
Malam sudah menyapa, suasana komplek itu pun juga sudah terasa sepi. Warung mie ayam Dika yang sore tadi sempat ramai kini juga sudah tidak beroperasi lagi sejak pukul 8 malam. Santo dan Daru sudah pulang, Fatih pun sudah tidur di kamarnya setelah Dinda menemani dia tidur sambil membacakan buku cerita sepeti biasa.
Dinda keluar dari kamar putranya setelah memastikan bocah tampan itu benar benar tidur pulas. Kemudian Dinda berjalan menuju kamarnya dan dilihat kamar utama masih kosong, Dinda menebak suami tercintanya itu pasti berada di ruang kerja. Sebelum menyusul Dika, Dinda ke dapur untuk membuatkan teh hangat lebih dulu.
Ceklek
Beberapa menit kemudian Dinda menekan handle pintu dan mendorongnya kedalam
"Sayang" Ucap Dika sedikit kaget dan melihat istrinya
"Abang masih banyak kerjaan ya?" tanya Dinda
"Sedikit, abang lagi buat soal ujian. Kamu belum tidur?" tanya Dika yang kemudian mensleepkan laptopnya
"Belum bisa tidur, Ini Dinda buatkan teh hangat" Ucap Dinda yang kemudian masuk
"Terima kasih,, sini deh" ucap Dika memanggil istrinya. Lalu Dinda berjalan mengitari meja dan berdiri tegak di samping, Dika menarik lembut tangan Dinda dan menuntunnya untuk duduk di pangkuannya.
"Ada apa bang?" Dinda mencium ada sesuatu yang mencurigakan
"Tadi pagi,, apa yang kamu pikirkan saat jam kuliah abang?" tanya Dika
"Ssshhh,,," Dinda menahan geli saat tangan besar Dika menapaki jalanan mulus dengan bebasnya di balik daster bunga bunga istrinya
"Gak,, ada bang,,," jawab Dinda mengigit bibir bawahnya
"Tapi abang lihat kamu senyum senyum sendiri, terus salah tingkah saat tertangkap basah sedang menatap abang. Mikir mesum yaaa??" Tangan besar itu sudah berhenti di warung si penjual apem.
"Ya Ampun,,, tangannya bisa gak sih berhenti,,,ssshh,," Dinda menahan tangan Dika namun di tepisnya
"Jawab dulu" Dika masih terus memberikan penyiksaan pada istrinya
__ADS_1
"Uuhh gimana ,,mau jelasin,,, gak ,,konssen,, aba,,ngg,," jawab Dinda Benar benar ingin meledak sekarang Namun Dika tidak menghiraukan permintaan istrinya
"Dinda,,, cuma,, bilang,, ke calon,, anak kita,, Dinda ,, pengen,, anak kita,, mirip abang,,, yang,,ahh,,, punya,, hati,,baik,, ba,,ng" ucap Dinda dengan nafas tak beraturan
"Abanggggg!" Teriak Dinda kaget saat merasakan dirinya melayang di udara, dia pun mengalungkan tangannya dengan kuat di leher Dika karena kaget
Dika sudah berdiri dan membawa istrinya keluar dari ruang kerjanya
"Abang mau jengukin anak kita" kecupan manis mendarat di pipi kanan Dinda dan membuatnya tersipu.
"Abang selalu bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan!" kekeh Dinda saat menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang selalu memberinya kehangatan setiap malam
"Hehe,, tapi kamu suka kan?!" kekeh Dika sembari menutup pintu
"He'em" Sahut Dinda
"Dasar pak Dosen Nakal!!" Ucap Dinda dan Dika hanya terkekeh mendengarnya.
"Jangan lupa kunci dulu pintunya" ucap Dinda mengingatkan
"Oh iya,, sebentar yah" Dika melangkah menuju pintu dan mengunci pintu kamarnya. Sementara Dinda mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur. Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung pemanasan.
Pet!
"Abang,,, mati lampu!! cari senter dulu bang, baru lanjut lagi!" teriak Dinda
**
Pagi pagi sekali Dimas sudah keluar dari kamarnya dengan menenteng pakaian kerja sementara saat itu Dimas memakai pakaian biasa, rencananya pagi itu dia ingin bertemu dengan sekar. Sehari tak bertengkar dengannya ntah rasanya ada yang kurang sekarang. Kemudian Dimas berjalan keluar menuju ke mobilnya
"Mau kemana kamu pagi pagi gini Dim?" tanya ibu Nadira saat melihat Dimas sudah akan pergi sepagi itu
__ADS_1
"Ke Empang Sekar ma, Dimas mau mastiin ikan yang mereka kirim hari ini semuanya super" jawab Dimas memberi alasan
"Kamu gak perlu kesana lagi! mama sudah menyuruh pak Gandi untuk ke sana" ucap Ibu Nadira
"Kenapa begitu ma? mama yang minta Dimas untuk menemui Sekar agar mau menjual ikannya kepada Kita. Sekarang mama larang Dimas untuk menemuinya?!" jawab Dimas
"Dia sudah mengirimkan ikan itu lagi, jadi kamu tidak perlu repot repot kesana lagi. Lebih baik kamu fokus sama pekerjaan kamu dan ingat, nanti ketika kamu sudah berusia 25 tahun, kamu harus sudah bisa memimpin perusahaan keluarga kita dan mengelola restauran kita" ucap mama
"Kenapa semuanya Dimas ma? kan ada Bang Dika?!" jawab Dimas
"Cuma kamu yang bisa di andalkan untuk mengurus perusahaan dan usaha keluarga ini. Dika sudah memilih jalannya sendiri, semua ini demi masa depan kamu. Dan mama gak suka kamu dekat dengan gadis itu!" jawab mama
"Kenapa ma?" Dimas mulai kesal
"Kita gak sederajat Dimas! Harusnya kamu itu pilih wanita yang sederajat sama kita! sudah bagus mama pilihkan Tasya, tapi kamu malah menolaknya! Sekarang malah kamu mau mendekati gadis itu!" sungut mama Dimas
"Apa sih ma, mama selalu saja menilai seseorang dari materi! Dulu Mama menilai Dinda juga begitu, sekarang sekar! Dimas berteman pun juga harus dengan orang kaya! terserah mama, Dimas capek!"
Dimas berlalu menuju ke arah kemudi mobil
"Semua mama lakukan demi kebaikanmu!" teriak ibu Nadira
Namun sepertinya Dimas tidak ingin mendengar, Dimas pun langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah.
"Dimasssssssss!"
.
.
.
__ADS_1
.