
Fatih yang memilih berlari ke kamar nya dan membiarkan kedua orang tuanya bicara. Sementara Dinda masih mematung saat mendengar suaminya di pecat dari pekerjaannya. Dinda begitu kaget terlihat dari wajahnya yang begitu tegang.
"Abang gak papa kan?" tanya Dinda
Dika yang awalnya khawatir Dinda akan marah dan kecewa, namun ternyata tidak seperti dugaannya. Dinda malah seperti mengkhawatirkan dirinya.
"Abang gak papa" Jawab Dika
"Kok bisa mendadak gitu ya bang?" tanya Dinda yang kemudian mendekati suaminya
"Abang juga tidak tau, tadi pagi abang di panggil Dekan dan abang di berhentikan dari pekerjaan abang. Di kampus itu akan di rubah sistem dengan penghapusan dosen honorer. Abang bisa apa?" ucap Dika terdengar lesu. Bagaimana tidak, di kampus itu Dika memiliki lumayan banyak jadwal mengajar. Tentu akan mengganggu keuangan di keluarganya nanti.
"Abang yang sabar yah, pasti Allah akan ganti dengan yang lebih baik" Ucap Dinda
"Iya,,,Apa kamu tidak marah sama abang? gak kecewa?" tanya Dika
"Tidak bang, Dinda gak marah, meski dinda juga ikut sedih seperti yang abang rasakan sekarang tapi, Rejeki itu bisa di cari. Patah satu hilang berganti, kita gak boleh nyerah gitu aja" jawab Dinda
"Kamu gak akan ninggalin abang kan? meski Abang sudah kehilangan pekerjaan, usaha abang juga sudah gulung tikar?" tanya Dika
"Dinda akan tetap disini nemenin abang bangkit lagi" Jawab Dinda dengan satu tangannya terulur menyentuh pundak suaminya.
"Terima kasih" jawab Dika meraih tangan Dinda dan mengecupnya dengan cinta.
Sore hari Dika duduk merenung sendiri di ruang kerjanya. Bukan hanya Tunas bangsa, tapi kampus Harapan bangsa juga menghentikan Dika dari pekerjaannya, kini tersisa kampus kedokteran saja yang masih memberikannya pekerjaan. Panggilan kerja dari kampus lain pun tidak ada.
__ADS_1
"Kenapa begitu aneh rasanya, semua begitu tiba tiba dan dalam waktu bersamaan?! apa ada sebuah konspirasi?! tapi siapa yang tega melakukan itu padaku?!" batin Dika yang terus berfikir.
Ceklek
"Abang lagi sibuk ya?" tanya Dinda saat menyembulkan kepalanya kedalam ruangan kerja Dika
"Gak Dinda, masuk saja" ucap Dika kemudian Dinda masuk kedalam
"Abang lagi apa?" tanya Dinda
"Gak papa, abang hanya berfikir kenapa abang bisa di pecat dalam waktu yang hampir bersamaan" ucap Dika
"Dinda juga merasa begitu bang,, apa abang punya musuh?" tanya Dinda
" Sudahlah, mungkin memang ini jalan untuk abang. Mau mencari tau juga abang gak bisa berbuat banyak" ucap Dika
"Bang, Dinda punya ide,," ucap Dinda
"Apa itu?" tanya Dika
"Kita buka warung mie ayam dirumah saja bang, didepan teras rumah, gimana?" tanya Dinda
"Hah?"
"Iya,, jadi Dinda berfikir tidak ada salahnya kita coba buka di teras rumah, lalu depan garasi itu kita kasih bangku dan meja untuk mereka makan di tempat, selain itu kita juga jualan online atau bisa juga pake aplikasi lagi. Tinggal pindah aja titik lokasinya. Gimana?" ucap Dinda dengan penuh semangat
__ADS_1
"Hem,, abang juga kepikiran gitu, malah abang kepikiran buat kasih kanopi di teras itu agar orang yang makan gak kehujanan dan gak kepanasan" Jawab Dika
"Ayo bang, kita kerjakan segera. Nanti Dinda bisa bantu bantu juga pas gak kuliah. Jadi kita gak bayar sewa kan? kasihan pelanggan mie ayam abang pasti nyariin. Nanti juga bisa kita buat media sosialnya" ucap Dinda
"Iya itu ide yang bagus, besok kita belanja ya ke pasar. Coba kita lihat diluar, enaknya gimana" Ucap Dika
"Boleh,,," jawab Dinda
"Oh iya Fatih dimana?" tanya Dika
"Ada di depan lagi main tadi Dinda tinggal sebentar buat nemuin abang" Jawab Dinda
Kemudian Dika keluar bersama Dinda dan mereka bertukar pikiran mengatur posisi yang pas untuk warung mie ayam mereka nanti. Dinda mencatat apa apa yang dibutuhkan menurut Dika dan kedua nya sepakat untuk memulai usaha meski merintis lagi dari awal.
"Ternyata mereka belum juga menyerah!"
.
.
.
.
sibuk mau lebaran, udah bikin nastar belum nih??ðŸ¤
__ADS_1