
Dinda terbangun dan melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Dinda menatap Dika yang masih terlelap. Dinda diam dan menatap wajah damai suaminya saat itu
"Semaleman abang dengerin Dinda cerita, maaf ya bang,, mungkin Dinda menyakiti hati abang" batin Dinda saat menatap Dika cukup lama
"Sudah puas lihatin abang?" ucap Dika namun matanya masih terpejam
"Eh!" Dinda kaget karena ternyata Dika sudah bangun, Dika tersenyum lalu membuka matanya
"Selamat pagi,,," Senyum Dika terus mengembang bersamaan dengan sapaannya pada Dinda
"Pagi suamiku,,, makasih yahhh untuk semalam. Maaf kalau,,," Dika langsung menutup bibir Dinda dengan jarinya
"Sssstttt,,, tidak ada yang perlu di maafkan, kamu tidak salah. Abang juga tidak masalah kamu luapkan segala gundah gulana yang kamu rasakan pada abang. Itu jauh lebih baik daripada di pendam sendiri malah jadi penyakit" ucap Dika melepaskan jarinya
"Terima kasih ya bang, Dinda,, akan berusaha untuk melupakan semua nya. Harusnya Dinda bisa belajar banyak dari abang yang bisa memaafkan sebesar apapun kesalahan mba Sierra dulu pada abang" ucap Dinda
"Abang bisa mengerti, abang juga bisa paham, kamu sedang dalam kondisi hamil, tentu hormon kehamilan juga tidak stabil. Makanya kadang sifat kamu berubah ubah. Yang penting,,, jangan stress, itu gak baik untuk calon anak kita. Jika ibunya sedih, maka dia juga akan sedih. Jika ibunya bahagia, maka dia juga bahagia" ucap Dika mencoba memberi pengertian pada Istrinya sambil mengusap perut Dinda yang sudah terasa sedikit membuncit karena kehamilan nya
"He'em" jawab Dinda
"Ya sudah, ayo kita tahajjud dulu, setelah itu abang mau masak untuk mie ayam kita. Hari ini kan hari pertama buka di rumah ibu" ucap Dika
"Iya, ayo bang" Jawab Dinda yang kemudian mereka segera bangun. Keduanya bergantian mengambil air wudhu dan setelah itu menjalankan aktivitas religi mereka. Selesai itu Dika dan Dinda ke dapur untuk memulai memasak untuk jualan mereka.
"Bang,,, berarti kemarin kak Santo udah beli stock ayam banyak ya?" tanya Dinda saat melihat Dika mengambil ayam di freezer
"Iya, sebelum kita pergi waktu itu abang sudah bilang sama Santo. Jadi mulai hari ini kita double masaknya. Nanti sebelum ke kampus, sambil nitip Fatih, kita antar mie ayam ke tempat ibu" jawab Dika
"Ohh gitu,,, mie nya udah di siapin?" tanya Dinda
__ADS_1
"Sudah, nanti subuh paling Santo sudah kesini" Jawab Dika
"Ya sudah kalau gitu Dinda buat bumbunya yah" Ucap Dinda
"Okee sayang" Jawab Dika
Keduanya nampak bekerja sama saling membantu untuk menyiapkan jualan mie ayam mereka. Dinda terlihat kembali bersemangat setelah semalam sempat menangis sedih meluapkan semua yang berkecamuk didalam dadanya. Dika sama sekali tidak ingin membahas lagi, baginya yang sudah terjadi ya sudahlah.
"Abang,,, ini Dinda buatkan susu hangat,," ucap Dinda
"Makasih sayang,, letakkan saja di meja yah,, nanggung ini, sebentar lagi matang ayamnya" jawab Dika
"Iyah,, Abang mau di masakin apa sarapannya?" tanya Dinda
"Sarapan kamu boleh?" kekeh Dika saat melirik genit istrinya
"Abang,,,,,, mesyum deh" Dinda balas tersenyum
"Udah mau subuh bang,,, hari ini kita ada kelas pagi kan ? ya gak lucu kalau kita sama sama terlambat nanti" kekeh Dinda
"Oh iya yah,,, nanti istri abang malah merengut lagi di kelas" ucap Dika
"Hehehe itu abang tau,,," jawab Dinda
Keduanya kembali beraktivitas hingga suara adzan subuh berkumandang dan Dika izin pada istrinya untuk bersiap ke musholah.
Di tempat lain,,,
Sekar terbangun dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang menggelikan menyentuh kulitnya. Perlahan Sekar membuka mata dan begitu terkejutnya dia saat melihat seseorang yang bagai seorang bayi yang sedang asyik menyusu pada ibunya.
__ADS_1
"Bapak!"
Sekar mendorong kepala Dimas hingga yang punya langsung terbangun karena kaget
"Ada apa bu?!" tanya Dimas benar benar terkejut dengan mata yang masih memerah karena bangun tidur
"A,,apa yang bapak lakukan?!" tanya Sekar mengancing kan kembali kancing kancing pakaian nya
"Gak tau bu,, memangnya bapak kenapa?" tanya Dimas merasa bingung
"Ck! sudah mesyum gak mau ngaku!" Cetus Sekar, Sekar yang merasa sebal pun langsung beranjak dari kasur dan turun ke lantai menuju kompor di pondok itu
"Apa yang aku lakukan?! kenapa dia marah?!" batin Dimas masih tidak sadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Lalu Dimas keluar dan menuju ke kamar mandi untuk segera berwudhu. Tak lama dia sudah kembali masuk kedalam
"Buk, disini musholah dimana?" tanya Dimas
"Ada di kampung sebelah, agak jauh sedikit ke dalam" jawab Sekar yang tengah membuat teh hangat
"Ohh jauh ya,, bapak takut nyasar. Sholat di pondok saja kalau gitu. Nanti kalau sudah terang baru cari musholah nya dimana" jawab Dimas yang kemudian bersiap untuk sholat.
Setelah Sekar membuat teh hangat, dia pun menggoreng pisang dan ubi yang sempat dia beli kemarin bersama Dimas di pasar. Tak lama Dimas selesai dan duduk tak jauh dari Sekar memasak.
"Ini tehnya, diminum,, pernah minum teh kan?" tanya Sekar
"Makasih ya bu,, aku suka kok sama teh, apalagi susu" jawab Dimas dan Sekar langsung merengut dan kembali pekerjaannya
"Ada apa sih dia? pagi pagi sudah merengut?! kan emang bener, aku memang suka susu. Setiap pagi juga minum susu" Batin Dimas memasati Sekar yang tengah masak namun mulutnya tak berhenti komat kamit. Ntah apa yang dia katakan.
.
__ADS_1
.
.