Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Tawaran untuk Dika


__ADS_3

"Makin sukses saja sekarang kamu mas" batin Sierra


Dinda begitu kesal bahkan sudah di taraf cemburu berat saat melihat Dika berbincang dengan Sierra, belum lagi tatapan sierra seolah terlihat seperti tatapan cinta.


"Sebel sebel sebel!" Dinda hanya mampu berteriak kesal didalam hatinya karena melihat semua itu


"Fatih mau ikut bunda sama Ayah?" tanya Dinda dengan volume suaranya sedikit di naikkan dan mampu membuyarkan lamunan Sierra


"Fatih cama mama aja bunda, ada om Gion uga" ucap Fatih


"Dimana?" tanya Dika


"Ayo pulang,,,"


"Loh,, Dika,, kamu disini juga?!" ucap Gion yang baru saja kembali dari toilet


"Iya, ada kerjaan disini. Kalian disini juga?!" tanya Dika


"Iya, Minggu depan kami akan menikah, kalian dateng ya Dik" ucap Gion pada Dika


"InsyaaAllah" jawab Dika


"Masih jualan mie ayam?" tanya Gion terlihat seperti seperti meremehkan Dika


"Iya masih" jawab Dika


"Ouh,, kalau kamu mau, kamu bisa kerja di kantor ku Dik daripada jualan mie ayam terus" ucap Gion


Dika tersenyum datar saat Gion menawarinya pekerjaan. Gion adalah teman sekampus mereka dulu. Sejak mereka kuliah, Gion mengejar ngejar Sierra namun Sierra lebih memilih Dika saat itu. Gion setelah selesai kuliah Gion langsung meneruskan usaha keluarganya daripada meneruskan jenjang pendidikannya saat itu.


Sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan tentu membuat keluarga Sierra dengan mudah menerima pinangan Gion untuk Sierra putri mereka. Namun sayang, Sierra tidak menyukai Sikap Gion yang sedikit kasar dan pemarah, dia pun terpaksa menikah karena permintaan sang mama


"Maaf Gi, sepertinya aku lebih mencintai pekerjaanku, lagian kalau bekerja di kantor, waktuku juga akan habis seharian berada di kantor. Sedangkan kalau jualan kan aku punya waktu untuk anak dan istriku" ucap Dika


"Gimana mau sukses kalau cuma jualan mie ayam?! pantas saja Sierra meninggalkan kamu. Harusnya dari dulu Sierra itu pilih aku bukan kamu!" batin Gion


"Fatih mau ikut Ayah atau mama?" tanya Dika pada putranya


"Mama aja yah, mama di kamal cendili" ucap Fatih


"Ya sudah kalau gitu, Ayah sama bunda pergi dulu yah. Kamu hati hati ya,," ucap Dika pada Fatih


"Kenapa gak ikut bapaknya saja sih?! Ck mengganggu saja!" Batin Gion

__ADS_1


"Kami duluan ya,,," ucap Dika menggandeng tangan Dinda yang sedari tadi diam saja menjadi pendengar


"Iya" Jawab Gion dan sierra hanya mengangguk


Lalu Dika dan Dinda menuju ke mobil mereka dan saat keduanya masuk kedalam mobil membuat Gion tenganga


"Hah?! Dika naik mobil mewah?!" Batin Gion


"Ayo pergi!" ucap Sierra dengan ketus


"Ck Pasti dia menyewa saja mobil itu! mana bisa Dika membeli mobil begitu?! bukannya dia begitu membanggakan vespanya dulu?!" batin Gion


Sementara itu Dika dan Dinda mencari tempat penginapan untuk mereka nanti malam.


"Kita nginep di hotel ini saja ya yang?" tanya Dika


"Terserah abang" jawab Dinda lebih memilih melihat jalanan dibandingkan menatap suaminya


Kemudian Dika memasuki area hotel dan memarkirkan mobil mereka.


"Kamu kenapa sih? marah sama abang?" tanya Dika


"Iya!" Jawab Dinda dengan ketus lalu keluar dari mobil. Dika pun ikut keluar dan menyusul istrinya


"Mba, saya pesan 1 kamar ya" ucap Dinda


"Baik mba, untuk berapa orang?" tanyanya


"Dua orang" sahut Dika


Pegawai resepsionis itu menatap Dinda dan Dika bergantian. Merasa sedikit janggal


"Kenapa mba?" tanya Dika


"Maaf sebelumnya, apa sudah menikah? karena disini tidak menerima pengunjung,,," belum selesai dia menjelaskan


"Kami sudah menikah,,," jawab Dinda


"Boleh lihat KTP nya?"


Dinda terlihat bingung karena dia belum merubah status di KTP nya


"Ini buku Nikah kami" ucap Dika menyerahkan salinan buku nikah mereka

__ADS_1


"Ohh baik pak,, bu,, maaf karena kami harus menjalankan prosedur penginapan. Ini kuncinya, di kamar No 5 di lantai 2 ya pak, bu, selamat beristirahat" ucapnya dengan sopan.


"Terima kasih" jawab Dinda yang mengambil kunci kamar itu dan membawanya pergi, Dika pun tak mau ketinggalan langsung menyusul istrinya


Ceklek


Dinda masuk kedalam dan melihat isi kamar yang mereka sewa.


"Bagaimana?" tanya Dika


"Bagus,, Dinda masih kesel sama abang" ucap Dinda melepas genggaman tangan Dika


"Kesel?!" sahut Dika


"Ya!"


Dinda menatap serius pada suaminya yang juga menatapnya tak kalah serius


"Pertama, abang gak cerita sama Dinda kalau kita akan ketemu mas Tedja dan kelurganya, kedua, Dinda gak suka abang lempeng lempeng aja tadi saat jelas kak Gion itu seperti merendahkan abang! jawab apa kek, gimana kek!" ucap Dinda terlihat kesal


Dika tersenyum lalu mengajak istinya duduk di tepian tempat tidur


"Sayang,,, abang sengaja gak kasih tau kamu itu karena abang ingin mengajakmu liburan meskipun sebenarnya selain itu ada pertemuan dengan mas Tedja, kalau di kasih tau namanya bukan kejutan. Kedua soal Gion dan Sierra. Abang tidak pernah mempersoalkan mereka merendahkan abang. Kita tidak perlu menunjukkan siapa kita didepan semua orang. Biarkan saja mereka menilai sendiri siapa kita dimata mereka. Tidak perlu tersinggung dengan ucapan mereka. Hidup kita, ya kita yang tau" ucap Dika dengan penuh kelembutan agar istrinya mengerti


"Maaf ya bang,, Dinda juga tidak mengerti kenapa sekarang Dinda mudah sekali emosi. Dinda juga gak bisa mengontrol perasaan Dinda sendiri. Dinda,, seperti bukan diri Dinda sendiri . Kadang Dinda merenung, Kenapa Dinda jadi begini" ucap Dinda dengan sendu


"Hal yang wajar sayang, biasanya ibu hamil seperti itu. Jadi abang pun harus punya kesabaran ekstra saat kamu lagi ambekan" ucap Dika mengusap kepala istrinya


"Makasih ya bang" Dinda berhambur memeluk suaminya


"Abang selalu ngertiin Dinda, kadang Dinda malu karena bersikap kekanakan" ucap Dinda


"Iya,,, abang bisa mengerti,, yang penting cinta kamu tetap buat abang" ucap Dika yang kemudian mengecup kening istrinya


"Cinta Dinda hanya abang Dika" jawab Dinda semakin mengeratkan pelukan nya.


"Itu yang abang harapkan,,," ucap Dika


"Akhirnya,, abang bisa benar benar mendapatkan hati mu Dinda" batin Dika


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2