
Dinda keluar dari kamar Fatih setelah menidurkannya. Karena Dinda belum mengantuk, Dinda berencana akan ke kamar mengambil buku dan mengerjakan tugasnya. Namun saat Dinda akan membuka pintu, Dika baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Dinda"
"Abang,,,"
"Abang kira sudah tidur"
"Belum ngantuk bang, Dinda mau ngerjain tugas aja" Jawab Dinda
"Sini ikut abang" Dika menarik tangan Dinda dan mengajaknya masuk kedalam ruang kerja Dika yang baru pertama ini dia masuki. Dika cukup kaget saat melihat ruangan sebesar 3x3 itu sudah seperti perpustakaan saja. Dinda melihat ke sekeliling tempat itu dengan perasaan kagum.
"Duduk Din"
"Iya bang,,, tempat ini kayak perpustakaan ya bang,,," ucap Dinda
"Hanya perpustakaan kecil. kamu boleh pakai buku apapun yang kamu ingin baca" Ucap Dika
Dinda berdiri dan berjalan mendekat kearah lemari buku. Disana Dinda melihat lihat buku yang tersusun rapi dan terlihat sangat terawat, Dika sendiri yang membersihkan ruangan itu beserta isinya selama ini. Dinda terkaget saat merasakan tangan kekar melingkar perlahan di pinggangnya, hembusan nafas hangat pun menerpa tengkuk dan bahunya membuat Dinda meremang.
"Abang suka menghabiskan waktu disini berjam jam jika Fatih sedang dirumah neneknya" Ucap Dika
"Abang suka membaca ya?" tanya Dinda
"Iya,,,kalau kamu?" Tanya Dika dengan mendaratkan satu kecupan di bahu polos itu
Dinda mengeratkan gigi menahan geli yang mendera dirinya.
"S,,u,,k,,aaaah"
"Dinda suka makan apa?" tanya Dika yang tangan dan bibirnya sudah dalam mode aktif
__ADS_1
"Ba,,kso,, mie,,ayam,, bang,,,Abang,,, suka makan apa?" Dinda semakin bergetar
"Makan kamu,, abang paling suka" jawab Dika yang kemudian menghadapkan Dinda kearahnya. Wajah Dinda sudah begitu memerah karena mendamba.
"Sini,, duduk deh" Ucap Dika yang menarik Dinda lalu menyuruhnya duduk di kursi. Kemudian Dika berjalan memutari meja dan membuka tas kerjanya. Dika mengambil amplop coklat dan kembali menghampiri Dinda
"Ini pendapatan abang selama sebulan totalnya disini ada 3.000.000. kamu gunakan untuk belanja bahan makanan kita sehari-hari, kalau kamu perlu beli buku atau keperluan lainnya pakai saja uangnya. Pendapatan abang jualan mie ayam laba bersihnya 15.000.000 abang simpen di rekening tabungan, kalau nanti ada kebutuhan mendadak bisa di pakai" ucap Dika saat menyerahkan amplop coklat itu kepada Dinda
"Tenang 3 juta itu gaji abang ngajar di beberapa kampus swasta, jadi uangnya insyaaAllah halal" ucap Dika lagi
"Terima kasih ya bang, Dinda akan berusaha menggunakan uang ini dengan sebaik baiknya. Oh iya sebentar" Dinda beranjak dari kursi dan keluar sebentar. Tak lama kemudian Dinda kembali masuk dengan membawa buku catatan .
"Ini buku catatan pengeluaran sehari hari yang selama sebulan ini Dinda pakai bang. Semuanya ada disini, uang yang abang berikan Dinda belanjakan dan dinda buat catatannya, jadi Dinda tau uangnya di pakai untuk apa saja" Dinda memberikan buku catatan itu kepada Dika
Dika melihat catatan pengeluaran harian yang di buat Dinda cukup jelas. Tak lupa Dinda juga melampirkan jika ada nota pembelanjaan yang diberikan oleh penjualnya. Sementara itu Dika manggut manggut melihat catatan pengeluaran kas yang dibuat dinda sangat rapi.
"Kamu anak Akuntansi ya?!" tanya Dika
"Abang salut sama kamu Din, kamu bisa mengelola keuangan dengan baik" ucap Dika yang kemudian menutup buku Dinda
"Dinda tuh mulai belajar membuat seperti ini semenjak Dinda kerja bang. Kan waktu itu gaji pertama Dinda di Cafe 1,5juta. Terus 500ribu Dinda kasih buat ibu, nah 1 jutanya untuk keperluan Dinda. Kadang Dinda beli ini dan itu terus tau tau uangnya habis bingung sendiri kemana yah habisnya. Nah dari situ Dinda baru mulai coba buat catatan pengeluaran kas kayak gini. Jadi pas uangnya habis, inget lagi di pakai buat apa. Bukan maksud perincian, tapi justru yang pengeluaran kecil kecil gini yang kadang tanpa kita sadar sudah sangat banyak dan gak kerasa" Jelas Dinda dan Dika semakin dibuat kagum dengan kedewasaan pemikiran Dinda
"Cukup 1 juta untuk kebutuhanmu sebulan?" tanya Dika
"Bang,,, kalau dibilang cukup untuk semua kebutuhan sepertinya gak cukup bang. Karena manusia itu gak akan pernah merasa cukup jika menuruti gaya hidup orang lain. Contoh, si A punya apa, kita pengen juga, kemudian ikit ikutan beli padahal kita gak oerlu banget. Tapi kalau kita bersyukur menerima, tentu akan lebih dari cukup rasanya. Semakin besar gaji seseorang maka semakin besar juga kebutuhannya. Jadi sebisa mungkin uang 1 juta itu harus cukup untuk kebutuhan Dinda sebulan. Jangan lupa juga bang, dari rejeki yang kita dapatkan, ada sebagian rejeki untuk orang lain. Mungkin sebulan itu bersihnya untuk Dinda sendiri 500ribu selama masih gadis" Dinda berkata panjang lebar dan membuat Dika kaget saja. Rasanya tidak bisa membayangkan, uang 500rb itu cukup untuk membeli apa?! bahkan jika di bandingkan Sierra dulu, skincare dia saja 1 juta sendiri, belum kebutuhan yang lainnya.
"Abang gak ngerti lagi gimana kamu bagi baginya Din" sahut Dika
"Hehehe,,, kalau gadis kan beda bang. Makan pun masih sama orang tua. Kalau jajan, beli baju atau yang lain, Dinda biasanya pilih online aja bang, pilih yang murah, sesuai budget heheh,,, kalau semua keinginan diturutin yah gak ada ujungnya bang. Pasti masih pengen ini dan itu, jadi kita sendiri yang bisa mengaturnya" jawab Dinda
"Maasyaa Allah,,, abang makin cinta sama kamu" Ucap Dika sambil memeluk pinggang Dinda
__ADS_1
"Gombal ah!" sahut Dinda
"Beneran! abang serius" jawab Dika menatap Dinda dengan tatapan serius
"Emang bisa cinta secepat itu?" tanya Dinda
"Tentu bisa, wong cinta pada pandangan pertama aja bisa " Jawab Dika
"Abang ihhh selalu bisa jawab! buat Dinda mati kutu!"
"Heheeh,,, sudah malam, yuk tidur" Ajak Dika lalu menggandeng tangan Dinda dan diajaknya keluar dari ruang kerja Dika. Dinda tersenyum saat melihat tangannya terus di genggam erat oleh Dika hingga mereka sampai di kamar.
Dika mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur. Kemudian keduanya merebahkan diri mereka, saling merapat dan saling memberi pelukan. Sesekali Dika memberikan kecupan di kening Dinda.
"Tidurlah, besok kamu ada kuliah pagi kan?"
"Iya bang, selamat malam" ucap Dinda mendongak keatas sebentar lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Malam"
CUP!
Dika kembali mendaratkan kecupannya di kening Dinda kemudian memejamkan mata.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat malam semuanya, selamat beristirahat. Jangan begadang yahhhh,,, biar besok bangun sahur nya gak Kesianganš¤