Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Abang boleh minta satu hal padamu?


__ADS_3

Zara baru saja keluar dari mobilnya, Dia sedikit kaget saat berpapasan dengan Angga yang juga baru saja memarkirkan motornya.


"Kak Angga?!"


"Bisa pas gini ya?!" Zara membatin


"Ada apa Ra?" tanya Angga saat menoleh ke arah Zara, wajahnya terlihat datar saja, tapi sebenarnya dalam hatinya sedikit senang karena sepagi itu sudah bertemu gadis polos itu.


Biasanya Zara membawa paperbag yang berisikan sarapan, namun pagi itu Zara tidak membawa apa apa, hanya tas kuliah dan buku di tangannya. Padahal pagi itu Angga tidak sarapan dan berharap dibawakan masakan Zara yang mulai membuatnya ketagihan.


"Gak papa,,, cuma nyapa aja, bisa pas gini yah, sampainya" ucap Zara


"Kebetulan saja" jawab Angga


"Kebetulan biasanya jodoh!" Zara menjawab dengan senyum sumringahnya sampai memperlihatkan gigi giginya yang putih


"Jodoh terus yang di pikirin! kuliah yang bener! kalau sudah lulus baru mikir jodoh!" sahut Angga


"Yah sekalian kak, siapa tau dapet jodoh pas masih kuliah hehe.." jawab Zara


Krucuuukkk


Zara langsung terdiam saat mendengar dengan jelas suara cacing cacing diperut berbunyi. Angga pun juga kaget saat perutnya berbunyi di waktu yang tidak tepat


"Kak Angga laper?!" tanya Zara


"Enggak" jawab Angga jadi salting sendiri


Tiba tiba Zara menubruk Angga dan mendekatkan telingannya di depan perut Angga


"Bohong! kak Angga pasti laper! tadi yang bunyi perut kak Angga kan?! kak Angga belum sarapan!" tanya Zara


Wajah Angga berubah memerah karena ketahuan lapar oleh Zara


"Nanti aku sarapan di kantin" jawab Angga


Zara senyum senyum sendiri saat menatap Angga yang terlihat salah tingkah


"Kak Angga nungguin Zara bawain sarapan yah?! hayo ngakuuuuu?!" Zara memojokkan Angga saat itu

__ADS_1


"Enggak! cuma gak sempet aja tadi sarapan dirumah" jawab Angga tangsi kalau harus jujur kepada Zara


"Gimana Zara mau bawain sarapan lagi, kotak makanan Zara aja gak di balikin lagi sama kak Angga, Masak tiap hari Zara harus beli kotak makanan?" ucap Zara


Angga baru ingat jika dia memang tidak pernah mengembalikan kotak makanan Zara, bahkan kotak makanan yang di bawakan Zara disimpan dirumah saja.


"Maaf, kakak lupa bawanya. Besok kakak balikkan" jawab Angga


"Ayo sarapan dulu" ucap Zara


"Sarapan apa?!" tanya Angga


Zara melihat jam di tangannya sebentar


"Masih ada 20 menit lagi sebelum masuk kelas, kita ke kosan Zara, tadi Zara masak kwetiaw masih ada" ucap Zara menarik Angga menuju ke mobilnya


"Gak usah, aku sarapan di kantin aja" ucap Angga dengan menarik tangannya


"Makan di kosan Zara aja kak, gratis gak bayar" ucap Zara yang kembali menarik Angga dan masuk kedalam mobilnya. Angga tidak menolak lagi dan ikut masuk kedalam mobil Zara. Setelah itu mereka pergi sebentar ke kosan Zara yang tak jauh dari kampus itu. Saat mobil Zara keluar, mereka berpapasan dengan Mobil Dika yang baru masuk gerbang


**


"Sayang,, kamu kenapa? masih marah sama abang?" tanya Dika. Keduanya belum juga turun dan masih ingin bicara berdua


"Gak bang,," jawab Dinda


"Tapi,, abang lihat kamu banyak diam dari tadi. Apa abang punya salah lagi sama kamu?" tanya Dika


"Gak ada bang,,," jawab Dinda


Kemudian Dika meraih tangan istrinya dan ditatapnya dengan lembut


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dika dengan sangat pelan


"Dinda cuma,,, merasa mama Nadira sepertinya berubah ya bang" ucap Dinda


"Berubah bagaimana?" tanya Dika


"Dulu,, sewaktu Dinda masih dekat sama Dimas,, mama terlihat sangat baik sama Dinda. Bahkan Dinda berfikir, jika Dinda sudah menikah dengan Dimas, Dinda akan merasa menjadi istri yang sangat bahagia mendapatkan ibu mertua yang sangat baik. Tapi,,, makin kesini,, Dinda seperti salah menilai" ucap Dinda dengan menunduk

__ADS_1


"Mama sebenarnya orang yang baik Din. Hanya saja mama itu sangat memandang strata sosial. Mungkin saat itu Mama belum terlalu kenal sama kamu, Jadi setelah tau semua, sikap mama mulai terlihat aselinya. Semenjak papa dan mama menikah, mama juga terlihat sangat sayang kepada abang waktu itu, sampai beberapa tahun lahirlah Dimas dan abang merasa perhatian dan kasih sayang mama mulai tercurah kepada Dimas. Mungkin itu rasa yang di rasakan semua anak sulung, abang mencoba berlapang dada karena bagaimanapun Dimas adalah adik abang juga" ucap Dika


"Memangnya,, mama abang kemana?" tanya Dinda


"Mama sakit, dan akhirnya pergi meninggalkan abang saat abang masih kecil. Setelah kepergian mama, abang hanya di temani oleh baby sister jika papa dan mama tidak ada dirumah. Nanti abang akan ajakin kamu ke makam mama abang." ucap Dika terlihat sedih


"Dinda minta maaf ya bang,,,Dinda gak tau,," ucap Dinda


"Gak papa,,, " jawab Dika mencoba tersenyum


"Dinda melihat perbedaan sikap mama ke abang dan Dimas, itu yang bikin Dinda kesel sama mama" ucap Dinda


"Abang tidak masalah, biarkan saja mama begitu. Nanti juga capek sendiri" jawab Dika


"Iiihh abang, bisa yah ngomong gitu, padahal abang yang di sindirin terus sama mama" cetus Dinda


"Terus abang harus gimana? ngelawan? keburukan jangan di balas dengan keburukan, tapi dengan kebaikan. Tapi abang jadi gemess deh sama kamu, abang lihat kamu berani jawabin mama. Abang saja males ngeladeni mama kalau ngomongnya nyelekit gitu" ucap Dika dengan terkekeh


"Habissss Dinda kesel banget sama mama! meski mama ya tetep aja mama mertua, tapi Dinda gak rela abang di sindirin terus!" jawab Dinda


"Abang boleh minta satu hal padamu?"


Deg!


Dinda terdiam melihat tatapan serius Dika kepadanya


"Apa bang?" tanya Dinda


"Abang hanya minta, nanti setelah anak kita lahir, jangan melupakan Fatih. Abang hanya tidak ingin Fatih merasakan hal yang sama seperti yang abang rasakan dulu. kekurangan kasih sayang seorang ibu itu gak enak. Abang ingin kita tidak membeda bedakan anak yang satu dengan anak yang lain. Meski,, Fatih tidak lahir dari rahimmu sayang" ucap Dika dengan sudah berkaca kaca, Dia benar benar tidak ingin Fatih merasa di beda bedakan dengan adik adiknya nanti.


"Dinda,, tidak bisa berjanji bang, karena Dinda takut mengingkari. Tapi,, Dinda akan berusaha semampu Dinda untuk menjadi ibu yang baik untuk Fatih dan anak anak kita nanti" tangan Dinda terulur menyentuh wajah suaminya yang terlihat begitu sedih


"Terima kasih"


Cup!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2