
Setelah menghabiskan waktu honeymoon singkat mereka, Dika dan Dinda kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga lainnya. Tentu kepulangannya keduanya sangat di tunggu tunggu, apalagi oleh kedua buah hati mereka yang selama berlibur di titipkan pada orang tua mereka. Tak lupa, Dika dan Dinda membelikan oleh oleh untuk semua anggota keluarga, tak luput untuk Dimas dan Sekar meski keduanya masih belum pulang dari bulan madu.
Semakin hari baby Abyan semakin tumbuh berkembang, kemiripan wajahnya dengan sang Ayah semakin jelas terlihat. Setiap hari Dinda harus membagi waktu untuk anak, suami dan mengejar cita citanya.
Waktu begitu cepat berlalu, Dimas yang sudah wisuda dan menduduki kursi Direktur di perusahaan papa Dirdja. Sekar pun sudah melahirkan buah cintanya bersama Dimas, lahirlah seorang putra bernama Raja Danu Dirdja. Merupakan cucu ketiga di keluarga besar Pak Dirdja.
Pak Dirdja juga sudah pensiun dari jabatannya sebagai pak Camat. Kini aktivitasnya banyak di habiskan bersama keluarga saja.
Fatih sudah mulai sekolah, Setiap pagi Dika dan Dinda mengantarkan nya ke sekolah sebelum keduanya ke kampus. Pulangnya kadang Fatih di jemput kakeknya atau kadang pulang bersama ayahnya.
Menjelang semester semester akhir, Dinda semakin di sibukkan dengan tugas akhirnya. Tidak semudah yang dia bayangkan, disinilah letak kesulitan yang sebenarnya. Bahkan banyak mahasiswa malas bahkan jenuh pada saat tugas akhir mereka. Namun tidak bagi Dinda, baginya, dia harus mengejar kelulusan tepat waktu. Selain dia harus mengikuti aturan kampus yang harus tepat waktu kelulusan karena Dinda salah satu mahasiswa penerima beasiswa full, Dia juga ingin segera lulus tidak ingin menunda nunda lagi.
Akhirnya, Dinda dinyatakan lulus dari ujian Skripsi yang baru saja dia lalui beberapa waktu lalu. Dinda merasa benar benar lega, setelah perjuangan panjangnya dengan lika liku jalannya, akhirnya dia mampu menuntaskan kuliahnya dengan predikat terbaik . Semua itu dia dapatkan karena kerja keras, doa dan juga dukungan penuh dari keluarga. Kini tinggal menunggu waktu wisuda sesuai tanggal yang sudah di tetapkan oleh Universitas.
"Akhirnyaaaa wisudaaaaaa!" Teriakan bahagia itu terdengar begitu mengharukan, bahagianya pada mahasiswa yang sudah menyelesaikan studi mereka. Bukan hanya Dinda, tapi Zara juga teman teman yang lain telah menyelesaikan perjuangan mereka memperoleh gelar Dokter.
Malam ini akan di adakan syukuran kecil kecilan di rumah Dika atas kelulusan Dinda namun Zara tidak bisa hadir malam itu karena dia memiliki agenda lain.
Malam itu dirumah Dika terlihat sudah ramai orang. Tidak ada acara lain selain makan bersama.
"Dinda,, setelah ini apa langsung mau lanjut ambil spesialis?" tanya Dokter Dita
"Emm,, pengen sih dokter, tapi,, nunggu ACC Ayahnya anak anak" dinda terlihat senyum sambil melirik ke arah suaminya
"Padahal sudah ada list program adik Fatih loh dok" sahut Dika membuat gelegar tawa semua orang
"Abang iihhh,, malu,," Dinda terlihat malu malu
"Ya gak papa kalau mau nambah, kan Abyan juga sudah besar" sahut pak Dirdja
"Jangan mau kalah sama Dimas dan Sekar, itu mereka saja sudah mau punya buntut 2 " sahut mama Nadira
Dinda hanya mengulum senyum saat semua keluarga sepertinya sepakat untuk menambah anggota baru lagi di keluarga itu.
"Dinda, bagaimana tawaran bapak, apa kamu mau bekerja di rumah sakit kami?" tanya pak Agung
Dinda menatap ke arah Dika, sedang tatapan Dika seperti pasrah pada keputusan istrinya.
__ADS_1
"Iya Din,, bekerja di rumah sakit kami bisa sekalian ambil spesialis nanti. Sementara Dokter umum dulu, memangnya kamu mau ambil spesialis apa nanti?" tanya Dokter Dita
"Pengennya Spesialis anak dokter,,, Kalau bekerja dirumah sakit,, saya harus izin dulu pada ayahnya anak anak" jawab Dinda
"Bagaimana Dika?" tanya pak Agung
"Kalau saya selalu mendukung apapun keputusan Dinda pak. Karena Dinda yang akan menjalani semuanya. Yang terpenting bagi saya dia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu dan seorang istri. Jangan sampai karena alasan pekerjaan, dia lalai terhadap kewajibannya" jawab Dika
Dinda terlihat terharu dengan jawaban yang di berikan Dika. Selama ini, Dika tidak pernah sekalipun memaksakan keinginannya pada Dinda, Dia selalu mendukung apapun yang Dinda lakukan selagi dia tidak melalaikan tugasnya sebagai ibu dan istri.
"Saya,, mau pak bekerja di rumah sakit bapak, tapi mungkin tidak bisa full seminggu " ucap Dinda
"Alhamdulillah. Kalau begitu kamu bisa mulai bekerja di rumah sakit besok. Nanti akan di arahkan Dita. Kamu juga bisa atur jadwal praktek kamu, jadi waktu bersama keluarga masih tetap ada" ucap pak Agung
"Terima kasih pak" jawab Dinda
"Selamat datang dokter Dinda di rumah sakit kami" ucap Dokter Dita.
Meski sebenarnya Dinda juga bingung karena dia juga mendapat tawaran dari pak Dermawan untuk bekerja di rumah sakit Tri Medika Pusat. Namun Dinda mempertimbangkan jarak tempuh kedua rumah sakit itu, Letak Rumah sakit Tri Medika Pusat lebih jauh dari rumah dan membutuhkan jarak tempuh 1 jam, sedangkan Rumah sakit Bunda letaknya tidak jauh dari rumah Dika. Dan juga kesibukan Dinda mengurus dua anak juga membutuhkan waktu lebih, Mungkin di lain kesempatan Dinda bisa bergabung juga di Rumah Sakit Tri Medika Pusat milik pak Dermawan.
"Sayang,, anak anak sudah tidur?" tanya Dika.
"Sudah bang,,," Jawab Dinda.
Fatih dan Abyan, keduanya tidur satu kamar. Dulunya Fatih hanya tidur seorang diri, kini berbagi kamar dengan adiknya. Justru Fatih sangat senang karena dia tidak tidur sendiri lagi.
Setelah memakai skincare nya, Dinda pun ikut bergabung bersama Dika yang sudah lebih dulu merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Jadi besok sudah mulai kerja?" tanya Dika
"Iya bang,, pagi pagi antar Fatih dan Abyan ke sekolah, baru setelah itu ke rumah sakit. Kan Sekolah Fatih dan Abyan searah dengan jalan kerumah sakit Bunda" ucap Dinda
"Baiklah kalau begitu ibu Dokter, mulai besok pak Dosen akan mengantar dan menjemput ibu dokter setelah selesai bertugas!" Ucap Dika menarik Dinda agar masuk kedalam dekapannya.
"Maaf yah,, jadi ngerepoti abang deh" ucap Dinda
"Tidak masalah, abang akan dukung apapun keputusanmu. Dan soal,, ambil spesialis, abang juga tidak keberatan" Dika melepas dekapannya, lalu sedikit bergerak membuka laci di samping tempat tidurnya. Kemudian Dika mengambil buku kecil yang ternyata buku tabungan.
__ADS_1
"Ini, abang sudah siapkan tabungan untuk kamu melanjutkan studi lagi. Nominalnya memang belum begitu besar, tapi abang rasa ini cukup untuk melanjutkan studymu sampai setengah semester. Kekurangannya, abang akan carikan lagi sambil jalan" Ucap Dika saat menyerahkan buku tabungan itu pada istrinya.
Dinda menerima buku tabungan itu, dilihat nominal didalamnya terdapat nominal 300juta, Dinda di buat kaget dengan apa yang di berikan Dika untuk dirinya
"Tapi bang, uang dari mana sebanyak ini? apa tidak sebaiknya kita gunakan uang ini untuk tabungan sekolah anak anak. Soal study Dinda, itu masih bisa di tunda bang. Dinda bisa bekerja dulu di rumah sakit, nanti uangnya di kumpulin, kalau sudah banyak baru lanjut lagi. Dinda gak pengen maksain keadaan" ucap Dinda
"Ini sudah abang persiapkan sejak lama. Kamu jangan pikirkan anak anak, mereka sudah menjadi tanggung jawab abang. Fatih masih SD, dan Abyan masih TK, biaya sekolah mereka tidak terlalu besar, masih bisa tercover semua. Abang juga sudah pisahkan untuk pendidikan mereka berdua. Yang menjadi prioritas kamu itu mengurus anak anak, abang dan juga melanjutkan studi kamu! udah itu aja" jawab Dika
Dinda merasa haru, bahkan dia sendiri tidak tau jika Dika sudah menyiapkan semuanya. Selama ini memang Dinda tidak memikirkan soal keuangan keluarga lagi karena kesibukannya mengurus anak dan juga kuliahnya, Dika yang kembali mengambil alih keuangan keluarga kecil mereka. Dinda tidak tau mau berkata apa lagi, semua benar benar di luar dugaannya
"Terima kasih suamiku, aku janji tidak akan mengecewakanmu dan anak anak kita" Dinda mengusap rahang keras suaminya yang kini ditumbuhi bulu bulu tipis menggelitik. Lalu Dika mengangguk dan tersenyum.
Kecupan sayang pun mendarat mulus di kening istrinya.
"Apa kita harus menunda program adiknya Fatih?" tanya Dika saat menyatukan kening keduanya
"Asal abang masih mau menemani Dinda begadang setiap malam, Dinda tidak masalah" jawab Dinda
"Hihihi abang akan menjadi suami siap siaga untuk kamu dan anak anak kita!" jawab Dika
"Kita buat adiknya fatih yuk,, siapa tau dapet gadis" kekeh Dika dengan tangan yang sudah tidak bisa diam pada tempatnya
"Ayukkkkk bang,,,"
The End
________
..."Cinta itu kamu, kamu itu cintaku"...
____
Finish yahhh Cerita cintanya Dinda dan abang Dika☺️ Terima kasih yang sudah mengikuti cerita cinta mereka berdua sampai gak kerasa sudah 200 bab lebih🤣 Ini bab cerita terpanjang yang uni tulis, sangking gak kerasa, terlalu seneng nulisnya. Tapi tenang, kalau kangen sama Dinda dan Bang Dika, nanti di masuk masukin ke Novel AKU PUNYA PAPA, Karena disana masih bagian dari Novel ini juga🤗
LOPEYU SEKEBON GAESSSS,
SEHAT SEHAT DISANA YAHHH☺️
__ADS_1