
Keluarga kecil itu sudah sampai di warung mie ayam, saat sampai ternyata Fatih masih tertidur di dalam dekapan sang bundanya, kemudian mereka turun dari vespa itu setelah Dika membariskan Vespanya bersama motor yang lain di parkiran.
Saat mereka datang, warung tidak banyak pengunjung yang makan, hanya saja banyak ojol yang duduk menunggu pesanan mereka dibuatkan. Mereka yang sudah kenal Dika pun melemparkan senyum ramah saat melihat kedatangan nya dan Dika membalas senyuman mereka tak kalah ramahnya. Lalu Dika mengajak Dinda untuk menidurkan Fatih di ruang istirahatnya.
Perlahan Dinda menurunkan Fatih di karpet rasfur yang sudah di gelar Dika, tak lupa bantal beserta guling agar Fatih tidurnya nyaman.
"Abang keluar sebentar ya" ucap Dika yang kemudian keluar
"Iya" Jawab Dinda.
Dinda melepas tasnya dan juga kaos kakinya. Sejenak dia meluruskan kaki setelah kurang lebih 15 menit menempuh perjalanan dari kampus ke warung. Tak lama Dika masuk dengan membawa 2 botol teh dingin, lalu memberikan satu untuk Dinda.
"Nih minum dulu biar seger" ucap Dika yang kemudian duduk di dekat Dinda
"Makasih bang" Jawab Dinda, lalu mengambil botol itu dan meminumnya.
"Mau makan mie ayam?" tawar Dika
"Abang belum makan?" tanya Dinda
"Udah sih tadi sama Fatih. Tapi kalau mau di temenin makan, abang buatkan" jawab Dika
"Enggak usah bang, tadi Dinda juga sudah makan bareng Zara di kantin" Jawab Dinda yang memang merasa masih kenyang
"Udah baikan?" tanya Dika
"He'em" sahut Dinda sambil menyedot minumannya
"Memangnya ada masalah apa, Zara bisa marah kemarin?" tanya Dika
"Ternyata Zara kesel sama Dinda karena kemarin gak mau anterin dia ke kantin, dan dia melihat Dinda ngobrol sama Angg,,,,,"
Deg!
Dinda langsung menggigit bibir bawahnya karena keceplosan bicara. Dinda menatap Dika tak enak kemudian menunduk.
"Ohh gitu,, Jadi kemarin ketemu Angga?" Tanya Dika dengan wajah datar
__ADS_1
"Hem" sahut Dinda
"Ada masalah apa sama Angga?" tanya Dika menatap kearah Dinda
Dinda menggulung bibirnya, sedang otaknya berfikir akan mulai bicara dari mana.
"Sebenarnya kemarin,,,, Angga ingin memastikan kebenaran apa Dinda sudah menikah. Dinda bingung saja, Darimana dia tau kalau Dinda sudah menikah. Dan,,, dia menyatakan perasaan yang dari dulu dia simpan saat kami masih SMA,,, bang" Ucap Dinda pelan
"Terus?" tanya Dika
"Yah,, Dinda jawab aja yang sebenarnya. Dinda perjelas aja, kalau memang Dinda sudah menikah. Dinda tidak mau menutupinya, nanti jadi salah paham yang berkelanjutan" Jawab Dinda
"Bagus" sahut Dika
"Dinda masih bingung, Angga tau darimana yah kalau Dinda sudah menikah" ucap Dinda
"Abang yang memberitahunya" jawab Dika jujur
"Apa?! kok bisa? abang nemuin dia?" tanya Dinda penasaran
Deg!
Dinda melongo kaget saat mendengar ucapan Dika
"Abang hutang penjelasan soal ini. Dinda bener bener kaget saat tau abang itu Dosen! Abang gak pernah cerita apapun sama Dinda soal ini" Ucap Dinda yang baru ingat pertanyaan nya.
Dik tersenyum lalu memegang tangan istrinya
"Kamu gak pernah nanya ke abang, jadi abang gak cerita lah. Lagian abang cuma dosen honorer aja di beberapa kampus bukan dosen tetap. Jadi tidak bisa di banggakan" Jawab Dika dengan tersenyum hambar
"Abang kok ngomongnya gitu? jadi dosen itu pekerjaan yang mulia juga loh bang, sama seperti guru yang mencerdaskan kehidupan bangsa! harusnya abang bangga, Dinda aja bangga punya suami dosen, kereeen!" Dinda senyum sumringah karena rasa bangganya sendiri.
"Dosen honorer itu gajinya kecil, makanya abang mengajar di beberapa kampus di tambah jualan mie ayam juga. Kalau cuma ngandelin jadi dosen, mungkin cuma cukup untuk abang dan fatih, sedang abang gak akan bisa nabung untuk masa depan Fatih" jawab Dika sendu
Dinda terdiam menatap Dika, rasa kekagumannya semakin meningkat saja seiring mereka terus bersama. Dika yang sebenarnya memiliki keluarga kaya dan terpandang, namun dia lebih memilih untuk hidup sederhana. Dia tipe pekerja keras dan mandiri, kemudian Dinda tersenyum sendiri dan menunduk
"Kamu kenapa?" tanya Dika
__ADS_1
"Gak papa, abang hebat! Dinda hanya kagum saja sama abang. Meski keluarga abang dikatakan sudah kaya, tapi abang tetap hidup sederhana. Abang berani keluar dari zona nyaman itu keren banget menurut Dinda" jawab Dinda
"Tapi gak semua orang menganggapnya begitu. Cuma kamu yang bilang abang keren" Jawab Dika terkekeh
"Abang ihhh!"
Kemudian Dika menarik Dinda dan membuat mereka semakin dekat. Satu tangan Dika pun sudah melekat saja pada pinggang Dinda.
"Tidak banyak wanita yang mau diajak hidup susah, sebagai suami pun mereka juga tidak ingin membuat istri dan anak mereka hidup susah. Dalam sebuah keluarga mestinya semua ingin bahagia, dan hidup berkecukupan. Abang sudah pernah gagal, hal itu dulu yang abang takutkan untuk kembali berkomitmen. Abang takut tidak bisa memberikan kehidupan yang berkecukupan dengan kondisi abang yang seperti saat ini"
"Jangan samakan setiap wanita bang, karena tolak ukur bahagia seseorang juga berbeda beda. Dan gak semua kebahagiaan itu diukur dengan materi meski kita hidup juga butuh hal itu" Dinda menatap Dika dengan tatapan serius
"Dinda terlahir bukan dari keluarga kaya, jadi Dinda tau persis bagaimana makan nasi dengan hanya lauk kecap" ucap Dinda dengan tersenyum
"Memangnya pernah?" tanya Dinda
"Pernah" Jawab Dinda
"Hem,, tapi abang gak akan setega itu hanya memberikan nasi dan kecap untuk istri dan anak abang. Sepertinya abang menemukan berlian kali ini" ucap Dika
"Nemu berlian? dimana bang?" tanya Dinda dengan antusias
"Disini!"
CUP!
.
.
.
.
.
Maniseeee ngalahin gula!ðŸ¤
__ADS_1