
"Bu,,,," Dimas menyentuh tangan Sekar namun ditepis wanita itu
"Jadi, apa sampai sekarang kamu masih tidak bisa melupakan perasaanmu pada Dinda?!" Sekar mengangkat wajahnya dan menatap Dimas dengan penuh tanda tanya. Tatapan keduanya saling bertemu, saling menyelam kedalam mencari sebuah kejujuran
"Aku butuh waktu dan perjuangan untuk berusaha melupakan perasaan ku dulu, aku sudah mencoba rasanya sangat sulit. Tapi karena aku melihat Dinda sudah menemukan cintanya, aku dengan keinginan yang kuat untuk membuang perasaan itu jauh jauh, hingga takdir mempertemukan kita. Percaya padaku bu,,, ibu sudah menempati ruang di hati bapak, ibu sudah menggeser nama kakak ipar di hati bapak. Jika tidak begitu, bapak tidak akan nekad untuk nikahin ibu dan meninggalkan semuanya demi hidup bersama ibu Sekar!" ucap Dimas panjang lebar meyakinkan semua orang terlebih lagi istrinya.
" Ibu harus percaya sama bapak" Ucap Dimas dengan penuh kesungguhan
Bibir Sekar bergetar, air matanya kembali jatuh tanpa bisa di bendung lagi
"Bapak sudah tidak cinta lagi pada kakak ipar" ucap Dimas menangkup wajah Sekar dan menghapus air matanya
"Memangnya aku masih cinta padamu?! aku juga sudah tidak ada perasaan apa apa sama kamu!" Dinda berkata dengan sorot mata tak suka
Sontak saja Dimas, Sekar dan Dika menatap Dinda yang berada di pelukan Dika
"Iya kakak ipar,,, aku tau,,, kamu sudah tidak cinta lagi padaku. Maafkan semua kesalahanku dulu, Aku ingin kita berbaikan,, " Jawab Dimas melepaskan Sekar dan melihat ke arah Dinda yang masih berada di pelukan Dika
"Ya,, aku mau!" jawab Dinda seolah keduanya seperti musuh bebuyutan yang sedang di akurkan oleh orang tua mereka.
Dimas mengulurkan tangan ke arah Dinda
"Mau ngapain kamu?!" tanya Dika
"Salaman bang,, kan mau baikan" jawab Dimas
"Gak ada acara pake salam salaman! kami jadi saksi kalian berdua sudah baikan, tidak ada lagi yang menyimpan dendam, sakit hati, atau perasaan lain. Semua sudah memiliki pasangan masing masing, hari ini, di tempat ini, kalian berdua sudah berbaikan. Dimas, hargai Dinda sebagai kakak ipar mu, dan Dinda,, maafkan Dimas, dan anggap dia sebagai adik ipar mu. Kalian berdua harus sama sama ikhlas untuk saling memaafkan" ucap Dika dan Dinda mengangguk
"Iya bang,,,Sekali lagi aku minta maaf kakak ipar" ucap Dimas
"Iya" Jawab Dinda
"Ibu Sekar percaya kan? bapak gak ada perasaan apa apa lagi sama kakak ipar bu, bapak pengen kita membangun keluarga bersama ,,, " ucap Dimas
__ADS_1
"Iya,, ibu mau pak" jawab Sekar dengan mengangguk pelan
"Terima kasih" jawab Dimas
"Dan yang terpenting sekarang adalah, kita harus bekerja sama untuk membuat mama Nadira sadar dan menerima semua kenyataan yang ada" ucap Dika
"Iya, Dimas setuju bang, kita harus kerja sama sadarin mama, yakinin mama" jawab Dimas
"Bagaimana kalau nanti setelah mama sadar, dan dan diperbolehkan pulang, kita semua menginap dirumah? jadi mama ada urus, tugas Dinda dan Sekar sebagai mantu untuk mengambil hati mama. Abang yakin lama lama mama akan bisa menerima keduanya" ucap Dika
"Dimas setuju,,, ibu bagaimana?" tanya Dimas pada Sekar
"Iya,, ibu juga setuju" jawab Sekar
"Sayang?" tanya Dika pada Dinda
"Iyah, Dinda juga setuju" jawab Dinda
"Kalau semua sudah setuju, sekarang kita kembali ke IGD, siapa tau mama sudah sadar" ucap Dika
"Abang selalu bisa memberi Dinda ketenangan disaat hati Dinda sedang kalut" Ucap Dinda dengan begitu lembut
" Kewajiban abang sebagai suami, menjaga hati isteri abang agar tidak terluka terus. Abang sudah pernah gagal, dan abang belajar dari kegagalan di masa lalu" jawab Dika
"Ini enaknya menikah dengan pria yang lebih dewasa,," kekeh Dinda
"Maksudnya gimana??" Dika malah terkesan menggoda isterinya
"Iya,, kalau suami pikirannya lebih dewasa, sedang isterinya masih kayak Dinda, jadi bisa ngimbangin hehe..." kekeh Dinda
"Ohh abang kira,,,," Dika tersenyum genit saat menjawil dagu isterinya
"Ck! abang pasti mikir yang lain!" Dinda mencibik dan membuat Dika makin gemas.
__ADS_1
"Jangan menggoda abang sayang,," bisik Dika
"Bu Sekar,, coba deh lihat mereka" Dimas menunjuk dengan wajahnya kedepan
"Memangnya mereka kenapa?" tanya Sekar
"Apa ibu gak pengen romantis seperti mereka? setiap hari mesra" ucap Dimas
"Ya pengen pak, setiap orang pasti pengen " jawab Sekar
"Kalau begitu, buka hati ibu Sekar untuk bapak Dimas" pinta dimas pada isterinya
"Ibu sudah membuka hati ibu untuk bapak" jawab Sekar
"Sejak kapan?" tanya Dimas dengan wajah penasaran
"Sejak dirimu berucap janji didepan bapakku" jawab Sekar dengan tersenyum
"Terima kasih sudah membuka hati untukku" ucap Dimas dan Sekar mengangguk
Sampainya di IGD mereka tidak melihat papa Dirdja. Lalu Dika bertanya pada petugas yang ada disana
"Permisi, apa anda melihat bapak bapak yang duduk di sana tadi?" tanya Dika
"Oh,, iya,, bapak tadi masuk kedalam bersama dokter" jawabnya
"Apa pasien sudah sadar?" tanya Dimas
"Tidak tau juga ya pak, kami tidak mendengar penjelasan dokter. Ditunggu saja, karena hanya 1 orang saja yang bisa masuk kedalam" jawabnya
Terpaksa mereka duduk dan hanya bisa menunggu sampai papa Dirdja keluar.
.
__ADS_1
.
.