Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Baby A


__ADS_3

"Dokterrrrr!" Dika sangat kaget melihat pakaian istrinya tiba tiba basah


"Tenang bang,,, jangan panik" Ucap Dinda yang malah terlihat tenang dari pada Dika


"Wah sepertinya ini air ketubannya sudah pecah. Ayo kita periksa sekarang,,,Suster siapkan ruang persalinan sekarang" ucap Dokter Dita


"Baik Dokter" Suster segera menjalankan tugas


"Mas Dika, boleh minta tolong tidak, Nak Fatih coba di titipkan dulu ke suster Yang ada di depan tadi. Mereka pasti akan menjaga Fatih sampai bundanya lahiran" Ucap Dokter Dita


"Oh baik dok,,, Ayo sayang kita keluar, adik Fatih sudah mau lahir" Ucap Dika pada Putranya


"Adik cudah mau lahil yah?" tanya Fatih sambil mereka berjalan keluar


"Iya,, kamu ayah titipkan mama ya,," ucap Dika


"Iya, tapi Fatih mau tunggu adik campai lahil" jawabnya


"Iya" Jawab Dika


Keduanya sampai diruang tunggu, dan disana masih ada Sierra.


"Ra, aku nitip Fatih ya. Dinda sudah mau lahiran, jadi aku akan menemaninya didalam. Aku akan menelfon kakeknya untuk kerumah rumah sakit menemani Fatih, siapa tau kalian akan pergi" ucap Dika


"Aku akan menjaga anakku, kamu pergilah" jawab Sierra.


"Baiklah, Fatih,, Ayah kedalam ya, Ayah akan temani Bunda berjuang melahirkan adik Fatih" ucap Dika


"Iyah. Fatih tunggu dicini" Jawab Fatih


Lalu Dika pergi dari sana dan tak lupa dia menghubungi keluarga agar segera datang kerumah sakit. Setelah itu Dika masuk ke dalam ruangan Dokter Dita untuk menemani Dinda yang akan lahiran. Ruangan Dokter Dita tersambung dengan ruangan bersalin, jadi tidak sulit lagi memindahkan Dinda kesana.

__ADS_1


"Dulu, aku berjuang sendiri melahirkan Fatih, Aku bahkan tidak mau di temani Dika waktu itu. Sekarang aku begitu iri dengan Dinda, karena Dika sepeduli itu padanya. Aku benar benar menyesal sudah menyia nyiakan suami sebaik dia" batin Sierra meratapi penyesalannya sendiri


Dika melihat Dinda sudah berbaring dan dokter sudah mulai memeriksa kondisi Dinda,


"Sudah bukaan 8, cepat sekali ya,,, padahal gak ada tanda tanda akan lahir" ucap Dokter


Suster sudah menyiapkan peralatan medis setelah memasang selang infus di tangan Dinda, sedang Dokter Dita sudah bersiap untuk mengarahkan Dinda untuk melahirkan dengan Normal. Dika yang sigap langsung mengambil posisi di samping istrinya


"Bang,, sakit,," Dinda yang awalnya begitu terlihat tegar namun meringis juga saat merasakan nyeri yang luar biasa


"Pasti rasanya sangat sakit,, kamu boleh lampiasin sakitmu ke abang,, Abang ikhlas,," ucap Dika saat mengusap dahi istrinya yang sudah mulai berkeringat


"Mba Dinda jangan mengejan dulu ya,, karena takutnya akan semakin lebar robeknya" ucap Dokter Dita


"I,,ya Dok,," Jawab Dinda, namun tidak dapat di pungkiri sakitnya luarrr biasa.


"Abang sayang Dinda,, Dinda pasti bisa, pasti kuat,, " Dika menggenggam erat tangan Dika saat sakit itu semakin sering datang menerpanya


"Sayangnya ayah,, ayo cepat keluar ya nak,, kasihan bunda kesakitan,," Dika mengusap lembut perut istrinya dan membisikan kalimat itu pada calon anaknya yang akan segera lahir.


Beberapa menit kemudian, ruangan sunyi itu langsung pecah saat terdengar tangisan bayi yang begitu kuat. Semua yang ada disana langsung bernafas lega


"Alhamdulillah,,, selamat sayang,, anak kita sudah lahir,, kamu ibu yang hebat, ibu yang kuat,, terima kasih cintaku" Dika tak henti hentinya menghujani Dinda dengan kecupan cintanya. Dika benar benar bersyukur atas anugrah yang Allah titipkan padanya, Istri yang baik dan anak anak yang sehat dan baik.


Dinda terharu, sangat terharu karena dia berhasil melewati masa menegangkan seperti ini. Kini dia benar benar merasakan sendiri bagaimana perjuangan ibunya dulu melahirkan dirinya, bahkan nyawa taruhannya.


"Selamat ya Mas Dika, mba Dinda,, putranya sudah lahir, Maasyaa Allah tampan sekali" puji Dokter Dita saat setelah Suster membersihkan bayi tampan itu dan dokter sudah menyelesaikan tugasnya. Dokter memberikan bayi mungil itu kepada ibunya untuk mendapatkan Asupan Asi pertamanya


"Terima kasih dokter,," Ucap Dika menatap bayi laki laki itu begitu kuat menyesap sumber kehidupannya, seperti tidak mau berbagi sama bapaknya. Mungkin jika bayi itu bisa bicara 'Ini punyaku yah' hehe


"Lihat bibirnya seperti kamu,," ucap Dika memerhatikan putra keduanya itu

__ADS_1


"Hanya bibirnya?" sahut Dinda


"Um,,, sepertinya begitu,," kekeh Dika


"Dinda yang mengandung, hanya bibirnya yang mirip Dinda,,, begitu maksud abang?" tanya Dinda


"Sayang,,, bayi kan berubah ubah, kadang mirip ayahnya, kadang terlihat mirip ibunya. Yang penting bukan mirip tetangga. Iya kan dokter?" kekeh Dika


"Hehe,,wah bisa bahaya kalau mirip tetangga.." Dokter Dita juga tertawa kecil


"Yang penting bayi kita lahir dengan selamat, bundanya juga selamat dan keduanya sehat. Itu jauh lebih penting" Dika mengusap lembut kepala bayi yang masih asyik menyesap sumber kehidupannya


"Abang sudah punya nama untuk dia?" tanya Dinda


"Sudah, abang siapkan nama anak laki laki dan perempuan buat persiapan, kan kita gak tau jenis kelamiin saat USG. Jadi anak kita, Abang beri nama Abyan Putra Mahardika" ucap Dika


"Selamat datang ke dunia sayangku, Abyan buah hatiku,,," tangis bahagia Dinda mengalir begitu saja saat menatap bayi merah yang saat ini sedang berada didalam gendongannya. Sungguh mereka merasa sangat bahagia ...


.


.


.


.


Selamat datang ke dunia halu yahhh baby Abyan🤗


Maasyaa Allah


__ADS_1


Sambil nunggu Update, coba cek cek dulu Novel baruku gaesss



__ADS_2