Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Hidup Normal


__ADS_3

",,,,,Sebenarnya Abang,,, sudah jatuh hati saat pertama kali kita bertemu"


Dika POV


Malam lamaran Dimas dan Dinda


Malam ini aku akan ikut keluarga mengantar Dimas kerumah calon mertuanya untuk meminang kekasihnya. Aku belum pernah bertemu kekasih Dimas, setiap kali kerumah pun aku selalu tidak ada dirumah, hanya fatih yang pernah beberapa kali bercerita kepadaku jika dia bermain bersama calon adik ipar ku itu.


Kami sudah sampai di rumah sederhana, kami masuk dan membicarakan niatan keluarga kami kepada keluarga calon adik ipar ku itu, dan dari kejauhan aku hanya sempat melihat seorang gadis yang duduk bersama mama dan ibunya, gadis itu menggunakan kebayak, namun tidak terlihat jelas wajahnya. Setelah tanggal pernikahan di tentukan, gadis itu pun keluar untuk dipasangkan cincin tunangan


Deg


Deg


Deg


Jantungku berdegup begitu cepat saat melihat gadis itu yang terlihat sederhana, anggun dan manis. Aku segera menepis perasaan aneh itu dan menyadarkan pikiran ku sendiri jika gadis itu akan menjadi adik ipar ku. Oh,, ya ampun,,, aku benar-benar tidak waras! Tidak mungkin aku menyukai calon adik ipar ku sendiri!


Dinda masih terdiam kaget saat mendengar pengakuan Dika saat itu. Dinda mengingat kembali dimana pertama kali mereka bertemu, dan itu tepat di hari lamaran Dimas saat itu. Dinda masih tidak menyangka, jika pria yang dulu adalah calon kakak iparnya itu memiliki perasaan lain terhadapnya dan kini malah menjadi suaminya.


"Abang hanya ingin menyampaikan apa yang ada didalam hati abang. Abang rasa, Dinda juga masih memiliki perasaan terhadap adik abang. Makanya Abang tidak ingin memaksa Dinda untuk menerima abang. Abang cukup tau diri saja, setidaknya hati abang sudah lega mengatakan semuanya" ucap Dika karena Dinda masih tidak bersuara


"Dinda,,," suara Dinda terdengar lirih dan gemetar


"Dinda,, juga merasa nyaman saat,,, bersama abang,,, Dinda juga,, seneng menjalani kehidupan bersama abang dan fatih selama hampir sebulan ini,, tapi,, dinda gak tau,, apa Dinda cinta sama abang atau tidak" jawab Dinda

__ADS_1


Perlahan Dika menarik Dinda dan kini Dinda sudah duduk di pangkuan Dika,tatapan keduanya seakan tidak bisa lepas dengan jari-jari yang saling bertautan. Ntah bagaimana caranya Dinda bisa menurut saja begitu.


"Kamu belum yakin saja dengan perasaan mu Din,, mungkin kamu masih membutuhkan banyak waktu untuk menyadari semuanya. Abang,, sudah katakan, abang tidak akan memaksamu, tapi abang juga tidak keberatan jika harus menunggumu mencintai abang dan melupakan perasaanmu pada adik abang" Dika membelai lembut wajah Dinda saat itu


"Jika kamu membuka diri dan memberi kesempatan untuk abang, maka abang akan berjuang untuk memenangkan hati mu" ucap Dika dengan tatapan teduhnya


"Iya,, Dinda mau memberi abang kesempatan untuk itu" jawab Dinda dengan bibir bergetar


"Jadi,, mulai hari ini, kita bisa berjanji untuk hidup normal seperti sepasang suami istri pada umumnya?" tanya Dika dengan penuh harap


"Iya,,," jawab Dinda pelan dengan mengangguk


"Terima kasih atas kesempatannya, abang akan berusaha menjadi suami yang baik untuk mu,,," Ucapan Dika terhenti saat dirinya sudah menarik Dinda dan memaanggut bibir merah muda itu dengan penuh kelembutan. Hanya ingin menyalurkan rasa hati ke dasar hatinya. Keduanya hanyut dan memejamkan mata, seolah lupa dimana tempat mereka berada.


Sepersekian menit keduanya masih saling bertukar rasa, bahkan tangan Dinda sudah bertengger di pundak Dika saat tangan Dika mengusap punggungnya lembut. Tidak ingin kebablasan, Dika mengakhiri semuanya meski hatinya masih ingin menikmati rasa manisnya


"Jadi mulai hari ini kita akan tidur satu kamar? " Tanya Dika lagi


"Tapi,,, seperti kata abang,,, mungkin Dinda masih butuh waktu lagi,," Jawab Dinda cepat


"Tidak masalah, abang akan menunggunya. Setidaknya ada alasan untuk abang tetap berjuang" ucap Dika yang kemudian mengecup kening Dinda dengan sayang


"Tapi Fatih bang?" tanya Dinda


"Nanti kita jelaskan lagi setelah fatih bagun ya" jawab Dika dan Dinda mengangguk

__ADS_1


"Mba sierra gimana bang?" tanya Dinda


"Dia type orang keras kepala, tidak cukup hanya meladeni ucapannya saja. Abang butuh bantuan kamu untuk membuat dia keluar sendiri dari rumah itu. Abang gak bisa ngusir dia, karena dia orangnya nekad an. Abang hanya tidak ingin dia kembali melakukan hal gila hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan"


"Memangnya apa yang dia lakukan dulu bang?"


"Dia hampir bunuh diri karena dulu abang pernah memutuskannya" Dinda terkejut saat mendengar ucapan Dika


"Maka dari itu abang butuh bantuan kamu Din,,," ucap Dika


"Iya bang, Dinda mau,,," jawab Dinda


"Abang,,, boleh cium lagi gak?" tanya Dika dan Dinda terlihat kaget tapi Dinda mengangguk pelan dengan tersipu malu. Dika juga tersenyum lalu mendekatkan wajahnya untuk menikmati manisnya Dinda lagi, tangan Dika pun sudah mendorong Dinda untuk mendekat, merapat dan tangan dinda pun sudah kembali berpegang di bahu kekar suaminya, tinggal sejengkal lagi


"Ayah,, Unda,,,"


"Heem!" Keduanya menoleh ke samping dan Fatih bangun dan menatap kedua orang tuanya itu dengan bingung.


.


.


.


.

__ADS_1


Udah senin ajaa nih,,


Boleh dong, uni minta di Vote sama readers tercinta 🤗


__ADS_2