
Dimas tersadar saat melihat Sekar yang akan berlalu dari sampingnya. Sekilas dia memegangi pipi yang sempat di kecup nya beberapa saat tadi.
"Enak saja kabur setelah memanfaatkan aku!" Ketus Dimas menahan lengan Sekar. Sekar menoleh dan melihat wajah tah bersahabat Dimas
"Terima kasih ya Dimas, dan maaf soal,, aku terpaksa mencium mu. Itu hanya akting saja di depan juragan Broto agar dia percaya. Anggap saja itu tidak pernah terjadi" Sekar malu sangat malu karena sudah berani mencium pria apalagi musuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi.
"Tapi kamu sudah seenaknya mencium ku!" sahut Dimas
"Iya aku salah, kan terpaksa! lagian aku sudah minta maaf pada mu" ucap Sekar kesal bercampur malu
"Sebagai permintaan maaf ku, aku akan membantumu menjaring ikan" Ucap Sekar yang kemudian berlalu dari hadapan Dimas dan mengambil jaring. Dimas pun menyusul Sekar ke empang dan juga akan ikut menjaring.
Saat akan menjaring, Dimas melihat Sekar mengusap matanya. Wajah gadis itu juga berubah mendung, hingga membuat hati Dimas penasaran.
"Kamu nangis?" tanya Dimas dan membuat Sekar cepat cepat menetralkan hatinya sendiri
"Gak! siapa yang nangis! aku cuma kelilipan!" jawab Sekar berbohong
"Kelilipan apa? debu saja tidak ada! kamu ada masalah sama juragan tadi?!" tebak Dimas asal
Mendengar itu, mata Sekar kembali berembun,
"Hem," jawab Sekar sambil kembali menjaring ikan
"Keluargaku punya hutang banyak pada juragan Broto. Aku terus mengumpulkan uang dari penjualan ikan di empang ini hanya untuk membayar hutang keluarga kami dan untuk sekedar makan. Adikku sakit jantung dan harus di pasang ring, Saat itu kami tidak punya uang, harga ikan juga lagi turun anjlok dan akhirnya keluarga ku meminjam uang itu kepada juragan Broto 500juta. Empang ini sebagai jaminannya sampai kami bisa mengembalikan uangnya itu. Selama ini aku menabung dan mencicil kepada juragan itu setiap bulannya hingga lunas nanti. Ck! jadi curhat kan!" cetus Sekar merasa malu sendiri kepada Dimas.
"Pak Iwan, tolong pak,, ini jaringkan Ikan gurame nya pak, mungkin kurang 10 kilo lagi" Panggil Sekar pada pegawainya
"Oh iya mba siap" jawabnya
__ADS_1
"Tolong mas Dimas ini di bantu ya pak, saya ke pondok dulu" Ucap Sekar
"Siap!"
Sekar berlalu tanpa berpamitan pada Dimas, dadanya sudah terasa sesak, bahkan dia ingin menangis saat ini. Rasanya sangat berat harus menjadi tulang punggung keluarga. Namun mau bagaimana lagi, Sekar di tempa harus mampu karena bapaknya sudah tidak bisa bekerja berat karena sakitnya. Sementara Sekar masih memiliki tanggungan 2 orang adik yang masih mengenyang pendidikan dan satunya adiknya sudah harus merasakan penyakit jantung.
Sedang dibuat tercengang saat mendengarkan curhatan Sekar sejak tadi. Dia tidak menyangka dibalik sikap ketus yang tampak dari Sekar, ternyata dia memiliki ketegaran yang luar biasa dalam menghadapi segala masalah besar yang menimpa keluarganya. Bahkan tidak tampak sedikitpun jika Sekar dalam keadaan sesulit itu, yang tampak hanya wajah ceria dan ramahnya dia saat melayani para pembeli ikan di empang nya, kecuali saat bersama Dimas dia terlihat begitu garang. Bahkan Dimas merasa tertampar berkali kali, dia merasa malu karena dulu dia sangat pengecut dan lari dari masalah. Bahkan menyakiti hati wanita yang dia cinta, namun dia baru sadar setelah pergi meninggalkannya. Pantasnya dia di sebut 'Pecundang'.
**
Sore itu Dinda sudah berdandan cantik setelah beberapa menit lalu dia di telfon Dika dan akan di jemput lalu mereka akan menjemput Fatih dirumah keluarga mantan istrinya. Yang biasanya Dinda tidak suka berdandan, palingan hanya menggunakan bedak dan juga lip gloss nya, kini sedikit berbeda, ntah Dinda begitu senang saat melihat banyaknya berbagai make up yang beberapa hari lalu dia beli online dan sudah tertata rapi di meja riasnya.
"MaasyaaAllah,, Aku merasa seperti bunga yang baru mekar di pagi hari..." Ucap Dinda tersenyum sendiri saat melihat dirinya dari pantulan cermin. Saat sedang memerhatikan penampilannya, Dinda mendengar suara bel rumah berbunyi.
"Itu abang pulang!" Dinda bergegas keluar kamar dan membuka pintu rumah yang dia sengaja tutup karena diluar ramai pembeli pria, sedang Dika tidak ada dirumah dan melarangnya keluar jika Dika tidak ada dirumah.
Ceklek
"Dimas?!" Dinda terkaget saat melihat ke datangan Dimas
Jantung Dimas masih berdebar debar saat melihat Dinda yang siang itu terlihat begitu cantik dan segar. Penyesalan semakin menggerogoti hatinya karena sudah menyianyiakan cinta tulus dinda saat itu. Namun kedatangannya bukan untuk kembali
"Hay,, apa aku boleh masuk?" tanya Dimas
"Tidak! suamiku tidak ada dirumah, silahkan duduk disana saja!" Jawab Dinda dengan cepat.
Dimas tidak menolak, dia pun melangkah keluar dan duduk di kursi yang ada teras rumah.
"Ada apa kemari?" tanya Dinda tanpa basa basi
__ADS_1
"Aku ingin meminta maaf padamu,,," jawab Dimas
"Aku sudah melupakannya" Jawab Dinda datar
Para pegawai Dika sempat melihat Dinda dan Dimas yang sepertinya tengah berbicara dengan serius.
"Itu adek nya pak Dika kan?!" ucap Daru
"Iya,, biarkan saja, kita awasi dari jauh. Kalau macam macam kita hajar saja!" jawab Santo
"Urusan kita sudah selesai, aku tidak ingin ada yang salah faham dengan kita. Jadi aku minta silahkan pulang" Ucap Dinda yang tidak ingin berlama lama
"Iya, aku juga akan kembali ke kantor. Ini aku bawakan buah buahan, selamat yah atas kehamilannya" Ucap Dimas dan membuat Dinda berkerut kening
"Darimana dia tau jika aku hamil?!" batin Dinda
"Ternyata,,, Aku akan menjadi paman sebentar lagi, padahal aku mau jadi ayahnya" kekeh Dimas namun wajah Dinda tak berubah sama sekali
"Enak saja! Aku yang membuatnya setiap malam! mana rela abang , kamu jadi ayahnya!" Cetus Dika
"Abang?!" Dimas dan Dinda menoleh bersama saat mendengar suara ketus Dika
.
.
.
.
__ADS_1
.