
Dika dan Dinda sudah sampai di kantor tempat Tasya bekerja. Kemudian keduanya menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruangan Tasya.
"Maaf pak, ibu Tasya sedang berada di luar . Dia sedang ikut pak Bagas bertemu dengan klien perusahaan"
"Dimana? karena ini sangat penting mba, jadi saya mohon bantuannya. Saya janji tidak akan mengganggu jalannya meeting, saya akan menunggu sampai selesai" Ucap Dika dengan serius
"Di RM. Pondok Cempaka " jawabnya
"Terima kasih"
Kemudian Dika mengajak Dinda menyusul Tasya di sana. Begitu sampai di sana, mereka mencari cari keberadaan wanita itu dan akhirnya mereka menemukannya.
"Kita tunggu mereka sampai selesai" Ucap Dika yang mengajak Dinda duduk dan mereka memesan makanan sambil mengawasi Tasya.
Beberapa menit berlalu, rombongan Tasya sudah mulai bergerak akan keluar dari tempat itu, Dika pun bergerak cepat untuk mencegat Tasya.
"Tasya, tunggu!" ucap Dika dan membuat semua orang melihat kearah Dika,
"Aku ingin bicara" ucap Dika tanpa peduli dengan yang lainnya
"Pak, saya izin sebentar ...." Ucap Tasya pada atasannya
"Oke! jam 1 kamu harus sudah kembali ke kantor"
"Baik"
"Ikut aku!" suara Dika terdengar tidak ramah,
Lalu Dika mengajak Tasya bertemu dengan Dinda.
"Ada apa?!" tanya Tasya saat menatap Dinda dengan tatapan tidak suka
"Apa salahku, sampai kau tega menghasut Dekan Fakultas untuk mengeluarkan ku?!" tanya Dinda tanpa ingin basa basi
"Ck! jadi kau sudah tau?! bagus kalau begitu! "
__ADS_1
"Kamu memang tidak pantas kuliah di tempat itu! Harusnya kamu berkaca! kamu itu tidak pantas berada di sana!"
" Apa urusannya denganmu?! ini hidupku, dan aku mendapatkan beasiswa itu juga karena usahaku! apa karena Dimas yang membatalkan pertunangan mu, lalu kau membalas semuanya padaku?!" Ucap Dinda dengan tatapan tajam kepada Tasya
"KAU!!" Tasya menunjuk Dinda dengan jari telunjuknya dan mata melotot
"Apa?! benarkan ucapan ku?!" ucap Dinda terdengar melawan
"Ya! memang itu alasan utamaku! Gara gara kau, Dimas membatalkan pertunangan kami! kamu sepeti hantu yang terus membayangi kehidupan Dimas! Harusnya kamu pergi jauh! jangan pernah menampakkan wajahmu lagi dihadapannya!" Tasya membentak-bentak Dinda
"Jaga ucapan mu!" Sarkas Dika karena istrinya di bentak bentak.
"Kenapa?! kau juga kak! kenapa tidak membawa wanita ini pergi jauh?! bukankan dia sudah jadi istrimu hah?!" teriak Tasya
Plaaaakkkkkk
Tamparan keras dilayangkan Dinda pada wajah mulus Tasya yang langsung berubah merah
"Kau boleh membentak ku tapi tidak pada suamiku! urusanmu denganku!" hardik Dinda,
"Harusnya KAU berfikir waras!! Dimas yang memutuskan mu, tapi kau membalasnya padaku! Harusnya kau selesaikan semuanya dengan Dimas, bukan denganku!" Dinda menghempaskan tangan Tasya
"Kami minta kau, temui dekan kampus untuk menjelaskan semuanya!" ucap Dinda
"Untuk apa?! tidak ada untungnya bagi ku!" jawab Tasya
"Jika kau tidak mau melakukan itu, kami akan melaporkan kamu dengan perkara pencemaran nama baik !! kamu pikir kami tidak punya bukti?! Lihat ini!!" Dika menjawab sembari menunjukkan ponselnya. Dia memutar video pertengkaran Dinda dan Tasya. Sedari tadi Dika tidak banyak bicara karena tugasnya adalah merekam kejadian saat itu sedangkan Dinda akan memancing Tasya untuk mengaku. Tasya mengeratkan genggaman tangannya karena begitu kesal. Tidak ada pilihan lain lagi,,,
Kemudian Dinda dan Dika pergi meninggalkan Tasya yang masih berdiri mematung menatap mereka.
**
Agenda ketiga, Dinda dan Dika akan bertemu dengan papa Angga. Keduanya sudah duduk di lobby dan menunggu di panggil naik ke atas. Tak lama kemudian pegawai resepsionis pun memanggil mereka dan menyuruh keduanya untuk naik ke atas dan bertemu dengan
Tok
__ADS_1
Tok
"Masuk"
Dika membuka pintu ruangan itu dan mereka melihat seorang pria paruh baya tengah berkutat pada pekerjaannya, dialah papanya Angga
"Assalamualaikum, Selamat siang pak" Sapa Dika
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk, silahkan duduk" Ucap papa Dika menutup dokumennya dan menatap tamunya
"Perkenalkan pak, Saya Dika, dan ini istri saya Dinda" ucap Dika
"Saya Dermawan, papanya Angga" ucap pak Dermawan
"Kami berterima kasih karena bapak sudah mau membantu kami, pak" ucap Dika
"Iya, Angga yang meminta saya untuk membantunya. Saya sedikit banyak mendengar cerita kalian berdua dari Angga. Untuk itu, saya mau membantu kalian karena kalian orang yang baik dan temannya Angga"
"Saya bisa membantu Dinda kembali mendapatkan beasiswanya dan anda pak Dika, kembali mengajar di kampus itu. Tapi saya mengajukan tawaran,, semua tidak gratis" ucap papa Angga
"Tawaran apa pak?" tanya Dika yang mulai curiga. Jika papa Angga meminta Dika untuk melepaskan Dinda, Dika sudah bersiap untuk menolak tawaran itu.
"Setelah Dinda lulus nanti, Saya minta Dinda untuk bekerja sebagai Dokter di rumah sakit kami"
Deg!
.
.
.
.
Apa Dinda akan menerima tawaran itu?
__ADS_1