
Peeet!!
Lampu mati, Dinda langsung terlonjak dan keduanya terlepas.
"Bang mati lampu!" Ucap Dinda melihat sekeliling gelap begitu juga Dika
Duuuuaaaaaarrrrrr
Petir menyambar membuat keduanya kaget rasa jantungan.
"Astagfirullah!! Dinda dan Dika mengucap bersama. Hujan turun bukan nya mereda namun semakin deras dengan kilat menyambar dan menggelegar.
"Dinda" Panggil Dika
"Iya bang?" jawab Dinda
"Ini apa? Melon apa Pepaya?!" tanya Dika saat tangannya sudah memegang bulatan bulatan empuk
"Abanggg!! tangannya nackal!" Jawab Dinda sambil melepas tangan Dika dengan sebal. Sepertinya Dika memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan saat itu
"Hehe,, gak sengaja ke pegang! gelep Din, yuk bobok aja" ajak Dika dengan senyum yang tak terlihat karena gelap
"Gak bisa bobok bang! takut gelep!" Jawab Dinda
"Kan ada abang, jangan takut" Jawab Dika
"Cari apa kek gitu bang, gelep banget ini!" Dinda benar benar takut gelap, belum lagi kondisi saat itu membuatnya semakin takut
"Gak bisa kemana-mana takut nabrak sana sini. Mending nabrak kamu aja abang mau" Dika yang mulai jahil semakin senang menggoda istrinya
"Bang,,," panggil Dinda saat tangannya berkelana
"Apaaaaa?" Jawab Dika tertahan
"Ini apa bang?" tanya Dinda bingung namun mencoba menerka nerka dengan meng sinkronkan tangan dan otaknya
__ADS_1
"Hihihi itu Arjuna Din, jangan di pegang pegang, nanti ngamuk" Jawab Dika yang tidak tahan lagi ingin menyemburkan tawanya
"Astagfirullah! Dinda kita tongkat baseball abang! Kyaaaaa!" Dinda menjerit dan segera menarik tangannya dari peredaran Arjuna
"Hahahahahaha!!" Akhirnya Dika menyemburkan tawanya juga
"Jahil ihhh!!" Dinda terdengar sangat kesal, mungkin saja saat ada cahaya , bisa terlihat bagaimana ekspresi wajah Dinda sekarang
"Enak ya Din gelep gelepan gini!" Ledek Dika
"Enak apaan bang? gak ada enaknya! yang ada abang messumin Dinda!" sungut Dinda
"Gak boleh nih? pilih abang messumin kamu apa abang messumin cewek lain?" Dika menantang
"Ya jangan gitu lah bang, yang sah ada, masak yang haramm sih? emang mau dapet dosa?" jawab Dinda
"Ya kalau gak di kasih dirumah, abang bisa apa? kamu nya juga dosa nolak permintaan suami" Dika mengeluarkan jurus pamungkas
" Ih abang, pinter banget ngomongnya! ngalahin sales!" Ledek Dinda karena merasa tidak akan bisa menang berargumen dengan Dika.
Pyaaarrrr
Mata keduanya mengerjap ngerjap menyesuaikan pandangan setelah lampu kembali hidup dan menyilaukan mata keduanya.
"Lampunya hidup lagi. Yuk bobok bang" ajak Dinda
"Kok bobok sih? belum isya dan makan malam kita mah. Sholat dulu"
"Oh iya, abang aja yang sholat, Dinda masih libur"
"Hem,,, jadi malam ini Arjuna gak jadi dong kenalan sama Dara?!"
"Iihhh abang, ada ada aja deh! masak di kasih nama gitu?"
"Hehe yah gak papa, biar lebih akrab aja kayak kita. Jadi berapa hari lagi mereka bisa ketemuan?"
__ADS_1
"Kyaaaa!! apaan sih bang?! malu tauuuukk!!" Dinda menutup wajahnya dengan telapak tangan
"Malu sama siapa? cuma kita berdua aja loh dirumah"
"Dih si abang, makin kesini abang makin mesyum!" tatapan Dinda dengan sebal
"Abang gini cuma sama istri aja Din, abang lebih milih yang halal didepan mata daripada yang haraam berseliweran di jalan raya"
"Abang selalu bisa bikin Dinda meleleh kayak coklat dipanasin!"ucap Dinda dengan memukul dada bidang Dika
"Abang sayang sama Dinda" Dika menatap Dinda dengan lembut
"Dinda juga sayang sama abang" Jawab Dinda malu malu
"Cieeee yang udah mulai sayang,,," ledek Dika sambil mencari tatapan Dinda
"Hihihi" Dinda terkekeh kecil
"Alhamdulillah" Ucap syukur Dika
"Jadi arjuna beneran gak bisa kenalan nih sama Dara?" tanya Dika sekali lagi
"Iyaaa beneran!! Dara lagi sakit! Puass?!" Jawab Dinda mempertegas
"Hahaha, ya sudah kalau gitu abang isya'an dulu lah setelah itu kita makan malem"
Karena hujan yang seolah tak berhenti, membuat Fatih tidak bisa di jemput. Dika berlapang dada saja, disaat situasi dan kondisi sudah mendukung seperti ini, disaat Fatih dititipkan, cuaca juga dingin karena hujan, Arjuna masih harus bersabar lebih lama lagi untuk berkenalan dengan Dara. Yahh mungkin beberapa hari kedepan Keduanya akan berkenalan secara langsung dan semoga saja tidak ada halangan lagi. Lama menyandang status Duda membuat sang Arjuna rindu berkelana.
.
.
.
.
__ADS_1
Lemes ngetik, lemes mikir kalau lagi giniš¤semangatin uni dongš¤