
Masa pemulihan dari Tuan Tito terbilang cukup cepat. Dalam 3
hari pasca operasi beliau sudah bisa berjalan sendiri dan beraktivitas ringan
sendiri. Dokter menyarankan agar di pagi hari, Pak Tito membiasakan untuk jalan
jalan pagi di area pavilion untuk melatih otot otot nya kembali bergerak dengan
sempurna. Termasuk syaraf motorik yang sempat kena efek dari sel kanker yang
baru saja diangkat.
Maureen dengan setia menemani ayahnya jalan jalan, sambil
sesekali ngobrol tentang masa kecilnya. Maureen merasakan kebahagiaan yang tak
terhingga saat dia bisa bersama ayahnya walaupun hanya pada saat seperti ini. Saat
dimana ayahnya justru kena penyakit dan dirawat di rumah sakit. Ah, mungkin
juga ini cara Tuhan agar Maureen bisa dekat dengan ayahnya kali ya.
Bayangkan, saat di Jakarta, tinggal di satu kota yang sama
saja, Maureen jarang sekali berjumpa dengan ayahnya. Jangankan untuk bermanja
manja, waktu untuk bertemu lebih dari 3 jam saja sangat sulit. Tuntutan pekerjaan
mereka yang memaksa untuk selalu dan selalu bekerja.
“Ayah, bagaimana sakit di kepala ayah? Masih pusing?” Tanya Maureen
“Tidak my princes, ayah sudah tidak merasakan sakit di
kepala. Hari ini kondisi ayah sudah cukup baik. Lihat nih, ayah sudah bisa
lari, hahaha…..” kata Tuan Tito
“Iya ayah, dokter juga bilang, mungkin besok atau lusa kita
sudah boleh pulang. Pengacara Wang sudah memesan tiket untuk kita kembali ke
Jakarta. Saya minta pesan untuk lusa saja. Biar ayah kondisinya benar benar fit
untuk perjalanan jauh” kata Maureen.
“Terima kasih anakku. Maafkan ayah ya? Ayah sering
merepotkanmu. Seharusnya kamu mengurusi perusahaanmu di Jakarta. Tapi kamu
harus mengurus pengobatan ayah disini” kata Pak Tito
“Ah, ayah ini ngomong apa sih? Sudah kewajiban Maureen untuk
merawat ayah. Ingat yah, siapa yang merawat Maureen saat Maureen masih kecil? Saat
Maureen masih sekolah? Saat Maureen belajar menjalani kehidupan? Ayah kan? Jadi
sudah saatnya sekarang Maureen yang berkewajiban merawat ayah saat ayah sakit
atau sudah berumur” kata Maureen.
__ADS_1
“Iya, ayah tahu. Maafkan ayah ya? Ayah dulu terlalu keras
mendidik kamu untuk menggantikan posisi ayah di perusahaan. Sehingga kamu tidak
punya waktu untuk bermain.yang ada adalah belajar, belajar dan belajar” kata
Pak Tito
“Ayah, jika ayah tidak mendidik Maureen dengan keras, Maureen
tidak akan bisa seperti sekarang ini. Maureen tidak akan mampu menjalankan
perusahaan dengan baik. Tentu Maureen juga tidak bisa mewujudkan cita cita
ayah. Maureen yang harus berterima kasih sama ayah” kata Maureen.
“Iya sayang. Tapi Maureen juga harus berhati hati. Dalam bisnis
tidak semua yang kita lihat itu benar. Kadang banyak teman yang menjadi musuh. Banyak
yang kelihatannya kawan tapi sebenarnya lawan. Jadi, dalam bertindak, cobalah
berhati hati. Ayah merasa dalam perusahaanmu ada yang perlu kamu waspadai. Itu saat
ayah mendengar laporan bahwa neraca keuangan KSM Group kemarin pailit. Ini diluar
nalar. Kamu coba selidiki, ajak Rayen untuk melakukan ini. Biar cepat, mungkin
kamu bisa mencoba mencari tahu langsung dari karyawan yang ada di anak
perusahaanmu, siapa yang paling banyak berperan disitu” kata ayah Tito merasa
ada yang tidak beres di tubuh perusahaan milik Maureen itu.
“Iya ayah. Nanti biar Rayen yang membantu Maureen. Ayah jangan
perusahaan nanti Maureen dan Rayen yang akan menyelesaikannya” kata Maureen
“Iya sayang, ayah percaya sama kalian. Lulusan coumload
kampus ternama harus bisa mengatasi ini. Tapi ingat anakku, jangan pernah
gegabah untuk menuduh seseorang. Mereka melakukan itu kadang sudah secara
sistematis. Jadi carilah bukti yang kuat dulu, baru kemudian kamu bisa menuduh
mereka” kata Pak Tito
“Iya ayah. Ayah tenang saja. Nanti biar Maureen dan Rayen
yang akan mencarikan solusi untuk masalah ini” kata Maureen
Obrolan ayah dan anak itu kian hangat. Dari masalah
kesehatan, sampai cerita masa kecil Maureen yang sangat indah. Ah, andai saja
ibu masih ada, tentu kebersamaan ini makin lengkap, begitu perasaan Maureen. Tidak
terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah saatnya mereka kembali ke pavilion rumah
sakit. Tuan besar Tito harus menjalani perawatan dan cek kesehatan pagi. Tentu baik
Maureen maupun pengacara Wang berharap kondisi Pak Tito sudah benar benar
pulih. Sesuai prediksi dari pihak Rumah sakit, bahwa hari ini mungkin Pak Tito
__ADS_1
bisa diajak pulang.
Nampak dokter dokter ahli dengan cekatan mengontrol dan
mengecek kondisi Tuan Tito. Benar saja, menurut hasil analisa dokter, hari ini
Tuan Tito bisa bersiap siap untuk pulang ke Jakarta. Hanya saja, setelah itu,
Tuan Tito masih harus menjalani kemoteraphy di Jakarta, yang nanti akan
langsung dikoordinasi oleh dokter keluarga.
.
Waktu berjalan tidak terasa. Setelah semua administrasi
rumah sakit diselesaikan oleh pengacara Wang. Mereka bersiap untuk menuju
bandara di Las Vegas. Sesuai jadwal mereka akan segera bertolak ke Jakarta. Selamat
tinggal Nevada. Selamat datang Jakarta. Maureen berharap ayahnya jangan sampai
kesini untuk kedua kalinya. Maureen berharap, ayahnya terus sehat dan bisa
menjalankan aktivitasnya lagi. Maureen sangat ingin ayahnya bisa menikmati masa
tua dengan keadaan yang senang, riang dan suatu saat nanti, jika cucunya sudah
lahir, bisa bermain dan bercanda dengan buah hatinya yang sekarang sudah masuk
usia 5 bulan kehamilan.
Mobil segera meluncur membelah jalanan Nevada menuju Las
Vegas. Di dalam mobil nampak Tuan Tito didampingi oleh Maureen. Kemudian di
belakangnya ada Bi Minah dan pengacara Wang. Merekalah yang selama ini membantu
Maureen untuk merawat Pak Tito selama berada di Nevada Amerika Serikat.
Setengah hari perjalanan, mereka sudah sampai di Las Vegas. Mobil
mengarah ke Bandara dan disana sudah menanti petugas bandara yang menyapa
dengan ramah mereka. Sesuai jadwal, sore ini mereka akan terbang ke Jakarta.
Baik Pak Tito, Maureen , pengacara Wang ataupun Bi Minah berharap ini adalah
kali pertama dan terakhir mereka ke Nevada untuk berobat. Jika mereka mau
kesana, inginnya sih liburan, bukan karena penyakit yang sangat berbahaya
seperti ini.
Pesawat yang ditumpangi mereka sudah take off. Mereka semua
bernafas lega. Satu ujian sudah selesai dilaksanakan. Ujian kehidupan. Karena hakekatnya,
hidup ibarat orang yang berada di sebuah sekolah. Jika saatnya ujian, kita mau
tidak mau, suka tidak suka harus menjalaninya. Dan setelah ujian, hasilnya aka
nada dua, naik kelas atau tinggal kelas. Demikian juga dalam kehidupan, setelah
ujian kehidupan, maka Tuhan akan melihat kita. Jika berhasil dalam ujian
__ADS_1
kehidupan, maka akan semakin besar rasa empati kita terhadap orang lain. Makin dekat kita kepada Sang Maha
Pencipta, Penguasa Jagat Raya.