Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Kawin Lagi


__ADS_3

Sekar melongo saat melihat Dimas yang berdiri di belakang


"Ngapain sih ikutin aku?! kayak gak punya kerjaan aja! sana pulang!" ucap Sekar dengan nada ketus


"Apa sih?! aku punya kaki sendiri, ya terserah aku dong!" sahut Dimas


Sekar memutar bola mata jengah mendengar ucapan Dimas. Dia memilih untuk segera menghampiri pegawai di gerobak mie ayam Dika untuk mengambil uang penjualan malam itu


"Kamu belum jawab pertanyaan ku" ucap Dimas mengikuti langkah Sekar sudah seperti anak ituk mengekori indukannya


"Apa yang harus aku jawab?! kamu bisa baca sendiri kan, itu Warung mie ayam bang Dika, berarti punya abangmu! jelas?!" jawab Sekar


"Jadi abang buka cabang?! dia disini juga?!" tanya Dimas


"Gak! aku yang bantu urus disini, kan dia udah ngajar lagi di kampus jadi gak ada lagi yang jagain. Sayang aja soalnya disini rame dan lumayan omsetnya semalem bisa sampai sejutaan" jawab Sekar kemudian dia mengambil hasil jualan dan menyuruh pegawainya untuk berkemas dan pulang.


"Kok kamu mau bantuin abangku?!" tanya Dimas


"Memangnya kenapa? toh aku juga dapet bagi hasil dari penjualan ini. Lumayan buat tambah tambah uang dapur biar bisa tetep ngepul. Emang kayak kamu, tinggal duduk di meja kantoran setiap bulan gajian. La kami penjual ini apa? kalau gak jualan ya gak makan" ucap Sekar yang sudah sampai di parkiran.


"Bener bener pekerja keras!" gumam Dimas


"Apa kamu bilang?" samar samar Sekar mendengar gumaman Dimas


"Gaaaak! gak ada.." sahut Dimas


"Ya sudah sana pulang, aku juga mau pulang" ucap Sekar.


Dimas mengangguk lalu dia berjalan menuju parkiran mobilnya. Setelah Sekar menjalankan motornya, Dimas pun membuntutinya dari belakang.


"Dia baru pulang jam segini?! tiap malem?!" Dimas melihat arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul 22.00


"Berani banget sih dia?! kalau ada apa apa dijalan gimana?! meski dia terlihat seperti preman, tapi dia juga tetep wanita!" Dimas terus mengoceh padahal Sekar tidak mendengar sama sekali.


Sekar melihat dari spion mobilnya, ternyata Dimas masih mengikutinya.


"Kenapa sih bocah itu masih saja mengikuti ku?! apa sebenarnya yang dia cari?! sudah di usir masih saja mengikuti ku seperti aku indukan ayam! Jangan bilang dia naksir aku?!" Sekar terus melihat Dimas yang mengikutinya


"CK! pede sekali aku! tapi dari gelegatnya ,,, ah sudahlah,, mana mungkin dia menyukai wanita yang usianya jauh lebih tua darinya. Eh! aku belum tua, tapi Dewasa! dia itu kelihatannya aja Dewasa tapi sifat dan sikapnya sungguh kekanakan!" Sekar sibuk mengatai Dimas yang terlihat dari kaca spion motornya.


Waktu terus berjalan hingga keduanya sampai di depan rumah sekar. Setelah memastikan gadis Dewasa itu sampai di rumahnya, Dimas melakukan mobilnya dengan cepat menuju kerumahnya. Dia pulang terlalu larut malam, semoga saja papa dan mamanya sudah tidur semua.

__ADS_1


"Dia benar benar memastikan aku sampai kerumah? apa dia sekhawatir itu padaku?!" Jantung Sekar tiba tiba berdebar tak karuan


"Ah tidak tidak! dia pasti sedang merencanakan sesuatu! siapa tau dia mau mengambil alih empang ku! atau bisa jadi lapak jualanku di pasar malam!" Ucap Sekar berasumsi sendiri.


Sementara itu,,


Dika yang larut dengan pekerjaanya pun akhirnya menyerah. Matanya sudah tinggal 5 watt lagi dan dia pun segera membereskan lembaran kertas yang ada di meja kerjanya. Setelah selesai Dika mematikan lampu dan keluar dari tempat itu. Saat Dika membuka pintu kamar, dia kembali teringat jika saat itu istrinya sedang kesal dan memutuskan untuk tidur bersama putranya. Dika terlihat lesu jika harus tidur malam ini, Tidak ada manis manisnya tidur sendiri.


Dika sudah membaringkan badannya di kasur empuknya, nyatanya dia tidak bisa tidur meski matanya sudah sangat mengantuk. Dika memilih bangun dan membuka laci di nakasnya. Setelah menemukan kunci serep kamar Fatih, Dika pun menyusul Anak dan istrinya di kamar sebelah.


Dengan sangat hati hati Dika membuka pintu itu agar tidak membangunkan Dinda maupun Fatih. Saat dia masuk, Dika bisa melihat keduanya sudah tertidur pulas dengan Dinda memeluk tubuh mungil itu begitu juga sebaliknya. Kemudian Dika menarik kasur agar kasurnya jadi lebih lebar dan muat untuk ketiganya.


"Maafin abang yah,, abang gak bisa tidur kalau gak peluk kamu" Perlahan Dika menarik Dinda dan mengalihkan ibu hamil itu agar menghadap padanya.


Dinda yang tidur pulas itu pun sama sekali tidak terbangun dan malah semakin merapatkan dirinya saat mendapatkan kehangatan malam itu.


Seperti magnet yang memiliki daya tarik kuat, Bibir pink alami yang sedari pagi sudah manyun seperti bebek hingga malam itu pun di kulum gemas oleh Dika. Bukannya bangun Dinda justru membiarkan saja kelakuan mesuum suaminya itu. Dinda sama sekali tidak merasa terganggu meski tangan besar itu juga sudah merajalela kemana mana.


Namun Dika tidak ingin terlalu jauh, dan akhirnya dia memilih tidur setelah beberapa detik lalu sudah sangat usil pada istrinya.


"Lumayan buat pengantar sebelum tidur" gumam Dika dengan tersenyum


***


Saat Dinda bangun, dia sama sekali tidak tau jika semalam Dika tidur bersama mereka. Dinda mengusap kepala Fatih lalu turun dari tempat tidurnya.


"Kenapa bibirku terasa kebas?!" Gumam Dinda saat masuk kedalam kamar mandi dan bersiap untuk menjalankan kewajibannya.


Saat Dika pulang dari musholah, Dika sudah mencium bau masakan yang begitu menggugah selera. Dika yakin jika istrinya sudah mulai memasak di dapur mereka.


"Assalamualaikum" ucap Dika saat masuk kedalam rumah


"Wa'alaikumsalam" jawab Dinda tanpa menoleh kearah Dika yang sudah sampai di dapur mereka


"Masak apa yang?" tanya Dika menghampiri istrinya


"Ikan asin" jawab Dinda singkat


"Tumben masak ikan asin, ngidam ya?" tanya Dika yang kemudian duduk dan akan meminum teh hangat buatan istrinya


" Dinda cuma mau masak ini saja" ucap Dinda menghidangkan ikan asin dengan nasi hangat di depan suaminya

__ADS_1


Dika mengulum senyum menatap istrinya yang masih cemberut saja


"Iya gak papa,, apapun yang kamu masakkan untuk abang, abang akan tetap makan" Jawab Dika dengan sangat lembut.


Sebenarnya hati Dinda berdebar debar, semakin di cuekin, Dika semakin terlihat begitu sabar menghadapi tingkahnya. Dinda sampai heran,


"Ya sudah dimakan bang" ucap Dinda


"Ya sudah kalau gak mau layanin abang lagi, gak papa,, nanti abang cari gadis lain saja yang mau melayani aba,,," ucapan Dika terputus


"Enak saja! abang mau kawin lagi?! gak lihat Dinda sudah bunting anak abang?!" Dinda malah jadi sewot, kemudian Dinda mengambilkan nasi dan ikan asin kedalam piring Dika


Dika menahan tawannya dan akan balik menyerang istrinya


"Yah kalau kamu gak mau layanin abang lagi,,," sahut Dika


"Abang ngeselin iihh!! udah di layani tuhhhh" ucap Dinda


" Tapi gak ikhlas,, pake Manyun terus lagi?! masak suaminya di kasih wajah masam? coba senyum dulu,, mungkin abang akan pertimbangkan untuk tidak kawin lagi" tanya Dika


Dinda mengerucutkan bibir


"Abang,,, Dinda kan kesel sama abang! kok abang malah ancem gitu sih?!" protes Dinda


"Hahahaaahha" Dika tertawa dalam hati


"Makanya jangan cemberut terus,,, masak abang gak di maafin dari kemarin?" ucap Dika sambil menikmati makanannya


"Tapi abang janji gak akan kawin lagi?!" tanya Dika


"Tergantung" jawab Dika


"Abangggggg!!!" Dinda memukul lengan Dika karena di buat tambah kesal


Hap!


Mulut Dinda sudah penuh dengan nasi yang disuapkan oleh suaminya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2