Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Terkuras Habis


__ADS_3

Sekar dan Dimas berpamitan pada ibu dan Bapaknya setelah membereskan barang barangnya, Dimas maupun sekar pun sudah berganti pakaian biasa sebelumnya. Keduanya sudah memutuskan untuk tinggal di pondok untuk sementara waktu.


Meski Sekar belum mencintai Dimas, namun dia juga masih berfikir waras, Dimas sudah memilihnya, melepaskan semua yang dia punya hanya untuk menikah dengan Sekar. Dalam hati Sekar, dia akan mencoba membuka hati dan mencoba menerima Dimas kedalam hidupnya.


"Maaf ya nak Dimas, bukan kami tidak mau menerima kalian di rumah ini, tapi kamu bisa melihat sendiri kondisi kami" ucap bapak Sekar


"Iya pak, saya tidak masalah asal Sekar tetap bersama saya" jawab Dimas


"Sekar, kamu bawa ini ya, untuk masak masak di pondok ibu bawakan wajan, sutil, alat makan, kompor, dandang dan panci" ucap sang ibu keluar dari dapur dengan membawa plastik cukup besar


"Ya Allah buk, kok kayak pindahan aja sih?! nanti kami beli saja" ucap Sekar


"Kalian harus belajar berhemat, ini juga masih baru. Sayang kalau gak di pake. Biar bapakmu yang antar ini pake motor ya. Kalian naik taksi saja. Nanti tinggal beli bahan makanan untuk tinggal disana" ucap ibu


Sekar menghela nafas kasar


"Terserah ibu" jawab Sekar


Kemudian ibu memberikan plastik yang berisi perlengkapan Sekar dan Dimas yang akan tinggal di pondok kepada bapaknya Sekar. Plastik itu di ikat di belakang dan setelah itu mereka menuju ke pondok. Sekar pamit dan masuk kedalam taksi bersama Dimas.


"Nanti kita beli bahan makanan ya setelah menaruh barang barangmu" ucap Dimas


"Iya,,," jawab Sekar


"Kamu bisa masak?" tanya Dimas


"Bisa kalau cuma numis kangkung" jawab Sekar


"Ohhh iya gak papa, aku juga suka kangkung. Kamu,, gak suka apa?" tanya Dimas


"Gak suka kamu" jawab Sekar ingin terkekeh sendiri sebenarnya


"Ck! Ya ya ya sekarang gak suka, lama lama juga suka" jawab Dimas


"Pede banget kamu" cetus sekar


"Pede lah, karena aku yakin itu akan terjadi suatu saat nanti" jawab Dimas dengan penuh percaya Diri


"Terserah kamu" jawab Sekar


Beberapa menit berlalu, mereka sudah sampai di pondok. Dimas membantu mertuanya sedang Sekar membawa barang barangnya masuk kedalam pondok kecil yang hanya berukuran 4x4 meter itu. Kamar mandi saja berada di luar.


"Ini taruh dimana?" tanya Dimas

__ADS_1


"Itu di pojokan aja, toh lantainya masih tanah juga" jawab Sekar


"Oke" Dimas meletakkan barang barangnya di pojok belakang yang berlantai tanah. Dia benar benar tidak pernah membayangkan akan hidup di dalam pondok bambu seperti saat ini. Ingin membeli rumah, namun uang Dimas juga sudah tidak cukup lagi karena sudah di gunakan untuk melunasi hutang keluarga Sekar. Mau meminta uang pada mama dan papa juga tidak mungkin karena Dimas sudah memutuskan untuk hidup mandiri bersama istrinya.


"Kamu kenapa?" tanya Sekar saat menghampiri Dimas


"Eh, gak papa,," Jawab Dimas tersenyum


"Sedih ya tinggal di pondok bambu begini?" tanya Sekar


"Masih gak nyangka aja, awalnya aku pikir lebih baik kita ngontrak aja gitu. Tapi kamu pengennya kita tinggal disini" jawab Dimas membantu sekar mengeluarkan isi plastik besar dari ibunya


"Aku tau uangmu pasti sudah terkuras habis. Daripada kita ngontrak, sementara kita tinggal disini dulu. Uangnya bisa kita tabung, nanti sedikit demi sedikit bisa kita belikan rumah sederhana. Toh disini juga lumayan untuk di tinggalin" jawab Sekar


"Jadi kita tidur di depan itu?" tanya Dimas sambil membuat gantungan wajan, dan panci di dinding pondok itu


Dug


Dug


Dug


"Iya" jawab Sekar


"Oke" Jawab Sekar


Setelah semuanya beres, keduanya menuju ke pasar.


**


Dirumah Dika,,,,


Dika terbangun lebih dulu setelah beberapa menit tidur melepas lelahnya. Dika tersenyum saat membuka mata dia melihat wanita yang sangat dicintainya masih terlelap tidur didalam pelukannya, wajahnya terlihat sangat damai dan cantik


"Kamu mikirin apa sih,, " Dika bergumam sendiri


"Apa kamu teringat lagi dengan masa lalu mu?" batin Dika menerka nerka


Kemudian Dika perlahan melepas pelukannya dan turun dari tempat tidur mereka. Dika melangkah kan kakinya keluar dari kamar menuju ke dapur.


"Pasti Dinda lapar setelah bangun nanti" ucap Dika saat membuka kulkas dan melihat bahan makanan yang tersedia.


"Dinda kan suka cumi, aku masakin aja, pasti dia suka " ucap Dika yang kemudian mengambil bahan makanan yang akan di olah

__ADS_1


30 menit kemudian Dika sudah selesai memasak, beberapa menu masakan pun sudah terhidang di atas meja makan. Setelah itu Dika pergi ke kamar untuk membangunkan Dinda.


"Sayang,, bangun yukk,," Dika mengusap lembut pipi Dinda


"Emh,,, jam berapa bang?" tanya Dinda mengerjapkan kelopak mata nya beberapa kali


"Sudah hampir Zuhur, yuk bangun" ucap Dika, lalu Dinda bangun di bantu suaminya


"Kita makan dulu yuk, mumpung masih hangat, nanti kalau dingin gak enak lagi" ajak Dika


"Dinda belum masak bang, Dinda masak dulu kalau gitu ya" Ucap Dinda yang sudah turun dari tempat tidur


"Ayo ke dapur, abang sudah masak untukmu" Dika menggenggam erat tangan Dinda dan mengajaknya keluar menuju ke Dapur


"Abang masak? kapan bang? kok gak bangunin Dinda?! " tanya Dinda


"Abang lihat kamu lelah, jadi abang yang masak sendiri untuk kita" Dika menarik satu kursi yang biasa di duduki Istrinya


"Semua ini?!" Tanya Dinda saat melihat ada cumi goreng crispy, udang, goreng crispy, capcai, dan sambal tomat


"Iya, abang cuma bisa masak ini untuk kita" jawab Dika


"Makasih ya bang, harusnya Dinda yang masak untuk abang" ucap Dinda


"Gak papa sayang, ayo makan, sore nanti kita jalan-jalan yah,," ucap Dika


"Kemana bang?" tanya Dinda


"Jalan ke depan aja, beli eskrim mau?" tanya Dika


"Mauuuuu" jawab Dinda dengan antusias


"Oke, kita makan dulu ya, setelah itu kita sholat"


"He'em"


Kemudian Dinda mengambilkan makanan untuk Dika dan untuknya sendiri. Setelah itu keduanya menikmati makan siang bersama. Senyum Dinda adalah segalanya bagi Dika.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2