
Pagi itu, seperti yang sudah direncanakan kemarin, Maureen dan
Rayen mengajak pengacara keluarga Tito untuk mencari LSM yang bergerak di
bidang sosial mengenai penanganan anak anak jalanan. Mereka tidak ingin gegabah
melaksanakan rencana ini. Mereka harus tahu track record dari LSM yang akan
digandengnya. Karena di era sekarang ini, banyak orang menyalahgunakan
kepercayaan yang diberikan kepada mereka.
Beberapa waktu yang lalu, ada yayasan yang terbukti
meyalahgunakan bantuan yang diterima, untuk kepentingan pribadi pemilik
yayasan. Maureen, Rayen dan Pak Tito tidak ingin niat mereka memberikan bantuan
untuk anak anak itu, justru menimbulkan masalah baru yang rumit.
Setelah mencari referensi dan melihat sepak terjang dari
masing masing LSM yang bergerak di bidang sosial di sekitar Jakarta dan Bogor,
akhirnya disimpulkan bahwa LSM B****H A***I adalah LSM yang dipercayauntuk
mengelola bantuan dari KSM Group untuk membantu anak anak kurang beruntung itu.
Segala sesuatu sudah dirundingkan matang matang, termasuk
besaran dana yang akan dikucurkan untuk yayasan ini. Maureen memberikan sebuah
rumah yang sederhana namun lumayan besar untuk menampung aktivitas anak anak
ini selepas sekolah atau di sela sela waktu senggang mereka setelah mengais
rejeki di jalan.` Maureen dan
Rayen pun meminta pihak yayasan untuk merahasiakan keberadaan mereka, agar di
dalam jiwa anak anak itu ada rasa tanggung jawab terhadap apa yang sudah
diberikan kepada mereka. Selain itu, nanti dari pihak perusahaan juga akan ada
beasiswa yang akan diberikan kepada anak anak yang berprestasi, namun juga akan
diberikan dengan proses yang hanya yayasan dan KSM Group yang tahu.
Sungguh suatu niat yang sempurna, dimana tangan kanan member,
tangan kiri jangan sampai tahu.
.
.
Seiring berjalannya waktu, tidak terasa sudah satu minggu
KSM Group memberi bantuan untuk anak anak terlantar itu. Pagi itu, Maureen nampak
sangat bahagia. Beberapa tahun yang lalu, dia tidak pernah memimpikan arti uang
__ADS_1
seribu, dua ribu, sejuta, atau dua juta. Baginya, uang saku 500 juta itu masih
sedikit. Ternyata, diluar sana, ada orang yang untuk mencari koin 500 perak
saja harus disertai dengan peluh, keringat dan berpanas panas.
Maureen teringat seorang anak kecil, yang sedang menggendong
adiknya, uumurnya masih kisaran 9 -10 tahun. Sedang adiknya baru berumur
sekitar 6 tahun. Saat mobil Maureen berhenti karena lampu lalu lintas sedang
menyala merah, anak itu menghampiri sambil membawa kemuching ( alat pembersih
debu dari bulu ayam ). Di usapnya perlahan kaca mobil Maureen. Setelah itu, dia
Cuma mengharapkan ada uang recehan yang berkenan diberikan pada dia dari si
empunya mobil.
Maureen dan Rayen pagi itu sengaja tidak berangkat ke
kantor. Hari ini dokter keluarga akan membahas tentang hasil laboratorium
tentang kondisi kesehatan Tuan Besar Tito Tirta Kusuma. Tim dokter ahli yang
diketuai oleh Dr. Albert sengaja memilih membahas ini di rumah, karena ada yang
sangat urgen yang harus segera diketahui oleh pihak keluarga.
Beberapa minggu terakhir, baik Maureen maupun Rayen memang
sedang memikirkan kondisi Pak Tito. Walaupun Pak Tito kelihatannya menyembunyikan
pada diri ayahanda tercintanya. Itulah kenapa Maureen dan Rayen meminta dokter
keluarga untuk meneliti secermat mungkin kesehatan dari Pak Tito.
Menurut kabar yang disampaikan oleh Dr. Albert, hasil lab
dari rumah sakit terkemuka di Amerika Serikat diterima tim dokter keluarga
Tirta Kusuma kemarin sore. Kemudian pada malam harinya, mereka para tim ahli
kedokteran itu segera mengadakan rapat membahas apa saja yang harus dilakukan
untuk setepat dan secepat mungkin menolong dan mengobati Pak Tito.
Maureen dan Rayen harap harap cemas dengan kondisi kesehatan
Pak Tito. Mereka berharap secepat mungkin mengetahui hasil lab dan kesimpulan
dokter terhadap kondisi kesehatan Pak Tito. Namun disisi lain, mereka cemas. Mereka
tidak berharap ada hal yang membahayakan bagi kesehatan orang tuanya.
Menjelang pukul 09 pagi itu, nampak sebuah mobil yang
berwarna silver, milik Dr. Albert memasuki pelataran rumah mewah kepunyaan Maureen.
Setelah memarkir mobilnya di tempat parkir tamu, nampak Dr. Albert keluar dari
mobil, didampingi oleh Dr. John spesialis jantung dan penyakit dalam, serta
asisten dokter, Dr. Himawan. Mereka adalah orang orang kepercayaan keluarga
__ADS_1
Tirta Kusuma, yang merupakan dokter ahli
keluarga.
“Selamat pagi Tuan Rayen dan Nyonya Maureen” sapa Dr. Abert,
diikuti oleh Dr. John dan Dr. Himawan.
“Selamat pagi Pak Dokter” kata Maureen.
“Selamat pagi dokter, silahkan masuk” kata Rayen sambil
mempersilahkan mereka bertiga untuk segera masuk ke ruangan yang sudah disiapkan.
Ruangan yang tidak terlalu luas memang, hanya cukup menampung sekitar 15 orang.
Dan memang ruangan itu dilengkapi dengan layar monitor untuk presentasi. Biasanya
Maureen membahas masalah masalah urgent perusahaan juga disini bersama Presdir
anak anak perusahaan KSM Group jika Maureen tidak sempat membahasnya di kantor.
Dan ketika dokter keluarga perlu menjelaskan tentang hal hal yang membutuhkan
presentasi, mereka juga menjelaskannya disini.
Nampak para dokter ahli itu sudah duduk di tempatnya masing
masing. Demikian pula Maureen dan Rayen. Mereka nampak sudah tidak sabar ingin
mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada diri Pak Tito.
Dr. Albert kemudian berdiri menuju meja presentasi. Nampak dia
mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Kemudian disampingnya nampak sebuah
video compact disc yang bertuliskan bahasa inggris. Setelah memasangnya pada
laptop, nampak di layar monitor tulisan yang berisi symbol symbol dan gambar
kerangka kepala manusia.
Tulisan itu dipenuhi symbol symbol yang hanya dimengerti
oleh orang orang kedokteran. Nampak Dr. Albert menoleh ke arah Dr. John dan Dr.
Himawan. Keduanya mengangguk hampir bersamaan, tanda memberikan signyal bahwa
Dr. Albert bisa mulai menjelaskan tentang kondisi dari Tuan Besar Tito Tirta
Kusuma.
Maureen dan Rayen dengan perasaan cemas campur deg degan
menanti dengan sabar apa yang akan dikatakan oleh Dr. Albert.
Maureen dan Rayen sangat berharap, keadaan Pak Tito masih
dalam tahapyang bisa diselamatkan.
.
.
.
__ADS_1