
Rayen masih memperhatikan apa yang ditulis oleh Ronald dalam surat lamaran yang sudah diserahkan kepadanya lewat berkas yang baru saja dia terima. Walaupun dalam hati kecil Rayen merasa punya tanggung jawab sebagai sesama manusia untuk menolong pemuda itu, tapi segala kemungkinan buruk juga perlu untuk dikaji ulang dan dipikirkan.
Maureen sejauh ini masih belum melakukan apa apa. Dia bahkan belum memberikan usulan apapun terkait lamaran yang ditulis oleh Ronald. Sejujurnya maureen juga merasa bahwa pemuda ini memiliki potensi yang
besar untuk membantu membesarkan Putra Company. Dan kalau seandainya tidak diberi kesempatan untuk mengabdi di perusahaan ini, tentu akan sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan lain, karena banyak perusahaan saat ini bukan menambah karyawan, tapi malah mengurangi jumlah karyawannya untuk memangkas pengeluaran yang sangat membebani perusahaan di masa pandemic ini.
Tidak banyak yang ditanyakan oleh Rayen terkait kepribadian dari Ronald Aditya. Dia hanya menanyakan seputar pendidikan dari pemuda itu yang menurut Rayen akan sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk menerima atau menolak lamarannya.
Setelah berbincang beberapa waktu, akhirnya Rayen memutuskan untuk menunda dulu keputusannya, terkait lamaran Ronald akan diberitahukan kemudian untuk keputusannya. Hal ini wajar, karena disamping memang Rayen belum bisa memutuskan apakah menerima atau menolak lamaran pemuda itu, dia juga harus mengantarkan Pak Rehan dan Ibu Kimnana yang hari ini akan berangkat ke rumahnya, untuk mempersiapkan kepergiannya ke luar negeri seperti yang sudah direncanakan.
“Baik Ronald, kami belum bisa memutuskan terkait lamaran kamu di perusahaan ini. Nanti staf kami akan menghubungi anda terkait hasil keputusan yang kami peroleh setelah memperhatikan spesifikasi keahlian
kami dan yang mungkin kami perlukan di perusahaan kami” kata Rayen menutup sesi wawancara pada pagi itu.
“Terima kasih Pak Rayen. Saya sangat berharap dapat diberi kesempatan untuk bisa menjadi karyawan di perusahaan ini. Dan perkenankan saya mohon pamit Pak, mohon maaf jika kedatangan saya kurang berkenan di
hati Bapak dan Ibu pimpinan” kata Ronald dengan hormat dan penuh sopan.
Setelah itu, mereka mempersilahkan pemuda itu untuk pulang. Sementara itu Rayen meminta Maureen untuk membawa cv dari Ronald untuk mereka pelajari di rumah sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan keputusan mereka.
\=\=\=\=
Dalam perjalanan pulang dari kantor, Rayen dan Maureen lebih banyak diam dan tidak ingin membahas permasalahan lamaran Ronald. Mereka sepakat akan mempelajari dan melihat lebih detail tentang Ronald setelah bersantai di rumah saja.
Mobil mewah warna mettalic itu kemudian mamasuki rumah mewah milik keluarga Rayen dan Maureen. Setelah memarkir mobil di halaman, Rayen dan Maureen bergegas untuk masuk ke ruangan tengah. Dan benar dugaan
mereka, ternyata Pak Rehan dan Ibu Kimnana sudah menunggu mereka di ruangan tersebut. Sementara si kecil sedang tertidur digendongan Bi Minah.
__ADS_1
“Sudah lama menunggu Yah?” tanya Rehan
“Ah, belum Rayen. Ibumu baru selesai membereskan barang barang yang akan kami bawa. Bagaimana suasana di kantormu? Apakah lancar?” tanya Pak Rehan
“Iya Yah, sejauh ini lancar lancar saja, meskipun harus ada adaptasi terhadap kebiasaan baru yang memang perlu untuk penyesuaian. Namun sejauh ini semua karyawan nampaknya menyadari tentang pentingnya
mematuhi protokol kesehatan, karena memang sangat perlu untuk menjaga kesehatan kita semua” kata Rayen.
“Syukurlah Rayen. Merubah kebiasaan yang sudah ada dengan kebiasaan baru akan sangat membutuhkan kesabaran. Jadi kamu harus sabar untuk selalu mengingatkan mereka akan pentingnya mematuhi segala yang sudah ditetapkan sebagai upaya menanggulangi penyebaran pandemic ini,” kata Pak Rehan mengingatkan Rayen.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, mereka segera bergegas untuk berangkat ke rumah Pak Rehan.
\=\=\=
Perjalanan menuju rumah Pak Rehan cukup lancar sore itu. Tidak lupa sepanjang perjalanan Pak Rehan dan Ibu Kimnana selalu memberi nasehat kepada Rayen dan maureen. Maklum mereka adalah pasangan muda yang baru
sesekali membantu mengasuh anaknya jika kebetulan Maureen sedang repot.
Jalan yang sedikit lengang membuat perjalanan mereka tidak terasa. Setelah selesai mengantarkan Pak Rehan dan Ibu Kimnana, rayen dan Muareen bergegas untuk berpamitan pulang. Tidak lupa Pak Rehan berpesan agar tetap selalu berhati hati dengan segala hal yang bisa saja terjadi. Rencananya besok mereka akan berangkat ke luar negeri dan dalam waktu yang lama.
\=\=\=
Akhirnya setelah melalui pertimbangan yang cukup ketat dan juga berbagai hal yang memberatkan dan melemahkan alasan untuk menerima Ronald, akhirnya Maureen dan Rayen memutuskan untuk menerima pemuda
itu menjadi karyawan di perusahaan Rayen. Waktu berlalu, hari berganti. Tidak terasa sudah tiga tahun Ronald
mengabdi di perusahaan Rayen. Seiring perubahan zaman, saat itu perkembangan perusahaan tersebut tergolong sangat cepat. Usai sudah pandemic yang melanda negeri ini dan suasana kembali normal.
__ADS_1
Di tahun kedua setelah ronald menjadi karyawan di Putra Company, dia menorehkan prestasi yang luar biasa. Sebagai divisi marketing dia berhasil menaikkan omzet penjualan perusahaan sampai dengan hampir 20 %. Suatu prestasi yang luar biasa, yang membuat kepercayaan Rayen dan maureen makin bertambah.
Menginjak tahun ketiga ini, Rayen mempercayakan Kepala divisi Marketing perusahaan kepada Ronald Aditya. Hal ini karena mereka merasa bahwa Ronald sudah sangat bisa dipercaya dan dedikasinya dalam mengelola perusahaan juga cukup bagus.
Seiring dengan makin bertambahnya waktu dan perkembangan perusahaan yang makin meningkat pesat, Rayen kecilpun tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Dia nampak sangat sehat dan ceria. Terlebih
lagi di beberapa kesempatan kadang Maureen mengajak anak sematawayangnya itu untuk ikut ke kantor. Dan saat dia ada di kantor, anak itu terlihat dengan cepat dapat begitu akrab dengan pegawai pegawai
yang ada di kantor Rayen maupun di kantor Maureen. Tidak jarang beberapa dari mereka juga mengajak bocah lucu itu untuk sekedar berjalan jalan atau menikmati udara di sekitar kantor. Anak itu memang cepat sekali akrab dengan orang lain.
Seperti halnya pagi itu, ketika berangkat ke kantor, Rayen kecil juga merajuk untuk minta ikut ke kantor bersama sang ibu tercinta. Akhirnya oleh Maureen, dia diajak ke kantor. Namun naas, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Saat para karyawan sedang sibuk dengan pekerjaannya masing masing di kantor Maureen, tiba tiba si kecil bermain seorang diri di ruangan sebelah tempat kantor ibunya, Maureen.
Maureen yang saat itu sedang sangat fokus dengan pekerjaannya tidak menyadari bahwa anaknya sudah berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Dan ketika Maureen menyadari itu, anaknya sudah tidak ada di sekitar dia. Jeritan Maureen memanggil manggil anaknya membuat semua karyawan gaduh. Semua berusaha mencari keberadaan anak kecil yang baru berusia sekitar 4 tahun itu. Riuh rendah mereka memanggil manggil nama si
kecil sambil terus berusaha mencari. Kolong meja, kolong kursi dan ruangan ruangan sempit pun tidak luput
dari perhatian mereka. Namun yang dicari belum juga kunjung ditemukan. Akhirnya seorang staf diminta untuk menghubungi Rayen yang saat itu masih ada di kantornya. Dia belum tahu kejadian yang menimpa putranya dan juga istrinya di kantor Maureen.
Di saat semua karyawan dan staf berusaha mencari keberadaan si kecil, Maureen hanya bisa menangis menyesali keteledorannya saat bersama putranya itu.
Apa yang terjadi sebenarnya pada anak semata wayang Rayen dan Maureen?
***Nantikan di lanjutan kisah ini ya. Jangan lupa like, komen dan beri
dukungan untuk author agar bisa terus berkarya...
follow ig ku queensepthy_
__ADS_1