
Irfan keluar dari kamar Dinda dengan wajah yang memerah. Belum hilang rasa malunya, dia sudah di kejutkan oleh ibu Arini yang melihat nya keluar dari kamar adiknya
"Irfan! kenapa kamu keluar dari kamar Dinda?!" tanya Ibu
Irfan gelagepan saat di todong pertanyaan sang ibu.
"Um,, itu bu,, tadi Irfan pinjem kamar mandi Dinda, kran air di kamar mandi Irfan macet bu" jawab Irfan yang rasanya sudah berkeringat dingin
"Kenapa wajahmu merah begitu?" tanya ibu menelisik
Glek!
Irfan bingung akan menjawab apa pertanyaan sang ibu. Apa sebaiknya Irfan jujur saja.
"Jawab fan!" ucap ibu menepuk lengan Irfan dan membuatnya terperajat dan terlihat gugup
"Umm,, "
Irfan mendekat ke telinga sang ibu dan sedikit berbisik
"Irfan tadi gak sengaja memergoki mereka di kamar bu" ucap Irfan dan sukses membuat ibu Arin membulat
"Irfaaann! kamu yahh!" ibu Arin langsung mencubit perut putranya dengan gemas
"Bukan salah Ku bu! kan aku gak tau kalau Dinda masuk! ampun bu" ucap Irfan yang kemudian berlari menuju ke kamarnya.
"Dasar anak nakal! lama lama ibu kawiinkan kamu sama Siti!" ucap ibu
"Gak mauuu! Irfan bisa cari sendiri!" sahut Irfan yang kemudian menghilang masuk kedalam kamar.
Sedangkan di kamar mandi Dinda, Dika menatap istrinya yang sama sama diam seperti dirinya. Pikiran mereka sama, sama sama malu karena kepergok sang kakak saat itu. Ntah apa yang ada di fikiran Irfan sekarang
"Dinda malu bang,, Abang sihhh" ucap Dinda
"Yaa mana abang tau kalau di dalam ada kak Irfan? ibu juga tidak bilang kan tadi? jadi jangan salahkan abang dong" sahut Dika
"Ck! udah ah, Dinda mau mandi" ucap Dinda masuk ke dalam kamar mandi
"Ikutt" ucap Dika juga masuk kedalam kamar mandi
"Tapi gak ada acara mandi basahh ya! Dinda mau bantuin ibu nyiapin makan malam" ucap Dinda
"Yah,, kok gitu sih yang? abang bisa cepet loh, 5 menit deh yah yah,, Arjuna udah bangun nihh,, gak kasihan sama abang?!" ucap Dika membujuk istrinya dengan wajah memelas
Dinda melihat kebawah dan menghela nafas berat "Ya sudah cepetan, awas ya kalau lama" ucap Dinda
"Iya iya,," Dika tidak menyianyiakan waktunya yang sedikit diruang yang sempit itu untuk menyambangi rumah dara. Dinda pun sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak sampai keluar karena saat itu semua keluarga ada dirumah. Di kamarnya tidak ada peredam suara, jadi sebisa mungkin mereka tidak bersuara hingga sampailah mereka di puncak kenikmatan sore itu.
__ADS_1
"Ahhh terima kasih sayang,, " Dika mengecup singkat setelah mendapatkan keinginannya dan Dinda mengangguk lemas
**
Malam sudah menyapa , semua keluarga duduk di atas karpet ruangan tengah dan dihadapkan dengan makan malam yang sudah ditata rapi oleh ibu dan Dinda. Karena kursi di meja makan belakang tidak akan cukup untuk mereka semua, jadi mereka akan makan malam lesehan di ruang keluarga. Irfan, Dinda dan Dika terlihat sedikit canggung setelah kejadian sore tadi di kamar Dinda. Namun Irfan mencoba biasa saja dan mengalihkan dengan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Ayo Dika makan,, jangan malu malu" ucap ibu pada mantunya yang baru pertama kali makan malam dirumah itu setelah hampir 3 bulan menjadi mantunya
"Iya bu,," jawab Dika
Dinda melayani suaminya seperti biasa dan juga untuk Fatih. Setelah itu barulah dia mengambil makanan untuknya sendiri.
"Jadi kamu buka mie ayam di pasar malam Dik?" tanya pak Jaka
"Iya pak, untuk mengurus disana, saya di bantu temen" jawab Dika
"Eh Dika, coba kalian buka di depan rumah sini, ibu rasa pasti nanti rame juga. Soalnya disini susah kalau mau makan mie ayam yang enak gitu. Harus kedepan jalan raya" jawab Ibu
"Iya,, bapak juga setuju. Itu halaman depan juga luas" sambung bapak
Dinda dan Dika saling menatap, dipikiran mereka sepertinya sama.
"Bapak dan ibu gak keberatan kalau kami buka warung disini?" tanya Dinda
"Ya gak papa. Malah disini akan jadi rame lagi" jawab ibu
"Iya,, " jawab ibu
Mereka pun makan bersama, setelah itu mereka berbincang hangat sampai waktu sudah semakin larut malam. Fatih terlihat sudah mengantuk, kemudian Dinda mengajak Fatih untuk tidur di kamar
"Ayo sayang kita bobok" ucap Dinda
"Din,, Fatih biar tidur sama ibu dan bapak saja. Kasihan nanti umpek umpekan sama kalian berdua. Tempat tidurmu kan gak luas" ucap ibu
"Dika bisa tidur di bawah bu," ucap Dika
"Jangan,, nanti masuk angin. Udah gak papa, Fatih biar tidur sama ibu. Mau kan Fatih, tidur sama nenek?" ucap ibu Arin
"Mau" Jawab fatih yang kemudian mendekat pada ibu Arini
"Tapi bu,," ucap Dika terpotong
"Udah gak papa Dika,, tempat tidur ibu cukup luas. lagian ibu kan kurus, bapak juga kurus, Badan Fatih mah masih bisa lapang kalau tidur dengan kami. Kalau bersama kalian takutnya nanti malah kepletet Fatihnya" ucap ibu
"Ibu ngatain Dinda gemuk?!" sahut Dinda dengan cemberut
"Eh,, Enggakkkk,, ibu gak bilang gitu Dinda" jawab ibu
__ADS_1
"Tapi ibu seperti secara tidak langsung menyindir Dinda" jawab Dinda
"Enggak gituuu sayang,, itu loh,, kan tempat tidur mu itu cuma cukup berdua saja,nanti malah gak nyenyak tidurnya. Bukan maksud ibu bilang kamu gendut" jawab ibu
"Tuhhh kan ibu bilang Dinda gendut! Abangggg Dinda di katain ibu Arini gendut! Dinda gak gendut kan bang?!" ucap Dinda mencari pembelaan dari suaminya
Dika balas menatap istrinya yang sudah berkaca kaca
"Iyaa,, kamu gak gendut kok. Cuma sedikit berisi, kan ada dedek bayi jadi wajar kalau berisi kan yahhh?" ucap Dika menjawabnya dengan lembut
"He'em" Dinda mengangguk angguk setuju
"Tuh kan bu, Dinda gak gendut. Abang juga bilang gitu" ucap Dinda
"Ya sudah terserah kalian. Ibu ngantuk mau tidur! Ayo Fatih, kita kekamar nenek" ajak Ibu Arin
Ibu Arin hanya mengeleng gelengkan kepala melihat kelakuan putrinya sepertinya berubah semenjak hamil. Mereka semua harus miliki stock sabar yang unlimited jika menghadapi kelakuan Dinda yang benar benar menyebalkan. Meski tidak setiap saat, hanya saat kambuh saja mereka harus mengalah daripada ribut tidak ada ujungnya.
Pak Jaka pun tidak mau ketinggalan dan menyusul ibu Arini dan Fatih untuk istirahat. Melihat Ayah dan ibunya tidak ada lagi, Irfan cepat cepat beranjak dan akan kabur ke kamarnya saja daripada berhadapan dengan adik dan adik iparnya.
"Abang tidur duluan" Irfan mengambil langkah panjang agar segera menjauh dari mereka berdua
"Bang,, kenapa mereka semua lebih dulu ke kamar? terus ngapain kita masih ada disini?!" tanya Dinda
"Mungkin mereka sudah mengantuk, ayo kita tidur. Besok pagi kita ke pasar dulu beli bahan makanan yang sudah habis" Dika mengajak Dinda untuk ke kamar mereka. Dinda pun setuju dan mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Tak lupa Dika mengunci pintu kamar sebelum mereka tidur.
"Sempit ya bang kasurnya" ucap Dinda saat melihat Kasurnya memang hanya muat untuk mereka berdua saja
"Kalau sekarang gak papa, malahan enak begini. Jadi bisa peluk kamu sampai pagi" Jawab Dika yang sudah memeluk istrinya
"Abang bisa aja mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ucap Dinda
"Heheh,,,, mumpung ada waktu dan kesempatan, maka harus di gunakan sebaik baiknya. Abang rasa nanti ketika bayi kita lahir, kamu akan sangat sibuk mengurus anak anak kita" ucap Dika membelai surai panjang berwarna hitam yang terasa lembut milik istrinya
"Iya yah,,, ya sudah kalau begitu, kita tidur sambil berpelukan yah sampai pagi" ucap Dinda menenggelamkan wajahnya pada dada hangat suaminya
"Boleh,, selamat malam istri ku" ucap Dika sembari mengecup pucuk kepala istrinya
"Selamat malam suamiku,," jawab Dinda
Tak lama keduanya pun terlelap bersama mengarungi alam mimpi.
.
.
.
__ADS_1