Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Bukan Tercipta Untukku


__ADS_3

Dimas POV


Apa ku bilang, Dinda itu masih cinta sama aku! dia tidak akan pernah benar-benar benci padaku. Dia mau pergi bersamaku itu artinya dia masih sangat mencintai ku, dan tentu membuatku sangat bahagia. Bukan saja aku bahagia karena Dinda mau kembali padaku, tapi aku juga bangga padanya, tampilan nya semakin cantik dan terlihat semakin dewasa saja. Aku yakin Dinda dan bang Dika tidak memiliki hubungan apapun selain pernikahan palsu itu. Setelah ini aku berjanji akan mencintai, dan memperbaiki hubungan kami agar kembali seperti dulu lagi. Aku janji, akan membuat Dinda bahagia!


Aku yakin hidup kami selanjut nya akan bahagia dan begitu serasi. Terimakasih Din, sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki semua nya. Hari ini aku akan mengajak Dinda untuk mendatangi tempat dimana pertama kali kami bertemu. Aku ingin mengulang kembali pada masa-masa indah kami dulu. Aku akan membuatnya bahagia, aku janji!!


Dinda POV


Aku,,, aku bingung dengan perasaanku, tiba-tiba kak Dimas datang menghampiri kami di kampus dengan membawa buket bunga mawar putih. Aku sangat kaget saat itu, belum hilang kekagetan ku, dia memberikan bunga itu untukku dan menyodorkannya saja di depanku. Dan bodohnya aku menerima begitu saja antara sadar dan masih tidak sadar aku di tarik meninggalkan bang Dika dan Fatih.


Sepertinya aku sangat sulit untuk menolak ajakan kak Dimas, sampai saat aku tersadar ketika aku melihat Bang Dika yang tengah menggendong Fatih dari balik kaca mobil kak Dimas dan Fatih terlihat menangis. Aku langsung tersadar namun mobil sudah lebih dulu jalan dan meninggalkan mereka di belakang ku. Aku sedih, sangat sedih ketika melihat Fatih menangis di gendongan Abang yang masih bisa kulihat dari spion kaca mobil kak Dimas


"Fatih,,,,,,"


Mobil semakin jauh dan aku tidak bisa melihat Fatih dan Abang lagi. Lalu kulihat kak Dimas terlihat begitu senang tanpa merasa bersalah sedikitpun, padahal dia jelas tau jika aku sudah menikah dengan kakak nya.


Tunggu, Mau dibawa kemana aku sekarang?


Dika POV


Aku begitu kaget saat melihat adikku dengan senyum sumringah ketika menghampiri kami, tidak! dia tidak melihatku dan fatih tapi hanya kearah Dinda dengan membawa buket bunga mawar putih untuknya.


"Hai Din, conratulation atas kelulusan tesnya!" ucap Dimas dengan wajah yang terlihat begitu bahagia

__ADS_1


Lalu Dimas memberikan buket bunga itu kepada Dinda dan dengan masih terkejutnya Dinda, dia pun menerima bunga itu.


"Aku antar pulang ya?" ucap Dimas yang langsung menarik Dinda perlahan dan membawanya pergi dari kami. Dinda tidak menolak dan terus mengikuti langkah Dimas yang membawanya pergi. Bahkan Dimas seperti tidak menganggap keberadaan ku dan Fatih, bahkan basa basi pun tidak. Seketika dadaku terasa begitu sesak.


Tidak!! Tidak boleh gegabah, aku harus menahan amarahku sendiri, jika aku tidak mengingat mereka berdua siapa, mungkin Dimas sudah babak belur saat beraninya menarik Dinda seperti tadi. Tapi aku tersadar, Dia memang istriku, tapi dia mencintainya. Aku bisa melihat Dimata Dinda masih ada cinta untuknya, Aku harus ingat kembali alasan ku menikahi Dinda. Dan aku tidak bisa melewati batasan ku.


Kulihat mobil Dimas sudah bergerak pergi meninggalkan ku dan Fatih. Fatih terus merengek dan akhirnya menangis karena bundanya pergi bersama pamannya.


"Unda yah,,, unda pelgi yahhhh"


"Iya, bunda ada urusan sebentar dengan om Dimas" jawabku menenangkannya


"Unda,, atih au unda" jawabnya lagi sambil menangis


"Tapi Unda,,,," ucap Fatih terdengar sedih sambil segukan


"Kita pulang ya,," kataku sambil berjalan menuju ke parkiran motor


Cukup lama aku membujuknya untuk pulang, dan akhirnya Fatih mau aku ajak pulang setelah mobil Dimas sudah tidak terlihat lagi.


Ku dudukkan Fatih di boncengan depan Khusus untuknya. Ku hidupkan mesin Vespaku dan ku lajukan menuju ke rumah kami.


Sepanjang perjalanan aku terus berfikir, mungkin inilah jawaban dari doa-doaku dari kegelisahan hatiku selama beberapa hari ini. Dinda memang bukan tercipta untukku, dan Allah sudah menjawab nya dengan jelas. Aku yang salah, aku yang terlalu mengganggap serius hubungan ini seiring berjalannya waktu setelah ku sadari. Mulutku bisa berkata tidak, tapi hatiku tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Dinda gadis yang baik, cerdas, lembut dan keibuan, mungkin karena hal itu aku jadi terjerumus kedalam perasaan yang seharusnya tidak aku miliki untuk nya. Sekali lagi, dia memang istriku, tapi dia mencintai adikku.


Seiring perjalanan ku, Fatih tertidur dalam gendongan satu tanganku, Beberapa menit setelah melewati jalanan yang cukup melelahkan, kami pun sampai di rumah. Aku turun dari Vespa gading ku dengan terus menggendong Fatih dan kubawa dia masuk kedalam rumah. Kemudian ku buka pintu rumah dan kubawa Fatih menuju ke kamarnya. Ku rebahkan tubuh mungil yang sempat beberapa waktu lalu menangisi bundanya kini terlihat sudah tertidur begitu nyenyak. Ku lepas sepatu Fatih dan ku hidupkan kipas angin miliknya agar sirkulasi udara kembali dingin. Setelah itu Aku pergi meninggalkan Fatih sendiri di kamarnya.


Ku tutup pintu kamar Fatih dan ah iya, aku belum menutup pintu depan. Lalu aku melangkah kedepan untuk menutup pintu.


"Abangggg,,,,"


Deg!


"Dinda?!"


.


.


.


.


.


To be Continue gaesssss 🔥

__ADS_1


__ADS_2