Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Tenda Biru Saksi Bisu


__ADS_3

Please like sebelum membaca yah di novel baru ini 👍 Setelah membaca, tinggalkan jejak kalian yah 😘


Happy reading


________________________________


Semua persiapan pernikahan sudah siap, dirumah calon pengantin wanita pun sudah berdiri tenda biru dengan tatanan khas pernikahan untuk menyambut kedatangan pengantin pria, karena akad akan dilangsungkan jam 9 nanti.


Keluarga ku juga sudah berpakaian rapi kompak dan serasi sesuai dengan konsep yang kami usung di akad nikah ini. Tak lupa hidangan terlezat yang akan menjamu semua tamu-tamu yang akan menghadiri akad juga sudah siap di tempatnya.


Belum lagi gedung, dan persiapan resepsi nanti malam juga sudah disiapkan untuk pargelaran pesta juga sudah disiapkan 100%. Aku pun yang sudah terlihat bak ratu sehari dengan kebaya putih dan riasan pengantin Sunda membuat ku terlihat begitu cantik kata ibu, ponakan, dan keluarga lainnya yang sudah menemui ku. Sungguh, aku sangat gugup dan deg deg an pagi ini menunggu hari bahagia, berganti status dengan menjadi istri kak Dimas.


"Dinda deg deg an Bu"


"Dulu ibu juga gitu,, pas mau akad sama bapakmu, deg deg an gak karuan. Banyak-banyak zikir saja Din biar gak gugup"


"Iya,,,, bu"


Sementara itu dirumah keluarga Pak Dirdja,,,,,,,


Semua keluarga dan kerabat yang akan ikut berangkat menuju ke rumah Dinda pun sudah siap. Tinggal menunggu pengantin pria yang masih berada di kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 dan mereka harus segera berangkat.


Tok


Tok


Tok


"Dimas,,, cepat keluar, kita akan segera berangkat! akad mu jam 9, nanti telat" ucap ibu Nadira


"Iya ma,, "


Dimas membuka pintu kamarnya dan melihat mamanya masih berdiri didepan pintu


"Kalian duluan saja, aku akan menyusul menggunakan mobilku" jawab Dimas


"Mana bisa begitu, namanya pengantin ya di arak! jangan macem-macem kamu!" ucap ibu Nadira yang sudah menggunakan kebayak mewah seperti ibu-ibu negara.


"Ada yang harus Dimas kerjakan sedikit lagi ma,,,, pokoknya gak lama kok. Takutnya mereka menunggu" rayu Dimas


"Yang di tunggu itu kamu! kamu yang mau nikah!" sungut mama


"Ma,, gak ada waktu buat berantem sama aku. Please"


"Ya sudah cepetan ya! awas kalau kamu macem-macem!" kemudian Ibu Nadira pergi meninggalkan Dimas di kamar dan mengajak rombongan untuk berangkat lebih dulu


"Loh mana bisa gitu ma? Yang mau nikah kan Dimas, masak kita duluan?! sudah tunggu saja! anak itu bikin naik darah aja pagi-pagi!" sarkas papa

__ADS_1


"Gak papa pa, dia ada kerjaan sedikit katanya, tapi nanti nyusulin kita. Gak enak sama calon besan kalau kita telat pa. Mending kita duluan, nanti biar Dimas nyusul" jawab mama


"Ya sudah terserah mama!"


Kemudian pak Dirdja menginstruksikan semua rombongan untuk berangkat lebih dulu. Mahardika bersama al-Fatih pun juga sudah masuk kedalam mobil bersama eyangnya dan mereka bergerak lebih dulu menuju ke rumah keluarga Dinda.


"Dimas mana pa? ma?" tanya Dika sambil menyetir


"Katanya masih ada kerjaan" jawab mama


"Kerjaan?! kerjaan apa?! bukannya dia lagi cuti?!" ucap Dika


"Ntahlah, katanya nanti nyusulin kita" jawab mama


"Awas saja kalau dia macem-macem! papa babat habis anak itu!" sarkas papa


"Mama rasa Dimas gak bakal macem-macem deh pa!"


Rombongan calon pengantin pria sudah sampai di depan rumah keluarga Dinda. Mereka di sambut dengan hangat dan keluarga pak Dirdja di persilahkan untuk masuk ke dalam rumah, sementara rombongan keluarga lainnya duduk di tenda biru yang sudah di siapkan bersama tamu undangan lainnya.


"Nak Dimas dimana pak?" tanya pak Jaka


"Dia akan segera sampai pak, tadi ada kerjaan sedikit dari kantornya" jawab pak Dirdja


"Ohh begitu,,, baiklah, kita tunggu saja"


"Dika, coba kamu hubungi adikmu! kenapa belum juga sampai! telfon mama gak di angkat!"


"Baik ma" jawab Dika yang kemudian keluar dari rumah Dinda dan menelfon adiknya.


Berkali-kali Dika menelfon namun tidak diangkat, Dan setelah panggilan ke 10, nomer Dimas tidak bisa di hubungi. Lalu Dika mengirimkan pesan WhatsApp kepada adiknya


📨Dimas


Dek, kamu dimana?! acara sudah mau di mulai.


Tidak ada balasan dan hanya centang satu. Dika teramat cemas, lalu ia menelfon rumah dan ART yang mengangkat telfon mengatakan jika Dimas sudah keluar dengan mobilnya.


Suasana di dalam rumah maupun di bawah tenda tampah riuh bisik-bisik karena mempelai pria tak kunjung tiba dan acara belum juga dimulai. Terdengar sangat menggeramkan juga membuat tegang untuk pihak keluarga pak Dirdja


📨Dimas


Ma,, maafkan Dimas. Benar kata mama, aku memutuskan terlalu cepat untuk menikah. Aku belum siap sepenuhnya ma. Aku takut, dan aku baru menyadarinya. Maaf sudah membuat malu papa dan mama, tapi aku gak bisa meneruskan pernikahan ini. Aku pergi sebentar untuk menenangkan diriku yang terguncang. Sampaikan maaf ku pada keluarga Dinda, aku belum benar-benar mencintainya.


Deg!


Jantung ibu Nadira terpacu sangat cepat ketika membaca pesan yang dikirimkan Dimas putranya. Wajahnya terlihat langsung pucat dan bingung akan mengatakan apa pada semua orang

__ADS_1


"Ada apa ma?" tanya pak Dirdja


Mama tidak sanggup menjawab dan hanya menyodorkan ponselnya. Pak Dirdja membaca pesan dari Dimas dan langsung mengeras rahangnya menampakan kemarahan yang akan meluap-luap


"Pa,, ma,, kata Bik Tari, Dimas udah keluar dari rumah. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai. Kita tunggu saja" ucap Dika yang baru saja menghampiri orang tuanya


"Dia tidak mungkin datang!" ucap Pak Dirdja menahan amarah


"Maksud papa?"


Pak Dirdja memberi tahu pesan dari Dimas, dan sungguh membuatnya tercengang.


"Ada apa pak? kenapa dengan nak Dimas?!" tanya pak Jaka


Deg!


Suasana bertambah tegang karena samar-samar pihak keluarga Dinda mendengarkan percakapan pak Dirdja, ibu Nadira dan Mahardika.


"Pak Jaka,,,, kami,,, benar-benar minta maaf atas segala yang terjadi. Sepertinya pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan,,,"


"Kenapa pak? dimana Dimas?!" pak Jaka sudah meninggi


"Dimas memutuskan untuk pergi dan membatalkan pernikahan ini " jawab Pak Dirdja merasa malu, kesal, tidak enak dan semua rasa yang tidak dia sangka akan terjadi seperti ini.


"Apa?!"


Syok, pak Jaka, ibu arini dan keluarga lainnya


"Bagaimana bisa pak?! kenapa harus di saat seperti ini? kami sangat malu dengan semua keluarga dan juga tamu undangan jika pernikahan ini gagal! dan apa kata orang nanti,,, harusnya kalau belum yakin, Dimas tidak usah senekad ini! saya benar-benar kecewa!" ucap pak Jaka


Pak Dirdja diam sesaat


"Iya pak, kami pun tidak menyangka semua akan seperti ini, Dimas yang menginginkan pernikahan ini, tapi dia juga yang memutuskannya tiba-tiba. Andai kami tau sejak awal, tentu kami akan mencegah nya. Kami benar-benar minta maaf pak" ucap pak Dirdja


Sementara itu, dikamar pengantin aku menangis sendiri. Aku mendengar semua yang mereka katakan. Kak Dimas tidak datang di akad nikah kami. Dia pergi meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini. Hatiku hancur, sangat kecewa kenapa tidak dari awal saja jika memang dia belum siap. Aku sangat malu dengan semua orang!


"Pak, Bu, Bolehkah saya saja yang menikahi Dinda?!"


Semua orang terdiam dan menatap kearah Mahardika.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2