
Malam sudah menyapa, Dika pun sudah bersiap untuk pulang setelah warung mie ayamnya tutup.
"Pak,,, penjualan hari ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari biasanya. Dari orderan online cukup banyak" ucap Daru
"Alhamdulillah, bagus kalau begitu. San,,"
"Iya pak,?"
"Besok kamu belanja ayamnya tambahkan lagi sekitar 2 kilo, kita naikan produksi secara bertahap. Dan mulai besok susi sudah mulai masuk kerja. Dia akan bekerja merekap orderan yang datang dari aplikasi. Satu lagi, soal ojol, besok siapkan kursi khusus didepan ya, biar mereka bisa duduk"
"Baik pak" jawab Daru
Setelah memberi instruksi, Dika pun pulang lebih dulu. Saat di tengah jalan, Dika berhenti di sebuah gerobak martabak manis lalu membeli martabak keju coklat kacang kesukaan fatih. Tidak menunggu lama martabak sudah di bayar lalu dika melanjutkan perjalanannya menuju kerumah.
Sampai dirumah, Dika membuka pintu rumah dengan kunci serepnya. Setelah itu dia masuk kedalam
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam,, abang sudah pulang" ucap Dinda yang langsung berdiri menghampiri dika,
"Iya, fatih sudah tidur ya?" tanya Dika
"Udah bang, belum lama sih,,," jawab Dinda
"Tumben anak itu sudah tidur jam segini" ucap Dika
" Kecapekan mungkin bang. Oh iya abang sudah makan?" tanya Dinda
"Belum. Ah iya,, ini tadi abang beli martabak manis. Fatih suka jadi abang belikan, eh malah tidur" Jawab dika
"Simpen di kulkas aja bang, besok dinda angetin" jawab Dinda
"Kamu gak mau?" tanya dika
"Mau sih, tapi dinda udah makan bang, masih kenyang. Abang mau makan apa?" jawab dinda
"Makan kamu boleh?" tanya Dika tersenyum nakal
"Abanggggg,,, mulai genit iihhh!" cubit Dinda kesal tapi tersipu
"Hehe,,, apa aja deh, yang tadi siang juga boleh kalau masih ada" ucap Dika
"Ya sudah dinda siapkan dulu ya, abang bersih-bersih gih, bau keringet!" ucap Dinda berlalu
"Bau?" Dika mengangkat tangan kanan dan kirinya lalu mencium ketiaknya sendiri bergantian
"Masih wangi kok,,, gak bau" ucap Dika sambil berjalan ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian Dika sudah terlihat segar saat menghampiri dinda yang berada di dapur
"Makan malemnya udah siap bang" ucap Dinda
__ADS_1
"Makasih ya bundanya fatih. Eh mau kemana?" tanya Dika saat dinda akan pergi
"Kedepan, Dinda belum matikan TVnya bang" jawab Dinda
"Sini aja deh, temenin abang makan" ucap dika menarik dinda untuk duduk di sebelahnya. Dinda menurut saja saat dika memintanya untuk menemani makan malam.
"Beneran gak mau ikut makan?" tanya dika
"Gak bang, beneran Dinda masih kenyang banget" jawab Dinda
Lalu dika menikmati makan malamnya sambil sesekali melirik Dinda yang diam saja menunggunya makan malam. Dika tidak ingin menghabiskan waktunya di meja makan saja, dia pun mempercepat makan malamnya. Lalu Dika bangkit untuk mencuci piring seperti biasa, sementara Dinda membereskan makanan dimeja yang masih tersisa.
"Mau langsung tidur?" tanya dika kepada dinda
"Belum ngantuk sih,,," Dinda melihat waktu masih menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat
"Kedepan aja yuk, nonton sambil ngobrol" ajak dika dan diangguki oleh Dinda
Lalu keduanya pun berjalan kedepan dan menonton tv yang sudah menyala dari tadi. Keduanya duduk lesehan sembari fokus pada acaranya.
"Bang,,,"
"Iya? ada apa?" tanya dika
"Emm,,, kalau boleh tau,,, kenapa abang pisah sama ibunya Fatih?" tanya dinda dengan pelan
Deg!
"Oohh itu,, karena kami sudah tidak memiliki kecocokan lagi. Abang tidak bisa memenuhi semua keinginan ibunya fatih. Jadi dia yang menggugat cerai abang waktu itu. Abang sudah mencoba mempertahankan hubungan kami, tapi tetap gak bisa bertahan" jawab Dika
"Abang masih cinta sama mba sierra?" tanya dinda
"Kenapa tanya gitu hayooo? kamu takut kalau abang balik lagi sama dia?" tanya Dika memojokkan dinda
"Iiiihhh si abang, siapa juga yang mikir gitu,, dinda kan cuma pengen tau bang, siapa tau kan, abang masih cinta dan abang akan mengejar kembali cinta lama abang" jawab dinda
"Sekarang abang tanya, Apa dinda mau balikan lagi sama dimas?" tanya Dika
Deg!
Dinda langsung terdiam saat itu juga dengan terus menatap dika yang juga menatapnya.
"Abang tidak akan pernah mau masuk kedalam lubang yang sama untuk kedua kali setelah mengetahui jika didalam lubang itu abang tidak sanggup untuk tinggal. Abang banyak belajar dari masa lalu. Kamu gimana?" tanya Dika
"Duuuuaaaaaaarrrrr" Dinda terkaget saat mendengar kerasnya suara petir diluar sana.
"Bang,,, Fatih!!" Ucap Dinda yang kemudian beranjak menuju ke kamar fatih dengan cepat. Sementara Dika mematikan TV juga lampu, lalu berjalan menuju ke kamar putranya.
"Apa dia bangun?" tanya dika
"Sepertinya tidak" jawab Dinda
__ADS_1
Dika mengusap kepala Fatih perlahan, lalu dia pun akan pergi dari kamar itu setelahnya. Namun belum sampai Dika meninggalkan mereka, tiba-tiba pemadaman listrik.
"Abanggggg,,, dinda takut gelap bang" ucap Dinda yang langsung meringkuk didekat fatih
"Dimana ponselmu?" tanya Dika
"Di atas meja Fatih" jawab Dinda
Dika meraba-raba meja dan menemukan benda pipih yang di carinya. Lalu Dika menyalakan ponsel itu dan menyalakan senternya.
Dinda sangat kaget saat merasakan tubuh bagian belakangnya terasa hangat
"Sudah gak gelap lagi" ucap Dika perlahan
"Tidurlah, abang akan temani kalian sampai lampu hidup lagi" ucap Dika
Ketiganya nampak berbaring berhimpitan. Fatih yang badannya kecil terletak di paling pinggir mendekati dinding disebelahnya, di tengah ada Dinda yang sama sekali tidak berani bergerak bahkan pindah posisi karena Dika berada di belakangnya. Malam semakin larut ketiganya pun tertidur bersama dengan Dika yang sudah memeluk Dinda tanpa dia sadar. Suasana malam itu memang terasa dingin karena hujan belum juga berhenti.
**
Pagi sudah mulai menyapa,,,
Dinda terbangun lebih dulu, dan dia merasa ada sesuatu berada di atas perutnya. Dinda melihat kebawah dan benar saja, tangan kekar Dika saat ini berada disana.
Deg!
"Abang memelukku?! apa sejak semalam abang terus memeluk ku?! pantas saja aku merasa begitu hangat" batin dinda.
Perlahan dinda mengangkat tangan dika agar terlepas, namun ternyata malah membuat dika terbangun, tapi dika tidak membuka matanya, ingin lihat apa yang akan dinda lakukan
"Duhh,, berat banget sih?" batin dinda
Belum sampai dinda meletakan tangan dika, kini dika kembali menjatuhkan tangannya di Pinnggang dinda dan menariknya.
"Sepertinya abang sudah bangun!" batin dinda.
"Bang! abang sengaja ya?!" sungut Dinda, namun dika tidak menjawab
"Abang! lepasin dinda bang!" ucap dinda berontak namun tidak dilepas juga oleh dika. Dinda tidak mau menyerah, dia pun terus mencoba melepaskan dirinya dari dika hingga akhirnya
Bruuukkkkkkkkk
Keduanya malah terjatuh ke lantai bersama dengan dinda yang kini berada diatas tubuh dika. Keduanya membuka mata kaget saat bibir keduanya saling menempel.
.
.
.
To Be Continue😘
__ADS_1