
Janji Dika pada putranya Fatih ditunaikan lunas karena pagi ini Dika membawa Fatih dan Dinda jalan jalan. Bukan hanya Fatih saja, Dika juga mengajak Daru dan Santo menaiki mobil hadiah dari pak Agung. Fatih terlihat senang diajak jalan Ayah dan bundanya dengan mobil baru mereka, Santo dan Daru juga terlihat senang. Sebelum jalan jalan, Dika terlebih dulu menuju kerumah pak Agung untuk bertemu dengan keluarga mereka.
"Bang, kayaknya ini rumahnya" Ucap Dinda saat mobil mereka berjalan lambat melewati sebuah rumah besar bak istana dengan pagar tinggi
"Kalau lihat di sini, kayaknya iya" ucap Dika melihat kartu nama dan juga mencocokan dengan nomer rumah besar itu.
"Santo, coba kamu tanya penjaga itu, apa benar ini rumah pak Agung" ucap Dika
"Baik pak" Kemudian Santo turun dan bertanya pada penjaga itu. Tak lama Santo kembali ke mobil
"Benar pak, ini rumah pak Agung dan Bapak sudah di tunggu didalam" ucap Santo
Setelah santo kembali masuk kedalam mobil, Dika menjalankan mobilnya ke dalam memasuki gerbang rumah besar itu yang sudah terbuka. Mereka semua terkagum kagum melihat rumah besar itu semakin terlihat begitu jelas.
Dika bersama lainnya sudah turun dari mobil, lalu mereka berjalan menuju pintu utama dan disana, mereka di sambut oleh pelayan yang menghampiri mereka
"Silahkan masuk tuan, Nyonya,, Tuan Besar Kami sudah menunggu" ucap pelayan itu
"Baik,," jawab Dika
"Bang, apa kita sedang mengunjungi rumah Raja ya bang?" ucap Dinda tenganga melihat betapa megah rumah itu dengan halaman luas dan mobil berjejer di garasi.
"Ntahlah, abang juga tidak tau" jawab Dika juga bingung sendiri
"Selamat datang di gubuk kami nak Dika"
pak Agung diiringi oleh seorang wanita paruh baya dan beberapa lelaki dan perempuan muda menyambut Dika dan keluarganya dengan penuh keramahan.
"Gubuk?! semegah ini di bilang gubuk? Aku rasa bapak Agung memang Raja kalau gak Sultan! " batin Dinda, terkagum kagum
"Assalamualaikum" Ucap Dika memberi salam kepada meraka
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk,, silahkan duduk" Ucap pak Agung begitu ramah dan mereka pun duduk bersama
"Ini loh bu, pemuda yang Bapak ceritakan dua tahun lalu yang memberi kita 10 nasi bungkus itu. " ucap Pak Agung dan Dika tersenyum
"Perkenalkan nak Dika, ini ibu Sulastri istri saya. Ini Tedja putra sulung kami, ini Dita anak kedua kami, ini Danu anak ketiga kami, Thania anak keempat kami, Nadya Nindi anak kelima dan keenam kami. Tirta, Rio anak ke tuju dan ke delapan kami. Banyak yah anak anak kami kalau lagi ngumpul begini" ucap pak Agung
"Rame ya pak,, salam kenal yah bu, mas mas dan mbak mbaknya, kalau ini Dinda istri saya, ini Fatih putra kami, dan ini Santo juga Daru yang membantu saya mengurus warung mie ayam kami pak. Oh iya ini tadi kami bawakan mie ayam. Tapi maaf kami hanya membawakan ini" ucap Dika
"Wah ini kesukaan Nindi yah, mie ayam" ucap Pak Agung dan Nindi tersenyum saja.
"Aku boleh coba gak mas? aku punya Resto di Bintaro. Siapa tau cocok, kita bisa kerjasama. Bik tolong ambilkan piring dan sendok" ucap Tedja
"Wah bisa juga itu, sudah berapa lama nak Dika membuka mie ayam?" tanya Pak Agung
"Sejak saya Kuliah S1 pak" ucap Dika
Mereka terus berbicang bincang sambil menunggu respon Tedja yang tengah mencicipi mie ayam Dika.
"Saya,, mengurus rumah bu, dan nyambi kuliah" jawab Dinda
"Ohh begitu, masih muda sekali. Kuliah jurusan apa?" tanya ibu sulastri
"Kedokteran bu" jawab Dinda
"Wah calon dokter yah. Ini Dita juga seorang dokter Kandungan, Rio Dokter Jantung dirumah sakit kami. Nanti kalau nak Dinda sudah lulus kuliah bisa bekerja di rumah sakit kami kalau mau. Bisa lanjut ambil spesialis juga" ucap ibu sulastri
"Terima kasih bu tawarannya, tapi ini saya masih semester awal, jadi masih fokus sama kuliah dulu" jawab Dinda
"Saya lihat bapak dan keluarga itu berkecukupan bahkan lebih lebih. Saya masih tidak mengerti dan bingung, bagaimana bisa 2 tahun lalu bapak berpakaian seperti orang biasa pak" ucap Dika masih bingung dengan melihat bagaimana keluarga pak Agung
Pak Agung tersenyum saat di beri pertanyaan begitu oleh Dika
__ADS_1
"Saat itu bapak ditipu oleh saudara kami sendiri sampai kami benar benar berada di titik kami tidak memiliki apapun lagi. Tapi Allah maha baik, dia mempertemukan kita dan setelah hari itu Allah seperti membuka jalan hingga kami bisa mendapatkan kembali hak kami. Jadi itulah bapak katakan kepada istri dan anak anak bapak, jika bapak akan memberi hadiah bagi setiap penolong keluarga kami. Bukan hanya nak Dika saja, tapi ada juga yang lainnya. Hanya saja Bapak sudah berusaha mencari nak Dika namun baru ketemu kemarin. Bapak masing mengingat jelas suara dan rupa nak Dika, jadi Bapak langsung mengenali" ucap pak Agung
"Sekali lagi saya minta maaf ya pak, karena saya tidak mengingat bapak kemarin. Karena bagi saya, saya tidak akan mengingat ingat lagi apa yang sudah saya berikan untuk orang lain" ucap Dika
"Iya bapak mengerti" jawab Pak Agung
"Enak Mas Dika! kalau mas mau kerjasama dengan Resto ku, aku welcome loh. Tinggal kita sepakati berapa % pembagian hasilnya" Ucap Tedja setelah menghabiskan satu mangkok mie ayam
"Ted! kamu itu niat icip icip apa laper?! itu semangkok habis!" ledek Ibu Sulastri
"Hahah,, habis enak buk!" jawab Tedja
"Gimana nak Dika? kayaknya Tedja ketagihan ini" tanya Pak Agung
"Kalau soal itu bisa kita bicarakan mas Tedja,,," jawab Dika
"Oke, kapan kamu ada waktu? katanya kamu dosen kan? pasti jadwal ngajarnya padet" ucap Tedja
"Iya mas kalau besok saya sedikit padat jadwalnya"
Karena sama sama memiliki jadwal padat mereka pun bertukar nomer ponsel dan akan mengatur jadwal pertemuan. Tidak pernah di sangka, jika pria lusuh yang dulu di tolong nya malah sebenarnya adalah seorang Sultan yang membuka jalan rejeki lebih untuk keluarga Dika.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Rejeki anak soleh😘