
Dika melangkah kedepan untuk menutup pintu depan, namun saat baru sampai di ruang depan,,,
"Abangggg,,,,"
Deg!
"Dinda?!"
Langkah Dika terhenti saat melihat Dinda sudah berdiri di ruang tamu dengan raut wajah sedih dan mata sembab berair.
Buuuukkkkkkk
Dinda langsung menubruk tubuh tegap keras itu dan memeluknya dengan sangat erat, air matanya juga terus menetes saat itu. Perlahan, tangan Dika terulur untuk membalas pelukannya namun hatinya masih penuh tanda tanya besar.
"Bagaimana Dinda ada disini? bukannya dia tadi pergi bersama Dimas?" batin Dika namun tidak terucap
"Maafin Dinda bang" ucap Dinda masih segukan didalam pelukan Dika
Flashback On
Saat di mobil Dimas,,,,
"Tunggu, Mau dibawa kemana aku sekarang?" batin Dinda melihat jalanan seperti nya bukan jalan pulang menuju kerumah Dika.
"Dinda,, kak Dimas bangga banget sama kamu, akhirnya kamu akan bisa mewujudkan mimpimu ingin menjadi dokter. Itu kan dulu yang pernah kamu ceritain sama Amel? kak Dimas gak sengaja denger waktu itu , dan sampai saat ini aku masih inget" ucap kak Dimas dengan begitu cerianya, seperti tidak ada beban saat menceritakan nya
"Aku mau pulang!" kataku saat melihat ke arah kak Dimas
"Pulang? jangan pulang dong Din, kakak akan ngajakin kamu ke tempat spesial kita" jawab kak Dimas
"Gak kak! Dinda mau pulang! tidak seharusnya Dinda ikut kak Dimas! Dinda sudah bersuami, harusnya kak Dimas paham soal itu! Jangan pernah lagi temui Dinda, kita sudah tidak ada hubungan apapun!" kataku dengan tegas
Ciiiiitttttttt
Kak Dimas menepikan mendadak mobilnya dan menatapku dengan sangat tajam
"Sampai kapanpun, aku tidak pernah menganggap kita putus! aku cinta sama Kamu Din, aku sayang sama kamu!!" ucap kak Dimas
"Cinta?? sayang?? berhenti katakan itu kak! jika memang kak Dimas cinta sama Dinda, kak Dimas gak akan mungkin ninggalin Dinda di acara akad nikah kita! Dinda malu!! Dinda malu pada semua orang!! bahkan bukan hanya Dinda tapi juga keluarga Dinda !! mikir gak sampai sana?? " ucapku meledak-ledak
__ADS_1
"Iya,,, kak Dimas mengaku salah dengan hal itu Din, tidak seharusnya kak Dimas lari saat itu. Kak Dimas nyesel, kak Dimas terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Kak Dimas merasa kita terlalu cepat untuk menikah, Tapi,, setelah kejadian itu kak Dimas mikir dan nyesel banget Din. Please,,, kita baikan lagi ya Din" jawab kak Dimas memohon padaku
"Gak bisa kak! semua sudah terlambat! Dinda sudah menikah dengan bang Dika!" jawabku meninggi
"Aku tau itu, tapi kamu dan Abang nikah bukan karena cinta kan?! aku tau semuanya Din! aku tau, CINTAMU HANYA AKU!" ucap kak Dimas dengan penuh penekanan
"Ya! kami memang menikah bukan karena cinta! tapi setidaknya Abang ada disaat aku jatuh karena dirimu kak! Kamu yang sudah membuang aku, dan sekarang kamu pungut lagi?! aku bukan barang!!" Aku sudah tidak bisa menahan air mataku yang langsung mengalir
"Kamu mau kemana?" tanya kak Dimas menahan lengan ku saat aku akan keluar dari mobilnya
"PULANG!! SUAMI DAN ANAKKU SUDAH MENUNGGU KU DIRUMAH!!" Ku tarik lenganku dengan cukup keras dan aku langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil kak Dimas.
Hatiku berkecamuk, pikiranku sangat kacau saat ini. Aku tidak peduli banyaknya orang yang melihat ku menangis di saat itu. Aku merasa sangat bersalah karena sudah meninggal kan bang Dika dan Fatih. Apalagi melihat Fatih menangis saat aku pergi meninggalkan nya.
Aku menghentikan Sebuah taksi dan aku langsung naik kedalam tanpa peduli lagi dengan kak Dimas yang mungkin menatapku dari dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, aku terus berfikir bagaimana caraku menjelaskan kepada Abang dan Fatih. Aku benar-benar tidak tau, kenapa aku merasa sangat bersalah kepada mereka berdua.
Beberapa menit setelah melewati jalanan yang tidak terlalu padat, akhirnya aku sampai di depan rumah bang Dika. Aku melihat Vespanya sudah terparkir, pasti mereka sudah sampai dirumah. Lalu aku membayar ongkos taksi dan aku langsung turun kemudian melangkah cepat menuju kerumah itu.
Jantungku terus berpacu dengan cepat, apalagi saat aku masuk kedalam dan aku langsung bertatapan dengan bang Dika.
Deg!
"Dinda,," Bang Dika menyebutkan namaku dan aku yang sudah gemetar pun langsung menubruknya dan memeluknya dengan begitu erat. Hatiku gundah, hatiku gelisah tapi kini luluh lantah setelah aku memeluknya.
Flashback off
"Maafin Dinda bang" ucap Dinda lagi karena tidak mendengar jawaban apapun dari Dika
"Maaf untuk apa Din?" tanya Dika
Dinda mengangkat wajahnya dari dekapan Dika, dan netra keduanya bertemu
"Maaf sudah ninggalin,,,Abang ,,dan Fatih" jawab Dinda dengan segukan
"Gak papa, Abang ngerti. Insyaallah Abang memahami semuanya" jawab Dika dengan tatapan lembutnya
"Harusnya Dinda gak ninggalin Abang, Tapi,,," ucap Dinda terhenti saat Dika menutup mulutnya dengan jari nya
__ADS_1
"Ssssttt,,, sudah,,, Abang sudah cukup memahami semua. Abang gak papa, Fatih juga gak papa. Kamu tidak perlu merasa bersalah" jawab Dika dan Dinda menggeleng
"Gak bang, bagaimana pun Dinda salah," jawab Dinda
"Abang gak papa. Kamu kenapa cepat pulang? nangis lagi?" tanya Dika
"Karena,, Dinda inget Abang sama Fatih" jawab Dinda lirih, nyaris tak terdengar
Deg!
"Karena kami?" tanya Dika dan Dinda mengangguk
"Dinda gak tau bang, Dinda hanya merasa sedih dan bersalah ketika Dinda meninggalkan Abang dan Fatih. Dinda,,,,,"
Dinda membulat saat Dika menghentikan ucapannya dengan satu kehangatan yang baru kali ini dia rasakan. Dinda benar-benar kaget, bahkan dia bingung dan hanya bisa mempererat pelukannya pada pinggang Dika.
Perlahan Dika menutup mata Dinda dan dinda pun ikut menutup mata, mencoba merasakan lebih dalam rasa yang ditawarkan Dika untuknya.
Lembut,,,,
Hangat,,,,,
Manis,,,,,
"Ya Allah,,, Rasa apa ini??"
.
.
.
.
.
To be Continue gaesssss 🤗
Selamat bermalam Minggu😍
__ADS_1