
" Dika,, apa benar,, Dimas dan Dinda dulu,, punya hubungan?" tanya Sekar dan membuat Dika menghentikan langkahnya,
"Iya, dulu mereka pernah gagal menikah, sebelum aku menikahi Dinda" Jawab Dika
Deg!
Hati Sekar serasa di hujam belati tajam. Pantas saja ketika Sekar bertanya pada Dinda saat mereka di kantor KUA, Dinda terlihat tegang. Ternyata kenyataannya lebih pahit setelah mengetahui semuanya.
"Aku akan menyusul ke rumah sakit, apa kamu masih mau disini?" tanya Dika
"Aku,,,ikut" Ucap Sekar lalu bangkit dari tempat duduknya
Keduanya keluar dan menaiki motor masing masing mengiringi mobil papa yang membawa mama Nadira ke rumah sakit terdekat. Pikiran sekar sekarang sangat kacau, tapi semua sudah terjadi, tinggal dia tidak tau lagi bagaimana pernikahan nya dan Dimas setelah ini.
"Bu Sekar,,"
"Iya pak Dimas?"
"Ingat ya bu, apapun yang akan terjadi nanti di rumah, bapak akan tetap sama sama ibu dan ibu harus janji untuk tetap sama bapak Dimas" Ucap Dimas
"Iya pak" Jawab Sekar
Obrolan dengan Dimas masih terngiang ngiang di ingatan Sekar saat itu.
"Ya Allah,, kenapa rasanya sesakit ini??" Sekar mengusap air matanya yang menetes di pipi.
Beberapa menit berlalu, mereka sudah sampai di rumah sakit dan mama Nadira segera di larikan ke ruang IGD sementara keluarga hanya bisa menunggu di depan ruangan itu.
"Sekar dimana bang?!" tanya Dimas pada Dika
"Ada, tadi dia bareng abang naik motor sendiri" Jawab Dika menoleh kesana kesini mencari keberadaan Sekar namun mereka tidak melihat Sekar. Tak lama Sekar sudah terlihat dan berjalan menuju ke arah mereka
"Itu dia" Dika menunjuk ke arah Sekar yang sedang berjalan dan Dimas bernafas lega
Dika minggir sedikit menjauh, lalu dia menghubungi Dinda dan mengabarkan jika mama Nadira masuk rumah sakit.
"Ibu Sekar" ucap Dimas menyapa Sekar
__ADS_1
Wajah sekar terlihat sedikit sembab, karena dia sempat menangis meski Sekar sudah sempat mencuci wajahnya agar menyamarkan jejaknya
"Ibu dari mana saja?" tanya Dimas menghampiri Sekar
"Tadi ke toilet sebentar" Jawab Sekar, Dimas menggenggam tangan Sekar dan menelisik wajahnya,
"Ibu habis nangis?" tanya Dimas
"Em,, Ah enggak,, tadi kena debu saja, jadi matanya merah" Jawab Sekar
"Tapi,,,"
Ucapan Dimas terhenti saat papa sudah kembali setelah mengurus administrasi rumah sakit.
"Apa dokter belum keluar?" tanya papa
"Belum pa, kita doakan saja semoga mama baik baik saja" jawab Dimas
Dika kembali setelah mengakhiri panggilan telfon, dan bersamaan dengan itu Dokter keluar dari ruang IGD.
"Pasien mengalami stroke akibat dari tekanan darah tingginya naik drastis pak" jawab Dokter
Deg!
"Apa?! mama kena Stroke dok?!" tanya Dimas
"Iya benar, tensi darahnya sangat tinggi, bahkan sekarang pasien belum sadar" jawab Dokter
"Ini semua gara gara abang!" Sarkas Dimas yang langsung menyerang Dika. Mencengkram kuat kerah kemeja Dika dan tatapannya penuh emosi, Dika sama sekali tidak membalas ataupun menjawab
"Dimas Hentikan!" Ucap Papa mencoba memisahkan kedua putranya
"Tidak pa! Mama sampai masuk rumah sakit itu karena abang! karena ucapan abang bikin darah tinggi mama naik dan akhirnya Stroke! kalau mama sampai kenapa napa, Dimas gak akan tinggal diam!" ucap Dimas menatap Dika dengan tajam kemudian mendorongnya hingga membuat Dika mundur 2 langkah ke belakang.
"Abang hanya ingin mama Nadira sadar! apa kamu mau selama nya menjadi anak manja yang berlindung di bawah ketiak mama?! kamu sudah dewasa! dan kamu sudah menikah, harusnya kamu lihat dari sudut pandang yang lain. Doakan saja setelah mama siuman nanti mama sadar dan bisa menerima mantu mantunya!!" Jawab Dika dengan tegas
"Dengarkan kata abang mu!" sarkas papa
__ADS_1
"Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar! kita doakan saja mama segera siuman dan sadar!" sambung papa
Sementara itu dari kejauhan terlihat Dinda baru saja turun dari taksi. Dinda yang bisa melihat keberadaan Dika di depan ruang IGD pun langsung menyusulnya.
"Assalamualaikum" ucap Dinda
"Wa'alaikumsalam" Semua orang beralih menatap Dinda yang baru saja tiba
"Dinda" Emosi Dika langsung menurun saat istrinya datang
"Bagaimana kondisi mama bang?" tanya Dinda
"Mama belum sadar,,," jawab Dika
"Bagaimana semuanya bisa terjadi? mama sakit apa?" tanya Dinda. Dinda yang tidak tau apa apa masalah mereka pun terus bertanya pada Dika
Sekar menatap Dinda sebentar namun dengan tatapan lain. Setelah itu Sekar memilih untuk melihat ke arah lain.
"Bagaimana jika memang benar, aku hanya sebagai pelarian Dimas dari Dinda?? Kenapa rasanya sesakit ini?? Ya Allah,,, kuatkan hati ku,,," batin Sekar menahan sesak didalam dadanya, ingin rasanya dia berlari dan berteriak sekuat kuat nya
"Dimas, Sekar, Sepertinya kita perlu bicara" ucap Dika ketika tak sengaja melihat Sekar yang tiba tiba membuang wajahnya ke arah lain setelah melihat Dinda
"Apa yang ingin di bicarakan ?" tanya Sekar
"Semuanya, agar lebih jelas!" jawab Dika
"Pergilah kalian, biar papa yang disini menunggu mama" sahut papa
Kemudian Dika, Dinda, Dimas dan Sekar mencari tempat yang lebih tenang dan kondusif untuk bicara, Sedangkan papa duduk sendiri di depan ruang IGD.
"Mungkin jika jantung ini bukan milik ayah mu, sudah sejak lama kau ku tinggalkan Nad,," Papa Dirdja meremas kuat bajunya sendiri
.
.
.
__ADS_1