Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Aku dan Kamu Jadi Kita


__ADS_3

Ceklek!


Dinda kaget dan langsung melompat ke tempat tidur dan membungkus dirinya kedalam selimut. Matanya terpejam namun pendengarannya begitu tajam. Dika akan masuk kedalam kamar setelah memindahkan Fatih di kamar nya.


Dika menyembulkan kepala dan melihat Dinda seperti sudah tidur dibalik selimut yang menutupi dirinya. Namun Dika tersenyum dan menduga itu pasti tidak sungguhan. Mana ada dalam waktu hanya 5 menit, seseorang bisa langsung tertidur pulas? kecuali orang itu sudah dilanda ngantuk berat. Tapi Dinda tidak begitu, sebelum Dika keluar tadi terlihat mata Dinda masih begitu jernih.


Kemudian Dika berjalan menuju ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Dinda.


"Dinda sudah tidur?" tanya Dika dengan senyumnya, ingin melihat sejauh mana Dinda akan berpura pura tidur


Dinda tidak menjawab dan berusaha untuk terus menahan dirinya.


"Hem,, sudah tidur ya, padahal tadi katanya mau buat anak sama abang" Dika tidur menyamping dan merapatkan dirinya, tangan Dika sudah menyelusup masuk kedalam selimut lalu melingkar di pinggang Dinda, sontak saja Dinda terjingkat kecil.


Deg


Deg


Deg


Dika tersenyum saat merasakan ketegangan yang terjadi dibalik selimut yang mereka kenakan.


"Abang tau, kamu belum tidur" Dika menarik pelan Dinda hingga tidurnya berubah posisi menjadi terlentang.


Deg!


Dinda membuka mata dan tatapan keduanya bertemu.


"Abang,,,,"


Dika tersenyum, kemudian menyingkirkan anak rambut Dinda ke samping


"Tegang banget, takut ya? mana tadi semangatnya yang menggebu gebu mau buat anak hem???" tanya Dika pelan


Dinda tersenyum kaku saat Dika mengingatkan hal itu padanya


"Tegang bang" sahut Dinda


"Wajar,, karena ini yang pertama untukmu, abang bisa paham. Awalnya mungkin tegang, nanti setelahnya gak lagi. Kita mulai yah,," ucap Dika yang kemudian menatap Dinda dengan begitu dalam.


Jantung Dinda tidak bisa berdetak normal, dia tegang begitu tegang saat Dika mulai menyentuhnya. Tiba tiba tubuhnya meremang padahal Dika baru akan memulainya

__ADS_1


"Tunggu bang!" ucap Dinda menghentikan wajah Dika yang sudah semakin mendekat


"Ada apa?" tanya Dika pelan


"Pintunya belum dikunci kan? kunci dulu bang" ucap Dinda tersenyum kikuk


Dika tersenyum lalu turun dari tempat tidur dan berjalan mengunci pintu kamar mereka. Kemudian Dika kembali menghampiri Dinda.


Dika sudah merangkak naik dan menarik Selimut Dinda lalu membuangnya, tentu hal itu membuat Dinda merinding ketika tatapan Dika berbeda dari biasanya. Wajah mereka semakin mendekat, debaran jantung Dinda semakinnnn tak beraturan, Dinda pun menahan Dada Dika dan sedikit menjauhkannya


"Bang"


"Ada apa lagi?"


"Lampunya matiin bang, Dinda malu kalau terang" jawab Dinda dengan gugup


Dika tersenyum meski sedikit kesal karena Dinda terus saja beralasan. Lalu Dika bangun dan mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur sehingga membuat kamar mereka terlihat tamaran. Dika kembali mendekat dan kali ini tidak akan membiarkan Dinda untuk beralasan


Dinda kembali mendorong Dika saat Dika akan mendekat lagi


"Bang,,,"


"Emm,,, itu,,, Dinda takut sakit" Jawab Dinda dengan ringisannya


"Sakitnya sebentar aja pas masuk, setelahnya gak lagi. Percaya sama abang, abang gak akan brutal, abang akan melakukannya dengan pelan pelan. Kamu boleh cakar punggung abang kalau sakit" ucap Dika meyakinkan Dinda


"Tapi bang,,,," Ucapan Dinda menggantung karena Dika sudah membungkamnya dengan cepat. Dinda yang awalnya ingin menolak namun tak kuasa karena rasa yang di tawarkan Dika terlalu manis untuk ditolak, dan Dika pun menepati janjinya untuk tidak brutal saat menyentuh Dinda, disentuhnya pelan, dalam dan penuh kasih sayang. Hingga tanpa sadar Dinda yang sudah terbuai tidak tau lagi kapan pakaian yang dia kenakan sudah terlepas begitu saja. Dinda sangat malu saat ditatap penuh damba oleh suaminya itu. Dia pun berusaha menutupi, namun Dika sudah menahan kedua tangannya


"Abang ingin lihat"


"Dinda malu bang"


"Tidak perlu malu, karena kamu sudah menjadi istri abang" Dinda terkaget saat Dika membuka pakaiannya sendiri dihadapannya hingga sang Arjuna sudah terlihat siap untuk bertemu Dara. Hal itu membuat nyali Dinda sedikit menciut.


"Bang,,, Dinda takut,,,"


"Jangan takut sayang,, kita nikmati malam ini agar menjadi pahala yang besar" Bujuk Dika dengan sentuhan sentuhan mematikan di titik titik sensitif Dinda. Dinda tidak bisa menolak dan gaairahnya sudah tersulut.


"A,,,b,,a,,,ng,,," Dinda terbata saat merasakan sebuah dorongan keras yang membuatnya menahan sakit tiada tara dibawah sana. Dika tidak memperdulikan rengekan Dinda lagi karena gelora api asmara dari dalam dirinya sudah membuncah saat itu. Dika tak berhenti membuat Dinda terlena agar sedikit mengurangi rasa sakit yang dia rasakan saat ini hingga akhirnya


"Baaaanggggggg!!" suara Dinda tertahan ketika Dika sudah berhasil menembus pertahanan Dinda. Dia hanya bisa mencengkram sprei dengan sangat kuat saat merasakan sakit yang luas biasa menderanya.

__ADS_1


"Dinda,,," Panggil Dika setelah beberapa saat dika diam saja tidak bergerak dan mengamati wajah istrinya.


Dinda membuka mata dan kedua tatapan mereka bertemu.


"Ada apa bang?" jawab Dinda dengan lirih


"Terima kasih sudah memberikan mahkotamu untuk abang, dan kamu yang pertama memberikan itu untuk abang" Ucap Dika dengan tatapan penuh cinta, akhirnya Dika bisa merasakan darah perawan.


Dinda mengangguk bahagia saat Dika menghapus air matanya yang keluar dari pelupuk mata Dinda. Rasa nya meski sakit namun Dinda bangga karena sudah memberikan sesuatu yang berharga pada orang yang tepat.


"Kita mulai yah buat anaknya" Dika tersenyum nakal disaat suasana begitu hening


"Kyaaaaa,, abangggg!!!!" Ucap Dinda seiring Dika mulai bergerak


****


"Sekarang, aku dan kamu menjadi kita" batin Dika


"Bagaimana bisa begitu bang?" tanya batin Dinda


"Iya, karena mulai malam ini, kamu sudah menjadi milik abang seutuhnya, dan hati kita sudah menyatu menjadi satu cinta " Jawab batin Dika


"Love you bang"


"Love you too more Dinda ku"


******


.


.


.


.


.


Menemani sahur kalianπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Goyangin jarinya dong buat pencet2 like sama kasih komennyaπŸ€— Jangan ngarep yang hot yahhh, uni gak bisa buatπŸ˜€ Terima kasihπŸ’–

__ADS_1


__ADS_2