Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Menghadapi Ibu Hamil


__ADS_3

Dimas menggulung lengan kemeja kerjanya, setelah itu dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke area pasar malam. Tempat itu begitu bising dan juga sangat ramai pengunjung. Demi tidak ingin kehilangan jejak Sekar, Dimas sampai beberapa kali menabrak orang yang berada di tempat itu juga.


"Mang Danang, ini ikannya." Sekar memberikan kantong plastik berisi ikan lele kepada pegawainya, setelah itu Sekar berjalan menuju ke meja kasir.


"Sekar buka tenda pecel lele di sini?! benar benar wanita pekerja keras!" Dimas menggeleng gelengkan kepala kepala salut dengan Sekar yang seperti tidak punya rasa lelah. Seharian mengurus 7 empang ditambah malam membuka tenda pecel lele sampai larut malam, sungguh membuat Dimas kagum pada wanita pekerja keras itu. Jika Dimas yang berada di posisi Sekar, mungkin dia sudah merengek pada mamanya untuk meminta uang.


Kemudian Dimas melangkah kan kakinya masuk kedalam kedai milik Sekar.


"Mba sekar, itu ada pengunjung katanya mau dilayani sama mba Sekar" ucap pegawai Sekar mengadu


"Siapa sih? biasanya juga gak gitu" ucap Sekar yang kemudian berdiri lalu beranjak dari tempat duduknya


"Itu mba, yang pake kemeja biru muda" ucapnya lagi


Sekar membulat saat melihat Dimas berbalik dan tatapan mereka bertemu


"Dimas?!" Sekar tebengong sesaat ketika melihat Dimas didepannya


"Kenapa dia ada dimana mana? apa dia hantu?!" ucap Sekar


"Enak saja kamu bilang aku hantu! mana ada hantu seganteng aku hah?!" Cetus Dimas


"Lagian emang kamu itu kok dimana mana ada?! ngintilin aku yah?!" Sungut Sekar


"Gak lah! Ini kan tempat umum, lagian aku lapar, dan aku mau makan" jawab Dimas


Sekar mencibik kemudian memberikan kertas print yang sudah di vinil yang berisi menu makanan yang Sekar jual di warung tendanya.


"Mau pesan apa?!" tanya Sekar kepada Dimas


"Yang ramah dong, masak kasar gitu!" Ucap Dimas


Sekar memutar bola mata merasa jengah dengan Dimas


"Mau pesan apaaaa?" Ucap Sekar sok ramah, Dimas tersenyum kemudian melihat menu makanan


"Nasi Bebek bakar 1 , dan es jeruk 1, gak pake lama" ucap Dimas

__ADS_1


"Kalau mau cepet, ada bebek mentah!" ucap Sekar dan Dimas mendelik


Sebelum Dimas mengoceh, Sekar dan pegawainya sudah kabur lebih dulu.


"Dia pikir aku sumantri apa?, makan daging mentah?!" gumam Dimas dan membuat pengunjung lainnya menahan tawa.


Sekar kembali ke meja kasir dan kembali bekerja, sementara Dimas duduk menunggu pesanannya sambil sesekali melirik ke samping ke arah Sekar yang terlihat sangat serius. Ntahlah, Dimas merasa ingin mendekat dengan gadis dewasa itu.


Di rumah Dika,,,,


Dika duduk di ruang tengah sambil menemani Fatih bermain dan menonton TV. Sejak setelah makan malam tadi, Dinda sama sekali tidak keluar dari kamarnya Fatih. Bahkan dia juga tidak membalas pesan suaminya. Jangankan akan membalasnya, ponsel Dinda saja berada di kamar mereka.


"Fatih tunggu disini ya, Ayah mau panggil bunda" ucap Dika pada putranya


"Iya yah" Jawab Fatih


Lalu Dika beranjak dan berjalan menuju ke kamar Fatih


Tok


Tok


Tok


Tok


"Sayang,,, please,, buka pintunya dong" ucap Dika lagi


Ceklek


Pintu terbuka dan Dika langsung tersenyum manis pada istrinya, namun sayang, Senyum manisnya tak berguna sama sekali meluluhkan kekesalan istrinya


"Sayang,,," Bibir Dika mengatup saat melihat Dinda sama sekali tidak mau menatapnya. Kemudian Dinda membuka lebar pintu kamar Fatih dan hendak keluar dari kamar itu


"Sayangg,, tunggu,,," Ucap Dika menahan kedua bahu istrinya


"Ada apa bang?! tadi disuruh buka pintu, nah tu pintu sudah di buka, ya masuk saja sana, Dinda akan tidur di luar" Ucap Dinda

__ADS_1


"Ya Allah,, sayang,, jangan ngambek gini dong sama abang. Iya iya abang salah, abang yang salah, abang ngaku salah. Harusnya abang bisa menahan diri abang sedikit lagi. Harusnya abang tidak membuatmu lelah saat akan ujian. Abang janji gak akan ulangi lagi. Abang janji cintakuuu" Dika mengeluarkan jurus rayuan mautnya demi berbaikan dengan istrinya.


Dinda melirik sedikit dengan bibir manyun seperti bebek. Rasanya Dinda juga sudah memaafkan suaminya, hanya saja dia tidak ingin begitu saja mengucapkan kata 'memaafkan' Dinda ingin mengerjai Dika sekali lagi.


"Besok, Dinda mau pulang kerumah ibu!" Ucap Dinda dengan ketus


Glek!


Dika tidak menyangka jika istrinya semarah itu, hingga ingin pulang kerumah orang tuanya.


"Kemana istriku yang berfikir Dewasa?! kenapa sekarang jadi kekanakan?!" Dika membatin.


"Sayang,, kok gitu sih ngomongnya, abang janji,, abang gak akan ulangi lagi. Benerann,," ucap Dika meraih tangan istrinya dengan lembut


"Dinda lelah bang,," Ucap Dinda menarik tangannya dan akan pergi, namun Dika tidak menyerah dan langsung memeluk istrinya dengan erat. Dinda yang berada didalam dekapan hangat itu tersenyum senang, tapi dia masih tidak puas begitu saja untuk mengerjai suaminya.


"Jangan tinggalkan abang sayang,,, abang gak bisa hidup tanpa kamu,," ucap Dika dengan begitu lembut. Dinda bergeming saja, menikmati drama yang dia buat sendiri.


"Dinda butuh waktu sendiri,, abang tidur saja sendiri" Dinda mendorong Dika hingga pelukannya terlepas, Kemudian Dia berjalan ke depan untuk menghampiri Putranya.


"Sayang, ayo kita tidur" Ucap Dinda kepada Fatih


"Iyah" Sahut Fatih yang kemudian beranjak menghampiri bundanya.


"Sayang,,, abang gak bisa tidur kalau gak ada kamu" ucap Dika merengek seperti anak kecil


"Ayah cudah becal! biacanya ayah tidul cama bunda, cekalang gantian Atih" ucap Fatih


"Sayang,,," Dika memanggil istrinya namun Dinda berlalu dengan menggandeng tangan mungil Fatih dan mengajaknya ke kamar Fatih.


Deg!


"Apa separah itu salah ku, sampai sulit untuk di maafkan? benar benar sangat sulit menghadapi ibu hamil. Semua serba salah" Dika terlihat lesu saat berjalan menuju ke ruang kerjanya. Hasil dari ujiannya pagi ini, dia harus menerima kemarahan istrinya dan tidur sendiri malam ini.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2