
"Permisi pak" Ucap Dinda
Deg!
"Dinda??"
"Abang??"
Keduanya membatin bersama karena kaget di panggil bersamaan seperti ini. perasaan keduanya pun jadi tidak enak sekarang,
"Dinda, silahkan duduk" ucap Pak Dekan
Dinda yang masih kaget dengan kondisi sekarang pun berjalan pelan lalu duduk di sebelah Dika.
"Baiklah, karena sudah berkumpul semua, saya akan mulai bicara,," pak Dekan menjeda ucapannya dan menatap Dika dan Dinda bergantian
"Ada apa ya pak?" tanya Dinda memberanikan diri
"Begini, apa benar kalian berdua adalah pasangan suami istri?!" tanya pak Dekan dengan wajah serius
Deg!
"Iya benar pak, memangnya kenapa ya pak?" tanya Dika yang tidak mau menutupi apapun dari pihak kampus, sementara Dinda terlihat tegang, karena dia takut hal buruk akan menimpa mereka. Perasaannya sudah tidak enak sekarang
"Dosen dan mahasiswa di kampus ini sudah banyak yang tau kalian berdua sudah menikah, mereka beranggapan bahwa di kampus ini telah terjadi KKN karena Dinda menerima beasiswa penuh di kampus ini. Hal ini sangat mencoreng nama baik kampus! Bagaimana bisa kampus bisa kecolongan dengan hal seperti ini" ucap pak Dekan
__ADS_1
"Tapi pak, Dinda lulus mendapatkan beasiswa penuh itu karena nilai ujiannya sendiri. Bukan karena saya! anda bisa tanyakan pada tim penerimaan mahasiswa baru, apa saya pernah datang kesana untuk meminta mereka memberikan nilai yang tinggi untuk Dinda?!" ucap Dika
"Dinda hanya mendapat nilai terbaik 2, sedang yang mendapat nilai terbaik pertama tidak mendapat beasiswa itu. Itulah kenapa isu KKN di kampus ini langsung tersebar pak Dika! Karena disini Dinda memiliki suami sebagai Dosen" jawab pak Dekan
Dinda mencengkram kuat ujung tunik nya, sekuat tenaga menahan rasa sesak didalam dada
"Jadi saya harus bagaimana pak?" tanya Dinda tanpa ingin basa basi. Dinda berusaha melapangkan dada jika cita citanya harus kandas nantinya
"Beasiswa itu akan kami cabut jika kamu masih ingin kuliah di kampus ini." Jawab pak Dekan dengan sangat berat
Deg
Deg
Deg
"Pak! tidak bisa begitu dong pak! Dinda tidak salah, dia mendapatkan nilai ujian itu karena usahanya sendiri. Saya tidak pernah,,,,," Ucapan Dika menggantung
"Jaga sikap anda pak Mahardika! Hanya itu jalan satu satunya yang bisa di lakukan untuk menghilangkan isu itu!" Pak Dekan berbicara dengan begitu tegas
Dika terlihat begitu kesal karena keputusan kampus yang dinilai tidak fair. Dika masih waras, hingga dia tidak akan mengamuk di ruang dekan.
Sementara Dinda terlihat ingin menangis saat itu, dia tidak memiliki jalan lain. Tidak mungkin Dinda akan memilih tetap berkuliah sedang kondisi keluarganya dalam keadaan tidak baik baik saja. Biaya untuk tetap berkuliah di fakultas kedokteran di kampus swasta terbilang fantastis dan dia tidak akan mampu untuk membayar uang perkuliahan nya nanti.
Sejenak Dinda menarik nafas dalam lalu menghembuskan kasar
__ADS_1
"Pak, jika memang pihak kampus akan mencabut beasiswa saya. Silahkan, saya ikhlas. Dan keputusan saya selanjutkan, saya akan berhenti kuliah karena saya sadar saya belum mampu untuk membayar uang perkuliahan nanti. Jangankan uang perkuliahan, untuk membeli peralatan kedokteran pun saya belum mampu, dan saya juga tidak ingin menjadi beban suami saya untuk menguliahkan saya di kampus ini. Satu hal yang ingin saya sampaikan pak, Saya sudah berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa ini, memang suami saya sangat mendukung akan hal ini, bahkan dia yang terus menyemangati saya, tapi saya juga yakin suami saya tidak akan melakukan hal buruk seperti yang diisukan. Saya mungkin sekarang sedih karena cita cita saya akan pupus pak , tapi saya cukup bangga karena pernah merasakan ikut tes dan lulus dengan nilai yang membanggakan menurut saya, dan lebih membuat saya bersyukur saya sudah di beri kesempatan untuk merasakan bangku kuliah meski hanya sebentar. Jadi keputusan saya, saya akan berhenti pak dari kampus ini" Ucap Dinda sembari menghapus air matanya dengan mencoba tetap tersenyum.
Dika mengeratkan genggaman tangannya sendiri, emosinya ingin meledak sekarang, apalagi saat melihat istrinya menangis.
"Saya permisi pak" ucap Dinda yang sudah tidak tahan ingin menangis. Lalu dia segera keluar dari ruangan Dekan.
"Pak, apa tidak ada solusi lain?! saya akan melakukan apapun asal Dinda tetap bisa mendapatkan beasiswa itu pak?!" ucap Dika setengah memohon
"Maaf pak Dika, kami tidak memiliki pilihan lain lagi. Jika anda tidak berkenan, silahkan urus pengunduran diri anda sebagai dosen di kampus ini" ucap pak Dekan dengan wajah serius.
Kekesalan Dika semakin membuncah saat mendengar ucapan terakhir pak Dekan.
"Baik pak, kalau begitu saya juga akan mengundurkan diri dari kampus ini. Permisi!" Dika bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Dia benar benar tidak bisa habis fikir dengan keputusan pihak kampus. Dika terlihat sangat kecewa, namun dia juga tidak bisa berbuat apa apa. Kini semua benar benar sudah jatuh hingga ke titik dasar. Bukan hanya karirnya yang hancur tapi juga cita cita istrinya yang sudah kandas. Sepertinya Sang Pencipta benar benar tengah menguji mereka berdua.
"Maafkan saya pak Dika,,,Dinda,, saya terpaksa mengambil keputusan itu untuk menyelamatkan kampus ini. Jika tidak ancaman Tasya anak pak Sekda itu akan menutup kampus ini. Saya tidak tau ada dendam apa kalian berdua dengannya"
Pak Dekan memijit kepalanya yang terasa begitu pening. Bukan hanya kehilangan mahasiswi berprestasi, tapi juga kampus itu kehilangan seorang dosen yang memiliki dedikasi tinggi.
(Sekda (Sekertaris Daerah) merupakan jabatan strategis dan memegang peranan sangat penting dan menjadi orang nomor dua setelah gubernur atau bupati/wali kota)
.
.
.
__ADS_1
.
Ada yang bener gak nih nebaknya kemarin??🤠masih inget gak sama Tasya? itu loh yang di jodohin sama Dimas 😃