Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Pondok Derita


__ADS_3

"Apa kamu mau jadi janda hah?!" tanya Dimas membuat wajah Sekar pias


Glek!


"Aku,, tidak masalah jika itu membuat mu kembali berbaikan dengan ibu mu. Kamu tau mas, ibu sudah berjuang mati matian saat melahirkan mu, membesarkan mu dengan kasih sayang. Jangan kamu menjadi anak durhaka, melawan ibu mu hanya demi orang asing" ucap Sekar terdengar begitu pasrah


Dimas meraih tangan Sekar dan di genggamnya dengan begitu erat


"Aku tau pengorbanan mamaku sangat besar dalam hidupku, aku juga tidak ingin menjadi anak durhaka yang melawan ibu ku. Tapi untuk saat ini, ada hati yang harus aku jaga. Aku hanya ingin membuktikan pada mama dan papa jika pilihanku gak salah. Aku ingin membuat mama sadar, aku sudah dewasa, dan aku bisa bahagia dengan pilihanku. Aku yakin pada saat nya nanti mama akan sadar dan merestui kita. Aku hanya butuh dukungan mu, aku sudah melangkah sejauh ini berarti aku juga sudah memikirkan segala hal buruk yang mungkin saja akan terjadi, termasuk aku akan diusir dari rumah ini. Semua aku lakukan demi kamu, tolong jangan kecewakan aku saat aku sudah memutuskan semuanya" ucap Dimas dengan penuh kesungguhan


Mata Sekar sudah berkaca kaca, dia masih tidak mengerti apa yang membuat Dimas melakukan semua ini, termasuk bertengkar dengan sang ibu. Apa yang dilihat dimas dari dirinya? bahkan Sekar hanya seorang gadis miskin dengan hutang menggunung, dan belum lagi Sekar lebih tua dari Dimas. Harusnya Dimas bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih sempurna dari Sekar


Cup!


Sekar sedikit kaget saat dia tengah berpikir cukup keras, Dimas sudah melabuhkan sebuah kecupan di keningnya, cukup lama dan cukup dalam


"Jangan berfikir terlalu keras, aku ingin membuatmu merasakan cinta yang sudah aku rasakan" ucap Dimas saat tatapan mereka bertemu.


"Apa kamu yakin akan hidup denganku? Hidupku tak mudah, kamu tidak akan menikmati lagi kemewahan yang kamu miliki sekarang, kamu akan hidup susah denganku" tanpa terasa Sekar sudah meneteskan air matanya


"Aku yakin bisa menjalani semuanya asal bersamamu!" jawab Dimas menatap dalam istrinya


"Baiklah, aku mau" Jawab Sekar dengan tersenyum namun masih saja air matanya menetes. Dia benar benar tidak menyangka jika Dimas senekad itu.


"Jangan nangis, nanti tambah jelek!" Ucap Dimas yang kemudian mengusap air mata Sekar yang terus jatuh


"Sudah tau jelek, tapi kenapa masih mau!" Sahut Sekar


"Karena aku Cinta!" Jawab Dimas dengan tersenyum sambil mengusap air mata Sekar


"Terima kasih" Jawab Sekar terdengar lirih malu malu


"Hanya itu?" tanya Dimas


"Terus apaa la,,," Sekar terkaget saat Dimas sudah menyesap bibirnya. Tidak lama, Dimas langsung melepaskannya

__ADS_1


"Ayo kita pergi sekarang" ucap Dimas dan Sekar mengangguk


Kemudian Dimas menarik kopernya dan turun kebawah, Sedang di bawah mama Nadira terlihat gelisah, Dia sangat takut jika Dimas benar benar pergi dari rumah itu.


"Pa, ma, Aku pergi" ucap Dimas


"Pergilah" jawab papa sedang mama Nadira melengos dan tidak mau melihat keduanya


"Assalamualaikum" ucap Dimas dan Sekar menyalami papa Dirdja


"Wa'alaikumsalam" Jawab papa


Dimas menatap mama Nadira yang sejak tadi tidak mau menatapnya.


"Dimas pergi ma,," ucap Dimas namun tidak mendapat jawaban apapun dari ibunya.


Lalu Dimas menarik koper dan juga tangan Sekar dan mereka melangkah keluar dari rumah itu.


Mama Nadira terlihat begitu kesal dan kecewa dengan keputusan Dimas. Mama pun langsung pergi ke kamarnya


Braaakk!


Dimas dan Sekar berjalan ke pinggir jalan besar, disana keduanya terlihat sedang menunggu taksi yang lewat. Tak lama keduanya pun mendapatkan taksi dan mereka masuk kedalamnya


"Kita mau kemana?" tanya Sekar


"Ke rumah mu" jawab Dimas


"Kita akan tinggal dirumah ku?!" tanya Sekar


"Iya, kan aku diusir dari rumah, jadi kita nginep dirumah keluargamu ya" ucap Dimas


"Tidak. Di rumah ku sangat kecil, bahkan hanya ada 2 kamar saja. Aku saja tidur bersama adikku" jawab Sekar


"Kalau begitu, kita ngontrak saja bagaimana?" tanya Dimas

__ADS_1


"Ngontrak?!" tanya Sekar kaget


"Iya, kalau tidak ada rumah, berarti kita ngontrak saja. Aku tidak masalah" ucap Dimas


"Daripada ngontrak, bagaimana kalau kita tinggal di pondok saja?!" Tanya Sekar


"Pondok yang ada di empang?!" Dimas menganga


"Iya. Kenapa? kamu keberatan? jika keberatan kembali lah pada,,," Jawab Sekar


"Oke! tidak masalah!" Dimas langsung menjawabnya meski dia tidak ada bayangan jika harus tinggal di pondok kecil di empang Sekar.


**


Dirumah Dika...


Dinda yang sejak tadi terlihat tak banyak bicara. Dia bicara saat Dika bertanya dan jawabnya pun sangat singkat tidak seperti biasa, Sampai Dika bertanya tanya sendiri ada apa dengan istrinya


"Dinda,," Dika memegang tangan Dinda saat Dinda akan menuju ke kamar


"Ada apa bang?" tanya Dinda menatap sendu suaminya


"Kamu kenapa sayang? abang perhatikan sejak tadi kamu banyak diam" tanya Dika dengan pelan


"Tidak ada bang, Dinda hanya ingin istirahat saja. Dinda lelah" ucap Dinda


"Ohh begitu, ayo abang temenin. Abang juga lelah" ucap Dika


"Hum" sahut Dinda


Keduanya lalu masuk kedalam kamar dan merebahkan diri diatas ranjang. Dika terlihat lelah, dia pun tak lama tertidur.


"Maaf bang,,, Dinda gak bisa cerita. Dinda juga tidak mau mengungkit cerita lama. Tapi semuanya masih terasa sakit,,, Bukan Dinda masih Cinta, tapi luka itu kembali menganga" Dinda menghapus air matanya dan setelah itu memejamkan mata agar segera tidur.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2