Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Playboy Cap Kadal


__ADS_3

Bunyi decak perpisahan itu terdengar begitu nyaring didalam ruangan mobil sesempit itu. Kemudian keduanya ngulas senyum bersama, wajah keduanya pun terlihat merona setelah meluapkan rasa yang berkecamuk didalam dada.


"Dinda turun duluan ya bang" ucap Dinda berkaca sebentar membenahi penampilannya


"Iya,," Jawab Dika


Kemudian Dinda mengulurkan tangan dan di sambut oleh Dika, lalu dikecupnya punggung tangan Dika dan mengucapkan salam


"Loh, itu kan Zara dan Angga?!" Ucap Dinda yang akan membuka pintu tapi malah melihat Zara dan Angga dari kejauhan yang keluar bersamaan dari mobil Zara


"Mungkin mereka sudah pacaran" sahut Dika


"Apa iya?! kok Zara gak cerita?! kepo ah!!" Ucap Dinda yang kemudian segera turun dari mobil


"Awass jangan lari lari!!! inget Sayang, kamu lagi hamil!" Teriak Dika


"Iya iyaaaahhh" Jawab Dinda yang awalnya ingin berlari namun segera berjalan saja setelah di peringatkan oleh suaminya. Kemudian Dinda berjalan cepat menghampiri Zara dan Angga


"Zaraaaa!" teriak Dinda


Zara dan Angga menoleh bersamaan dan begitu kaget melihat Dinda akan menghampiri mereka.


"Kak Angga masuk duluan" Angga menghindar dan langsung kabur dari kedua gadis itu.


"Yahhh dia langsung kabur! kalian dari mana? kok bisa satu mobil?!" tanya Dinda begitu kepo


"Cuma dari kosan aja kak" Jawab Zara begitu santai


"Apa?! kosan?! kosan kamu maksudnya?!" Dinda terlihat kaget


"Iya,, kosan Zara" jawab Zara


Pikiran Dinda langsung kemana mana mengingat track record Angga dulu di sekolah di cap sebagai playboy cap kadal oleh teman temannya karena sangking seringnya gonta ganti pacar, ntah sungguhan atau hanya gosip gosipan.

__ADS_1


Secara dari segala sisi sangat mendukung, selain tampan juga anak orang kaya, jadi banyak gadis yang mengejarnya, tapi tidak dengan Dinda yang menganggapnya teman biasa. Justru itu yang membuat Angga dulu menyukai Dinda, karena diantara banyaknya wanita di sekolah mereka, sepertinya hanya Dinda yang tidak ikut mengejarnya. Saingan Angga adalah Dimas yang pamornya cukup setara dengannya.


"Zaraaa!! Kamu tuh sadar gak sih?! itu tuh dosa! meski kamu suka sama Angga, tapi kamu gak boleh juga sembarangan ngajakin cowok ke kosan!! kalian ngapain hah?! kamu di apain?! cepet jawab!" ucap Dinda begitu khawatir dengan Zara, karena Dinda sudah menganggap Zara itu seperti adiknya dan lagian Zara itu terlampau polos di banding dirinya.


"Apa sih kak?! aku gak di apa apain! kami cuma makan aja tadi" jawab Zara dengan wajah bingung melihat Dinda sekhawatir itu


"Aku gak percaya!" sahut Dinda


"Lah! kok gak percaya?! tadi tuh kak Angga laper terus Zara ajak ke kosan untuk makan kwetiaw yang Zara masak. Udah itu aja. Dan lagian kami makannya di bangku pos penjaga kok, bukan di dalam kamar" jawab Zara


"Beneran?!" tanya Dinda menelisik


"Iyahh beneran!! wong kak Angga aja gak mau sama Zara, gimana mau anu anu?! gak mungkinlah! udah jangan cerewet! ayo kita masuk kelas!" ucap Zara yang langsung menggandeng ibu hamil itu dan mengajaknya masuk kedalam kelas mereka. Dinda pun langsung Diam dan mengikuti langkah Zara membawanya. Dia sedikit lega dan bersyukur karena Zara baik baik saja.


***


Waktu sudah beranjak siang,,,


"Hem,, itu dia" Dimas menangkap sosok Sekar yang saat itu sedang duduk di bawah pohon dan ntah apa yang dia lakukan. Dengan langkah lebar, Dimas segera menghampiri Sekar.


",,,,,,,, dan Bayar sekolah adik 500, Jadi sisa keuntungan bulan ini tinggal 5 juta. Ya sudah aku gak usah ambil untuk keperluanku. Ini di tabung saja supaya hutang ku segera lunas. Lagian bajuku juga masih banyak dan layak, skincare ku juga masih bisa bertahan sebulan lagi, haha meski cuma jualan ikan, tapi tetep wajib skincarean lah yahh,,, biar gak bau amis! hahah" Ucap Sekar sendiri sambil menulis di buku miliknya.


"Hem,,, hutangnya masih banyak, tapi aku gak boleh putus asa! aku yakin hutangnya lama lama juga akan lunas dan aku akan bebas dari juragan Broto! Semangat sekarrrrrrrr!" Sekar sudah berdiri dan berteriak sendiri demi menyemangati dirinya sendiri, sementara Dimas tersenyum melihat betapa kuat dan tegarnya Sekar menghadapi segala masalahnya.


"Oke, Lanjut Kerjaa,,," Kalimat Sekar menggantung saat dia hampir saja bertabrakan dengan Dimas yang berdiri di saat ini tepat di depannya


"Ngapain kamu disini?! ngagetin aja!" ucap Sekar dengan ketus


"Gak papa, cuma lagi lihat kamu teriak teriak!" Kekeh Dimas


"Sana balik! kurang kerjaan aja kesini! nanti dimarah ibu mu baru tau rasa!" Ucap Sekar


"Apa sih! aku sudah besar, gak mungkin di cari mamaku! memangnya aku anak kecil?!" Ucap Dimas dengan berkaca pinggang

__ADS_1


"Emang iya! kamu itu kayak anak kecil!" ucap Sekar


"Aku bukan anak kecil!" Jawab Dimas kesal karena terus di sebut anak kecil


"Anak kecil, anak kecil, anak kecillll!" Sekar semakin meledek Dimas


Suuuuttttttt


Grep!


Sekar langsung kicep saat Dimas menarik pinggangnya hingga badan mereka saling merapat, bukan itu saja, bahkan tatapan mereka berdua sudah saling mengunci. Sekar berontak namun Dimas masih begitu kuat menahan sekar pada posisinya saat itu.


"Aku sudah dewasa! bahkan aku bisa membuat anak kecil!" Ucap Dimas dengan penuh penekanannya dan sukses membuat Sekar membulat matanya


"Lepaskan aku!" Ucap Sekar


"Lepaskan??! enak sekali minta dilepaskan setelah kamu habis habisan meledekku?! harusnya kamu mendapatkan balasan atas apa yang kamu lakukan padaku!" Ucap Dimas menatap Sekar seolah dia tidak main main dengan ucapannya


"Apa mau mu hah?! jangan macam macam kamu! atau aku akan teriak agar semua pegawai ku memukuli mu!" Ancam sekar yang terus memberontak agar Dimas melepaskan tangannya. Sumpah demi apapun, jantung Sekar sudah akan meledak saja karena terlalu dekat dengan pria sedekat itu, bahkan mungkin Dimas juga bisa merasakan debaran jantungnya


"Lepaskan!" Sekar mendorong Dimas dengan sekuat tenaganya dan


Brukkkkk


Cup!


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2