
"Jika kamu ingin pasokan ikan gurame dari empang ku, maka,,, kamu sendiri yang harus menjaringnya setiap hari!" Ucap Sekar dengan tegas
"Apa?!"
Dimas kaget sampai mulut nya menganga, sedang Sekar tertawa keras di dalam hati.
"Gil,,," Dimas tidak menyambung kata katanya karena belum lama dia meminta maaf pada sekar, masak akan mengatai nya lagi.
"Kamu mau bilang apa?!" cetus Sekar dengan wajah garang
"Gak ada! itu syarat ke dua aku gak bisa. Aku gak bisa jaring ikan dan aku gak punya waktu untuk datang setiap hari ke tempat ini. Aku bekerja di kantor, mana bisa aku datang untuk menjaring ikan dulu baru ke kantor?! yang ada aku malah bauk amis!" ucap Dimas
"Terserah! memangnya aku peduli?!" Jawab sekar
"Memangnya tidak ada syarat yang lain apa?!" Tanya Dimas kesal sendiri
"Gak ada!" jawab Sekar
"Selain itu deh! jangan suruh aku jaring ikan" Dimas mencoba bernegosiasi
"Kalau kamu gak mau jaring ikan, belikan aku kapal pesiar!" Ucap Sekar yang sudah jengah menghadapi Dimas. Dia pun berlalu saja meninggalkan Dimas tanpa memperdulikannya lagi
"Hah?! kapal pesiar?! itu namanya kamu ngerampok aku!" Jawab Dimas berbalik badan mengekori Sekar
"Aku gak peduli! terserah kau saja!" Jawab Sekar
"Sekar tunggu!" Dimas menarik lengan Sekar dengan sedikit keras hingga sekar berbalik dan terhuyun jatuh menabrak dada bidang Dimas, kedua tatapan mereka bertemu
Deg
Deg
Deg
Jantung keduanya berdebar debar kala keduanya saling menyelami sorot mata masing masing. Namun Sekar segera sadar
__ADS_1
"Lepasinnn!!" Sekar mendorong Dimas terlalu keras hingga membuat Dimas terperosot dan
Byuuuuurrrrrrrrrr
Dimas terjebur kedalam empang sendiri.
"Hah? Buahahahahahahah" Sekar tertawa terpingkal pingkal saat melihat Dimas sudah basah kuyup di disana. Bukan hanya sekar, tapi beberapa pegawai sekar juga ikut tertawa meski tidak terlalu keras.
"Sekarrrrr!!!" Batin Dimas menjerit kesal
"Jahat banget kamu! lihat aku, kamu gak mau bantuin aku?!" ucap Dimas membersihkan lumpur lumpur yang menempel
"Ogah! naik saja sendiri" Jawab sekar yang berlalu pergi.
"Aaarrggghhhhh!"
Pyar pyar pyar pyar
Kekesalan Dimas dia luapkan dengan memukuli air empang itu. Kemudian dia bangkit dan berjalan menepi, lalu naik ke atas. Niat mau ke kantor namun diurungkannya karena kondisinya seperti ini. Dimas benar benar merasa di permainkan oleh Sekar.
"Bisa baik juga kamu?!" ucap Dimas meraih handuk itu
"Jangan GR kamu! aku cuma kasihan lihat kamu, kayak kucing kecebur got gitu! Sudah sana bersihkan badanmu!" Ucap Sekar yang memilih pergi. Dimas pun berjalan cepat menuju ke sumur untuk membersihkan dirinya.
"Jika ini bukan karena mama, Aku gak akan sudih datang ke tempat ini!!! Aarrgghhhh menyebalkan!" gerutu Dimas sambil membersihkan lumpur lumpur yang menempel di bajunya.
Di tempat lain,,
Kelas Dika baru saja selesai. Setelah memberi tugas di akhir perkuliahan, Dika pamit keluar kelas lebih dulu barulah para mahasiswanya ikut keluar satu persatu.
"Dinda,,,"
Dinda yang baru saja keluar bersama Zara di panggil seorang gadis, tapi dia tidak mengenalnya.
"Iya kak, ada apa?" jawa Dinda
__ADS_1
"Apa benar, kamu istrinya pak Dika?" tanya gadis itu
"Iya,," Jawab Dinda yang tidak ingin menutupi hubungan mereka lagi
"Oh, bagus deh kalau gosip itu memang benar. Jadi Angga tidak akan mendekatimu lagi!" ucapnya
"Kami hanya berteman,,," Kalimat Dinda menggantung karena gadis itu sudah pergi meninggalkan mereka.
"Orang belum selesai ngomong juga!" Gumam Dinda
"Mesti dia suka sama kak Angga! lihat saja lagaknya begitu" Sahut Zara
"Saingan mu dong" Colek Dinda di dagu Zara
"Ck! kamu tau aja kalau aku suka kak Angga! tapi,,, dianya gak suka sama aku!" wajah Zara di buat lesu
"Semangat dongggg! kejar cintamu Ra!" Dinda merangkul bahu Zara dan menepuknya pelan
puk
puk
puk
"Sebelum janur kuning melengkung, semua memiliki kesempatan yang sama" ucap Dinda menyemangati Zara
"Thanks a lot off supportnya kak Dinda!" Zara memeluk Dinda dengan begitu erat
"Iya,,,," Jawab Dinda dengan tersenyum
.
.
.
__ADS_1
.