
Dinda terlihat begitu sibuk melayani pembeli yang akan makan mie ayam di tempat, sementara Dika sendiri yang meracik mie ayam pesanan pembelinya baik yang makan di tempat maupun yang di bawa pulang.
Pembukaan di hari pertama warung mie ayam Dika cukup ramai lancar, warga yang tinggal di komplek yang sama dengan mereka berbondong bondong datang untuk membeli mie ayam. Sementara itu Fatih hanya duduk manis di dekat sang ayah yang tengah riweh itu.
"Bang, mie ayam bakso 2 yah gak pake sayur pake bakso aja bang" ucap Dinda saat menghampiri Dika
"Iya,, sebentar yah, kamu duduk dulu dinda, capek kan dari tadi kular kilir melayani pembeli" ucap Dika saat menatap istrinya
"Gak papa bang, Dinda seneng kalau warungnya rame" jawab Dinda dengan tersenyum lebar
"Mudah mudahan lancar ya Mas Dika usahanya. Mie ayamnya enak" ucap salah satu tetangga mereka yang tengah menikmati mie ayam di mejanya bersama anaknya.
"Aamiin,,, terima kasih bu Dian doanya" jawab Dika
Dinda kembali berjalan mengantarkan minuman setelah selesai membuatnya, lalu kembali mengambil pesanan mie ayam dan mengantarkan ke meja pembeli. Panas terik membuat di tempat itu cukup panas meski sudah di pasang payung payung untuk menghalau panas matahari. Namun tidak menyurutkan pembeli yang ingin mencicipi mie ayam Dika yang baru kali ini di buka di komplek itu. Tak hanya warga, bahkan pak RT pun juga ikut nimbrung disana bersama keluarganya bergantian dengan warga yang lain.
"Rame ya mas Dika warung nya" ucap pak RT
"Alhamdulillah pak, mudah-mudahan semuanya suka hehe" jawab Dika dengan senyum sumringah
"Aamiin,, bungkus 2 ya mas, buat Pak Parjo sama Denis di pos satpam" ucap pak Rt
"Siaapppp pak RT" jawab Dika
Dinda menghampiri Fatih yang terlihat bosan sendiri tanpa teman.
"Fatih kenapa? laper?" tanya Dinda saat menghampiri Fatih
"Atih bosen unda, atih gak ada temen" jawab Fatih
"Hem,, gitu,, maaf yah,, bunda lagi bantuin ayah. Gimana kalau fatih bunda ambilkan cemilan atau mainan di dalam?" tanya Dinda
Fatih menoleh kearah Dika yang tengah mengusap keningnya dengan handuk yang di sampirkan di pundaknya, terlihat guratan dan wajah lelah yang tampak saat itu.
"Iya unda" jawab Fatih
"Anak soleh, sebentar yah" ucap Dinda yang kemudian masuk kedalam dan mengambil cemilan yang dibuatnya kemarin dan mainan kesukaan Fatih. Lalu Dinda memberikan itu semua kepada putranya.
__ADS_1
"Ini,,, bunda bantuin ayah lagi ya. Nanti kalau sudah sepi, bunda temenin Fatih main. Oke?" ucap Dinda
"Oke!" jawab Fatih dengan senyum
Dinda membalas senyum lalu kembali membantu Dika menjual mie ayamnya.
Pengunjung mulai berkurang, Dika dan Dinda bisa beristirahat sebentar dari pekerjaan mereka. Keduanya lalu duduk bersama dengan Fatih
"Dinda, rencana abang mau panggil santo dan yang lain kalau mereka belum kerja di tempat lain" ucap Dika
"Iya boleh bang, kan kita gak setiap hari juga bisa full time jagain warung ini. Dan juga kan penjualan di aplikasi, akan aktif mulai besok, siapa tau tambah rame" jawab Dinda
Dika meraih tissue dan mengusap keringat di kening Dinda dengan perlahan, Dinda pun tersenyum malu malu saat mendapatkan perhatian kecil dari suaminya.
"Nanti abang sembuhin capeknya" Dika tersenyum penuh arti
"Apaan sih bang" Dinda cukup paham maksud terselubung Dika yang sudah terbaca dari ekspresi wajah nya, Dinda tersenyum malu malu karena Dinda juga menyukai nya
"Dika!"
Dika dan Dinda langsung menoleh ke belakang dan mereka di kejutkan dengan kedatangan papa dan mama nya.
Kemudian papa dan mama Dika menghampiri keduanya yang tengah duduk santai karena belum ada pembeli lagi
" Kami tadi ke warung kamu dan ternyata tidak ada, jadi kamu gak jualan lagi disana?" tanya mama
"Iya ma, Pak Anjas menaikan sewa nya terlalu tinggi jadi Dika tidak bisa melanjutkan sewa warung itu pa, ma" jawab Dika
"Tapi tadi disana jualan mie ayam juga papa lihat" ucap papa
"Iya pa, itu punya anak nya pak Anjas sendiri" jawab Dika
"Bukan nya hari ini kamu ngajar di Tunas Bangsa?" tanya mama
"Dinda, bawa Fatih ke dalam" ucap Dika dan diangguki Dinda, lalu Dinda pamit membawa Fatih kedalam rumah
"Dika sudah gak ngajar disana lagi ma, Diharapan bangsa juga enggak. Sekarang Dika cuma ada jadwal ngajar di kedokteran" jawab Dika
__ADS_1
"Kok bisa?!" ucap mama kaget
"Ntahlah, Dika juga tidak tau kenapa semuanya mendadak dan bersamaan seperti ini" jawab Dika
"Ini semua karena kamu menikah dengan Dinda. Lihat saja, sebelum kamu menikahi dia, semua baik baik saja! sekarang hidup kamu makin blangsak!" sungut mama
"Ma!" papa memperingatkan mama Dika
"Semua ini sudah takdir ma. Jangan menyalahkan Dinda, karena tidak ada sangkut pautnya dengan dia" Jawab Dika
"Terserah kamu lah, mama cuma mengatakan faktanya. Kamu fikir saja sendiri" jawab mama
"Fatih,,! Fatih,, ayo ikut eyang pulang" mama Dika memanggil Fatih yang tengah bermain bersama Dinda
"Atih gak mau, mau cama Ayah unda" jawab Fatih
"Lebih baik Fatih ikut mama dan papa kalau hidup kalian kayak gini" mama Dika tetap memaksa Fatih untuk ikut bersamanya
"Ma, fatih gak mau ikut, biarkan dia bersama Dika!" Dika mencegah mamanya membawa putranya
"Dika masih mampu menafkahi anak dan istri Dika!" Ucap Dika yang langsung menggendong Fatih saat Fatih keluar rumah lagi
"Sudah ma, mama jangan keterlaluan, biarkan Fatih bersama Dika. Harusnya mama mendoakan anak bukan malah menyalah nyalah kan begini!" Papa Dika angkat bicara saat melihat mama Dika sangat keterlaluan.
"Ya sudah terserah kalian!" mama merajuk dan langsung pergi meninggalkan mereka menuju ke mobilnya.
"Keputusan Dimas tidak menikahi Dinda sangat tepat! jika pernikahan itu terjadi, pasti hidup Dimas yang akan hancur dan hidup susah! Tida masalah jika Dika yang menerimanya, dia juga bukan darah daging ku!" batin mama Nadira
Ternyata Dika dan Dimas hanya saudara seayah beda ibu
.
.
.
.
__ADS_1
kasih kembang kopinya dong, biar tambah semangat๐๐โ๐น