Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Sebuah Ancaman


__ADS_3

Pak Dirdja duduk di kursi tepat di samping mama Nadira yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya pucat, mata terpejam dengan bibir miring dan tertutup rapat. Papa Dirdja menatap wanita yang sudah 24 tahun ini menemani hari harinya.


Baik buruk nya mama Nadira, papa akan tetap menerimanya. Bagaimanapun papa sudah berjanji pada mertuanya untuk menerima dan menjaga mama Nadira sebelum dia mau menjadi pendonor jantung untuk pak Dirdja yang kala itu harus segera mendapatkan pendonor jantung yang cocok untuk dirinya.


Meski tidak bisa di pungkiri oleh papa Dirdja, jika di hatinya masih bersemayam nama isteri pertamanya, wanita yang paling dia cintai yang sudah lebih dulu pergi untuk selamanya setelah melahirkan putra pertama mereka yang di beri nama Mahardika. Papa Memang cinta pada Mama Nadira namun cintanya tak sebesar cinta untuk bundanya Dika.


"Ma,, bangun ma,, " papa Dirdja mencoba berkomunikasi dengan mama Nadira. Kata Dokter, mama harus sering di ajak ngobrol agar dia segera sadar


"Mau sampai kapan mama seperti ini? kata mama, mama ingin menghabiskan banyak waktu bersama papa, tapi kenapa mama tidak juga bangun?" ucap papa lagi, meski mama belum juga memberikan respon apa apa


"Ma,, rencana papa, setelah jabatan camat papa selesai, papa ingin dirumah saja bersama mama dan cucu cucu kita. Papa ingin istirahat total dan menghabiskan masa tua papa dirumah sambil momong cucu kita. Fatih sudah semakin tumbuh besar, Anak Dika yang kedua juga akan lahir. Mungkin bisa jadi kita akan mendapatkan cucu dari Dimas. Papa tidak menginginkan hal lain, hanya itu saja,,"


"Ma,,ayo bangun ma,, " ucap papa lagi


Wajah yang sudah semakin menua itu masih saja belum menunjukkan respon apa apa, bergerak sedikit saja tidak.


"Papa merasa rumah kita sekarang semakin terasa sepi. Dika sudah berumah tangga dan tinggal dirumahnya sendiri, Fatih pun hanya sesekali saja di antar kerumah. Dimas yang biasanya berantem setiap hari sama mama, sekarang juga pergi dari rumah. Tinggal kita berdua dan para pekerja dirumah besar itu. Dulu papa pernah berkeinginan memiliki rumah besar yang ramai dengan semua anggota keluarga tinggal di atap yang sama, dan berkumpul bersama, tapi kenapa sekarang rasanya sangat sulit mewujudkannya. Mama ngerasa hal yang sama gak sih sama apa yang papa rasakan? " ucap papa lagi


"Kalau mama gak mau bangun juga, ya sudah, terserah mama, papa akan menikah lagi kalau begitu! biar mama hidup sendiri saja sana!" ucap Papa dengan nada terdengar sebuah Ancaman, lalu papa langsung bangkit dan akan pergi meninggalkan mama Nadira.


Namun niatnya terhenti saat papa Dirdja melihat jari jari mama Nadira bergerak pelan beberapa kali. Pandangan papa Dirdja langsung tertuju pada mama Nadira yang saat itu terlihat berusaha membuka matanya.


"Ma,, mama sudah sadar?!" Dengan cepat papa menekan tombol panggilan dokter setelah mama Nadira berhasil membuka matanya.


...**...

__ADS_1


Dika melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi, 1 jam lagi Dika harus mengajar di kampus Harapan Bangsa, sedang Dinda juga harus kuliah pada jam yang sama. Sementara Papa Dirdja masih berada di dalam sejak tadi, ntah bagaimana kondisi di dalam mereka belum ada yang tau karena belum ada tanda tanda ada orang keluar dari ruangan itu.


"Dimas" panggil Dika pada Adiknya


"Iya bang?" jawab Dimas menoleh pada Dika


"Sepertinya abang harus pulang dan bersiap untuk mengajar, hari ini ada ujian di kelas dan abang tidak bisa menunggu sampai papa keluar. Tolong kabari abang jika ada perkembangan soal mama" ucap Dika


"Oh iya, abang ke kampus saja. Biar aku dan Sekar yang di sini. Nanti jika ada apa apa, kami akan menghubungi abang" jawab Dimas


"Baiklah, kalau begitu abang dan Dinda pamit dulu" ucap Dika yang kemudian menggandeng tangan Dinda dan bangkit dari tempat duduk mereka


"Ayo sayang kita pulang dulu" ucap Dika pada Dinda


"Kalian hati hati di jalan" jawab Dimas


" Iya, Assalamualaikum" ucap Dika berpamitan


"Wa'alaikumsalam" Jawab Dimas dan Sekar bersamaan


Kemudian Dika dan Dinda pun pergi menuju ke parkiran untuk mengambil motor vespa Dika. Sedangkan Dimas dan Sekar masih duduk di depan ruang IGD rumah sakit.


"Sayang,, kita belum sarapan, kamu pasti lapar, aku ke kantin sebentar ya. Kamu mau makan apa?" tanya Dimas pada isterinya


"Terserah, aku bukan pemilih makanan. Apapun yang kamu belikan, akan aku makan" jawab Sekar

__ADS_1


"Ya sudah, kamu tunggu disini, jangan kemana mana. Aku akan ke kantin sebentar untuk membeli sarapan" ucap Dimas mengusap bahu Sekar dan Sekar mengangguk patuh.


Setelah itu Dimas beranjak dan berjalan menuju ke kantin untuk membeli sarapan mereka. Sedangkan Sekar sejak tadi menatap kepergian Dimas sampai pria itu tak terlihat lagi punggungnya.


"Aku tidak pernah membayangkan memiliki suami yang usianya terpaut cukup jauh di bawah ku. Bahkan mungkin aku terlihat seperti kakak atau bibinya" Ucap Sekar dengan memijit kepalanya yang terasa pusing setelah cukup lama menangis tadi.


Kemudian Sekar mengambil ponsel dan menelfon ibunya. Sekar mengabarkan jika dia berada di rumah sakit dan meminta tolong pada bapak untuk pergi ke empang karena disana tadi cukup ramai pengunjung, takut pegawainya kewalahan. Setelah mengabarkan hal itu, Sekar pun mematikan sambungan telfonnya.


"Sekar?!"


Sekar menoleh ke samping dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa orang yang memanggil nama nya.


Deg!.


.


.


.


...Siapa lagiiii ini yah! baru juga adem, ...


...😲🥴...


...Ibu nadira langsung sadar pas di ancem papa 🤣...

__ADS_1


__ADS_2