
Mobil Dika baru saja sampai di depan rumah keluarga Dinda. Dari dalam mereka berdua melihat warung mie ayam yang ada di depan rumah itu lumayan banyak pengunjung. Kemudian Dinda mengambil tasnya di belakang dan berpamitan pada suaminya
"Abang gak mampir ya, nanti takut telat " ucap Dika
"Iya,, Dinda langsung turun ya" Jawab Dinda mencium punggung tangan Dika
"Iya,, salam buat ibu dan Fatih" ucap Dika
"Iya, nanti Dinda sampaikan " Kemudian Dinda membuka pintu mobil dan segera turun
"Hati hati ya bang" ucap Dinda setelah menutup pintu mobil
"Iya,, sore nanti abang jemput. Assalamualaikum" Dika melambaikan tangan pada Dinda
"Wa'alaikumsalam" Jawab Dinda, kemudian Dika menjalankan mobilnya menuju kampus Tunas Bangsa untuk kembali mengajar, sedangkan Dinda berjalan menuju ke rumah orang tuanya.
Dinda tersenyum ramah pada para tetangga yang saat itu sedang mengantri membeli mie ayam.
"Dinda,, sudah pulang kamu?" ibu baru saja keluar dari dalam sambil membawa botol sambal
"Assalamualaikum bu,,, iya Dinda baru saja sampai" jawab Dinda mencium tangan ibunya
"Wa'alaikumsalam. sudah makan siang?" tanya ibu
"Sudah tadi makan bareng Abang. Fatih mana bu?" tanya Dinda
"Didalam lagi tidur. tadi dia habis makan siang langsung tidur. Ayo masuk kedalam" Ajak ibu.
Dinda dan ibu masuk kedalam rumah, lalu keduanya duduk diruang keluarga. Dinda melihat Fatih yang saat itu tengah tidur di kasur lantai dengan memeluk guling kecilnya.
"Gimana bu respon warga sekitar sini?" tanya Dinda
"Alhamdulillah, dari pagi tadi kelihatan rame. Meski gak bareng bareng banyak orang, tapi tetep ngalir. Itu stock ayamnya aja tinggal sedikit lagi Din. Paling gak sampai sore nanti sudah habis" Jawab ibu
"Alhamdulillah kalau memang begitu bu,, terus ada komen gak dari pembelinya? apa gitu, kurang apa?" tanya Dinda
"kalau komen sih,, tadi ibu dengar mie ayamnya enak, seporsi aja bikin kenyang. Kalau respon kurang apa apanya gitu belum denger ibu" jawab Ibu
"Kalau begitu, berarti bisa diterima bu rasa mie ayamnya. Sesuai selera orang orang disini. Jadi maksud Dinda kalau memang responnya bagus, mudah-mudahan bisa bertahan lama jualan disini" ucap Dinda
"Mudah mudahan begitu. Jadi setidaknya bisa bantu bantu ekonomi kalian. Apalagi kamu masih kuliah begini, butuh biaya besar, belum lagi nanti lahiran dan kebutuhan bayi juga banyak. Ibu gak bisa bantu ekonomi, cuma bisa bantu tenaga begini. Maafin ibu ya nak" Ucap Ibu
"Ibu jangan bilang gitu,, ibu itu udah banyak bangetttttt pengorbanannya buat Dinda. Dinda yang minta maaf karena sampai detik ini pun Dinda belum bisa membahagiakan ibu dan bapak" jawab Dinda jadi melow
"Kamu beruntung mendapatkan suami seperti Dika, dia pekerja keras, penyayang dan ibu lihat dia sangat mencintai kamu" ucap ibu memberi penilaian pada mantunya
"Iya,, ibu benar,, Dinda sangat beruntung mendapatkan suami seperti abang. Dia sangat mengerti Dinda bu, bahkan kadang Dinda yang sering kekanakan, tapi abang gak pernah marahin Dinda. Sedikitpun abang gak pernah bentak Dinda" jawab Dinda dengan mata berkaca kaca,,,
__ADS_1
"Jangan sia siakan pria seperti itu,,," ucap ibu
"Iya bu,," jawab Dinda.
Dika mematung didepan pintu saat mendengarkan pembicaraan Dinda dan ibunya. Sebelumnya Dika yang sudah menjalankan mobil meninggalkan Dinda, namun dia melihat ponsel Dinda tertinggal di dalam mobil, dan Dika memutuskan untuk kembali mengantarkan ponsel istrinya.
Namun tanpa dia sangka jika Dika mendengar percakapan Dinda dan ibunya. Dadanya langsung bergemuruh begitu hebat kala itu,
"Dinda"
Dinda dan ibu menoleh ke pintu bersamaan
"Abang?!" Dinda kaget dan langsung menghapus air mata yang sempat keluar lalu segera bangkit dan menghampiri suaminya
"Abang gak jadi pergi?" tanya Dinda
"Jadi,, ini ponselmu tertinggal di mobil" Dika memberikan ponsel Istrinya
"Ohh,, tadi,,mungkin dinda lupa masukin lagi kedalam tas. Makasih ya bang" ucap Dinda dengan tersenyum
"Iya,, emm kalau gitu abang pergi ya" Ucap Dika
"Iya,, hati hati ya,," Ucap Dinda
"Iya,, Ibu,, Dika pamit mau ke kampus lagi. Tadi nganter hape Dinda yang ketinggal di mobil" ucap Dika
"Iya bu,,"
"Abang pergi, Assalamualaikum" ucap Dika
"Wa'alaikumsalam. Tunggu bang" Dinda menarik lengan Dika dan sedikit berjinjit
Cup!
Kecupan manis dilayangkan Dinda pada pipi kanan Dika. Dika pun sempat kaget namun tiba tiba jadi malu karena di ruang tengah yang tak terlalu jauh dari ruang tamu itu ada ibu mertuanya.
"Biar ngajarnya semangat!" Dinda tersenyum manis saat melihat wajah Dika yang terlihat merona
"Terima kasih" Dika mengusap pelan wajah cantik yang tengah tersenyum manis padanya.
Kemudian Dika pergi sedangkan Dinda kembali masuk kedalam
"Genitttt kamu yahhh! cium cium di depan tadi!" ibu mencubit gemas pipi putrinya
"Iiihh ibu ngintipppp yahhh!" Dinda nyengir karena mendapat cubitan dari ibunya
"Gak ngintip sih! cuma denger, ada suaranyaaa! berasa de javu heheh " Kekeh ibu, setelah mengatakan itu keduanya kompak terkekeh bersama.
__ADS_1
"Ibuuukk ibukkkk"
**
Sementara saat ini di empang Sekar,,,
Sekar tengah duduk di depan pondok sambil melakukan pembukuan dari hasil penjualan ikannya. Sekar membuat laporan itu sangat rapi meski masih manual, kepengennya nanti dia memiliki laptop lagi dan bisa membuat laporan itu secara digital jadi tidak banyak menghabiskan buku. Meski dulu dia sempat punya, namun dia harus rela menjual laptop kuliahnya dulu demi untuk kebutuhan dapur keluarga.
Saat baru selesai menulis, Sekar melihat Dimas yang baru saja memasuki area empang mereka.
"Loh itu kan bapak" ucap Sekar membereskan bukunya dan berdiri menyambut kepulangan Dimas
Dimas memarkirkan motor Sekar di depan pondok, lalu dia berjalan menghampiri istrinya
"Assalamualaikum bu" ucap Dimas
"Wa'alaikumsalam,, bapak sudah pulang? pulangnya siang memangnya? biasanya sore" tanya Sekar. Keduanya duduk di depan pondok, lalu Dimas mengendurkan dasinya.
"Iya,, " Jawab Dimas singkat
"Oohh,, mau minum apa? ibu buatkan" ucap Sekar
"Air putih aja bu, kalau ada yang dingin ya, biar pikiran bapak dingin" jawab Dimas
"Ohh oke oke,, tunggu sebentar,, tadi ibu masukan botol kedalam kulkas" Kemudian Sekar masuk kedalam pondok dan mengambilkan botol berisi air putih dingin untuk Dimas.
Sampainya didepan Sekar melihat Dimas sedang memakan bekal yang dia bawakan tadi pagi
"Loh, bapak belum makan?" tanya Sekar
"Belum sempat makan, memang ibu gak baca pesan bapak tadi?" tanya Dimas
"Pesan? enggak pak, hape ibu ada di dalam kayaknya. bapak kirim pesan apa?" tanya Sekar
"Pantes aja ibu sekar biasa aja, dia gak baca pesanku!" batin Dimas
"Bapak,, di pecat dari kantor bu" jawab Dimas
Deg!
"Dipecat?!"
.
.
.
__ADS_1
.