Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Kemarahan Dika


__ADS_3

Vespa Dika sudah sampai di parkiran rumah sakit tempat Fatih di rawat. Dengan cepat Dika dan Dinda berjalan masuk kedalam dan menanyakan ruangan Fatih dirawat. Setelah mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit, keduanya langsung menuju ke sana.


"Ini ruangannya" Lalu Dika membuka pintu ruangan itu dan melihat Fatih yang terbaring diatas bed rumah sakit.


"Fatih" Dika dan Dinda berjalan cepat menuju ke arah Fatih dan eyang Fatih pun terkaget dengan kedatangan keduanya lebih cepat dibanding Sierra yang sudah berhasil di hubungi.


"Bagaimana kondisinya pak?" tanya Dika


"Panasnya sudah turun, dokter baru saja memeriksanya lagi"


"Syukurlah,,, ayah begitu cemas mendengar kamu sakit" Dika menciumii tangan mungkin Fatih dengan perasaaan sedikit lega.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Dinda


"Kita tidak tau, pas kebangun badan Fatih sudaah sangat panas" jawab mama Sierra sedikit keras karena tidak mau di salahkan


" Mana Sierra pak? kenapa dia tidak ada disaat fatih seperti ini?! mana tanggung jawabnya sebagai seorang ibu?!" Tanyaa Dika meninggi


"Dia,,,"


Cekleekk


Sierra masuk dengan wajah yang masih terlihat sembab seperti bangun tidur. Jelas karena saat itu waktu masih menunjukkan dini hari


"Jadi ini yang kamu inginkan hah?! anak sakit tapi kamu tidak khawatir sedikitpun!" Dika sudah dibuat emosi ketika melihat wajah sierra yang tanpa dosa


"Apa sih marah-marah! aku juga baru tau kalau fatih sakit mas! aku dateng kesini karena khawatir sama anakku!" jawab Sierra


"Ouh! khawatir?! harusnya kamu yang bawa fatih kesini, itu baru kamu yang khawatir! atau jangan jangan kau tidak mengurus fatih dan kamu serahkan pada orang tuamu?! Keterlaluan!!" sarkas Dika


"Bang,, sudah bang,, sabar bang,," Dinda mencoba menahan Dika yang sudah tersulut emosi dan mungkin sebentar lagi bisa saja Dika menampar Sierra. Sementara sierra ditahan oleh mamanya


"Ini yang bikin aku gak mau balik sama kamu ra! kamu gak pernah benar benar peduli sama Fatih! Mulai detik ini, jangan pernah kamu bawa Fatih lagi!" Sarkas Dika


"Dika,,," Papa Sierra akan angkat bicara


"Maaf pak, saya tidak rela jika Fatih disakiti seperti ini. Selama ibunya belum juga berubah, maaf, saya tidak mengizinkan ibunya membawa fatih. Jika bapak dan ibu kangen dengan Fatih, silahkan datang kerumah saya" Jawab Dika dengan tegas


Sierra terlihat begitu kesal dengan Dika, bukan hanya Sierra tapi juga mamanya yang seolah Dika memberi jarak antara mereka dan fatih

__ADS_1


"Fatih itu anakku juga mas!!" Teriak Sierra


"Aku tau dia anakmu! tapi kamu bukan seperti ibunya!" Sarkas Dika dan membuat semua terdiam.


"Kalau kamu memang ibu yang mengurus anaknya dengan baik, semua ini tidak akan terjadi Ra! Sejak lahir bahkan kamu sudah pergi meninggalkannya! jangan kau lupa itu!" Ucap Dika dengan penuh penekanan


"Sudah sudah,, kita pulang saja" mama sierra sepertinya tidak terima jika Dika membentak dan memarahi sierra seperti itu.


Kemudian mama siera mengajak sierra keluar dari ruangan itu, begitu juga papa sierra yang melangkah pergi dari ruangan itu. Sementara Dinda sedikit kaget dengan kemarahan Dika yang saksikan secara langsung


"Bang,,,"


Dinda memegang bahu dika untuk menyadarkannya, Dika berbalik dan langsung memeluk Dinda saat itu, Dinda pun membalas pelukan Dika untuk menenangkannya


"Unda,,,"


Dika dan Dinda langsung melepas pelukan mereka dan melihat Fatih yang terbangun dari tidurnya


"Fatih" Ucap Dinda dan Dika yang langsung berhambur kearah Fatih


"Sayang,, ini bunda " Dinda menggenggam tangan mungil yang terasa lemas itu.


"Cepet sembuh yah,, kami sangat khawatir" ucap Dinda kepada Fatih


"Atih dah cembuh" jawab Fatih


"Belum, masih anget sedikitt lagi, sekarang Fatih tidur lagi, besok pagi kita pulang ya" ucap Dika


Fatih mengangguk patuh dan memejamkan matanya kembali.


"Dinda,, kamu tidur saja, biar abang yang jagain fatih" ucap Dika


"Abang juga istirahat, nanti ikutan sakit. Masih ada waktu untuk beristirahat sebentar" Jawab Dinda


Lalu Dika menggelar karpet dan rebahan bersama Dinda. Hanya ada satu bantal sofa di ruangan itu


"Sini merapat sedikit, bantalan pake lengan abang aja" ucap Dika saat menatap Dinda


Dinda mengangguk kemudian merapat kearah Dika. Lalu keduanya pun tidur bersama hingga waktu menjelang pagi.

__ADS_1


Baru tidur 2 jam lalu, mereka kembali terbangun saat mendengar suara adzan subuh berkumandang. Dika pergi ke musholah, sementara Dinda menunggu Fatih saja di ruangannya. Saat Dika kembali dia pun membawakan sarapan untuk mereka.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam" Jawab Dinda


"Eh, anak ayah sudah bangun, ini ayah belikan Fatih bubur ayam. Pasti Fatih lapar kan? ini enak loh,," ucap Dika saat menghampiri mereka


"Ini untukmu bunda" ucap Dika saat memberikan Dinda bubur ayam juga


"Makasih bang" ucap Dinda dan dika tersenyum


"Ayah suapin ya?" tawar Dika kepada Fatih


"Atih au cuapin Unda" jawab Fatih


"Boleh, sini bunda yang suapin" Kemudian Dinda mengambil kotak bubur Fatih dan mulai menyuapinya.


"Abang tadi sudah bertemu dengan pihak rumah sakit, Fatih boleh pulang setelah kunjungan dokter pagi ini" Ucap Dika


"Kita tunggu saja bang, kita pastikan semuanya baik baik saja" jawab Dinda


"atih udah cembuh " sahut Fatih


"Ohh iya yah,,, fatih sudah sembuh, kan Fatih anak kuat! tapi tetep sayang, kita harus tunggu dokter yahhhh" Ucap Dika pada putranya


"Iya" Jawab Fatih


Terlihat Dinda begitu telaten menyuapi Fatih, mendengar ceritanya, dan sesekali membuatnya tertawa. Mungkin karena Dinda memperhatikan fatih begitu, hingga membuat fatih begitu menyukainya. Dika berfikir, Sepertinya dia tidak salah jatuh cinta kali ini.


Dokter datang berkunjung dan memeriksa kondisi Fatih. Dokter menyatakan Fatih sudah sembuh dan bisa beristirahat dirumah saja. Kemudian Dika menyelesaikan biaya rumah sakit Fatih Lalu mengajaknya pulang bersama bundanya. Fatih terlihat begitu senang meski pulang hanya dijemput dengan Vespa butut milik ayahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Berbuka dengan yang manis manis☕☕


__ADS_2