
"Menikahlah denganku" jawab Dimas menatap nya dengan tersenyum
Deg!
Sasana mendadak sunyi karena tidak ada lagi yang bicara. Dimas pun masih menatap Sekar yang tak kunjung memberikan jawaban
"Sudah besok saja, daa Assalamualaikum" jawab Sekar yang langsung berbalik dan meninggalkan Dimas
"Hah?! Jadi aku diterima?! besok langsung nikah?!" Gumam Dimas dengan tersenyum senyum sendiri
"Okeeee tunggu aku besok ya!" jawab Dimas namun terdengar sudah tidak terlalu jelas di telinga Sekar.
Sekar buru buru berlari karena tak tahan menahan debaran jantungnya saat menatap Dimas. Semakin ditatap semakin membuatnya berdebar tak karuan. Bahkan jawaban Sekar itu pun bermaksud untuk menghilangkan dirinya dari hadapan Dimas, namun berbeda apa yang di tangkap pemuda itu. Dimas mengira Sekar menerimanya dan besok mereka akan menikah.
Sepanjang perjalanan pulang Dimas terus tersenyum, membayangkan bagaimana besok mereka akan menikah. Kemudian dia teringat pada mamanya, senyumnya langsung memudar
"Bagaimana jika besok aku menikah tanpa mama dan papa ?! tapi,, siapa yang akan menjadi saksi nikah dari keluarga ku?!" gumam Dimas, dia langsung teringat pada Dika.
"Abang!" Dengan cepat Dimas memakai headset dan menelfon Dika malam itu juga, Sedang yang di telfon sedang asyik menggembara menuju puncak nirwana bersama istrinya
Drrrtttt Drrrttttttt
Lampu ponsel Dika menyala dengan getar yang terdengar begitu jelas di ruangan yang dengan pencahayaan minim itu
"Bang,,, ada,,, telfon,, ahh" ucap Dinda saat melihat ponsel Dika bergetar terus sedang dirinya tengah dikuasai sang suami
"Siapa sih malem malem gini nelfon?! ganggu aja!" Suara Dika terdengar begitu berat, merasa terganggu malam itu
__ADS_1
"Angkat dulu bang, kalau aja penting" Dinda memilih turun dan mengambilkan ponsel itu pada suaminya
"Dimas" ucap Dinda membaca siapa yang menelfon Dila malam itu
"Padahal nanggung banget! ck menyebalkan!" Batin Dika menggerutu lalu menerima ponsel dan menggeser panggilan, sedang Dinda berpindah posisi memeluk suaminya dalam balutan selimut
"Hallo,,," ucap Dika dengan nafas belum sepenuhnya normal dan suaranya pun masih terdengar begitu berat.
"Assalamualaikum bang" ucap Dimas dari seberang sana,
"Wa'alaikumsalam, ada apa?" Dika menghidupkan pengeras suara dan meletakkan ponselnya disamping dirinya. Tak lupa tangannya pun kembali aktif menjelajah. Dinda pun mampu mendengar suara Dimas dengan jelas namun matanya sudah tidak tahan untuk tidak terpejam karena sentuhan
"Abang dimana?" tanya Dimas
"Di kamar, ada apa sih?! ganggu aja malem malem nelfon!" Ucap Dika terdengar nada tak suka
"Ohh,, dirumah, sorry bang. Aku butuh bantuan abang,," jawab Dimas
"Besok aku kasih tau, aku share lok tempatnya, abang harus sampai di tempat itu jam 9" ucap Dimas
"Hah?! jam 9?! abang gak bisa! abang dan Dinda sedang di luar kota!" jawab Dika dengan Cepat
"Tolong lah bang,,, ini menyangkut hidup dan mati ku bang, Aku kan sudah berjanji pada Abang dan Dinda untuk melupakan Dinda, aku tidak mengganggu kehidupan kalian lagi, tapi abang begitu tega padaku, tidak mau membantu adik sendiri" ucap Dimas dengan suara sedih dibuat buat agar Dika luluh
"Apa sih?! memangnya ada apa? apa yang begitu urgent?! kan ada papa dan mama, kenapa harus abang?! lagian dari Bintaro rumah itu 3 jam baru sampai. Dinda lagi hamil, abang gak janji bisa sampai cepat!" jawab Dika
"Jadi abang di Bintaro?! bisa lah bang, abang pulang subuh subuh yah, Dimas janji bang, Dimas gak akan nyusahin abang lagi setelah ini. Dimas janjiiii!" ucap Dimas memohon lagi
__ADS_1
Dika terlihat bingung, lalu dia menatap Dinda yang juga menatapnya. Dinda mengangguk kecil meski dia juga bingung apa maksud Dimas malam itu
"Abang gak bisa janji, tapi abang akan usahakan!" jawab Dika
"Oke, makasih ya abang, besok lagi aku sharelok lokasinya. Jam 9 abang harus sampai di tempat, kalau bisa jangan telat. Sebagai kompensasi, Dimas ganti deh uang perjalanan abang honeymoon" Kekeh Dimas
"Honeymoon gundulmu, ini babymoon bukan lagi honeymoon" sahut Dika
"Hehe iya iya,, oke bang, Dimas tunggu ya, Assalamualaikum" ucap Dimas dengan begitu senang
"Wa'alaikumsalam" Jawab Dika
"Jadi gimana bang?" tanya Dinda pada suaminya
"Besok setelah subuh kita langsung pulang yah,,abang juga gak tau ada apa. Anak itu tidak mengatakan tadi, kamu juga bisa dengar sendiri. Udah itu nanti kita pikirkan, sekarang ada hal yang lebih penting, Pertarungan kita belum selesai baru setengah jalan,,," ucap Dika yang sudah menyambar bibir ibu hamil itu
Bunyi decapan terdengar begitu nyaring, bahkan Dimas yang baru akan mematikan ponselnya pun bisa mendengar suara itu dengan cukup jelas karena Dika tidak mematikan panggilan mereka tadi, lebih tepatnya lupa . Cepat cepat Dimas mematikan panggilan telfonnya sebelum dia malah jadi panas Dingin.
"Gila, kenapa abang tidak mematikan telfonnya dulu sih?! aku kan jadi dengar dengan jelas! Gimana coba kalau aku pengen?! Gak mungkin dong aku culik Sekar malem malem gini buat gituan?!" Gerutu Dimas sendiri
"Untung tadi aku sudah sempat menyesap bibir manis itu, kalau tidak,, aku tidak akan bisa tidur malam ini! pokoknya, besok aku harus bangun pagi dan menyiapkan semuanya! akhirnya,, besok aku akan menikah!"
.
.
.
__ADS_1
.
Yang besok mau ikut ngucapin selamat atas pernikahan Dimas dan Sekar, jangan lupa siapkan amplop berisi Vote, kembang atau kopinya yahh🤗🤭 karena setelah ini mungkin hidup mereka akan berubah, bisa jadi bahagia atau malah sengsara. Jadi mereka membutuhkan dukungan kalian semua untuk bisa melewatinya. Terima kasih yang sudah setia mengikuti kisah asmara mereka. Luv luv sekebon untuk semuaaaaaanya😍😍😘😘