarnya Vivi.
Dan parahnya lagi, dia masuk ke kamar Vivi saat Vivi sedang
mandi. Rayen, Rayen. Bagaimana kamu ini. Baru juga mau jadi Bapak dari anakmu
yang pertama, sudah lingling. Eh ling lung.
Akhirnya Rayen pun kembali ke kamarnya dengan sejuta rasa. Bagaimana
tidak sejuta rasa. Disaat dia jauh dari istrinya, dia melihat pemandangan yang
akan selalu menggoda setiap perasaan seorang laki laki dewasa. Ah, Vivi. Andai saja
Rayen masih sendiri………..
.
Sekembalinya Rayen ke kamarnya, tinggalah kini Vivi yang sedang
menyiapkan baju untuk dipakainya nanti. Dalam hatinya ternyata sama dengan
Rayen. Ketika Vivi keluar dari kamar mandi tadi, nampak sekali pandangan Rayen
sangat lain dirasakan oleh Vivi. Ya, pandangan yang seakan mau menelanjangi
dirinya.
“Apakah Pak Rayen suka sama aku ya? Pandangannya tadi
sepertinya pandangan seorang laki-laki yang suka pada wanita. Pandangan yang
kelihatannya suka pada diriku”
Vivi berulang kali menghela nafas panjang. Apakah mungkin
Pak Rayen suka sama dia? Kenangan di mall waktu itu, sikap Pak Rayen di
pesawat, dan cara memandang Rayen pada Vivi saat melihat Vivi hanya mengenakan
handuk tadi? Ah, semua mengatakan bahwa Pak Rayen sebenarnya menaruh hati pada
Vivi.
Apakah Vivi juga akan senang seandainya Pak Rayen betul
betul menyukai dirinya? Apakah Vivi akan tetap menyukai Pak Rayen, meskipun Pak
Rayen sudah punya istri?
Vi, berfikir apa sih kamu? Berfikir seandainya jadi istri
kedua? Apa berfikir mau merebut Pak Rayen dari Ibu Maureen?
Ingat Vi, kamu bisa seperti ini karena jasa Ibu Maureen. Apa
kamu tega mengkhianati beliau?
Batin Vivi terus bergejolak. Antara iya dan tidak. Antara senang
dan sedih. Antara suka dan tidak suka.
Tapi Vi, siapa yang bisa menolak Pak Rayen sih, seandainya
dia benar benar suka sama kamu? Pak Rayen, orang yang sangat gagah dan tampan,
belum lagi CEO sebuah perusahaan yang cukup besar, bahkan jika kontrak hari ini
lancar, bisa jadi Putra Company akan berkembang hampir dua kali lipatnya dari
KSM Group, perusahaan milik keluarga Maureen.
Eh, bangun Vi? Jangan mimipi terlalu tinggi, kenapa kamu
sudah berfikir yang hukan bukan dan terlalu mengkhayal terhadap sikap Pak
Rayen?
Mungkin saja setiap lelaki akan sama sikapnya jika melihat
wanita setengah telanjang di depan matanya? Jadi bukan berarti Pak Rayen suka
sama kamu Vi?
Atau barangkali kamu Vi yang terlalu kege-er an, merasa
bahwa pandangan Pak Rayen adalah pandangan suka, padahal mungkin biasa biasa
saja?
Hilangkan dulu perasaan itu Vi, tinggalkan dulu pikiran
gilamu. Saatnya kamu ganti baju, persiapkan berkas untuk presentasi nanti.
.
.
Pengin tahu kelanjutan cerita ini? Jangan lupa untuk member dukungan
untuk author ya. Dukung vote sebanyak banyaknya. Agar cerita ini selalu hadir
didepan, sehingga membuat readers gampang untuk mencarinya. Terima kasih untuk
__ADS_1
readers yang telah memberikan dukungan. Salam dari Vivi untuk readers yang
paling jengkel jika Vivi hadir……..