
Dimas baru bergabung di meja makan bersama kedua orang tuanya. Setelah menyapa keduanya, Dia duduk kemudian mengambil sarapan.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya papa
"Baik baik saja pa. Pa,, ma,, aku ingin bicara" ucap Dimas terlihat serius
"Apa?" tanya mama
"Aku akan melamar Sekar" ucap Dimas dengan tegas
Deg!
Uhuuukkk uhuuukkkk uhukkkkk
Mama Nadira sampai kesedak mendengarkan ucapan Dimas, kemudian pak Dirdja menyodorkan air minum. Sudah habis satu gelas namun batuknya belum juga hilang.
"Apa kamu gila hah?! mama sudah katakan, mama tidak akan merestui kalian! sampai kapan pun!" ucap mama
"Mama jangan egois seperti itu, aku ingin menikahi sekar karena aku sudah jatuh hati padanya" jawab Dimas
"Harusnya kamu belajar dari masa lalu! kamu sudah pernah gagal menikah karena kamu terlalu gegabah, buru buru ingin menikah, tapi apa?! kamu kabur begitu saja!" Jawab mama dengan nafas naik turun dan tatapan tajam kearah Dimas
"Justru aku belajar dari masa lalu ma! aku yakin keputusan Dimas kali ini benar!" ucap Dimas
"Benar apa?! kau tidak berfikir dewasa Dimas! menikah bukan asal menikah! apa kau mau mempermalukan kami lagi hah?!" mama emosi meluap luap
"Dimas sudah fikirkan ini berulang kali ma, please mama harus dukung aku. Jangan seperti waktu itu, mama menghasut pikiranku. Aku tidak ingin patah hati untuk kedua kali ma. Aku serius ingin menikahi Sekar! tidak masalah jika kami hanya menikah sederhana saja! Dimas tidak masalah" ucap Dimas
Praaaaangggggg
Mama membanting piring makannya dengan mata yang sudah berapi api karena emosi
"Jika kau masih ingin menikahi wanita itu! lebih baik kau keluar dari rumah ini. Pergiiii!!" teriak mama
Pak Dirdja sedari tadi masih diam saja mendengar perdebatan anak dan istrinya, Namun sepertinya kali ini sudah keterlaluan
"DIAAAM!!" Pak Dirdja buka suara membuat keduanya terdiam
__ADS_1
"Dimas,, apa kau yakin akan menikahi Sekar?! alasan apa yang membuatmu berniat untuk menikah dengannya?!" tanya pak Dirdja denhan serius
"Ya, Dimas yakin pa!"
"DIMASS!!" Teriak mama
"Mama diam!" bentak papa dan mama langsung diam
"Alasan Dimas,,, Dimas merasa getaran rasa dihati Dimas setiap Dimas berdekatan dengan Sekar pa. Dimas ingin selalu bersama sekar, melindunginya dan hidup bersama bersamanya" jawab Dimas
"Apa Sekar juga mencintaimu?!" tanya papa
Deg!
Dimas terdiam sesaat
"Dimas rasa begitu pa,,, Sekar bilang jika serius temui orang tuanya" ucap Dimas, sengaja dia tidak mengatakan jika Sekar menolaknya. Jika dia mengatakan, sudah pasti mamanya akan membalikan kata untuk memberi alasan
"Apa kamu benar benar yakin?! papa tidak mau hal memalukan akan terulang lagi seperti dulu! Pikirkan lagi dengan kepala Dingin, jika kau benar benar sudah yakin, papa yang akan melamarkan sekar untukmu" ucap papa
"Papa!" Mama protes tidak setuju
" Aku tidak akan pernah menerima Sekar masuk ke keluarga ini. Cukup Dinda saja orang biasa yang masuk kedalam keluarga ini, aku tidak akan bisa melihat hidup Dimas hancur jika bersama orang yang tidak tepat! aku yakin gadis tua itu hanya memanfaatkan kekayaan Dimas! pasti dia hanya mengincar harta keluarga ini! Jangan harap itu akan terjadi!" gumam ibu Nadira dalam hati.
**
Dilain tempat, mobil Dika baru saja sampai di depan rumah keluarga Dinda. kemudian mereka keluar bersama dan berjalan menuju ke rumah
"Assalamualaikum" ucap Dinda
"Wa'alaikumsalam,,," Ibu Arini baru saja keluar dari dalam rumah
"Dinda,, Dika,, Fatih,, kalian sudah sampai" ucap ibu
"Iya bu,,, Kami mau nitip fatih" jawab Dika
"Ohh iya, sini sini sayang ikut nenek" ucap ibu Arini
__ADS_1
"Bu, ini Dinda bawain mie ayam, ada makanan Fatih, baju ganti Fatih dan mainan Fatih. Hari ini Dinda ada kuliah sampai siang, setelah selesai Dinda langsung kesini" ucap Dinda memberikan tas pada ibunya
"Iya,, kalian sarapan dulu yuk,, tadi ibu bikin lontong sayur" ucap ibu
"Kami sudah sarapan bu tadi Dinda bikin Nasi goreng ala ala. Oh iya bu,, soal warung Mie ayam,, kami sudah rembukan dan kami berdua juga sepakat untuk membuka disini. Tapi nanti kami cari pegawai, jadi ibu gak harus kerja. Dinda gak mau ibu capek capek" ucap Dinda
"Iya iya,,, Oh iya itu kamu inget Selamet gak? anaknya pak Somad itu baru keluar dari kerjanya. Nanti coba ibu tanya, mau gak dia kerja disini nanti. Dia itu mantan kerja di Cafe kalau gak salah" ucap ibu Arin
"Ohh gitu,, nanti kita lihat dlu ya bu orangnya. Sama sekalian kami juga persiapan untuk sedikit merenovasi halaman rumah ibu" jawab Dinda
"Iya, terserah kalian saja. Kalau buka disini kan kalian akan sering lagi main kesini" jawab Ibu
"Ya sudah kalau begitu kami pamit ya bu,, takut terlambat ke kampus" ucap Dika
"Iya, kalian hati hati ya" jawab Ibu
Kemudian Dika dan Dinda berpamitan pada ibu Arini setelah menitipkan Fatih di rumah itu.
"Nanti abang jadi ya ketemu kak Tedja?" tanya Dinda saat mereka sudah berada didalam mobil
"Jadi sayang, siang ini abang ketemu di kantor pak Agung. Nanti setelah anter kamu pulang kerumah ibu, abang langsung kesana" ucap Dika
"Nanti Dinda mau ke toko buku sama Zara dulu sebelum pulang, boleh ya?" tanya Dinda
"Pulangnya nanti Zara yang anter Dinda kerumah ibu" sambung Dinda
"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu harus hati hati ya, jangan jajan sembarangan" ucap Dika memperingatkan
"Iya iyahhh suamikuuuuuu,,," jawab Dinda dan Dika tersenyum
"Nanti abang transfer uangnya untuk beli buku" ucap Dika
"Terima kasihhh" Ucap Dinda mengusap usap lengan Dika dengan sayang.
.
.
__ADS_1
.
.