Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Abang Gak Bisa Menahan,,,,


__ADS_3

Dinda tidak ada pilihan lain, dia pun bergegas membereskan barang-barang nya dari kamar Fatih dan Sierra tersenyum penuh kemenangan


"Aku tidak akan membiarkan Fatih dekat dengan mu! " batin Dinda


"Mama! napa mama ucil unda?!" Ucap Fatih dengan wajah tidak suka. Mereka berdua sedang asik-asiknya melihat buku-buku baru yang di belikan Dinda dan Dika dari toko buku malah terusik dengan kemarahan Sierra. Sementara Sierra cukup kaget saat melihat putranya malah kesal padanya. Siera segera berfikir cepat agar Fatih tidak lagi marah padanya.


"Fatih,,, mama kan mau tidur sama fatih, kalau tante itu ada di kamar fatih, gak cukup dong" jawab Siera


"Mama tidul dilumah oma aja" ucap Fatih


"Loh,,, Fatih kok gitu,,, Fatih kan anak mama. Fatih gak baik loh usir mama kayak gitu, jangan jadi anak durhaka ya,, gak baik" Ucap sierra dan Fatih langsung terdiam


"Kenapa ribut-ribut?!" tegur Dika yang masuk kedalam kamar Fatih ketika mendengar keributan di sana. Kedatangan Dika membuat semua orang yang ada di dalam kamar itu diam.


Dika kaget saat melihat Dinda tengah membereskan barang-barangnya


"Loh, Mau kemana Din?!" tanya Dika dengan lembut kepada Dinda dan langsung menghampirinya


"Mba sierra mau tidur bersama Fatih bang" jawab Dinda


"Harusnya kamu pergi saja dari rumah ini!" batin Sierra


"Aku kan mau tidur bersama putra ku mas" sahut Sierra


"Kamu tidur di kamar abang saja" ucap Dika pelan saat membantu Dinda membereskan barang-barangnya. Setelah selesai Dika mengajak Dinda pergi


"Ayah au kemana cama unda?" tanya Fatih


"Hanya pindah kamar, kalau fatih mau ikut ayah dan bunda, ayo ke kamar ayah" ucap Dika lembut pada putra nya


Sierra kesal bukan main karena Dika mengajak Dinda tidur di kamarnya. Keberadaannya kini hanya mengandalkan Fatih, jika fatih ikut bersama mereka, maka Sierra tidak ada alasan lagi tinggal di rumah itu

__ADS_1


"Tidak! Fatih tidur sama mama" sahut Sierra dengan menahan Fatih


"Terserah Fatih mau ikut siapa!" jawab Dika dengan tatapan tajamnya pada sierra


"Fatih,, Fatih tega lihat mama tidur sendiri?!" tanya Sierra menatap Fatih dengan penekanan


"Atih dicini aja yah, kalau anti atih au, atihh tidul cama ayah dan unda" jawab Fatih seperti pasrah saja


"Ya sudah,, Ayah dan Bunda keluar dulu ya" ucap Dika yang kemudian mengecup kening Fatih dan segera mengajak Dinda keluar. Dinda menurut saja kemana Dika membawanya pergi.


"Bang,,," panggil Dinda saat mereka sudah berada di kamar Dika


"Iya Din,,"


"Dinda tidur di karpet saja bang, dinda gak papa bang" ucap Dinda


Dika mendekat dan menyentuh kedua lengan Dinda dan menatapnya


"Kita akan tetap tidur bersama di satu ranjang yang sama. Jika kamu belum siap, abang tidak akan memaksa kamu Din, kecuali kamu sendiri yang meminta abang menyentuh kamu. Abang sudah katakan itu padamu, jadi kamu tidak perlu setakut itu sama abang" ucap Dika


"Abang normal Din, berdekatan dengan kamu begini saja, abang sudah ingin melakukan nya lagi. Tapi abang akan berusaha keras untuk tidak kebablasan hehe" kekeh Dika yang sebenarnya dia juga tidak yakin akan dirinya sendiri untuk tidak kebablasan, apalagi jika Dinda menyambutnya.


"Abangg,,, kok ketawa sih?! Dinda serius ini" ucap Dinda


"Abang juga serius kali!. Abang memang cinta sama kamu, tapi abang juga ingin kamu menyerahkan nya nanti dengan hati, jadi abang akan menunggu waktunya nanti. Tapi,,, abang gak bisa menahan inii,,,,"


Dinda terkaget saat Dika sudah memberikan sapuan kehangatan untuknya. Dika menarik Dinda untuk semakin mendekat dan merapat padanya. Keduanya saling menyelami rasa yang kini sudah menjadi candu untuk mereka berdua. Dinda yang masih amatiran pun terus mencoba mengimbangi pergulatan manis yang ditawarkan suaminya.


Sesaat Dika melepaskan Dinda dan menatapnya dengan sayu, namun seperdetik kemudian Dika sudah menyatukannya lagi. Dinda langsung meremang saat tangan Dika mengusap punggungnya perlahan


Pergerakan yang sangat lambat namun begitu dalam.

__ADS_1


"Abang,,,"


Dika tersadar, saat Dinda menahannya untuk tidak semakin turun kebawah


"Abang bantu bereskan barang-barang mu" ucap Dika dan Dinda mengangguk malu.


Kemudian mereka bekerjasama untuk membereskan pakaian dinda ke lemari Dika.


"Kita harus terlihat mesra didepan sierra" ucap Dika


"Harus begitu bang?" tanya Dinda


"Iya, dengan begitu dia akan percaya kalau tidak ada kesempatan lagi untuk dia masuk kedalam hati abang. Dia itu lebih ke visual, apa yang dia lihat, maka itu yang dia percaya" jawab Dika


"Tapi itu bukan modus abang aja kan?" kekeh Dinda


"Jangan mulai deh,, nanti ketagihan di modusin abang" jawab Dika dengan tersenyum


"Abang kan emang jago banget modusin Dinda. Adaaaa aja caranya buat deketin Dinda. Iya kan?! ngaku deh!" cubit Dinda pada pinggang Dika dan membuatnya tersentak kaget


"Eh! main cubit cubitan ya sekarang! udah berani godain abang?!" ucap Dika menatap Dinda


"Apaan sih! udah Dinda mau beres-beres lagi" Dinda langsung beranjak dan mengambil kardus berisi buku-bukunya


"Gemesin banget sih kamu!"


.


.


.

__ADS_1


.


Kasih kopi lah biar uni kuat nambahin part selanjutnya☺️


__ADS_2