
Suara adzan subuh sudah berkumandang, Dika terbangun dan merasa lengannya begitu kebas. Saat akan bergerak, Dika melihatnya Dinda yang masih memejamkan matanya, dan dika tersenyum saat mengingat kembali bagaimana dinda yang akhirnya bisa tidur bersamanya
"Semoga saja sering-sering mati lampu" batin dika sambil tersenyum geli
Mata Dika menelisik pada lekuk wajah Dinda yang terlihat begitu dekat di wajahnya. Bulu matanya lentik, hidung nya tidak terlalu mancung, bibirnya sedikit tebal merah jambu dan pipinya bulat sedikit tembem dengan kulit kuning langsat membuatnya terlihat ayu. Mata Dika semakin turun dan kini terpaku pada long dress Dinda yang sedikit kendor membuat sesuatu menyembul terlihat dari atas.
Ceglukkk
Tangan kanan Dika tergerak ingin menyentuhnya, Seperti terpaku, bahkan memalingkan wajahnya pun enggan. Namun saat dika merasa dibawah sana semakin mengeras, dia pun tersadar dengan sendirinya
"Ini gak boleh, atau dinda akan marah!" batin Dika
Perlahan Dika sudah menyentuh kain long dress dinda bagian atas, bermaksud untuk menariknya agar tidak terlihat lagi. Namun na'as Dinda terbangun dan melihat apa yang di lakukan dika dengan kaget
"Abang?!"
Deg!
Dika langsung menatap Dinda yang sudah menatapnya kaget juga tajam
"Apa yang abang lakukan ha?! abang mau mesumin dinda ya?!" Tuduh Dinda yang langsung menutup bagian berharganya dengan kedua tangan
"Enggak! bukan begitu,,, abang bisa jelasin din" ucap Dika masih setengah kaget
"Jelasin apa bang? sudah jelas tangan abang tadi pegang punya Dinda!" sungut Dinda
"Belum sempat! eh,, maksudnya, tadi abang cuma mau,,"
"Mau apa?! mengambil kesempatan dalam kesempitan ya?! iya kan?! Ngaku aja!" ucap Dinda
Suasana jadi mencekam saat Dika memposisikan dirinya diatas istrinya
"Memangnya abang tidak boleh menyentuhmu? kamu istri abang kan? jadi, bukannya tidak masalah" ucap Dika menatap lekad istrinya,
"Tapi,,, tapi,,,"
"Astagfirullah! abang ketinggalan subuhan!" ucap Dika yang tersadar saat mendengar suara iqomah. Buru-buru Dika turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi, sementara Dinda masih berbaring dan mencerna semuanya.
"Kenapa aku jadi kecewa ya?" batin Dinda
"Sepertinya aku benar-benar sudah gila?" ucap Dinda yang kemudian segera bangun dan keluar dari kamar Dika.
Saat Dika keluar dari kamar mandi, dia sudah tidak melihat Dinda. Dengan cepat Dika berganti pakaian dan berlari keluar rumah untuk ke musholah. Sementara Dinda akan menyiapkan sarapan sepagi itu, karena absen kedatangan tamu bulanannya.
Beberapa menit kemudian Dika sudah kembali kerumah dan mencari keberadaan Dinda di dapur namun tidak ada
"Dinda"
__ADS_1
"Iya bang? Dinda di belakang" jawab Dinda yang mendengar Dika memanggilnya. Lalu Dika menyusul Dinda yang terdengar dari belakang rumah.
"Lagi ngapain?" tanya Dika
"Cuci baju bang,, kalau mau sarapan, sudah ada bang, tadi Dinda udah masak" jawab Dinda
"Nanti sarapan bareng aja? Abang bantuin ya" ucap Dika yang kemudian akan membantu Dinda menjemur pakaian
"Dinda aja bang yang jemur" ucap Dinda saat Dika akan menjemur pakaian
"Gak papa, abang bisa kok bantuin kamu" jawab Dika yang tetap membantu Dinda menjemur pakaian. Keduanya pun menjemur pakaian bersama.
Saat pakaian tinggal satu di dalam keranjang, keduanya nampak kompak untuk mengambil bersamaan
Deg!
Tatapan keduanya bertemu dan dinda tersenyum malu karena di tatap Dika saat itu
"Biar Dinda bang, tinggal satu juga" ucap Dinda , dan Dika melepaskan pakaian itu lalu Dinda menjemurnya. Karena sudah selesai Dika akan beranjak dari tempatnya
Sruuuttttttt
Bruuukkkkkk
"Aww!!" teriak Dinda kesakitan saat di timpa badan kekar Dika yang terpeleset terkena air, kini keduanya terjatuh di rerumputan pendek di dekat jemuran dengan Dika tidak sepenuhnya berada diatas Dinda
Deg!
"Abang,,,"
"Maaf"
Dinda mengangguk pelan, berfikir Dika meminta maaf karena sudah menabraknya, namun Dinda salah, malah kini Dika sudah menyapukan bibirnya dan membuat Dinda kaget tapi mendamba. Dika melakukannya begitu lembut, dalam dan berasaah, terlihat begitu berniat untuk itu dan Dinda malah menyambutnya. Bukan tanpa alasan, karena dari semalam dia pun sudah memimpikan hal itu bersama Dinda.
"Mmhhpp,,,,!" terdengar dinda mencoba mencari cela untuk menyudahi sapuan Dika dan tangannya tergerak untuk mendorong tubuh kekar itu
"Ada apa?" tanya Dika terlihat sedikit terengah-engah
"Nanti ada ular bang, masak tiduran di rumput?" ucap Dinda
Dika baru tersadar saat melihat sekeliling ternyata mereka melakukan hal itu di rumput taman belakang, Dika tersenyum kikuk dan segera bangun dari tempatnya, setelah itu Dika membantu Dinda untuk duduk
"Mana ada ular? yang ada cacing" jawab Dika
"Maaf ya,, malah meesumin kamu" ucap Dika merasa tidak enak
Dinda terlihat malu-malu, kemudian Dika bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Dinda dan Dinda pun menyambutnya. Dika memeriksa Dinda apa pakaiannya kotor atau tidak. Hanya ada daun kering yang menempel di rambut Dinda, lalu Dika membuangnya
__ADS_1
"Kita sarapan yuk" ajak Dika dan Dinda mengangguk mau. Lalu keduanya berjalan menuju ke meja makan.
"Nanti jam 10 kita belanja keperluan mu ya" ucap Dika
"Iya bang" jawab Dinda
"Kapan ospek?" tanya dika
"Minggu depan bang... Fatih gimana ya bang, itu kan dari pagi sampai sore selama 3 hari?" tanya dinda bingung
"Nanti Fatih dititip dirumah eyangnya" jawab Dika
"Tapi,, Dinda gak enak kalau harus ngerepotin mama" jawab Dinda
" Gak papa, pasti mama seneng ada fatih dirumah. Nanti sorenya kita jemput fatih, dan pagi kita anter kerumah eyangnya" jawab Dika
Sarapan selesai, Dika pamit ke kamar untuk mandi, begitu juga dengan Dinda yang bersiap di kamarnya. Setelah berpakaian rapi, Dika mengajar mahasiswanya secara virtual selama 2 jam lamanya sebelum mereka pergi nanti jam 10.
2 Jam berlalu, Dinda sudah duduk diruang tamu menunggu Dika keluar dari kamarnya.
"Nunggu lama ya?" tanya Dika
"Gak juga bang," jawab Dinda
Lalu keduanya keluar rumah dan tak lupa menguncinya. Setelah itu Dika memanaskan vespanya dan menyuruh Dinda untuk segera naik
"Pegangan Din" ucap Dika
"Udah bang,,," jawab Dinda
"Mana? kok gak kerasa?" tanya Dika
"Ini,,, udahhh" jawab Dinda yang menunjukkan pada Dika, jika dirinya berpegang pada jaket Dika
"Pegangan yang bener dong" Ucap Dika menarik tangan Dinda untuk memeluknya
"Abangggg,,,,,,"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjuttttttt modusnya Dika🤣