Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 26


__ADS_3

 


 


Masa pemulihan dari Tuan Tito terbilang cukup cepat. Dalam 3


hari pasca operasi beliau sudah bisa berjalan sendiri dan beraktivitas ringan


sendiri. Dokter menyarankan agar di pagi hari, Pak Tito membiasakan untuk jalan


jalan pagi di area pavilion untuk melatih otot otot nya kembali bergerak dengan


sempurna. Termasuk syaraf motorik yang sempat kena efek dari sel kanker yang


baru saja diangkat.


Maureen dengan setia menemani ayahnya jalan jalan, sambil


sesekali ngobrol tentang masa kecilnya. Maureen merasakan kebahagiaan yang tak


terhingga saat dia bisa bersama ayahnya walaupun hanya pada saat seperti ini. Saat


dimana ayahnya justru kena penyakit dan dirawat di rumah sakit. Ah, mungkin


juga ini cara Tuhan agar Maureen bisa dekat dengan ayahnya kali ya.


Bayangkan, saat di Jakarta, tinggal di satu kota yang sama


saja, Maureen jarang sekali berjumpa dengan ayahnya. Jangankan untuk bermanja


manja, waktu untuk bertemu lebih dari 3 jam saja sangat sulit. Tuntutan pekerjaan


mereka yang memaksa untuk selalu dan selalu bekerja.


“Ayah, bagaimana sakit di kepala ayah? Masih pusing?” Tanya Maureen


“Tidak my princes, ayah sudah tidak merasakan sakit di


kepala. Hari ini kondisi ayah sudah cukup baik. Lihat nih, ayah sudah bisa


lari, hahaha…..” kata Tuan Tito


“Iya ayah, dokter juga bilang, mungkin besok atau lusa kita


sudah boleh pulang. Pengacara Wang sudah memesan tiket untuk kita kembali ke


Jakarta. Saya minta pesan untuk lusa saja. Biar ayah kondisinya benar benar fit


untuk perjalanan jauh” kata Maureen.


“Terima kasih anakku. Maafkan ayah ya? Ayah sering


merepotkanmu. Seharusnya kamu mengurusi perusahaanmu di Jakarta. Tapi kamu


harus mengurus pengobatan ayah disini” kata Pak Tito


“Ah, ayah ini ngomong apa sih? Sudah kewajiban Maureen untuk


merawat ayah. Ingat yah, siapa yang merawat Maureen saat Maureen masih kecil? Saat


Maureen masih sekolah? Saat Maureen belajar menjalani kehidupan? Ayah kan? Jadi


sudah saatnya sekarang Maureen yang berkewajiban merawat ayah saat ayah sakit


atau sudah berumur” kata Maureen.

__ADS_1


“Iya, ayah tahu. Maafkan ayah ya? Ayah dulu terlalu keras


mendidik kamu untuk menggantikan posisi ayah di perusahaan. Sehingga kamu tidak


punya waktu untuk bermain.yang ada adalah belajar, belajar dan belajar” kata


Pak Tito


“Ayah, jika ayah tidak mendidik Maureen dengan keras, Maureen


tidak akan bisa seperti sekarang ini. Maureen tidak akan mampu menjalankan


perusahaan dengan baik. Tentu Maureen juga tidak bisa mewujudkan cita cita


ayah. Maureen yang harus berterima kasih sama ayah” kata Maureen.


“Iya sayang. Tapi Maureen juga harus berhati hati. Dalam bisnis


tidak semua yang kita lihat itu benar. Kadang banyak teman yang menjadi musuh. Banyak


yang kelihatannya kawan tapi sebenarnya lawan. Jadi, dalam bertindak, cobalah


berhati hati. Ayah merasa dalam perusahaanmu ada yang perlu kamu waspadai. Itu saat


ayah mendengar laporan bahwa neraca keuangan KSM Group kemarin pailit. Ini diluar


nalar. Kamu coba selidiki, ajak Rayen untuk melakukan ini. Biar cepat, mungkin


kamu bisa mencoba mencari tahu langsung dari karyawan yang ada di anak


perusahaanmu, siapa yang paling banyak berperan disitu” kata ayah Tito merasa


ada yang tidak beres di tubuh perusahaan milik Maureen itu.


“Iya ayah. Nanti biar Rayen yang membantu Maureen. Ayah jangan


perusahaan nanti Maureen dan Rayen yang akan menyelesaikannya” kata Maureen


“Iya sayang, ayah percaya sama kalian. Lulusan coumload


kampus ternama harus bisa mengatasi ini. Tapi ingat anakku, jangan pernah


gegabah untuk menuduh seseorang. Mereka melakukan itu kadang sudah secara


sistematis. Jadi carilah bukti yang kuat dulu, baru kemudian kamu bisa menuduh


mereka” kata Pak Tito


“Iya ayah. Ayah tenang saja. Nanti biar Maureen dan Rayen


yang akan mencarikan solusi untuk masalah ini” kata Maureen


Obrolan ayah dan anak itu kian hangat. Dari masalah


kesehatan, sampai cerita masa kecil Maureen yang sangat indah. Ah, andai saja


ibu masih ada, tentu kebersamaan ini makin lengkap, begitu perasaan Maureen. Tidak


terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah saatnya mereka kembali ke pavilion rumah


sakit. Tuan besar Tito harus menjalani perawatan dan cek kesehatan pagi. Tentu baik


Maureen maupun pengacara Wang berharap kondisi Pak Tito sudah benar benar


pulih. Sesuai prediksi dari pihak Rumah sakit, bahwa hari ini mungkin Pak Tito

__ADS_1


bisa diajak pulang.


Nampak dokter dokter ahli dengan cekatan mengontrol dan


mengecek kondisi Tuan Tito. Benar saja, menurut hasil analisa dokter, hari ini


Tuan Tito bisa bersiap siap untuk pulang ke Jakarta. Hanya saja, setelah itu,


Tuan Tito masih harus menjalani kemoteraphy di Jakarta, yang nanti akan


langsung dikoordinasi oleh dokter keluarga.


.


Waktu berjalan tidak terasa. Setelah semua administrasi


rumah sakit diselesaikan oleh pengacara Wang. Mereka bersiap untuk menuju


bandara di Las Vegas. Sesuai jadwal mereka akan segera bertolak ke Jakarta. Selamat


tinggal Nevada. Selamat datang Jakarta. Maureen berharap ayahnya jangan sampai


kesini untuk kedua kalinya. Maureen berharap, ayahnya terus sehat dan bisa


menjalankan aktivitasnya lagi. Maureen sangat ingin ayahnya bisa menikmati masa


tua dengan keadaan yang senang, riang dan suatu saat nanti, jika cucunya sudah


lahir, bisa bermain dan bercanda dengan buah hatinya yang sekarang sudah masuk


usia 5 bulan kehamilan.


Mobil segera meluncur membelah jalanan Nevada menuju Las


Vegas. Di dalam mobil nampak Tuan Tito didampingi oleh Maureen. Kemudian di


belakangnya ada Bi Minah dan pengacara Wang. Merekalah yang selama ini membantu


Maureen untuk merawat Pak Tito selama berada di Nevada Amerika Serikat.


Setengah hari perjalanan, mereka sudah sampai di Las Vegas. Mobil


mengarah ke Bandara dan disana sudah menanti petugas bandara yang menyapa


dengan ramah mereka. Sesuai jadwal, sore ini mereka akan terbang ke Jakarta.


Baik Pak Tito, Maureen , pengacara Wang ataupun Bi Minah berharap ini adalah


kali pertama dan terakhir mereka ke Nevada untuk berobat. Jika mereka mau


kesana, inginnya sih liburan, bukan karena penyakit yang sangat berbahaya


seperti ini.


Pesawat yang ditumpangi mereka sudah take off. Mereka semua


bernafas lega. Satu ujian sudah selesai dilaksanakan. Ujian kehidupan. Karena hakekatnya,


hidup ibarat orang yang berada di sebuah sekolah. Jika saatnya ujian, kita mau


tidak mau, suka tidak suka harus menjalaninya. Dan setelah ujian, hasilnya aka


nada dua, naik kelas atau tinggal kelas. Demikian juga dalam kehidupan, setelah


ujian kehidupan, maka Tuhan akan melihat kita. Jika berhasil dalam ujian

__ADS_1


kehidupan, maka akan semakin besar rasa empati kita terhadap orang  lain. Makin dekat kita kepada Sang Maha


Pencipta, Penguasa Jagat Raya.


__ADS_2