
Dinda sedikit menunduk dan melihat Dika begitu bersemangat menyesap bergantian bagai bayi kelaparan. Rasanya Dinda ingin menjerit namun takut jika Fatih akan langsung terbangun. Sekuat mungkin Dinda menahan suaranya agar tidak keluar begitu saja.
Sementara itu Dika mendongak ke atas dan melihat Dinda merem melek karena dirinya, Seringai Dika langsung terlihat, karena dia sangat tau, istrinya itu tidak akan tahan jika terus terusan di serang seperti itu.
"U-d-a-h belum bang,,?" tanya Dinda dengan terbata, dan Dika hanya menggeleng cepat
Dinda menarik kepala Dika dan tatapan kedua nya saling mengunci
"Apa?" tanya Dika dengan tatapan penuh damba nya
"Abang sengaja kan?!" tanya Dinda dan Dika tersenyum smirk
"Yuk lepasin?" ajak Dika meraih tangan isteri nya namun Dinda masih bergeming
"Pusing loh nanti" kekeh nya lagi
Dinda pasrah, daripada pusing seharian mending di lepaskan. Lalu Dika menuntun Dinda dan mengajaknya masuk kedalam kamar mandi daripada di kamar sudah pasti Fatih akan bangun sebentar lagi.
Keduanya terlihat begitu menikmati siang yang hangat untuk saling berbagi peluh cinta bersama.
...**...
Di kamar pengantin baru,,,
Tok
Tok
__ADS_1
"Sayang,,, lama banget sih pipisnya?!" Dimas sudah tidak sabaran pun mengetok pintu kamar mandi.
Sekar mondar mandir di dalam kamar mandi sambil menggigiti kuku kuku pendeknya.
"Gugup! kenapa harus sekarang sih dia minta hak nya?! rasanya aku belum siap! tapi,, takut dosa!" ucap Sekar terlihat bimbang
Terdengar kembali ketukan pintu dari luar dan membuat Sekar semakin tegang
"Aku dobrak nih!" ucap Dimas mengancam akan mendobrak pintu kamar mandi jika Sekar tidak juga membuka pintunya.
1
2
Ceklek
glek!
Dimas tersenyum penuh arti dan langsung berjalan pelan mendekat pada isterinya
"Tegang banget" Dimas mengusap pelan pipi Sekar dan membuat gadis itu terjingkat
"Apa kamu akan meminta hak mu sekarang?" tanya Sekar memberanikan diri
"Jika iya, apa kamu akan memberikannya?" tanya Dimas menatap Sekar dengan dalam.
Sekar mengigit bibir bawahnya saat menatap Dimas, kepalanya pun mengangguk pelan membuat Dimas tersenyum
__ADS_1
"Kita akan belah duren sekarang" Dimas mengedipkan satu mata kirinya dengan smirk nakal membuat jantung Sekar tambah seperti tabuhan genderang yang mau perang. Wajah Sekar pun sudah terlihat pucat pasih karena sangking tegangnya.
"Gak ada duren kan musim rambutan!" sahut Sekar
"Ya sudah belah rambutan,," kekeh Dimas tapi wajah Sekar tetap tegang
"Aku gak gigit kok,,, kamu jangan tegang" kekeh Dimas lagi sambil menarik tangan Sekar dengan begitu pelan dan mengajaknya menuju ke tempat tidur luasnya.
Dadaa sekar terasa sesak, ruangan luas itu terasa begitu sempit, bahkan rasanya Sekar merasa dia tidak pernah segugup ini sebelum nya.
Sekar seperti terhipnotis, menurut saja apa yang dilakukan Dimas padanya, hingga kini Sekar sudah duduk di tepian tempat tidur sedang Dimas masih berdiri di hadapannya. Dimas menarik dagu Sekar dan membuatnya mendongak ke atas dan menatap wajah tampannya.
"Benar kamu sudah siap ?" tanya Dimas lagi. Dimas ingin memastikan sekali lagi, karena dia memegang tangan sekar yang sudah seperti memegang es batu.
"Jangan tanyakan lagi atau aku akan berubah pikiran" jawab Sekar dengan bibir bergetar
Dimas tersenyum, kemudian berlutut di antara kaki Sekar dengan tatapan yang sulit di artikan. Sekar pun semakin dibuat tak karuan rasanya
"Are you ready baby??" Ucap Dimas menatap Sekar begitu dalam
"Ya,,,,"
.
.
.
__ADS_1
Ya opo hah?! jajal jelaskan kalian berdua!! Jadi, mau belah duren apa belah rambutan?! 🥴