Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Sepanjang Hidupku


__ADS_3

Dinda POV


Dimana aku sekarang? aku seperti tidak sedang menginjak bumi, aku merasa melayang, tubuhku terasa begitu lemas, pasrah bahkan aku tidak kuat untuk menopang tubuhku sendiri.


Aku masih memejamkan mataku, sedang menerima ajaran baru, merekam detik demi detik ajaran yang diberikan abang padaku. Abang begitu lembut menyentuhku, tubuhku gemetar, terasa sesak kehabisan nafas, dan aku diberi kesempatan untuk bernafas lagi, namun belum cukup aku bernafas, aku sudah dibuai lagi.


Aku merasa satu tangan kekar itu memelukku posesif, satu tangan lagi menekan tengkukku, sapuan lembut, hangat dan manis itu sangat terasa dan ini adalah yang pertama bagiku dan Aku akan mengingat rasa ini sepanjang hidupku,,,,


Dika POV


Aku sepertinya sudah gila, sejak Dinda memelukku, aku tidak bisa berhenti berfikir tentangnya, tatapan sayu nya membuatku kalut, sampai aku tidak tahan lagi untuk tidak menyentuhnya.


Tiba-tiba dia menegang, membulatkan mata saat aku,,, Ya! aku yakin ini adalah pengalaman pertama untuknya. Dia menutup mulutnya rapat, ku desak perlahan namun masih tertutup dengan tubuh menegang nya. Aku hampir pasrah, namun saat aku akan mundur, perlahan dinda membuka nya dan aku kembali untuk menjelajah dan memberi rasa yang manis untuknya. Aku akan mengingat rasa ini, rasa manis milik dinda.


Saat aku merasa kami kehabisan nafas, aku melepaskannya, namun tak lama aku mengulangnya lagi, sekali rasa tak cukup. meski tidak mendapat balasan yang seimbang, tapi dengan sikapnya begini semakin membuatku gemas dan aku ingin mengajarinya lebih jauh.


Ku buka pelan mataku, ku lepas perlahan tautan kami dan bisa kulihat wajah dinda merona dengan mata yang masih tertutup perlahan ikut terbuka. Dia terlihat sangat cantik dengan tatapan sayu seolah mendamba karena ku lepas


"Maaf, abang jadi khilaf"


Dika melepaskan pelukan tangannya di pinggang Dinda, sementara tangan dinda tadi terlepas begitu saja, karena tiba-tiba dia merasa lemas. Untung dika menopangnya hingga dinda tidak terperosot kebawah. Dinda tersipu juga salah tingkah.


"Dinda,, mau ke kamar Fatih, bang" ucap dinda yang akan pergi namun di tahan oleh Dika


"Tapi, kamu gak marah kan soal,, tadi?" tanya Dika dan dinda menggeleng pelan dan langsung pergi ke kamar Fatih. Dika cukup lega karena Dinda tidak marah atas kelakukan nya. Dika kini terlihat senyum senyum sendiri saat menutup pintu depan padahal tadi dia sempat takut jika Dinda marah dan akan ngamuk karena kelakuannya .


Dinda yang baru masuk kedalam kamar fatih segera menutup pintu kamar itu dengan pelan. Dinda masih berdiri dibelakang pintu dengan memegangi dada nya sendiri yang jantungnya begitu terasa berdetak sangat cepat tak beraturan. Dinda kembali teringat kejadian beberapa menit lalu bersama Dika. Dinda merasa aneh, kenapa rasanya dia begitu bahagia? padahal mereka tidak saling cinta. Beda halnya saat bersama Dimas, di beberapa kesempatan mereka hanya berdua, Dimas selalu berusaha untuk melakukan itu namun Dinda tidak pernah mau. Hatinya tak tenang,,,


Lamunan dinda buyar saat pandangannya beralih pada seorang anak kecil yang kini masih terbaring diatas tempat tidur dengan memeluk guling nya. Dinda tergerak untuk mendekat dan melihat si kecil fatih yang masih terlihat nyenyak tidurnya.

__ADS_1


"Maafin bunda ya sayang,,, harusnya bunda gak tinggalin fatih. Bunda merasa bersalah sudah ninggalin fatih dan ayah. Bunda janji, bunda gak akan ninggalin fatih lagi" ucap Dinda lirih sambil mengusap lembut rambut fatih. Matanya kembali berair saat mengingat bagaimana fatih ketika melihatnya pergi,


"Unda,,,"


Fatih terbangun dan membuka matanya saat mendengar suara dinda meski sangat pelan, usapan tangannya yang lembut menggugah fatih untuk bangun


"Fatih,, maaf bunda membangunkan mu ya?"


"Napa undah nangic?" tanya fatih saat sudah duduk dan mengusap air mata dinda


"Gak papa, bunda minta maaf ya karena udah ninggalin fatih dan ayah. Bunda janji, bunda gak akan ninggalin fatih lagi" ucap dinda saat menatap fatih didepannya


"Iya,,, kata ayah, unda dan om mac ada ulucan enting, jadi unda pelgi cama om. Api,,, atih dak ceneng alau undah deket cama om. Atih dak cuka. Unda janji ya dak akan ninggalin atih dan ayah?" ucao Fatih


"Iya,, bunda ngerti kok,, maafin bunda, bunda janji" jawab Dinda yang kemudian mendapat pelukan erat dari fatih.


"Ayah,,," Ucap Fatih dan dinda menoleh


"Hai,, sudah bangun ya?" tanya Dika


"Maaf bang, Dinda malah bangunin Fatih" ucap Dinda


"Gak papa, lagian Dia sudah dari tadi tidurnya,,," Jawab Dika


"Unda,, kata unda au acak yang enak hali ini" ucap Fatih mengingatkan


"Oh iya yah,, bunda hampir saja lupa. Ya sudah kalau begitu bunda masak dulu ya, mumpung masih ada waktu sebelum jam makan siang" ucap Dinda meletakkan tasnya dan akan beranjak ke dapur


"Abang bantuin ya Din" ucap Dika

__ADS_1


"Boleh bang" jawab Dinda


"Fatih nonton film didepan mau? sambil makan cookies coklat sama susu mau?" tawar dinda


"aauuuu" jawab Fatih yang kemudian naik di gendongan ayahnya.


Kemudian ketiganya pun keluar dari kamar fatih, Dika membawa fatih kedepan sementara dinda ke belakang membuatkan susu untuk fatih. Tak lama Dinda datang dengan membawa susu juga cookies coklat kesukaan fatih.


"Bunda masak dulu ya,," ucap Dinda saat akan meninggalkan fatih.


"Ayah mau bantuin bunda masak ya, biar cepet" ucap Dika yang juga akan pergi


"Iya" jawab Fatih yang sudah asyik menonton film sambil menikmati cookies kesukaannya.


Dinda dan Dika pun berjalan menuju ke dapur untuk memasak bersama.


"Fatihhh yang anteng ya nak, Ayah mau pacaran dulu ya sama bunda, heheeh"


.


.


.


.


.


To Be Continue gaess๐Ÿค—๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2